“Ya Kak?” tanya Zani saat ia sadar di tengah konsentrasinya merangkai sketsa alur cerita yang hendak ia gunakan untuk mengikuti kompetisi dalam rangka 4ICU universitasnya. “Lagi ngapain Zan?” tanya Andre kepada Zani dari seberang sana. “Ini lagi nugas, Kak.” “Kakak ganggu, nggak Zan?” tanya Andre memastikan dengan nada ragunya. “Enggak sih, Kak. Santai aja. Emangnya kenapa, Kak?” “Gini, Zani mau nggak. Keluar malam ini? Mumpung sabtu malam minggu gitu, hehehe” jelasnya dengan kekehan ringannya. “Boleh sih Kak. Zani juga lagi suntuk Kak. Emang mau keluar kemana, Kak?” tanya Zani mulai fokus dengan pembicaraannya dan meletakkan bulpennya. “Zani biasanya nongkrong dimana, Dek?” tanya Andre berusaha menyesuaikan. “Zani nggak pernah nongkrong, Kak. Zani nurut aja. Kakak sendiri kalau nongkrong kemana?” tanya Zani. “Kakak biasanya kalau nongkrong di alun-alun kidul.” “Zani udah pernah ke alun-alun kidul, Kak. Intinya jangan ke Malioboro atau Tugu Jogja. Tiwi udah pernah Kak,” jelas Zani. “Gimana kalau ke bukit bintang?” tawar Andre. “Boleh, Kak.” “Yaudah. Kita pergi ke sana.” “Zani siap-siap dulu, Kak.” “Oke, Dek.” Zani memutus panggilan itu. Iapun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya. Memilih beberapa baju yang sesuai keinginan dan moodnya malam itu. Zani juga tak lupa memilih warna lipstik yang sesuai dengan bajunya. Orange. Yah.. warna itu terlihat begitu soft di bibirnya. Zani juga memberikan sentuhan sedikit make-up agar wajahnya terlihat cheer-look dan segar. Zani menatap pantulan dirinya di depan cermin. Cukup.
Setelah merias dirinya, Zani memilih flast shoes karena cuaca hujan yang tidak dapat diprediksi. Lebih tepatnya, flat shoes yang berbahan plastik lentur. Selain nyaman digunakan karena lebih mudah digunakan untuk bergerak dan anti air. Serasa sudah pas dari ujung kepala hingga ujung kaki. Zani meraih mini bagnya dan berjalan ke arah ruang tamu. Mengambil ponselnya di atas meja. Dan, melihat beberapa pesan masuk. Dalan hatinya, ia berniat menunggu Andre dengan membalas beberapa grup yang ramai akan informasi, bahan bercanda, atau hal-hal yang tak berfaedah lainnya. Hanya sekedar untuk hiburan.
To: Zania From: Kak Andre Dek. Maafin Kakak. Malam ini Kakak nggak bisa jemput kamu karena kakak ada acara mendadak. Maafkan Kakak dek. Besok ada waktu, kan? Gimana kalau besok? Pukul sembilan pagi?
Zani terdiam mematung saat membaca pesan singkat yang baru saja di kirim oleh Andre. Ia terhempas di atas sofa dan terduduk dengan lemas. Zani juga menghembuskan nafas beratnya. Menguatkan dirinya untuk merangkai kata membalas pesan dari Andre.
To: Kak Andre From: Zania Nggak papa kok, Kak. Kalau emang kakak masih kekeh pengen keluar sama Zani besok pagi, Zani akan cancel beberapa jadwal Zani. Maaf ya kak, kalau Zani udah ganggu jadwal kakak malam ini. See you next day, Kak.
Tak ada yang bisa Zani lakukan. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Menunggu balasan seraya menahan kecewanya. Yogyakarta. Kota itu, memang istimewa. Sesuai dengan namanya. DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota yang merubah Zania Vabrigas menjadi gadis yang sesungguhnya.
Dimana, gadis yang berangkat dengan seluruh keras kepala, ego, dan ucapan kasarnya serta memangkas akan kemungkinan kesempatan kedua. Yogyakarta, telah mengubah dunia itu, menjadi Zania Vabrigas yang menjadi keinginan kedua orangtuanya. Meski kedua orangtuanya, tahu bahwa sebagian diri Zani sudah menuruni keinginan mereka.
Tapi, Yogyakarta melengkapi Zani dengan mengajarkan Zani sabar, dan bertutur kata lebih baik dari sebelumnya. Dan, hal yang paling utama adalah, Yogyakarta mengajarkan bagaimana cara menggunakan hati dengan benar. Bukan hanya otak. Di sanalah, titik istimnewa Zania Vabrigas yang dikenal sebagai putri dari Raja Ular yang siap menggemparkan dunia para kaum Adam hanya dengan bisanya. Bisa, yang berupa kebijakan, dan kebajikannya dalam menyikapi semua hal.
“Halo, Ma?” ucap Zania saat dering ponsel membangunkannya dari tidurnya karena telalu lelah akan kesabarannya. Yah.. kesabaran yang menjadi bagian latihan hatinya begitu menekan mentalnya. “Kamu kenapa sayang? Ada masalah dengan kuliah kamu?” tanya mamanya. “Enggak kok, Ma. Zani nggak papa” “Kamu baru bangun?” “Iya, Ma. Zani tadi capek banget habis nentukan sketsa untuk kompetisi bulan besok. Zani minta restunya, Ma.” “Mama selalu merestui kamu. Kamu kapan pulang sayang? Mama udah kangen banget sama kamu.” “Zani akan pulang setelah tahun baru, Ma. Karena Ujian Akhir Semester dilaksanakan hari kedua awal tahun. Jadi Zani pikir, lebih baik Zani pulang setelahnya,” jelas Zani dengan sisa suara serak khas habis tidurnya. “Yudah, kamu tidur gih sekarang. Besok akan mama kabari lagi. Papamu mau bicara sesuatu dengan kamu.” “Hmmmmm, see you next day, Mom,” ucap Zani tanpa memutus sambungan telfon dari mamanya.
Satu perubahan yang terlihat begitu jelas. Sikap Zani yang kasar dimana ia selalu memutus telepon sepihak, menjadi lebih sopan dengan menunggu lawan biacaranya menutup telepon atau dirinya menutup telepon lebih dulu saat lawan bicaranya memberikan perintah untuknya. Akan tetapi, semua itu tak lain berlaku untuk kedua orangtuanya, dan keluarga sekitarnya.
Malam itu, Zani ingin menghabiskan sisa malamnya untuk menyelesaikan proyek kompetisinya. Akan tetapi, kondisi pikirannya yang kacau dan moodnya yang rusak seolah menjadi peringatan untuk Zani agar ia melupakan sejenak pekerjaannya dan mengakhiri malamnya dengan kembali ke pulau kapuknya.
Zani yang kacau tiba-tiba, enggan untuk melakukan kebiasaannya. Yaitu, membersihkan diri sebelum tidur, kemudian meminum coklat panas untuk memberikan sensasi nyaman dan rileks untuk otaknya. Namun, kelelahannya sudah mengalahkan rileks itu. Dengan kelelahannya mengandalikan dirinya, Zani kembali dengan mudah terkapar dalam tidur malamnya. Tentunya, dengan sisa kekecewaan yang berusaha ia obati dengan pengendalian dirinya sendiri.
Sebuah kekecewaan yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk tidak mudah percaya dengan seseorang. Meski itu teman sekalipun. Karena kekecewaan yang diberikan teman lebih menyakitkan dibandingkan kekecewaan yang diberikan oleh lingkungan. Karena pada dasarnya kehidupan, teman akan menjadi keutamaan daripada lingkukan.
Cerpen Karangan: P.N.Z Blog / Facebook: pratiwinurzamzani04.blogspot.co.id / Pratiwi Nur Zamzani (Hijab Putih bertopi) P.N.Z adalah nama pena dari Pratiwi Nur Zamzani. Bisa dibilang, iitu hanyalah nama singkatan. Ia kerap dipanggil Felly oleh khalayak umum karena nama tokohnya selalu menggunakan Felly. Yah.. Felly Angg Wiraatmaja. Nama yang berhasil menggemparkan namanya hingga daat dijadikan sebagai kunci google saat masyarakat ingin membaca karyanya. Pratiwi, lahir di Pasuruan, 4 Juli 1999. Ia tengah memulai jenjan pendidikannya di Universitas Negeri Yogyakarta di Fakultas Bahasa dan Seni. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2017. Menamatkan Sekolah Menengah Pertama dii SMP Negeri 1 Bangil dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Bangil jurusan Bahasa dan lulus pada 2 Mei 2017. Sejak berumur 15 tahun, Pratiwi terlibat dalam banyak aktivitas, baik aktivitas ekstrakulikuler maupun intrakulikuler. Ketika SD, ia menjadii peraih nilaii UN tertinggi di angkatanya pada masa itu, juga sebagaii sekretaris PMR dan dokter kecil saat SMP. Sedangkan pada saat SMA, aktivitasnya merambah ke dunia Jurnalistik. Aktivitas yang padat, tampaknya memang telah menyatu dalam kehidupannya. Prestasi yang ia raih lumayan banyak. Dan itu, mulai gemilang pada tahun kedua SMAnya. Ketika SMA, dia juga menjuarai beberapa lomba, misalnya juara III lomba Wall Magazine tingkat Provinsi yang diselenggarakan oleh Hillo Teen, Juara II dalam event menulis cerpen tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh CV. Saweu Pena Publisher di Aceh dengan tema “Sacrifice Theacer”, Juara III dalam Event Menulis Cerpen tingkat Nasional bertema “Hijrah Ramadhan” yang diselenggarakan oleh Penerbit Al-Qalam Media Lestari yang ada di Cirebon, Juara II dalam event menulis cerpen tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Penerbit Drof_ArtCort di Klaten, Jawa Tengah. Serta, menjadi Kontributor terbaik dalam penulisan puisi di Amsterdam, dan sebagainya. Tidak hanya itu saja, karyanya juga sering terbit di majalah Spektrum sebagai penulis puisi dan cerpen. Karya-karya Pratiwi, berupa cerpen, artikel, serial dan cerita bersambung, banyak dimuat di beberapaa website seperti, cerpenmu.com, cerpenkita.com, kekitaan.com, dan juga marketbisnis.net dan berbagai blog lainnya. Tidak hanya itu saja, kalian juga dapat menemukan karyanya yang telah menjadikan namanya sebagai kunci pencarian di google, Pratiwi Nur Zamzani. Demikian juga, ada lebih dari 30 judul buku yang telah ia tulisa, dan diterbitkan oleh Penerbit Inrilista, Al-Qalam Media Lestari, Sanasher, IDM Publisher, dan sebagainya. Kini, Pratiwi menggawangi Intermedia Pustaka dan IA Publisher sebagai lini dari beberapa penerbit yang telah mengajukan kerjasama dengannya. Untuk menyapanya, dapat melalui akun Instagram zamzanipratiwi.