Aku Yulfa gadis yang sedang patah hati lantaran putus cinta, sedih? Ya. Tapi disisi lain aku bahagia karena ini aku tau bahwa dia tidak benar-benar mencintaiku melainkan cinta harta orangtuaku
Ya, kali ini keluargaku sedang diuji, bisa dibilang bangkrut akibat hutang yang berlimpah, kala itu papa meminjam dana kesana kemari untuk menyelamatkan perusahaannya, setelah berjalan perusahaan masih sama keadaannya yang terus menerus membutuhkan dana, sampai pada akhirnya papa tak dapat lagi mempertahankan perusahaan itu dan untuk menutupi semua hutang perusahaan, rumah beserta isinya disita
Kini aku tinggal di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu jauh dari kota, ini tak membuatku patah semangat, walaupun dari kecil aku biasa tinggal di rumah mewah dan berfasilitas lengkap tapi karena keluarga rumah ini lebih dari cukup.
Pagi hari telah tiba, hari pertama aku pergi ke sekolah dengan sebuah angkutan umum karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh, sungguh keadaan yang sangat memilukan,
Sampainya di sekolah, mulai dari depan gerbang sekolah sampai sepanjang lorong menuju kelas, semua mata tertuju padaku, “hey mana mobil mewah lo?” celetuk salah satu siswa yang terdengar di telingaku, aku tak menghiraukannya aku terus berjalan memasuki kelas
Di kelas, “ada yang bangkrut nih, masih mampu sekolah disini?” ucap pita yang tak enak didengar, kembali aku tak menghiraukannya tapi tak bisa dipungkiri sedih rasanya hari ini, aku terdiam dan menundukan kepalaku “sabar ya fa, ada aku kok” ucap vania tiba-tiba, kata-kata vania membuatku kembali semangat, sahabat setia yang tetap ada saat aku jatuh seperti ini.
Malam hari di teras rumah, aku duduk termenung seorang diri “kenapa fa?” tanya kak eren menghampiri dan duduk sejajar dengan ku “sedih kak, teman-teman pada ngejauh” “sama” tutur eren dengan wajah masam, “sabar sayang, yang nama hidup itu kaya roda berputar yang sabar ya” sambar mama yang mendengar dari dapur
Keesokan harinya di sekolah “aduuhh, cewek no 1 di sekolah sekarang bangkrut loh” kembali ucapan pedas pita terdengar “aku berusaha sabar selama ini, tapi kali ini kamu keterlaluan pit” ucapku dengan nada datar “so.. Lo mau apa? Mau nampar gua mau jambak gua, uuu takut” ledek pita yang benar-benar membuatku naik darah “Gua ingetin ya, gelar lo sebagai cewek no 1 di sekolah ini udah ilang dan sekarang gua cewek no 1 di sekolah” ucap pita tertawa puas, ya.. Dulu aku cewek terpopuler di sekolah seperti yang pita bilang cewek no 1, sehingga begitu banyak cowok di sekolah ini yang mengidolakan aku
Aku sedih, kembali aku terpaku menatap setiap sudut sekolah dengan mata berkaca-kaca dan susah untuk diungkapkan, tiba-tiba terdengar suara lembut seorang pria “maaf, kelas XII sebelah mana ya?” perlahan aku menolehkan wajah “loh, kamu nangis? Kenapa?” tanyanya sok kenal “Maaf bukannya ikut campur, aku paling ga bisa liat cewek nangis” tambahnya yang memperhatikanku, wajahnya asing belum pernah bersua sebelumnya, terlihat begitu tampan, sopan, baik dan ga sombong itu sosoknya “aku ga papa, kelasnya di ujung sana” jawab ku menunjuk kelas paling ujung “Makasih” ucapnya lalu melangkah sontak aku pun menghentikan langkahnya “kamu anak baru ya?” tanyaku dengan mata sendu “iya, aku ferly” jawabnya mengulurkan tangan dan aku pun membalas jabatan tangannya
Aku pun berjalan menuju kelas yang kebetulan bersebelahan dengan ferly, bersama ferly aku melangkah terdengar bisik bisik tetangga disana “cewek populer di sekolah kita udah ga tajir lagi” menghela nafas aku mendengarnya, tak enak hati didengar ferly
“Fa, maksud mereka tadi apa sih?” tanya ferly saat jam istirahat di kantin, menghela nafas aku menjelaskan semuanya pada ferly tentang apa terjadi padaku “jadi yang mereka maksud cewek populer tadi kamu?” “iya fer, ya.. Wajar lah, kebanyakan memang begitu baik saat aku ada diatas, saat aku jatuh seperti sekarang siapa? Ga adaa” “Yang sabar ya, aku ada kok bukan sifat aku yang begitu aku berteman dengan siapapun ga mandang harta ataupun kasta” jelas ferly yang membuatku dapat tersenyum kembali, ferly memang sempurna wajahnya tampan dan sifatnya luar biasa
Jam pulang pun tiba, aku berdiri di depan gerbang sekolah menunggu angkot tiba, tak lama kemudian terdengar suara motor sport dari arah kananku “fa, belum pulang?” ya.. Itu ferly si tampan berlesung pipit “belum fer, nunggu angkot” “pulang bareng aku aja yuk, biar aku tau rumah kamu” ajak ferly yang membuatku tersipu malu, entah kenapa aku jadi salting dibuatnya
Aku pun pulang bersama ferly, sampainya di rumah “makasih ya fer, masuk dulu yuk” “ga usah fa, kapan-kapan aja ya, aku belum siap” jawab ferly bergurau dan entah lah gurauan itu justru buat aku semakin ingin dekat dengannya “ya udah hati-hati ya” dengan gayanya yang begitu keren ferly tersenyum manis dan mendirikan jempolnya pertanda jawaban ya dari dia
Apa aku suka sama ferly? Apa ga terlalu cepet? Batinku seraya berjalan menuju kamar, tiba-tiba mama berdehem mengejutkan “pacar baru ni yee” “mama, apaan sih, bukan masih temen kok” jawab ku malu-malu kucing,
Jam menunjukan pukul 15:00 aku merasa bosan di rumah, aku berjalan tanpa tujuan sampai suatu tempat aku bertemu ferly “fa, kok jalan mau kemana?” tanya ferly turun dari mobilnya “ga tau fer aku bosen di rumah” “yaudah ikut aku yuk biar ga bosen” “kemana?” “udah ikut aja” ajak ferly dan menarikku memasuki mobilnya
Berhenti di sebuah mall, dengan cepat ferly menuju sebuah tas wanita disana, hati bertanya untuk siapa, apa untuk pacarnya? “Fa bagus ga?” “bagus buat siapa sih?” “buat mama” jawab ferly yang membuatku bernafas lega, aku bahagia dengan jawabannya, ya.. Mungkin aku berharap ferly belum memiliki seorang kekasih
Kembali berjalan, tiba-tiba ferly terhenti di sebuah patung bergaun sangat cantik berwarna gold dengan motif hitam “bajunya cantik cocok buat kamu fa” ucap ferly membuat mataku terbelalak “bagus sih, tapi harganya jauh dari jangkauan fer” tanpa berkata apa-apa ferly mengambil gaun itu, bingung sih tapi mungkin untuk mama atau pacarnya, kembali aku cemburu
Sampainya di rumah, ferly mengulurkan sebuah tas berisi gaun cantik itu “ini apa?” “itu buat kamu fa, anggap aja salam perkenalan kita” ucap ferly tersenyum manis “makasih ya” “ya udah aku terus, udah ditunggu mama” “ya, hati-hati”
Di kamar, aku duduk tersenyum tak menentu memandang gaun pemberian ferly, tiba-tiba kak eren masuk mengejutkan “kakak, kak aku mau curhat deh” “kenapa sih?” “kayanya aku suka sama ferly” “ferly, temen kamu itu” “iya kak, ga bisa dipungkiri kalau aku suka sama dia” “cie, yang udah move on” “aah, kakak nih”
Keesokan harinya, “cie, yang abis jalan” ucap vania tiba-tiba saat aku duduk sendiri di kantin sekolah “apaan sih van” “aku tau kok kemeren abis jalan kan sama si anak baru ganteng itu” Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba ferly terlihat di sudut kananku perlahan aku meliriknya “cie lirik-lirik nih, kamu suka ya sama dia” “hemmmm, ga bisa dipungkiri va, aku memang suka sama dia”
Keesokan harinya hari ini sekolah mengadakan sebuah acara ya, camping di sebuah hutan yang cukup luas “papa mama aku berangakat dulu ya” pamitku pada kedua orangtuaku “iyaa sayang, nak ferly titip yulfa ya jagain dia” ucap mama pada ferly dan kata-kata mama seolah-olah merestui perasaanku
Sampainya di tempat, tempat yang begitu indah bahkan sangat indah ada sebuah danau di ujung sana, aku suka pemadangan itu, berbeda dengan ferly ia tampak mengerutkan dahinya kala matanya melirik pada danau, ada arti apa danau bagi ferly? Apa mungkin itu kenangan bersama kekasihnya, hanya ferly yang dapat menjawab yang jelas wajah ferly menunjukan bahwa ia tak menyukai pemandangan itu
“Kamu kenapa?” tanyaku memandang wajah ferly yang tiba-tiba berubah mood “ga papa kok” jawabnya simple, “aku tau pemandangan itu ada arti tersendiri buat kamu” tambahku yang seolah memaksa ferly untuk bercerita, kini ferly melangkah sedikit jauh dariku “Aku ga suka pemandangan itu” ujarnya membelakangi pemandangan indah di hadapanku “karena pacar atau mantan?” Tebakku yang membuat ferly memutarkan wajahnya 20° menghadap ku, “ya, mantan. Dia suka banget sama danau, ya kaya kamu gini histeris yang berlebihan, sampai suatu saat dia bawa aku ke danau hanya untuk memutuskan hubungan denganku” jelas ferly bernada kesal
Aku tau betapa sakitnya hati ferly kala itu, dan itu juga yang aku rasakan saat ini, betapa sakitnya melihat ferly terluka karena sang mantan “ya, kalau ga suka ga usah diliat banyak pemandangan lain yang juga bagus untuk dipandang” ucapku sedikit ketus, aku kesel melihat ferly uring uringan karena memikirkan masa lalunya
Bergegas aku meninggalkan ferly sendiri dan menuju tenda, malam harinya di sebuah batu besar yang terletak di tepi sungai aku termenung sendiri, kembali ferly memenuhi pandanganku “fa, kenapa?” tanya vania menghampiriku, tak menjawab aku hanya menggelengkan kepala
Tiba-tiba ferly datang dan membuat vania berlalu “marah sama aku?” Tanya ferly memandang wajahku yang berpaling “kamu cemburu?” Tambah ferly yang membuat mataku terbelalak “PD banget, siapa aku? Ada hak buat cemburu” “fa aku bisa rasain perasaan kamu, kamu cemburu karena aku bahas masalalu aku di depan kamu kan, kamu ga perlu malu karena aku juga cemburu saat kamu ga peduliin aku, aku takut ada cowok lain yang kamu pikirin”
Ucapan ferly membuatku beku tak dapat bergerak bak dingin di tengah salju yang enggan bergerak karena dinginnya akan menusuk bila bergerak “fa aku suka sama kamu” ucap ferly menggenggam tanganku, seketika suasana menjadi sangat dingin “aku janji ga akan bahas soal itu lagi, aku mau bahas masa depan kita aja, apa kamu mau?” Tambah ferly membuat hatiku bedegup kencang, aku nervous tubuhku gemetar, oh my god aku tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya bahkan dengan beberapa mantanku pun aku tak pernah ada rasa seperti ini, rasa apa ini sebenarnya?
Perlahan aku menganggukan kepala, pertanda persetujuan ya, betapa bahagianya hati ini pangeran tampan nan bijaksana dapat aku miliki saat ini, begitu juga ferly tampaknya dia begitu menghargaiku kebahagianya begitu terlihat dari raut wajahnya, aku bersyukur pada malam ini karena telah mempersatukan kami berdua
Keesokan harinya, aku membawa semangkuk mie instan panas untuk sarapan pagi ini, tiba-tiba terlihat pita menjegalku, mie panas itu tumpah mengenai tanganku, seketika tanganku berubah merah, vania berlari menolongku “fa, kamu ga papa kan, panas ya” “hehh, lo kenapa sih? Selalu buat yulfa celaka, ada masalah sebenernya!” ucap vania memarahi pita
Mendengar keributan disini, beberapa teman menghampiriku temasuk ferly “ada apa sih?” Tanya ferly mendekat “yulfa, ini kenapa?” Tanya ferly bingung “vania, tolong ambil kotak obat ya” “ok fer” dengan cepat ferly mengoleskan obat salep pada tanganku
“Gara gara ni cewek alay, tangan pacar lo jadi luka” ucap vania memandang sadis wajah pita “udah udah, pita lo pergi deh dari sini” ucap ferly tanpa memandang “tapi fer” “pita, gue bilang pergi dari sini” ucap ferly sekali lagi dengan nada sedikit keras, dengan cepat pita meninggalkan tempat
“Gimana? Udah enakan?” Tanya ferly padaku, sebagai wujud perhatiannya ia begitu khawatir “apa kita izin pulang aja, kita ke rumah sakit ya, takutnya tangan kamu kenapa-apa” tambah ferly yang terus menggenggam tanganku “fer ga usah aku ga papa kok, nanti juga sembuh, ga luka kok” “bener ya, kalau sakit bilang” ucap ferly, wajahnya begitu panik khawatir dan mungkin takut aku kenapa-apa “Makasih ya fer, udah perhatiin aku” “gimana sih, aku sayang sama kamu fa, kamu pacar aku masak aku ga perhatiin kamu, aku takut kamu kenapa-apa” aku tersenyum mendengarnya, ternyata ferly romantis.
Cerpen Karangan: Titin Enggi Febriana Blog / Facebook: Egif Fanha