Mungkin grogi atau malu? “Mbak, dia siapa sih dan kenapa mbak bilang kalau saya pacar mbak” “eno maaf banget ya, nanti aku ceritain deh, yukk pulang” kami pun bergegas kembali ke rumah, di perjalanan “dia tadi kiki anak baru di sekolah kita, beberapa waktu yang lalu dia sempet buat aku takut, kayanya sih suka sama aku, karena waktu itu aku masih sama ferly jadi aku tolak dia, dan sekarang dia tau kalau aku udah putus sama ferly makanya tadi aku bilang gitu ke dia, karena aku pikir dia bakal lupain perasaannya ke aku”
Mendengar ceritaku eno tak menjawab apa-apa hanya mengangguk-anggukkan kepala yang membuat mataku tak berhenti memandangnya, mengingatkanku akan ferly. Sampainya di rumah, terlihat mobil ferly yang terparkir di garasi rumahku segera aku menuju kamar merubah penampilanku “ma” ucapku dari tangga kamarku
Seketika semua pandangan mata tertuju padaku, termasuk ferly, matanya tak berkedip apa mungkin karena gaun ini? Ya, ini gaun pemberian perdana ferly untukku “sayang udah pulang? Sini gabung sini, eno mana ga suruh masuk?” Tanya mama membuat mata ferly bertanya-tanya “eno” gumam ferly seorang diri yang terdengar di telingaku
Kini aku duduk tepat di hadapan ferly, begitu sayang untuk mengedipkan mata karena malam ini ferly begitu tampan, aku tak sanggup dengan keadaan ini tidak mungkin aku menaruh rasa pada calon kakak iparku, aku selalu berpikir untuk mencari penghibur hati, tapi apa bisa? Sementara rasaku begitu dalam untuk ferly
Ditengah asiknya makan, tiba-tiba handphoneku berdering “siapa dek?” Tanya kak eren yang melihatku terus memperhatikan panggilan itu “kiki” jawabku perlahan, heran terlihat pada raut wajah ferly “ada hubungan apa sama kiki” tanya ferly berbisik pada kak eren, kak eren hanya menggelengkan kepalanya, ya ferly sangat mengenal kiki karena dia adalah sahabatnya
Keesokan harinya, dihari minggu aku merasa bosan di rumah tanpa hiburan, diluar aku melihat eno yang sedang mencuci mobil bergegas aku menemui eno “no jalan yukk” “siap mbak” bergegas eno membukakan pintu untukku “aku mau di depan sama kamu” ucapku memandang eno “loh mbak, kenapa” raut wajah eno tampak bingung, tanpa kata aku pun segera masuk ke mobil
Belum jauh dari rumah, aku melihat tukang es cream keliling berhenti di tepi jalan itu “no, berhenti deh” eno pun menepi dan mengikuti berjalan menuju tempat es cream, tak lekang mataku memperhatikan gerak gerik eno, dan lagi itu mengingatkanku akan ferly, ferly memang tak bisa kulupakan tapi apadaya “sekuat apapun tulang di punggungmu tak mungkin dapat kita tak berdaya walau saling cinta berpisah itu jalan yang utama”
“Aku bingung no, apa yang harus aku lalukan, eno menurut kamu lebih pilih saudara atau cinta?” Tanyaku setelah eno duduk sejajar dengan ku “saya bingung mbak, setiap orang berbeda saya ga bisa kasih pendapat” jawab eno memandang wajah lesu ku “aku ingin kak eren bahagia tapi disisi lain..” Tak lagi aku meneruskan pembicaraan karena aku melihat wajah eno yang tiba-tiba berpaling
Entah apa maksudnya, wajahnya tampan manis dan tidak kasar itu sifat eno tidak berbeda jauh dengan ferly, apa aku jadikan eno pengganti ferly agar aku dapat melupakannya, pikirku dengan terus memandang wajah eno, “kenapa sih mbak?” Tanya eno membuyarkan pandanganku “ga papa” jawabku menghelak.
Keesokan harinya, aku rasa ini sudah terlalu siang, aku berlari keluar tanpa menyapa mama yang ada di ruang makan terdengar suara mama memanggil namaku tapi aku tak menghiraukannya “eno buruan kita kesiangan” dengan segap kami pun berangkat ke sekolah
Di tengah perjalanan “no buruan dong, kalau telat gimana” “iya mbak, tapi harus hati-hati juga dong” belum selasai eno berkata tiba-tiba mendadak eno menghentikan mobil,
Untungnya mata eno lincah dan sangat lihai mengendalikan mobilnya, tepat di depan mobil terlihat seorang pria berkaca mata dan bertopi hitam berdiri tegak tanpa bergerak “no tu orang kok diem aja jangan-jangan mati lagi no” “enggak mbak orang ga ketabrak” jawab eno dengan tenang tak ada tampang bingung terlibat dari wajah eno
“Bentar ya saya lihat dulu” tambah eno keluar dari mobil “mas ga papa mas?” Tanya eno pada pria berseragam putih abu-abu itu, tak menjawab ia hanya terdiam tanpa kata, semakin bingung tampak di wajahku perlahan pria itu menegakan kepalanya “kiki” “mbak kenal” “dia kiki, yang ketemu kita di mall kemaren” bisikku dan eno
“Nyawa gue hampir ilang” “sorry kita ga tau” “udah mbak, mas maaf ya, mas ga papa kan, kalau gitu kita duluan” sahut eno yang lalu menarikku masuk mobil kembali, sampai sekolah berdua aku dan eno melintasi lorong kelas “kirain tu orang mati no” “ya fa lah mbak orang ga ketabrak”
Saat aku sedang berdua bersama eno, aku melihat ferly yang sedang memperhatikan kami disana, saat ini aku tak ingin memikirkan ferly tak kuhiraukan aku segera memasuki kelas begitu juga eno yang juga memasuki kelasnya
Jam istirahat pun tiba, di kantin aku dan vania yang asik berdua seraya meminum segelas es teh, tiba-tiba aku melihat eno di pojok kanan sana, ia begitu ramah senyumannya yang aku rasa telah meluluhkan hatiku, ya.. Hati memang sulit di tebak disaat aku sedang galau memikitkan ferly disini ada eno yang membuat hatiku tenang, apa ini petunjuk?
Tak berkedip aku memperhatikan eno, terdengar beberapa teman disana membicarakan aku “no, lu liat deh yulfa dari tadi merhatiin lu tuh suka kali” ucap salah satu teman pada eno yang terdengar di telingaku “ahh, ya enggak lah” “kabar baik dong, secara cewek terpopuler di sekolah bro” ucap teman lainnya
“Huusst” eno menghentikan pembicaraan itu dan melirikku, entah kenapa lirikannya membuat tersenyum “fa kamu kenapa? Ngeliatin tu cowok sampe segitunya? Bukannya dia itu cuma sopir kamu” tanya vania heran “ga papa kok van” jawabku simpel dan menutupi keadaan
Beberapa jam kemudian, bel pulang pun berbunyi semua siswa bertaburan keluar kelas termasuk aku dan vania, di parkiran terlihat eno berjalan menuju mobil “aku duluan ya” ucap ku meninggalkan vania “hati-hati shay” teriak vania berlalu, aku segera menaiki mobil kali ini aku tidak mau dianggap nyonya, kini aku duduk di bagian depan, ya.. Sejajar dengan eno
Di perjalanan “no” panggilku ragu “iya mbak, kenapa?” “No plis deh, jangan panggil mbak, emangnya aku mbak kamu” “mbak kan majikan saja ga sopan kalau saya panggil nama” “ga papa, justru aku seneng” “maksudnya mbak?” “No, aku… Aku suka sama kamu” mendengar ucapanku seketika mobil terhenti “mbak ngomong apaan sih?” Tanya eno memandang tajam mata ku “iya, aku suka sama kamu” “mbak saya ini cuma sopir ga pantes sama mbak” “no, cinta ga pandang materi, ga pandang derajat aku suka sama kamu apa adanya, karena perhatian kamu” “Saya rasa itu bukan cinta mbak, saya tau perasaan mbak untuk ferly” mendengar ucapan eno seketika aku menunduk “tidak ada hubungannya dengan ferly no” ucapku perlahan “aku harap kamu bisa pertimbangin ucapan aku tadi”
Terdiam eno dan meneruskan perjalanan, beberapa saat eno hanya terdiam “bodoh bagiku untuk nolak kamu fa” ucap eno tiba-tiba, mengejutkan tapi membuatku tersenyum “jadi?” “Ya” ucap eno teriring senyum manisnya, oh my god rasanya hatiku melayang-layang kembali senyuman itu meluluhkan hatiku
Keesokan harinya, tak terasa ujian diambang pintu 1 minggu bukanlah waktu yang lama “6 bulan lalu aku bertemu ferly disini, tapi kini jauh harapanku untuk bisa bersamanya lagi” batinku terdiam pilu tepat berada di tempat pertemuan pertama antara aku dan ferly di sekolah
Saat aku termenung seorang diri, tiba-tiba eno datang mengejutkan “kenapa?” Tanyanya memperhatikan mataku yang berkaca-kaca “kamu nangis?” “Enggak” jawabku berpaling muka dan menghapus air mata “kantin yukk” ajak eno meraih tanganku, aku dan eno berjalan menuju kantin tepat di depan kelas vania yang memandangku dengan heran “yulfa” terlihat gerak bibir vania
Di kantin, kembali aku melihat ferly disana dengan jarak yang cukup jauh, aku rasa ia pun memperhatikanku bersama eno dan lagi setiap pikiranku khilaf akan ferly kembali wajah kak eren membayangi mataku. “Fa dari tadi aku ga liat kamu senyum Kenapa?” Tanya eno memperhatikan wajahku yang mungkin terlihat pilu
“Aku tau karena ferly kan” “ehh, enggak kok” belum sempat aku berkata apa-apa lagi tiba-tiba terdengar suara bel masuk berbunyi “no, masuk tuh, kamu duluan aja aku mau ketoilet bentar” “oo ga papa?” Aku mengangguk senyum dan eno pun berlalu
Beberapa menit kemudian, aku berjalan cepat menuju kelas tiba-tiba kiki menghentikan langkahku “fa” “kenapa ki” belum sempat kiki berkata apa-apa aku melihat eno berdiri di depan kelasnya di sisi kananku dan ferly berdiri di depan kelasnya di sisi kiriku, yang membuat hatiku berdebar keduanya sama memperhatikanku yang sedang bersama kiki disini
“Maaf ki, aku duluan” ucap ku segera meninggalkan kiki dan memasuki kelasku, hati ini rasanya belum berhenti berdebar “fa kenapa sih” tanya vania memperhatikanku “ferly van” “kenapa ferly?” “Eno” “ferly apa eno?” “Kiki” “yulfaa kamu buat aku bingung, ferly eno apa kiki yang bener?” Aku terdiam setelah memperhatikan vania
1 minggu kemudian, ujian dilaksanakan seperti biasa aku dan eno berjalan menuju kelas bersama “selamat pusing sayang” ucap eno tertawa lembut, mendengar ucapannya akupun tertawa dan meneruskan langkahku menuju kelas “aku duluan ya” eno mengangguk dan tersenyum manis
Di kelas “sumpah ya fa, aku ga nyangka kamu bisa sama dia” ucap vania setelah aku terduduk di sampingnya “kenapa ga nyangka” “aku kira kamu bakal sama kiki setelah putus dari ferly” “kiki kan punya kamu” ledekku melirik vania yang tersenyum malu
Detik-detik terakhir ujian harus dikumpulkan, sementara diluar sana banyak atau bahkan semua sudah selesai menyelesaikannya, termasuk eno yang terlihat memperhatikanku dari luar sana, mataku tak lepas dari pandangan pria tampan yang berdiri dengan tangan di dalam saku itu
“Hussst buruan waktu dah mau habis” bisik vania di telingaku bergegas aku menyelesaikannya dan beberapa detik kemudian aku dan vania pun mengumpulkannya dan lalu keluar dari ruang ujian, di luar eno menyambutku yang aku rasa romantis “gimana?” Tanya eno yang berdiri di hadapanku aku pun menarik nafas sedalam-dalamnya apa karena ujian atau karena eno ahh tidak tahu yang jelas aku bimbang dengan arti hembusan nafasku
Beberapa hari kemudian, ujian berakhir hari ini bersyukur karena dapat menyelesaikannya dengan baik dan hubunganku dengan eno pun berjalan baik baik saja. Saat ini waktunya jam pulang tapi dimana eno tidak biasanya ia menghilang seperti ini, vania pun tidak ada pada kemana sebenarnya?
Aku berjalan setiap lorong dan tak disangka ternyata aku menemukan eno tapi bersama vania disana, dan pemandangan yang tidak mengenakan hati, perlahan vania menaruhkan kepalanya di pundak eno, apa ini? Pemandangan macam apa ini, seketika hatiku terpukul bak samsons membanting sebuah batu hingga hancur dan batu itu lah hatiku
Dengan cepat aku menghampiri mereka berdua, kini aku berada di hadapannya spontan eno dan vania berdiri setelah melihat kedatanganku, “ini maksudnya apa?” Tanyaku memperhatikan mata keduanya “aku bisa jelasin fa” ucap vania meraih tanganku “fa dengerin dulu penjelasanku” tambah eno berwajah panik “Ga ada yang perlu dijelasin. Yang jelas aku nyesel kenal kalian berdua, nyakitin tau ga, jangan ganggu aku lagi, hubungan kita cukup sampai disini” ucapku untuk eno ataupun vania dengan cepat aku meninggalkan mereka, teriakannya pun tak kuhiraukan.
Tiba-tiba aku bertemu ferly disan, entah apa yang ada dipikiranku seketika aku meraih tangan ferly dan menariknya menuju parkir sekolah “bawa aku pergi” ucapku seraya terus berjalan tanpa berkata ferly mengikuti kemauanku dan mungkin eno memperhatikannya dari jauh sana, hingga saat ini aku dan ferly berada di tengah perjalanan, perlahan motor ferly terhenti setelah ferly mendengar isak tangisku.
“Kamu kenapa?” Tanya ferly memandang wajahku yang berlinang airmata, dengan lembut ferly menghapus airmata itu, Hingga kini aku merasa tenang dan mampu membuka mulut untuk berkata “ga papa” aku tidak akan menjelaskan semua masalahku karena bagaimana pun ferly adalah mantanku yang tidak seharusnya mengerti permasalahan ini.
Cerpen Karangan: Titin Enggi Febriana Blog / Facebook: Egif Fanha