Keesokan harinya, hari ini acara perpisahan sekolah dan yang paling menyedihkan semuanya harus berpisah dihari ini, sekolah, cinta maupun persahabatan semuanya berakhir disini ya sudahlah mungkin ini ucapan takdir yang memang tak dapat dirubah.
Hingga kini, beberapa tahun kemudian dengan bangga aku memakai toga ini, disana ada keluarga yang juga dengan bangga melihatku berdiri disini, ya.. Menjadi lulusan terbaik tahun ini bukan hal mudah yang dapat aku capai aku pun bangga dengan kenyataan ini, meski seorang diri aku meraihnya tapi nyatanya tak terhalang suatu apapun aku mendapatkannya.
Di rumah aku bersama keluarga yang sedang asyik makan bersama, tiba-tiba papa membahas tentang perusahaan dan aku ditunjuk untuk menggantikannya mengurus perusahaan itu karena tidak lama lagi beliau pensiun “harus aku ya pa? Kak eren?” “Dek, kakak kan ada kerjaan di jerman” sahut kak eren atas pertanyaanku “Ok baiklah” ucapku menutup pembicaran.
Keesokan harinya, hari pertama aku menginjakan kaki di perusahaan, tentunya sebagai direktur utama ya menjadi pengganti papa. Diruangan yang mewah ini nasib perusahaan ada di tanganku tentunya ini menjadi beban yang begitu sulit untukku
Beberapa saat aku menduduki kursi ruangan ini, tiba-tiba terdengar ketukan pintu “masuk” ucapku mempersilahkannya “pagi buk” sapa seseorang wanita tersebut “pagi” jawabku tanpa menegakan kepala, saat ia mencoba menjelaskan semua berkas yang dibawanya perlahan mata ku mengarah padanya
“Vania” gumamku yang membuat kalimatnya terhenti, ya aku rasa ia sekretaris disini “yulfa, jadi kamu yang ganttin om hutama? Aku kira kak eren” “kamu ga suka kalau aku yang disini?” Tanyaku sinis dan menjauh darinya “ga gitu fa, dengerin dulu penjelasan aku” ucapnya membuatku terdiam, perlahan vania mencoba menjelaskannya tentang masalah beberapa tahun lalu
“kamu salah faham fa” “jadi..” “Iya fa, dia cuma peduli sama aku sebagai teman ga lebih” “aku minta maaf van, dan sekarang aku merasa bersalah sama eno dia ga salah kan?” Ucapku mendekati vania, vania hanya tersenyum dan mengangguk, ya.. Persahabatanku kembali dan aku harap konflik ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya
Jam makan siang pun tiba, dengan cepat aku keluar ruangan dan menghampiri vania “van temenin aku cari eno” ucapku yang lalu bergegas meninggalkan kantor, sampainya di rumah eno rumahnya terlihat begitu kotor seperti rumah tak berpenghuni
Ketukan pintuku tak diharaukan, tiba-tiba seorang ibu setengah baya datang menghampiriku dan vania lalu bertanya “mencari eno mbak?” “Iya bu, eno dimana ya?” “1 tahun yang lalu bapak eno meninggal dunia, sejak saat itu eno pergi entah kemana dan sampai saa t ini saya ga tau dimana keberadaan eno mbak”
Mendengar penjelasan ibu hatiku terenyuh pilu perasaan bersalah makin aku rasakan, aku terdiam dan terduduk di teras rumah kosong itu “sabar ya fa, aku yakin pasti ketemu kok” ucap vania menenangkan ku, tak ada yang ditunggu lagi aku dan vania meninggalkan tempat dan kembali ke kantor
Aku berdiam diri di ruanganku, tak fokus untuk mengerjakan pekerjaanku, kembali aku termenung menatap pemandangan luar, tak lama kemudian kembali vania memasuki ruanganku “kenapa van?” Tanyaku yang lalu duduk di hadapan vania “ini bahan buat meeting besok fa” ucapnya menyodorkan sebuah map, “Ok, yaudah makasih ya, oiya besok kamu jangan telat ya” “ok fa” vania pun meninggal kan ruanganku.
Keesokan harinya dipagi buta aku sudah berada di kantor, begitu pun vania yang sudah rapi disana yang sibuk mempersiap kan meeting hari ini “gimana fa? Udah siap?” Tanyaku setelah vania mendekat “siap fa, Semoga hari ini kita berhasil ya fa” “amin”
Beberapa jam kemudian, para client pun memasuki ruang meeting dan ini pertama kalinya aku menjadi pemimpin di rapat kali ini.
Nervous itu pasti tapi aku Berusaha tenang saat memasuki ruangan, aku terduduk bersama para tamu rapat, perlahan aku mulai mempersentasikan bahan yang telah ada, tanpa aku sadari ada wajah yang tidak asing disana “ferly” batinku yang terus memperhatikan pria berpenampilan rapi itu, ya.. Ternyata perusahaan yang ingin bekerja sama adalah perusahaan milik ferly
Opps, tidak pernah kusangka, ternyata ini lantaran pertemuanku dengan ferly. Setelah selesai, bersyukur karena aku berhasil membuatnya untuk bekerjasama dengan perusahaanku “senang bekerja sama dengan anda” ucap ferly dari arah belakangku seketika wajahku menoleh padanya, wow, dengan penampilan seperti ini ferly terlihat begitu tampan
Aku pun tersenyum memandang wajahnya, aku harap aku dapat melupakan segalanya yang membuatku bosan termasuk masalah beberapa tahun lalu yang membuatku muak dengan keadaan. “Fa, itu tadi ferly kan?” Tanya vania setelah memasuki ruanganku, aku pun mengangguk “makin ganteng ya” ucapnya melirikku, aku merasa malu dengan ucapanya barusan “Wajar dong, bukankah aku juga makin cantik” ucapku tersenyum memandang vania “iya, kacamata kamu yang bikin makin cantik” jawabnya menyelebalkan “iya dong, kan wanita karir” ucapku yang membuat vania tertawa bahagia sepertinya.
Jam menunjukan pukul 16:00 wib, aku pun meninggalkan ruangan dan kembali ke rumah, sampai di rumah, sungguh mengejutkan halamanku tersusun rapi disana ada serangkaian bunga yang begitu indah, ada apa ini? Perlahan aku berjalan menghampiri papa dan mama yang terduduk santai disana
“Ini ada apa ma-pa?” belum sempat menjawab tiba-tiba aku melihat kak eren yang muncul di hadapanku dengan gaun yang luar biasa cantik, aku semakin bingung dengan keadaan ini. “Kakak, tolong jelasin ke aku ada apa ini sebenernya?” paksaku menatap wajah kak eren yang sepertinya merasa bersalah, entah lah apa yang disembunyikan dari aku
“Iya sayang, hari ini kakak kamu nikah” ucap mama mendekat, bukankah ini berita bahagia tapi kenapa wajah kak eren tak mau menatapku, dengan siapa kak eren menikah, apa dengan ferly? Oh tidak, lalu apa arti pertemuanku tadi, aku menatap sedih wajah kak eren, kalau benar ferly adalah jodohnya aku iklas “ohya, ini barita bahagia, tapi kok mendadak sih? Terus suami kak eren mana?” tanyaku yang begitu penasaran, ya.. karena selama ini kak eren tidak pernah mengenalkan kekasihnya pada aku ataupun papa dan mama selain ferly.
Ya.. Kembali ferly yang hadir di otakku, Tampak keraguan dari wajah kak eren saat akan menyebutkan nama suaminya, belum sempat kak eren menjawab tiba-tiba terlihat wajah eno di kejauhan sana, panampilannya begitu rapi kemeja putih berlapis jas hitam dengan sebuah dasi berwarna biru di lehernya.
Terkejut aku melihatnya dengan cepat aku menghampirinya disana “eno” gumamku memandang penampilan eno “maafin aku fa” ucapnya meluruskan pandangan “maaf untuk apa? Justru aku yang minta maaf udah marah sama kamu waktu itu, maafin aku ya” ucapku menggenggam tangan eno, perlahan eno melepaskan genggaman itu, ada apa dengan eno?
“Eno ini suami kakak kamu fa” ucap papa setelah mendekat, terdengar begitu aneh, apa aku yang salah dengar? Rasanya seperti hujan petir “maksud papa apa sih?” “iya fa, kakak minta maaf ga ada maksut buat nyakitin kamu” jelas kak eren menggetarkan hatiku, bimbang kini aku rasa, aku bahagia karena laki laki itu bukan ferly tapi aku juga sedih karena laki laki itu adalah eno, entahlah apa yang aku rasakan saat ini.
Seketika aku berlari menjauh dari tempat itu, Di kamar aku meneteskan air mata, air mata apa ini, apa air mata bahagia? Atau malah sebaliknya, eno aku sangat merasa bersalah padamu belum sempat aku meminta maaf kenapa hal ini terjadi, ferly aku membutuhkanmu saat ini, rasanya aku ingin bersandar di bahumu dan mencurahkan semua isi hatiku.
Tapi tiba-tiba terbesit tanya di hatiku, bagaimana dengan ferly jika ia tau masalah ini, akankah ferly sakit hati? Bukankah ferly masih mencintai kak eren. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, kak eren ya pasti itu dia “fa, kakak bener benar minta maaf”
“Lalu bagaimana dengan ferly kak?” “ga fa, kakak ga pernah balikan sama ferly, ferly pernah bilang dia bakal nungguin kamu sampai kapan pun” mendengar kata-kata itu aku rasa hatiku terbuka lagi untuknya, tanpa menjawab aku hanya mengangguk tersenyum, dan aku doakan semoga kak eren dan eno menjadi keluarga yang samawa.
Keesokan harinya, jam menunjukan pukul 08:30 wib, oh my god aku kesiangan, dengan cepat aku berlari keluar rumah “yulfa” teriak mama dari meja makan mendadak langkahku terhenti, ada papa kak eren dan eno yang memperhatikan juga disana “kenapa ma?” “ga sarapan dulu?” “aku udah kesiangan ma, aku ada janji sama client, aku berangkat dulu ya ma” ucapku seraya melangkah “tunggu yulfa” “ada apa lagi ma?” “kamu sama siapa?” “Sendiri dong ma, biasanya juga sendiri kan” “jangan deh fa, kamu lagi buru-buru gini jangan bawa mobil sendiri bahaya” “tapi ma mau sama siapa?” “eno kamu anter yulfa bentar ya, mama ga mau dia bawa mobil sendiri bahaya” ucap mama pada eno, dan eno hanya mengangguk, oh my god pikiranku jadi kacau dan jantungku berdegup kencang, ya.. Bagaimana pun eno adalah orang yang pernah aku sayangi “Yaudah buruan deh, udah siang” ucapku meneruskan langkah menuju mobil.
Di perjalanan aku hanya berdiam diri, segan dan bingung harus bagaimana, suasana pun menjadi dingin “kok diem aja” ucap eno menoleh ke wajahku “ga papa” jawab ku simple tanpa memandangnya “ya.. aku tau kok, tapi yaudah lah yang lalu biarlah berlalu, yang jelas aku tetep sayang sama kamu” ucapan itu membuatku panas dingin, apa maksud eno “…sebagai adik” tambahnya yang membuatku bernafas lega
“Aku mau tanya deh no, kamu nikah sama kak eren apa karena sakit hati sama aku?” “enggak, aku ga pernah sakit hati sama kamu, ya mungkin jodoh, dan aku tau kamu masih mencintai ferly, sama dengan beberapa waktu yang lalu walaupun kamu sama aku tapi aku tau pikiran kamu tetap untuk ferly”
Sampainya di kantor, “makasih ya no” ucapku berlalu, dari dalam ternyata vania memperhatikanku “fa itu tadi eno kan?” tanyanya mengikuti langkahku “kamu ketemu dia dimana?” tambahnya yang lalu duduk di ruanganku “kemarin dia nikah sama kak eren” what.. Kok bisa, terus kamu?” “aku ga papa kok” jawabku sedikit tersenyum
“Justru aku mengharap ferly kembali van” “aku tau, cinta kamu memang untuk ferly, sabar ya pasti bisa” mendengar ucapan vania aku hanya mengangguk, tak lama kemudian disaat aku dan vania sedang bekerja tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu “masuk” ucapku tanpa menegakan kepala “selamat siang” ucap seorang pria, suaranya ga asing sering kali aku dengar perlahan aku dan vania memandangnya
“Ferly” gumamku terkejut “hay fa” “hemm fa aku keluar dulu ya, aku akan kembali kalau kalian udah selesai ngobrol” ucap vania keluar ruangan “kenapa fer? Ada yang bisa dibantu?” tanyaku mempersilahkan ferly duduk “aku mau ngomong sesuatu, tapi ga disini, keluar yukk” ajak ferly memandang tajam mataku, aku pun menuruti perkataan ferly.
Cerpen Karangan: Titin Enggi Febriana Blog / Facebook: Egif Fanha