Namaku Laliza dan aku mempunyai marga Kim. Teman-temanku kerap memanggilku Liza.
Pada saat ini, kakiku berdiri menginjakkan telapaknya di atas panggung. Oh ya, tahukah kamu bagaimana rasa sorak-sorak dan tepuk tangan dari penonton itu kepadaku? Sepertinya aku tidak akan bisa menggambarkan rasa itu. Padahal, sebelumnya aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Namun semua itu berubah saat aku mengenal Jung Jaehyun.
Sebelum itu aku mau bertanya pada kalian, apakah kalian akan mengikuti kata hatimu atau tuntutan yang ada di depanmu? Saat itu aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi terkenal di Korea Selatan.
Dalam hidupku sebelum ini, aku hanya mengenal yang namanya pena dan kertas. Kertas tanpa tulisan dan goresan, mungkin hanya ada penggaris di sana tempat kemana aku akan pergi selanjutnya.
Sebenarnya harta dan tahta memang sudah tidak perlu aku khawatirkan lagi. Namun, seperti sudah terlalu lama merasakan manisnya gula, aku juga ingin merasakan pedasnya acar kimchi dan asamnya buah jeruk. Untuk itu, aku memutuskan tinggal di apartemen terpisah dari keluargaku. Itupun dengan memohon sangat lama agar diizinkan.
Saat itu juga aku ingat bahwa jam tanganku menunjukkan pukul 08:15. Tentu hal itu membuatku khawatir karena 15 menit lagi waktunya masuk kelas pertama.
"Harus lari nih. Dosennya killer parah!" ucapku sambil berlari menuju kampus.
Untung saja apartemenku tidak begitu jauh. Tetapi tetap saja butuh waktu 20 menit berjalan kaki sampai gerbang kampus. Wah, bisa mampus kalau sampai kena marah dosen killer.
Di tengah jalan, langkahku terhenti setelah menabrak seseorang di depan cafe dekat kampus langganan para mahasiswa. Seorang pria tinggi dan wajah tampan baru saja aku tabrak.
"Maaf! Aku tidak sengaja," ucapku panik.
Tanpa sadar ternyata kopi americano yang dibawanya tumpah mengenai bajuku dan bajunya.
Matanya tampak menatap tajam seperti singa yang mau menerkam mangsanya. Yah, mungkin karena kopi itu terlihat jelas mengalir di kaosnya.
"Aku akan menggantinya. Sekali lagi aku minta maaf," ucapku membalas tatapan matanya.
Hari itu terpaksa aku meninggalkan kelas dan pergi ke mall terdekat untuk mengganti bajunya.
Huh! Kenapa sih hari ini? Perasaan ngga ada yang bener. Dan juga laki-laki ini cuma diem aja dibelakang, jadi merinding!, pikirku dalam hati.
Setelah berganti pakaian, aku dan lelaki itu keluar dari toko pakaian. Ketika aku berjalan hendak keluar mall, betapa terkejutnya aku melihat kakakku yang sedang memandangku dengan tatapan yang mengerikan. Sepertinya aku ketahuan bolos.
Kakakku bernama Kim Jenny, seorang CEO di salah satu perusahaan milik papa. Ia adalah wanita yang disiplin dan tegas. Ia juga yang jadi alasan kenapa papa selalu menyuruhku belajar dalam dunia bisnis dan perusahaan. Padahal sebenarnya aku ingin menjadi seorang penyanyi solo yang terkenal dan punya banyak talenta. Walaupun begitu, kakak selalu menyayangiku dan berusaha untuk terus melindungi adiknya ini.
"Aku butuh penjelasan, Liza. Kenapa kau disini dan siapa orang itu?" tanya kakak kepadaku.
Aku menjelaskan yang terjadi pagi ini kepada kakak. Dalam hati sebenarnya ada perasaan aneh ketika pria itu tidak kunjung pergi dan masih menungguku menjelaskan hal itu pada kak Jenny. Sepertinya ia juga mendengarnya.
Akhirnya kak Jenny tidak terlalu mempermasalahkan kejadian pagi ini. Namun, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.
"Liza, kakak tanya apa ada hal yang kamu sembunyikan di apartemen?"
Aku terkejut kakak mengatakan itu. Sebab, aku menyembunyikan hal yang dilarang oleh papa.
"Papa kemarin ke sana saat kau masih di kampus. Dia melihat banyak alat musik di apartemenmu. Ia juga minta penjelasanmu akhir pekan ini," ucap kakak dengan nada cemas.
Orang tuaku memang tidak menginginkanku terjun di dunia musikal maupun entertainment.
Pasti papa akan sangat marah, pikirku.
Karena hari itu cuma ada satu kelas, aku memutuskan untuk pulang ke apartemen. Aku mendekati lelaki itu kembali untuk meminta maaf dan mengucapkan salam berpisah. Sekali lagi yang membuatku terheran, ia memberikan kartu namanya tanpa kuminta.
"Jung Jaehyun? Apa benar ini Jaehyun si Idol terkenal itu?" gumanku bingung sambil melihat punggung belakangnya yang mulai menjauh.
Tanpa terasa, akhir pekan datang begitu juga dengan papa. Aku kena marah habis-habisan karena melanggar perintahnya. Meskipun nilaiku di kelas bagus, itu tidak menjamin papa mengizinkanku bermain musik dan bernyanyi.
Dalam perasaan sedih dan dengan kebodohan yang tak kusadari, aku menghubungi Jaehyun melalui nomor telepon yang ada di kartu namanya.
Aku bercerita padanya yang saat itu ia adalah orang asing bagiku. Namun, entah mengapa aku merasa nyaman.
"Minggu depan mari kita bertemu di cafe kemarin. Jadwalku sedang kosong saat itu," ucapnya pada telepon.
Tanpa pikir panjang, aku mengiyakannya karena berharap bisa menemukan solusi dari apa yang aku alami ini. Aku tidak banyak cukup kekuatan dan bukti untuk menunjukkan pada papa bahwa aku bisa bersinar menjadi penyanyi solo.
Kemudian, sesuai yang telah kami sepakati, aku bertemu dengan Jaehyun. Meskipun ia menggunakan masker penutup ala kebanyakan Idol saat keluar, pesonanya tetap tidak berkurang.
"Aku akan membantumu. Tapi ini bukan hal yang mudah. Apa kau bersedia melaluinya?" tanya Jaehyun padaku sambil mencicipi hidangan yang dipesannya.
"Tentu. Ini sudah keputusanku dan aku tidak akan menyerah dengan mudah." jawabku tegas dan penuh semangat.
Jaehyun hanya tersenyum kepadaku yang membuatku bertanya-tanya. Apakah jawabanku terdengar lucu?
"Tapi, Jaehyun-ssi, mengapa kau mau membantuku?" tanyaku sangat penasaran.
Sebelum menjawab, ia mengambil minumannya di meja itu terlebih dahulu. Mungkin saja sambil memikirkan jawabannya.
"Sebelum itu, panggil saja aku kakak. Lalu sungguh, apa kau tidak ingat aku?" jawabnya memandang wajahku penuh tanda tanya.
"Tentu. Bukannya kamu adalah penyanyi dan musisi terkenal Jung Jaehyun. Idol K-Pop, anggota Boyband Korea yang banyak fans-nya," jawabku tanpa pikir panjang sambil tersenyum.
"Oke kalau itu yang kamu tahu. Namun, aku mau bercerita sedikit tentang kejadian masa kecilku. Bolehkah?" tanyanya.
Aku mengangguk ringan dan bersiap untuk mendengarkan kisah seorang Jaehyun. Mungkin kalau aku seorang wartawan, berita ini bisa jadi trending satu.
"Dulu saat aku berusia tujuh tahun, aku bertemu dengan seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahunan di taman bermain. Saat itu, aku sedih karena terpisah dengan orang tuaku. Saat itu pula, anak perempuan itu datang lalu mengeluarkan harmonika kecil yang tersimpan di sakunya. Aku terkejut karena dia bisa bermain harmonika dengan sangat lihai dan merdu sekali," jelasnya.
"Lantas apa yang terjadi selanjutnya?" tanyaku penasaran.
"Mendengar alunan musik itu aku merasa tenang dan tidak khawatir. Sampai datanglah kakak dari anak perempuan itu yang mencarinya. Ia juga mengantarku ke pusat informasi sehingga aku bisa segera bertemu orang tuaku." lanjutnya sambil memandang jendela untuk melihat pemandangan luar cafe itu.
"Lantas apakah kamu masih bertemu dengannya saat ini?" lanjutku bertanya.
Rasa penasaran ini sepertinya tidak bisa tertahan.
"Apa kau tahu kalau sebenarnya anak perempuan itulah yang membuatku terjun ke dunia musikal ini. Aku pikir dia akan melanjutkan bakat musiknya, jadi dengan terjun di dunia musik ini aku berharap bisa bertemu dengannya. Yah, walau belum bisa," ucapnya menghela napas.
Sebenarnya apa alasannya Jaehyun menceritakan hal ini padaku?, pikirku saat itu.
"Lalu bagaimana caramu menemukannya? Apa anak itu penting bagimu sampai kau rela terjun ke dunia musik hanya untuk mencarinya?"
"Entah. Aku tidak bisa bilang itu penting atau bukan. Tapi kalau ada yang bisa aku lakukan pasti akan kulakukan untuknya," ucapnya menatapku dengan lebih bersemangat dari sebelumnya.
"Kalau boleh tahu siapakah namanya? Barang kali aku membantumu mencarinya,"
Dia terdiam sesaat lalu sambil menahan tawa ia menjelaskan padaku.
"Aku ingat ia menjabat tanganku tanpa ragu sambil mengatakan namanya dengan lantang di taman bermain itu. Namaku Liza dan Kak Jenny adalah kakakku. Itulah yang ia katakan," ucap Jaehyun membuatku terbelalak tidak percaya.
Jadi Jaehyun di depanku ini adalah Jaehyun kecil saat itu?
Jaehyun menjelaskan kepadaku bagaimana ia bisa mengetahui aku adalah Liza kecil dan alasan mencarinya. Tanpa sadar ternyata aku berbincang cukup panjang dengannya.
Setelah mengetahui alasannya membantuku, aku mulai bergerak sesuai rencana. Memang berat seperti yang ia katakan di awal.
Dua tahun aku berlatih di dunia musik dan entertainment. Mulai menjadi dancer latar, penyanyi di cafe, membuat mini album yang belum terkenal, menjadi trainee, dan berlatih dengan beberapa musisi senior kenalan Jaehyun telah aku lalui.
Tentu hal ini aku rahasiakan dari papa. Namun, tidak untuk kak Jenny. Walaupun sempat menentang, akhirnya ia menyetujui untuk bekerja sama denganku.
Tahun lalu akhirnya aku bisa diterima di agensi terkenal dan debut dengan lagu solo pertamaku. Karirku semakin meningkat dengan berbagai dukungan para fans, teman-teman, dan orang-orang terkasihku. Papa yang awalnya menentang, sekarang mulai luluh karena bukti nyata yang telah aku tunjukkan.
Dan yang paling membuatku bahagia saat ini adalah kolaborasi musik yang kulakukan dengannya. Lagu pasangan pertama yang kami buat dan kami nyanyi di atas panggung. Sorak penonton dan tepuk tangan serasa menggema di ruang besar itu.
Aku, Kim Eliza tentunya sangat berterima kasih pada Jung Jaehyun. Jaehyun yang membantuku dengan tulus dan juga memberikan cintanya padaku. Walaupun mengagetkan tetapi tidak ada alasanku untuk menolaknya.
Satu lagi yaitu lirik lagu yang aku nyanyikan bersamanya. Penuh makna dan sangat membekas di hatiku, di hati para fans, dan siapapun yang mendengarnya.
"You are my friend
You are my love
You are my destiny
Under the sky
Under the tree
You're smiling with me
In the sunny and rainy day
We are together
You and I
I love you"
___The End___