Namaku Cindy Valency, sering dipanggil Cindy. Aku terlahir di keluarga yang sederhana, keluargaku hanya terdiri dari Ayah, Ibu, Kakak, dan Aku.
Kakak? Ya, aku memiliki seorang kakak. Kakak ku cowok, namanya Allen Narendra. Usia kami terpaut 5 tahun, aku kelahiran 1995, sedangkan kakak ku kelahiran 1990.
Untuk kedua orangtuaku sendiri, mereka adalah seorang pekerja keras. Ayah dan Ibu sering meninggalkan kami berdua di rumah hingga larut malam, mereka sibuk dengan pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami.
Semenjak Kak Allen masuk SMA, kedua orangtuaku semakin disibukkan dengan pekerjaan mereka. Terkadang mereka hanya pulang sebentar untuk berganti pakaian, bahkan tidak pulang sama sekali untuk beberapa hari kedepan.
Aku tidak masalah dengan itu, aku selalu mencintai kedua orangtuaku. Aku hanya kesal karena selalu menghabiskan waktuku bersama dengan kak Allen.
Menurutku, kak Allen itu seperti iblis. Dia selalu punya cara untuk menggangguku, menjailiku, dan membuatku seperti babu di rumah.
Tidak hanya itu, menurutku kak Allen juga sangat aneh. Dia sangat posesif, terkadang aku juga berpikir kalau dia punya penyakit seperti Sister-Complex.
Sister-Complex adalah penyakit dimana seseorang sangat mencintai kakak atau adik kandung perempuannya.
Sejak kecil kami selalu diajarkan untuk mandiri, tapi menurutku itu hanya berlaku untukku, tidak untuk kak Allen. Hampir seluruh pekerjaan rumah aku sendiri yang mengerjakannya, sedangkan kakak ku hanya mengawasi pekerjaanku dan menikmati hasilnya. Aku tidak bisa menentang kak Allen, karena dia yang memegang kendali atas keuangan keluarga selama Ayah dan Ibu tidak ada di rumah.
Diluar itu semua, aku senang karena sejak kecil hingga aku lulus SMP kakak selalu mengantar dan menjemputku ke sekolah.
Tapi semenjak aku masuk SMA, aku mulai kesal dengan tingkah kak Allen yang terlalu Over Protective padaku.
Walaupun aku bebas melakukan apapun selama pekerjaan rumah beres, tapi kakak tidak pernah meninggalkanku sendirian, dia selalu mengawasiku, menguntitku setiap kali aku pergi dengan teman-temanku.
Meskipun begitu, teman-teman cewek ku tidak keberatan dengan kak Allen. Yah, aku tahu maksud mereka, mau dilihat darimanapun kak Allen memang seorang cowok ganteng. Mereka belum tahu saja bahwa kak Allen adalah jelmaan iblis, karena dia terus menganggu hidupku.
Aku berulang kali menceritakan itu semua ke seluruh teman-teman cewek ku, tapi mereka tidak pernah menanggapiku secara serius. Habis kak Allen selalu bersikap layaknya seorang kakak yang sangat sempurna bak pria-pria negeri dongeng di hadapan teman cewek ku.
Lalu bagaimana dengan teman-teman cowok ku? Jika hanya pertemanan biasa, kakak selalu membiarkan mereka. Tapi kalau mereka berusaha mendekatiku, kakak akan melakukan berbagai macam cara untuk membuatnya menjauh dariku.
Aku pernah mencoba berpacaran dengan teman SMA ku secara diam-diam, tapi entah mengapa kak Allen bisa mengetahuinya. Alhasil, hubungan kami hanya bertahan selama beberapa bulan.
Nama mantan pacarku adalah Andi Wijaya, aku menyukainya karena selain memiliki wajah yang lumayan ganteng, Andi juga merupakan siswa teladan. Kami selalu menghabiskan waktu bersama untuk belajar di sekolah, alhasil kami berdua berhasil mendapatkan peringkat 10 besar di sekolah.
Seiring berjalanannya waktu, cinta tumbuh bersemi diantara kita. Andi mengutarakan cintanya kepadaku, dan aku menerima perasaannya. Sebelum kami resmi berpacaran, tidak lupa aku menceritakan tentang kak Allen kepadanya, dan dia menjawab bahwa ingin menerimaku apa adanya.
Kami hanya berpacaran di sekolah, rutinitas kami hanya seperti pertemanan biasa, ini sangat membosankan.
Suatu hari Andi memberanikan diri untuk mengajakku berkencan, ia mendatangi rumahku untuk meminta izin kepada kak Allen. Tentu saja Andi dan aku bersekongkol untuk membuatnya nampak seperti akan pergi untuk kegiatan antar kelas, aku mengundang Vania dan Ari untuk memuluskan rencana kami.
Kakak memberikan izin kepadaku, dan kami berhasil pergi untuk berkencan. Setibanya di taman kota, aku dan Andi berpisah dengan Vania dan Ari. Kami memutuskan untuk tidak saling menganggu agar dapat menikmati waktu berkualitas bersama dengan pasangan kami masing-masing.
Aku sangat menikmati kencan pertamaku dengan Andi, aku mencoba untuk memanjakan diriku dengannya. Sayangnya kencanku berakhir sangat cepat berkat kak Allen.
Saat kami mencoba bergandengan tangan, tiba-tiba kak Allen berjalan melewati kami berdua, ia sengaja menubrukku dan Andi agar tidak jadi bergandengan tangan.
"Maaf, ga sengaja. Oh rupanya Cindy adik ku tercinta, dan kau Andi kan? Bukankah kalian akan pergi ke acara antar kelas?" tanya Allen dengan wajah dan senyuman polosnya.
"A-apa apaan sih kak?! Taman kota memang tempat berkumpulnya, kami cuma lagi nungguin teman-teman yang lain." jawabku sedikit kesal dan terkejut dengan kehadiran kak Allen.
"Ho~ Lalu kemana Vania dan Ari pergi? Kok aku ga melihatnya ya sayang?" balas kak Allen yang mulai mencurigaiku dengan tampang polosnya, ia mulai mengusap dan mengacak-acak rambutku.
"M-maaf kak, sebenarnya kami berpisah untuk mencari teman-teman kami. Kami takut mereka lupa lokasi pertemuan kami." balas Andi yang mencoba untuk tenang, ramah, dan berwibawa dihadapan kak Allen.
"Hmm.. Jadi seperti itu ya? Baiklah kalau begitu, kakak pergi dulu. Tolong jaga Cindy untukku." balas kak Allen, ia menggenggam erat pundak Andi kemudian pergi meninggalkan kami.
Andi nampak kesakitan atas perbuatan kakak ku, aku memijat pundaknya untuk membuatnya merasa baikan. Kemudian kami memutuskan untuk beristirahat di bangku taman, Andi membelikanku es krim untuk meredakan suasana kencan kami yang kacau berkat kakak ku Allen.
Aku menikmati es krim vanila pemberian Andi, dan ia juga nampak menikmati es krim coklat miliknya. Suasananya mulai membaik, kami tertawa lepas mengingat kejadian tak terduga barusan.
Tak lama kemudian, suasananya menjadi agak romantis. Tiba-tiba Andi memintakku untuk menyuapinya es krim milik ku, ia tertarik untuk merasakan rasa es krim yang aku makan. Aku tidak begitu keberatan dengan hal itu, tapi sebelum aku menyuapinya, aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kak Allen tidak ada di sekitar kami.
Andi memejamkan matanya sembari membuka lebar mulutnya, ia nampak sangat bahagia menungguku menyuapinya dengan es krim vanila milik ku. Saat aku hendak menyuapi Andi, tiba-tiba kak Allen muncul dari belakang bangku taman yang kami duduki. Ia muncul di tengah-tengah kami kemudian mencuri suapan es krim dariku.
"Auumm! Ehmmm~ benar-benar segar!" kak Allen mencuri suapan es krim.
"Eh?! Kak Allen?! K-kenapa kakak ada disini?!" tanyaku kaget atas kehadiran kak Allen yang muncul tiba-tiba seperti hantu.
"Eh?! Kak Allen?! I-ini tidak seperti yang kakak lihat!" ucap Andi kaget dan panik mendapati kak Allen ada di tengah-tengah kami.
"Heh~ kenapa kalian kaget seperti itu? Memangnya aku hantu? Aku cuma lagi haus, kebetulan aku melihat kalian sedang asik menikmati es krim. Sayang, minta lagi dong. Aaa~" jawab kak Allen dengan wajah datarnya, ia meminta suapan es krim lagi dariku.
"T-tidak bukan begitu kak.. A-apa kakak mau mencicipi es krim coklat milik ku?" tanya Andi, ia sangat gugup sampai-sampai menawarkan es krim miliknya pada kakak ku.
"Ehmm~ Ga usah, makasih. Gini-gini aku masih seorang pria normal." balas kak Allen sembari menyantap suapan es krim dariku.
Suasananya menjadi canggung, kami menghabiskan es krim tanpa sepatah kata apapun. Andi tertunduk malu, aku sangat malu sembari menyuapi es krim ke kak Allen, dan kak Allen menikmati setiap suapan es krim dariku dengan wajahnya yang tak berdosa dan tak tahu malu.
"Ngomong-ngomong, apa kalian jadi mengadakan acara antar kelas disini?" tanya kak Allen dengan wajah konyol dan menyindir ke arah Andi.
"Oh.. Uhh.. A-aku baru saja mendapat kabar kalau acaranya dibatalkan kak. Jadi kami memutuskan untuk segera kembali pulang." jawab Andi, ia nampak malu dan sangat frustasi melihat kemesraan ku dengan kak Allen.
"Eh?! A-apa yang kamu.." balas ku yang merasa kecewa dengan pernyataan Andi.
"Hoh~ begitu rupanya. Kalau begitu, aku akan mengantar Cindy pulang. Dan Andi, tolong berhati-hatilah saat kembali pulang ya. Kami pergi dulu~" kak Allen menyela perkataanku, ia menggandeng tanganku, memaksaku pergi dan bergegas untuk pulang ke rumah.
"Kak, tolong hentikan! A-aku.. Andi maafkan aku, tolong kabari aku nanti.." ucapku yang tak mampu melawan kekuatan kakak, aku mulai menangis melihat Andi dari kejauhan yang tidak bisa berkutik untuk membantuku. Andi hanya terdiam, kecewa, dan tidak membalas permintaanku.
Semenjak kejadian ini, Andi tidak pernah lagi menghubungiku, bahkan menjauhiku di sekolah. Hubungan kami hancur begitu saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun di antara kami.
Setibanya di rumah, aku dan kak Allen bertengkar habis-habisan.
"Kak apa yang kamu lakukan?! Aku benci kakak!" ucapku, aku sangat sedih, sangat membeci kakak ku, aku mengunci diri di kamarku.
"Cindy, bukain sayang. Kakak ingin bicara denganmu." balas kak Allen yang mencoba untuk sabar menghadapiku.
"Ga mau! Aku benci kakak! Kuharap aku ga punya kakak sepertimu!" teriak ku, meluapkan semua emosiku ke kakak.
"Maafkan kakak, Cindy. Kakak ga bermaksud keterlaluan denganmu.." balas kak Allen, suaranya lirih, ia merasa bersalah denganku.
Aku masih marah dengan kak Allen, aku membiarkan kak Allen berdiri di depan pintu kamarku, ia mencoba untuk minta maaf kepadaku dan ingin berbicara denganku.
Selang beberapa saat, kak Allen pergi dari depan pintu kamarku, sepertinya dia sudah capek dan menyerah untuk menghadapiku.
Aku merasa kesal dengan tingkah kakak, sehingga aku memutuskan untuk perang dingin dengannya. Aku menelepon Ayah dan Ibu untuk memberikan uang saku ku tersendiri tanpa melalui kakak.
Sudah setahun ini aku menghiraukan kak Allen, sekarang aku sudah kelas 3 SMA. Aku mulai terbiasa dengan hidupku yang baru, aku lebih bahagia, aku sudah tidak memikirkan kakak ku yang menyebalkan.
Sekarang aku lebih leluasa untuk berkumpul dengan teman-temanku, meskipun sudah tidak ada cowok yang berani mendekatiku berkat reputasi kak Allen.
Suatu malam, aku pulang larut malam usai belajar kelompok di rumah salah satu temanku. Aku mendapati kak Allen yang tertidur di shofa ruang tamu untuk menunggu kepulanganku. Awalnya aku menghiraukannya lagi, tapi setelah mendapati meja makan yang dipenuhi dengan masakan, aku merasa tidak enak dengan kakak.
Aku memutuskan untuk kontak fisik lagi dengan kak Allen setelah sekian lama perang dingin dengannya. Anehnya saat aku mencoba untuk membangunkannya, kakak sama sekali tidak merespon. Aku sangat khawatir, aku mencoba menyentuh hidungnya tetapi kak Allen tidak bernafas, aku menyentuh dadanya tetapi aku tidak bisa merasakan detak jantungnya.
Seketika itu aku panik, aku menangis mendapati tubuh kakak yang mulai mendingin seperti air es. Tanpa pikir panjang aku segera memesan ojek online untuk mengantar kakak ke rumah sakit, tak lupa aku menghubungi Ayah dan Ibu untuk menuju ke rumah sakit yang hendak kutuju, aku menceritakan seluruh kronologinya kepada kedua orangtuaku.
Kakak langsung dilarikan ke UGD, aku hanya bisa menunggunya di luar. Aku sedih, menangis, stres mendapati kak Allen seperti ini. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk memberikan kesembuhan kepada kak Allen.
Tak lama kemudian Ayah dan Ibu tiba, mereka menghampiriku dan mencoba untuk menghiburku. Kami semua berharap untuk kesembuhan kak Allen.
30 menit berlalu, dokter berjalan mendekat untuk menemuiku. Dengan wajah yang lelah dan sedih, ia menerangkan kepada kami bahwa kak Allen terkena serangan jantung, dan nyawa kak Allen tidak dapat diselamatkan.
Kami menangis sejadi-jadinya, kami sangat sedih atas kepergian kak Allen. Ayah dan Ibu menyesali kesibukkannya dengan pekerjaannya, sedangkan aku menyesali diriku sendiri atas keegoisan dan sikap kekanak-kanakanku kepada kak Allen.
Tak lama kemudian, dokter memberikan sepucuk kertas yang sangat kusut, ia berkata bahwa kertas ini ditemukan dalam genggaman tangan kak Allen.
"Teruntuk Ayah dan Ibu tercinta, maafkan Allen yang selalu menyusahkan Ayah dan Ibu.
Allen sekarang sudah dewasa, Allen sudah bekerja walaupun hanya kerja paruh waktu.
Allen berharap bisa membantu Ayah dan Ibu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita, Allen ingin Ayah dan Ibu untuk meluangkan waktu bersama kami, terutama Cindy.
Akhir-akhir ini Allen bertengkar hebat dengannya, Allen sadar Allen belum bisa menjadi kakak yang baik baginya, menjadi panutan yang baik untuknya, maafkan Allen ya Ayah, Ibu. Allen sangat mencintai kalian.
Teruntuk Adik ku tercinta Cindy, maafkan kakak yang selalu mengganggumu, menjaihilimu, dan membuatmu terkekang.
Kakak hanya ingin kamu menjadi gadis yang serba bisa, terutama dalam hal urusan rumah tangga. Kakak ingin kamu menjadi istri yang baik untuk keluargamu kelak.
Kakak tidak bermaksud untuk membatasi pergaulanmu, tapi tolong ingatlah kamu ini seorang wanita. Kakak tidak ingin hal buruk terjadi kepadamu, kakak hanya ingin melindungimu.
Kakak berharap kamu dapat menjadi gadis yang cantik, hebat, dan bermartabat.
Cindy, tolong maafkan perbuatan kakak, kakak sering membuatmu sedih dan kecewa. Cindy adik ku tersayang, kakak sangat mencintaimu.
Terimakasih atas segalanya, Allen sangat mencintai kalian, tolong jaga diri kalian baik-baik.
Dari Putramu dan Kakakmu, Allen Narendra."
Kami hanya menangis membaca surat dari kakak, ternyata kakak sangat peduli kepada kami semua. Kami memutuskan untuk memberikan salam terakhir kami kepada Kak Allen, kami memeluk dan mencium kak Allen sembari mengungkapkan rasa sayang dan cinta kami kepadanya, kami sangat kehilangan Kak Allen.
Usai pemakaman kak Allen, Ayah dan Ibu mulai meluangkan waktunya kepadaku, aku sangat bahagia. Sekarang aku juga lebih menghargai diriku dan lingkunganku, semuanya berkat kak Allen.
Beberapa tahun berlalu, aku sudah menjadi seorang ibu di keluarga kecilku. Aku mampu menjadi seorang istri yang cantik, hebat, dan bermartabat seperti yang kak Allen harapkan. Sekarang saatnya untukku membahagiakan kedua orangtuaku dan keluarga kecilku tercinta.
Terimakasih kakak, Cindy sangat mencintaimu.