Cerpen Horor kedua 😁
****
Disebuah Desa terpencil jauh dari keramaian kota ada sebuah rumah tua dan kuno yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya hanya terdapat kertas bertuliskan "RUMAH DIJUAL" beserta nomor telepon yang di tempel dibagian depan pintunya. Rumah yang kosong dan jauh dari tetangga lainnya membuat rumah itu terkesan menyeramkan.
***
Sementara itu di kota besar sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah dan kedua anaknya Ali dan Ani, ibu mereka sudah lama meninggal. Pada hari itu sang ayah memanggil mereka berdua anaknya.
"Ali, Ani kemari Nak!" panggil Ayah
Kedua anak kecil berusia 10 tahun dan 7 tahun datang menghampiri ayahnya dan duduk di kanan kiri sang ayah.
"ada apa Yah?!" tanya Ali anak tertua
"kita harus pindah nak, usaha ayah bangkrut dan ayah tidak punya cukup uang jika tetap tinggal di kota yang banyak sekali pengeluaran." ucap ayah sedih
"terus kita pindah kemana?" tanya Ani si bungsu
"Tadi ayah sudah browsing di internet di desa X ada sebuah rumah yang dijual murah. tapi letaknya sangat jauh dari kota, jadi mungkin karena itu dijual murah. Ayah sudah menghubungi pemiliknya dan besok kita akan kesana untuk melihat, apa kalian siap hidup di desa?"
Kedua anak itu saling pandang "yaaa mau bagaimana lagi.!" jawab mereka bersamaan.
"oke,, kalau begitu kemasi barang kalian jangan sampai ada yang tertinggal. besok kita akan membawa perabot kita ini karena disana kata pemiliknya dia menjual beserta perabotannya." ucap ayah
"oke" Mereka pergi ke kamar masing-masing dan merapihkan pakaian mereka.
Keesokan harinya...
Mereka siap berangkat ke rumah itu, perjalanan cukup jauh begitu memasuki desa yang lumayan cukup ramai rumah banyak lampu dan rumah, tapi begitu mobil mereka berjalan masuk menuju rumah itu suasana dingin mulai kerasa, karena tak ada rumah di sekitar rumah yang mereka tuju.
Rumah yang sangat terpencil dan jauh itu kini nampak di hadapan mereka, dari kejauhan terlihat sepasang suami-istri berdiri didepan pintu, seolah menanti kedatangan mereka. Mobil berhenti dan turun menghampiri pemilik rumah.
"selamat pagi pak Bu!" ucap ayah
"pagi pak, mari kita masuk." jawab si ibu segera.
Ibu membuka pintu terdengar bunyi krieeettttt ketika pintu terbuka. Mereka masuk kedalam melihat. Ibu menjelaskan ruang tamu, berjalan ke bagian kamar yang ada dua bersebelahan, lalu belok ke arah dapur dan kamar mandi, dan tak jauh dari dapur ada tangga mengarah keatas yang hanya terdapat loteng kecil disana bisa difungsikan sebagai gudang.
"di kamar sudah ada kasur dan lainnya lengkap, begitu juga seperti yang bapak liat ruang tamu sudah ada sofa, dapur dengan meja makannya. Jadi bapak tidak perlu membawa perabotan lagi." ucap si ibu
"apa ibu serius menjual rumah ini beserta perabotannya dengan harga yang tertera di internet itu?" tanya ayah
"ya betul, kami jual karena selain letaknya jauh, sepi, kami gak betah. tadi nya mau buat villa tapi jarang di singgahi jadi sama aja kan kosong juga."
"iya juga sih, kalau bener begitu saya mau membeli nya Bu."
"oke kebetulan saya sudah bawa surat rumahnya."
Ayah dan pemilik rumah mulai melakukan transaksi jual beli di sana tanpa ada nya saksi orang dewasa hanya disaksikan oleh Ali dan Ani.
Ali yang selalu melihat ke arah tangga, rasanya ingin naik keatas, tapi selalu di tahan oleh adiknya Ani. "kakak kenapa pengen banget naik keatas ya?" bisik Ali
"nanti aja deh kak," tahan Ani
Akhirnya urusan jual beli itu selesai, semua berkas lengkap sudah berpindah tangan ke ayah. Pemilik pun tak berlama disana mereka segera pamit. Sepeninggalan pemilik lama ayah menatap kearah anak-anak nya.
"menurut kalian bagaimana?"
"Ani takut deh yah!"
"Ali penasaran deh pengen keatas,"
"gak usah takut, emang sih sepi dan sendiri tapi kan disini kita bertiga Ani tenang aja ya." ucap Ayah menenangkan.
"sekarang kita pergi ke pasar yang di dekat jalan masuk desa, kita beli semua bahan makanan dan camilan juga beberapa benda lain. karena ayah nanti akan mencoba bercocok tanam." ucap ayah.
Mereka pergi ke ujung desa berbelanja berbagai macam bahan makanan, camilan, dan lainnya hampir dua jam mereka baru kembali pulang.
"ayo dibawa tas kalian, untuk sementara kamar kalian barengan ya." ucap ayah
Sore nya Ali menaiki loteng diatas tak ada apapun kecuali sebuah box kayu berukuran besar yang sudah sangat lama dan tua teronggok di pojok ruangan. Ali pun turun. Ayah dan Ani sedang di dapur membuat makan malam.
Malam harinya nya Ali seperti mendengar suara yang memanggil namanya,,,
"Aaaallliiiii.."
"Ali.."
"Ali ayo main"
Ali masih tidur diatas kasurnya dengan mata terpejam tapi telinganya mendengar dengan tajam. Karena rasa takut dia tak berani keluar dan menganggap itu hanyalah pikiran nya yang sedang lelah, hingga dia pun tertidur.
Sudah hampir dua bulan mereka menempati rumah itu, Ali juga sudah berani ke loteng dan berdiam disana dalam waktu yang cukup lama dan hanya akan turun jika waktu makan mandi dan tidur.
Suatu hari Ayah mereka pamit mau ke ujung desa untuk menjual hasil panen ladang kecil didekat rumahnya.
"Ali, Ani ayah mau ke pasar ya mau jual hasil panen kita. Ali kamu jaga adik mu ya. Ayah akan membelikan kalian es krim begitu ayah pulang" ucap ayah.
"Ani ikut ayah,,!" rengek Ani tiba-tiba
"ayah cuma sebentar ko sayang, kamu dirumah sama kak Ali ya. Ali jaga adikmu dan kunci pintu ya" ucap ayah
"baik ayah" jawab Ali datar.
Ani menatap ke kakaknya ada sorot mata aneh disana, bukan milik kakaknya. Ali menatap Ani tajam. Ayah pun pergi. Tak lama Ani pun berlari ke kamar dan menutup pintu nya. Ali hanya menatap dengan mata kosong dan senyum menyeringai menyeramkan.
Tok Tok Tok...
"Ani,, buka pintu nya!" panggil Ali
Tak ada jawaban...
"Ani, buka pintunya jangan sampai kakak dobrak ya?" ancam Ali
Hening tak ada jawaban...
Ali pun berjalan menjauh terdengar dari suara langkah kaki yang menjauhi kamar, seketika Ani merasa tenang. Sudah dua Minggu ini Ani tidak pernah lagi tidur bersama kakaknya, sejak kejadian Ani diam-diam naik keatas mengintip apa yang dilakukan kakak nya, disana Ani melihat kakaknya duduk bersila membelakangi Ani didepan kotak kayu yang terbuka ditangan nya memegang sebuah boneka kayu yang wajahnya nyengir kearah Ani. sontak Ani turun dengan terburu-buru karena kaget hingga terjatuh. Sejak saat itu Ani tak mau lagi tidur bersama kakaknya.
Ani berjalan ke pintu dan membuka pintu tepat begitu pintu di buka kakaknya segera menebaskan pisau dapur kearah Ani, Ani kaget berusaha menutup pintu kembali tapi sayangnya pintu itu ditahan Ali didorong kuat hingga Ani terjatuh.
Ali mengayunkan pisau kearah adiknya, adiknya menangis ketakutan berusaha berdiri menjauh dari kakaknya. Hingga ada kesempatan Ani kabur keluar dia berlari ke pintu depan yang terkunci, begitu kunci diputar sebuah tangan membekap mulutnya hingga pingsan.
Tubuh pingsan Ani di gendong naik keatas, dan dimasukkan kedalam kotak kayu yang ada diatas sana lalu di tutup rapat dengan gembok.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti didepan pintu rumah, ayahnya pulang.
Pintu di buka Ali dengan sorot mata bingung dan menangis " aaayahh hhuuu huuu" Isak Ali
"Ali kamu kenapa, mana adikmu?" tanya ayah
"Ani hilang yah,,, Ani gak ada dirumah!" jawab nya
"apa,, hilang ko bisa? gimana ceritanya?" ayah mulai panik
Ali menceritakan kejadian ketika dia mengajak main Ani diluar. "tadi kita main diluar terus Ali masuk mau minum eh pas keluar lagi Ani udah gak ada yah." ceritanya
Ayah mencari disekitar rumah didalam dan diluar, memang tak ada tanda-tanda keberadaan Ani.
Keesokan harinya Setelah 2x24 jam ayah menelepon polisi. Tapi sayangnya kantor polisi hanya ada di pusat kota dan memakan waktu lama untuk bisa sampai didesa itu.
Dengan rasa penasaran ayah pun masuk kedalam karena hanya ada satu tempat yang belum dia datangi yaitu loteng.
"ayah mau kemana?"
"ayah mau ngecek loteng dulu, kamu dia saja disana" jawab ayah
Ayah naik keatas, diikuti Ali. Ayah menatap sekeliling loteng yang hampir jarang sekali dia tengok, di ujung ada box besar kayu tua dan terkunci rapat. Penasaran Ayah mencoba membuka kunci gembok itu tapi sayangnya tak bisa. Ayah mengangkat box itu lumayan agak berat.
"ini box apaan sih? berat amat isinya apa ya?" kepo ayah
"mau ayah bawa kemana box itu?"
"Ali, kamu ngagetin ayah aja deh. box jelek kaya gini isinya apa ya ko berat amat sih?"
"memangnya mau ayah apain box nya?"
"mau ayah buang aja, karena loteng nya mau ayah bersihkan nanti" jawab Ayah sambil menyeret box mendekati tangga.
Tak lama suara ramai dari bawah terdengar, ayah pun turun kebawah melihat ternyata para polisi.
"pagi pak.bagaimana apakah anak bapak sudah ditemukan?"
"belum pak, semua tempat sudah saya cari tapi tak ada tanda-tanda keberadaan nya. apa mungkin dia dibawa makhluk gaib ya pak?" ucap ayah
"mari kita periksa lagi pak."
"oiya pak bisa bantu saya mengangkat box kayu yang ada di loteng? box yang sejak saya pindah sudah ada dan terkunci."
"baik."
Mereka berdua bergotong membawa box kayu kebawah dan hendak membawa keluar.
"ayah jangan bawa adikku,,!!!" teriak Ali histeris dan berlari memeluk box kayu itu.
Kaget semua dengan teriakan Ali, "apa maksudmu Ali?" tanya ayah
Kapten Polisi itu memerintahkan anak buahnya membuka box kayu itu bagaimana pun caranya. Alu menangis keras, lalu tertawa kencang, lalu tersenyum mengejek yang seram. Seorang anggota polisi mendekati kapten.
"pak di belakang Ali ada bayangan hitam yang mulai masuk kedalam tubuh Ali dengan perlahan." ucapnya
Ali ditarik dan ditahan oleh beberapa polisi, box pun berhasil dibuka dan ternyata benar didalamnya Ani yang sudah meninggal kehabisan napas dengan wajah pucatnya.
"Aaaaannnnnniiiiii,,,,,!!!!!" teriak ayah syok.
Ali hanya tertawa dan tersenyum jahat, lalu dibawa pergi oleh dokter dan beberapa polisi bersama dengan jasad Ani, ayah pun ikut serta. Dari dalam rumah di ujung anak tangga sebuah boneka kayu menatap sinis dan menyeringai menyeramkan...
Tamat...