Namaku Karina, kalian bisa memanggilku Karin. Udara Seoul hari ini cukup cerah. Jauh lebih cerah dari tahun lalu.
Bukan, aku bukan warna negara Korea Selatan, aku ada disini hanya singgah sebentar karena pekerjaan suamiku.
Kurasa, tahun berganti dengan sangat cepat. 2030 tiba, kerutan di wajahku mulai muncul, tenagaku sudah tak sekuat dulu. Bahkan, umurku sudah memasuki kepala tiga.
Aku punya satu anak laki-laki. Namanya Naufal, usianya 6 tahun. Anak itu tumbuh dengan sangat cepat tanpa ku rasa.
Mataku kubawa berselancar ke arah karpet kuning yang sekarang sedang kupijaki.
Ini bukan karpet yang terbuat dari kain. Ini hanyalah jalanan yang berlapis dedaunan gugur yang telah menguning.
Seoul sedang memasuki musim gugur. Dan aku cukup tertegun dengan udara musim gugur yang saat ini sedang ku hirup.
Impianku terkabul. Terimakasih kepada suamiku yang telah mengabulkan mimpiku untuk menginjakkan kaki di tanah Seoul yang dulu sangat aku impikan di usia mudaku.
Meski baru terwujud sekarang, tapi aku cukup bersyukur.
Bruuukk!!!
Kegiatanku yang tengah menikmati udara musim gugur di Seoul terganggu. Suara tubrukan dua badan yang tak disengaja itu terjadi.
Aku menoleh ke arah dua orang laki-laki tinggi yang saling pandang.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Satu laki-laki dengan badan agak pendek itu membungkukkan badannya sembari meminta maaf.
Sementara satu lagi hanya menggeleng pelan kemudian melanjutkan langkahnya tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Aku mengerutkan kening heran. Apa sesusah itu mengucapkan satu patah kata?
Baiklah, aku tak akan ikut campur. Dan sebaiknya aku kembali ke apartemen sebelum suamiku pulang dan kebingungan mencariku.
Ohh tidak. Kurasa ada sedikit masalah.
Mataku tak sengaja menemukan satu buku catatan berwarna merah yang terjatuh di jalan tak jauh dari tempatku berdiri.
Di tempatku berada ini, ada banyak orang lalu lalang. Cukup sulit untuk menemukan si pemilik buku.
Mari bersikap 'tidak peduli'. Aku akan melanjutkan langkah ku dan berpura-pura tak tahu dengan keberadaan buku merah yang tergeletak mengenaskan.
Baiklah, mari kita lanjutkan langkah.
"Permisi,"
Ohh ini buruk. Langkah ku tertahan lagi. Sekarang, aku akan berpura-pura tersenyum dan bersikap lembut.
"Iya?" Jawabku sembari memberikan senyum paling manis. Sssttt, jangan beritahu suamiku ya?
"Apa kau disini dari tadi?"
Pertanyaan dari orang asing itu membuatku melirik ke kiri dan ke kanan.
"Emmm bisa dibilang begitu." Karna memang aku disini sedari tadi.
"Aku kehilangan barangku. Aku tidak tahu dimana barangku terjatuh. Tapi firasatku mengatakan kalau barangku terjatuh disini. Apa kamu melihatnya?"
Ku beritahu. Orang asing ini, saat ini memakai hoodie hitam dengan tudung yang ia tutupkan di kepalanya. Celana jeans robek di lutut, masker berwarna hitam, rambut sedikit gondrong, dua tangan masuk ke saku hoodie.
Matanya yang bulat dan cenderung imut cukup membuatku berfikir kalau usia orang asing ini tak jauh dari usiaku.
"Apa kau melihatnya?" Tanya nya lagi dan aku mengendikkan bahu.
"Ohh maaf, aku kira kamu lihat buku catatan merahku."
Aku tertegun sebentar kemudian tersentak. "Buku merah?" orang asing itu mengangguk antusias. "Itu bukan?" Jari telunjukku menunjuk satu buku yang masih tergeletak mengenaskan di jalan.
Dan orang asing itu, langsung berlari mengambilnya.
"Ini barangku. Ini punyaku. Terimakasih sudah menemukannya." Orang asing itu membungkuk berkali-kali dan mengucapkan terimakasih.
Aku tersenyum melihat nya. Orang yang cukup sopan pikirku.
Saat aku menurunkan pandanganku pada tangannya yang memegang buku nya, aku seribu kali terkejut.
Tubuhku mematung. Dadaku berdetak kencang. Keringat dingin bercucuran. Udara di sekitarku rasanya sangat sesak. Orang asing itu cukup peka melihat reaksi keterkejutanku.
"Noona, apa kamu baik-baik saja?"
Tangan besarnya maju seolah ingin menyentuhku. Tubuhku kembali kaku saat tangan besar itu berada tepat di depan wajahku.
Dengan bibir yang bergetar dan suara yang tiba-tiba serak, aku bergumam, "Jung-kook?"
Orang asing itu membolakan matanya. Aura terkejut pun terlihat dari pupil matanya yang bergetar.
"Ka-kamu Jungkook?"
Orang itu mundur. Beberapa menit saat aku dan dia terdiam, laki-laki itu membuka pelan maskernya.
Dan benar, dia Jungkook. Jeon Jungkook, salah satu orang yang aku idolakan dulu.
Entah mengapa air mataku mengalir. Pandangan ku kabur tertutup air mata. Isakan muncul di tengah buliran air mataku.
Dan dia, Jungkook, mendekat dan menghapus air mataku sembari tersenyum.
"Hallo.." Ucapannya lembut, benar-benar sangat lembut. Hal itu membuat aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.
"Kau mengingatku?" Ada sayatan menyakitkan saat Jungkook menanyakan hal itu. Dan tanpa di perintah, kepalaku mengangguk dua kali.
"Terimakasih masih ingat aku." Senyum manisnya semakin mengembang. Dua gigi kelinci yang dulu sangat kusukai itu menyembul diantara senyum lebarnya.
Bagaimana aku bisa lupa, kalau dia dan grupnya lah yang menyelamatkan masa remaja ku. Saat aku hilang arah karna beban dunia yang menyesakkan, mereka datang menarikku dari lubang hitam. Tuhan memberikan mereka, dan menyuruhku untuk bersyukur atas hidup dan waktuku. Memaksaku untuk belajar, kalau aku harus mencintaiku diriku terlebih dahulu sebelum aku mencintai orang lain.
Bagaimana aku bisa lupa, kalau tanpa mereka, masa remajaku dulu terasa sangat membosankan.
Semangat, kerja keras, saling menghargai dan menyayangi, hal yang sangat asing di hidupku dulu, tapi mulai bermunculan bersamaan dengan kedatangan mereka.
"Terimakasih." Ucapku disela isakan tangisku. "Terimakasih sudah menemani masa remajaku." Ini ucapan tulus dari lubuk hatiku.
Jungkook tertawa. Tawa yang dulu membuatku merasa bahagia, bahkan sampai sekarang.
"Noona, kenapa harus terimakasih? Lagian ngapain nangis? Aku juga makasih, karna Noona masih mengingatku. Makasih juga karena udah mau nerima lamaran Yoongi hyung. Kalau Noona nggak nerima lamaran Yoongi hyung, kayaknya dia bakal frustasi."
Ucapan panjang lebar dari seorang Jeon Jungkook yang membuatku langsung teringat pada suamiku.
Aku menepuk jidatku pelan. Dan Jungkook tertawa cukup keras.
"Jungkook-ah, aku lupa siapin makan siang."
Jungkook tertawa lagi. Dan anak itu mengayunkan tangannya gestur mengusirku secara halus.
"Pergilah, Yoongi hyung bakal marah kalau Noona berkeliaran disekitar sini."
Kepalaku menggeleng lalu menghapus air mataku. "Aku pergi. Jangan rindu. Sempatkan mampir sebelum kembali ke Busan. Lusa aku kembali ke Jepang sama Yoongi!" Suara teriakan ku bersahutan dengan anggukan kepala Jungkook.
Benar, aku menikah dengan Yoongi. Dia suamiku, dan sekarang aku memiliki satu anak laki-laki darinya.
Meski aku menikah dengan Yoongi, bukan berarti aku bebas bertemu Jungkook dan yang lainnya. Pertemuan ku dengan mereka bahkan hanya bisa dihitung dengan jari. Karena itulah aku menangis. Karena itulah aku terkejut. Karena meski menikah dengan Yoongi, perasaan haru bisa bertemu bangtan di jalan seperti tadi, seolah masih menjadi mimpi bagiku.
Sampai tua pun, kenangan mereka tak akan pernah ku lupakan.
Mereka, malaikat yang Tuhan kirimkan saat hidupku tenggelam jauh di kegelapan.