Terkadang memang berlebihan itu tidaklah baik, semua haruslah proporsional sesuai takarannya.
Nina merasa hari ini akan menjadi hari yang bahagia dalam hidupnya. Hari ulang tahun diusianya yang sudah menginjak dewasa. Semalam Ardi pacarnya telah memberikan kejutan makan malam special, karena esok harus terpaksa tugas keluar kota untuk pekerjaannya.
Meskipun demikian Nina tak sedih, karena paham akan kesibukan pacarnya. Dan juga Nina berfikir masih bisa menghabiskan hari ulang tahunnya bersama kedua sahabatnya, Anna dan Nadia.
Nyatanya dihari yang special ini justru kedua sahabatnya seperti menghilang entah kemana. Berulangkali Nina menghubungi mereka, apa daya tidak ada respon dari mereka berdua.
Dari pagi hingga malam hari nyatanya kejutan yang Nina tunggu tak kunjung datang. Akhirnya dengan terpaksa Nina harus menyalakan lilin di mini tart, sebagai bentuk perayaan hari ulang tahun untuk dirinya sendiri.
Malam itu dilewatinya dengan deraian air mata. Pesta ulang tahun yang dinantikan di hari istimewanya semua sirna, tak ada rasa bahagia yang menghinggapinya.
*
Keesokan paginya, Nina bangun denga rasa malas. Kegalauan semalam masih dirasakannya.
Terdengar suara ketukan berulang kali dipintu kamarnya.
"Masuk, nggak dikunci." Jawab Nina malas.
"Happy birthday sayang." Serempak dua orang sesaat setelah pintu terbuka.
Nina langsung menoleh, karena suara yang dia dengar bukanlah suara kedua sahabatnya, Anna dan Nadia. Sedikit mengejutkan Nina saat melihat wajah kedua orang tersebut.
"Intan.. Eka.. Kalian.." Nina sulit berkata-kata, meskipun masih terlihat jelas kesedihan dia raut wajahnya, tetapi kejutan yang diberikan keduanya sedikit menghiburnya.
Keduanya memanglah Intan dan Eka, sahabat lamanya sebelum mengenal Anna dan Nadia. Mereka bertiga terpaksa harus berpisah karena Intan disibukkan oleh kuliahnya di luar kota, sementara Eka, kini bekerja sebagai karyawan tetap disebuah media online ternama. Rasa rindu mendalam kini mengisi suasana.
"Terimakasih sudah datang kesini, tapi kalian sedikit terlambat, ultahku udah lewat kemarin." Senyuman tipis dibibir Nina.
"Loh.. memangnya tanggal ultahmu udah ganti?" Tanya Eka keheranan.
"Tunggu! Tidak ada pelukan! Gadis perawan jam segini belum mandi! Nih peluk doraemonmu!" Ketus Intan sambil melempar boneka ditangannya.
"Makacih.. hehehe.." Jawab Nina justru malah cengengesan menanggapi omelan Intan, "Enggak kok, ultahku masih sama." Lanjutnya menjawab pertanyaan Eka tadi.
"Hei.. Sekarang tanggal 5, kan?" Eka masih keheranan.
"Dasar pikun!" Sembur Intan menambahkannya.
Nina segera meraih ponselnya, dan alangkah terkejutnya ternyata memang hari ulang tahunnya jatuh pada hari ini. Sontak menepuk jidatnya sendiri atas kelalaiannya. Sebelum sempat bereaksi, ponsel ditangannya berdering.
"Cepat lihat kedepan rumah!" Begitu suara dibalik ponselnya.
Bergegas Nina beranjak menuju balkon kamar dilantai dua rumahnya. Pemandangan yang dilihatnya adalah ratusan balon membentuk tulisan 'happy birthday nina'. Balon kian naik keatas, dan menampakkan dua orang yang kini seolah sedang memakai parasut dengan balon sebagai payungnya, salah satu diantaranya membawa kue ulang tahun sedang yang lainnya membawa kotak yang sepertinya sebuah kado ditangannya.
"Woi.. buruan pegangin! Kalian ingin kita terbang keangkasa!" Teriak salah satunya.
"Cepetan jangan bengong mulu!" Sahut yang lainnya.
Nina dan kedua sahabatnya yang awalnya mematung, kini bergegas menangkap keduanya. Sebuah pelukan hangat menghampiri Anna hingga kado ditangannya terlepas.
"Eiittss.. Jangan peluk aku, kamu belum mandi soalnya." Ejek Nadia sambil menjulurkan lidahnya.
Mereka berlima kemudian saling bercengkrama melepas kerinduan setelah sekian lama tak pernah berkumpul seperti saat ini.
"Kalian kenapa bisa kompak datangnya? Janjian kah?" Nina penasaran, matanya berkaca-kaca menikmati moment langka ini.
"Ini semua ide Ardi, dia yang mengatur semuanya." Terang Eka menjawab rasa penasaran Nina.
Anna menceritakan bahwa Ardi yang menghubungi mereka semua, dia juga memanfaatkan kebiasaan Nina yang tak pernah mengingat hari dan kalender setiap harinya. Moment makan malam sebelumnya juga sebenarnya masih ditanggal 3, dua hari sebelum hari ulang tahun Nina. Itulah alasannya kenapa kemarin tidak ada satu orangpun yang memberikan ucapan selamat padanya, karena kemarin masih tanggal 4.
"Benar kata Ardi, kita ini sahabat sejati, susah senang harus kita lewati bersama." Tukas Anna setelah bercerita.
"Sahabat akan selalu menjadi yang pertama kali ada saat kita terjatuh." Senyum Intan menambahkan.
"Mungkin kita terpisah jarak dan waktu, tetapi kehangatan kebersamaan kita tak akan hilang ditelan jaman." Eka tak mau kalah dengan yang lainnya.
"Sahabat sejati adalah dia yang mengiringimu, saat semua orang menjauhiku." Tutup Nadia.
Mereka berlima pun saling berpelukan dengan rasa harunya suasana.
"Sahabat sejati, saling berbagi.. " Ucap mereka berlima serempak.
"Saling berbagi pacar juga nggak?" Sebuah suara familiar memecah keheningan dibalik pintu, dengan setangkai mawar ditangannya.
Maksud hati Ardi datang memberi kejutan, justru dirinya yang kini terkejut karena tatapan tajam lima gadis sedang memelototinya.
"Eiittss.. nggak kena!" Elak Ardi setelah melihat sebuah potongan kue menghampirinya, dengan cakap dia menghalanginya menggunakan mawar di kedua tangannya.
Bug!
"Aduuhh..!" Rintih Ardi setelah lemparan kedua tepat bersarang di wajahnya. Perang lempar kue menjadi tak terhindari.
Sementara Nina hanya menyaksikan keempat sahabatnya dan pacarnya saling melempari kue ulang tahunnya dengan perasaan haru dan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan.
*
Sahabat adalah tentang memahami dan dipahami. Persahabatan bukanlah tentang siapa yang kau kenal paling lama, tetapi tentang dia yang datang ke kehidupanmu dan berkata, 'aku ada di sini untukmu, lalu membuktikannya.
-End-