Dikisahkan pada suatu hari, tinggalah keluarga yang harmonis namun serba kekurangan. Keluarga ini tinggal di desa terpencil yang jauh dari kota. Rumah yang mereka tempati adalah rumah dengan menggunakan dinding bambu dan atap jerami, namun keluarga itu tetap bersyukur dan semangat menjalani hidup meskipun serba kekurangan.
Yusuf dan Yasmin adalah pasangan pasutri dari keluarga itu, mereka mempunyai anak yang bernama Yayus. Yayus adalah seorang anak yang berumur 9 tahun, dia sangat baik hati sopan, dan pintar. Dia selalu mendapat juara disekolahnya dan itu membuat bapak dan ibunya bangga memiliki anak seperti Yayus. Yayus tak pernah mengeluh sedikitpun, dia selalu semangat menjalani hidup dan selalu bersyukur.
Suatu hari saat Yusuf bekerja menanam jagung disawah milik orang tiba-tiba saja terkena masuk angin duduk, itu membuat Yasmin dan Yayus kehilangan orang tercinta. Yasmin harus bekerja sendirian untuk mencukupi hidup setiap hari dan membiayai anaknya sekolah, tapi Yasmin tetap semangat menjalani semua itu. Yasmin pun bekerja disawah menanam jagung seperti almarhum suaminya dulu.
Yayus setelah pulang sekolah juga membantu ibunya bekerja disawah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, hingga suatu saat Ibunya Yayus (Yasmin) direndahkan oleh tetangganya yang berpenjabat menjadi Kepala Desa yaitu pak Yadi.
Pak Yadi bilang ke Yasmin: "Heh kamu! kamu orang gak punya apa-apa gak usah kerja disini. Ini sawah punya orang mampu semua nggak kaya kamu, nanti jangan-jangan malah ngambil jagung yang ada disini"
Lalu Yasmin menjawab:"Iya pak maaf, saya memang orang tidak punya. Tapi niat saya baik pak, saya hanya membantu orang pemilik sawah ini, kalau saya tidak bekerja disini saya nggak bisa makan pak".
Yayus yang ada disamping Ibunya berkata: "pak maaf, saya memang anak kecil. Saya kerja disini sama ibu saya itu nggak ada niatan jahat sama sekali, kenapa sih pak orang nggak punya kok selalu direndahin" dengan meneteskan air mata.
Pak Yadi menjawab: "Ibu anak sama saja" dengan mata melotot. Dan itu membakar semangat Yayus, Yayus membuktikan bahwa dirinya bisa.
Waktu semakin berlalu, Yayus menunggu kedatangan ibunya yang pulang dari sawah inggin dikasih kejutan. Kejutan itu adalah Beasiswa yang diberikan kepada Yayus, namun ibunya tidak kunjung pulang sampai larut malam. Setengah jam kemudian pemilik sawah datang kerumah Yayus memberi tahu bahwa ibunya meinggal karna digigit ular, Yayus tak percaya akan hal itu namun mau bagaimana lagi jika itu sudah takdir Tuhan.
Dan hal itu membuat Yayus harus berjuang sendirian menatap kehidupan. Tapi Yayus tak pernah sesekali mengeluh, dia tetap semangat dan penuh rasa bersyukur. Hingga suatu saat Yayus berhasil menggapai cita-cita yang selama ini dia impikan yaitu menjadi seorang dokter.
SELESAI