Aku terbangun di rumah sakit setelah mengalami koma lebih dari satu bulan, namun anehnya saat aku terbangun aku tak melihat kedua orang tua ku atau adik ku kaila, melainkan empat orang pemuda yang tak ku kenal bahkan tak pernah ku temui sebelumnya.
“lexi kau sudah bangun, sukurlah aku akan segera menelfon mama dan papa” kata salah seorang dari mereka dengan wajah gembira dan sedikit terburu-buru mencari ponselnya dan berlari keluar dari ruangan, ketiga peria lainya hanya membisu menatap ku seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“maaf apa kalian mengenal ku?” tanyaku ragu,
“oh tidak! adik ku yang malang” seorang dari mereka mendekatiku dan menyentuh kepalaku “bagai mana mungkin kau bisa amnesia, aku kira dokter hanya bercanda…. Tidak tidak kau pasti bergurau mana mungkin kau bisa melupakan ku” ia menatap ku serius
“maaf aku tak tau apa yang kalian katakana, tapi bolehkah akau meminjam ponsel? Aku harus menelfon keluarga….”
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kata ku seorang wanita dan peria paruh baya tiba-tiba memeluku sambal menangis, “ibu tau kau akan sadar, tidak apa bila kau tak mengingat apapun yang terpenting sekarang kita bisa berkumpul lagi seperti dulu”
Aku menjadi sangat bingung jelas-jelas aku ingat semuanya orang tuaku, adik ku, teman-teman ku, bahkan aku tau pasti aku ada di sini karna mengalami kecelakaan saat liburan bersama teman-teman ku “apa yang kalian katakana aku tak mengerti, boleh aku pinjam ponsel sebentar ku mohon”
Wanita itu melihat suami dan anak-anaknya yang mengangguk mengizinkan, ia memberikan ponselnya dan aku mulai menghubungi orang tua ku namun semua nomer yang ku ingat selalu salah jelas-jelas aku mengingatnya dengan baik. Aku mulai putus asa dan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
“tak apa sayang, perlahan ayah yakin ingatanmu akan kembali” “kami adalah orang tua mu lexi, dan ini kakak pertama mu liam, ini kakak kembar mu lio dan lois dan, ini kakak…” “aku kakak termuda mu lery” katanya memotong, mereka tertawa melihat tingkah lery.
Ke esokan harinya aku pulang ke rumah bersama mereka, anahnya aku tak asing daerah dan rumah ini, ini memang rumah ku hanya saja kamar di rumah ini lebih benyak dari yang ku ingat, aku jadi mulai meragukan ingatan ku, apa mungkin ingatan ini hanya dari mimpi-mimpi yang ku dapatkan saat koma, karna dalam hati kecil ku aku memang ingin memiliki adik perempuan.
Hari terus berlalu semuanya berjalan dengan baik, mereka sering menceritakan tantang bagai mana dulu kami menghabiskan waktu bersama, mereka juga sangat menyayangiku, ya tentu saja mereka kan keluarga ku, fikir ku.
“aku pulang” kata ku sambil meletakan sepatu di raknya, aku menghampiri ibu di kamarnya, masi dengan seragam sekolah yg ku kenakan,
“Itu album apa?” tanya ku, “kau sudah pulang lexi, ini album foto saat kalian kecil, kau tau terkadang di pagi hari saat papa dan kak liam pergi bekerja, si kembar berangkat kuliah, kau dan lery juga pergi sekolah, ibu sering merindukan saat kalian masi kecil, rumah ini selalu di penuhi tangisan dan tawa anak kecil, hah waktu cepat berlalu ya, sekarang putri kecil ibu sudah SMA saja” ibu mencubit kedua pipiku lembut dan memeluku.
***
“hai lexi” si kembar masuk kamar ku tampa izin seperti biasa, “kenapa kalian selalu datang ke kamar ku” tanya ku kesal, “ayo jujur saja sebenarnya ingatan mu sudah kembalikan” “bagaimana mungkin sifat jelek mu yang suka marah-marah itu kembali tapi ingatan mu tidak” “pergilah aku lagi tak mau mendengarkan pendapat kalian” jawab ku kesal,
“oh ayolah kenapa kau selalu membosankan begini” tak lama kemudian lery ikut masuk ke kamar ku “wah ada apa ini kau menggangu adik ku lagi” ia menatap si kembar dengan pandangan sinis yang terlihat lucu bagi ku, aku berlari ke balik punggung lery “iya mereka terus mengusik ketenagan ku kak” kata ku sambil terkekeh, dan sesuai perkiraan ku mereka mulai berperang di kamar ku, semua bantal dan boneka di jadikan alat pukul dahkan semua buku dan barang-barang ku sudah tercecer di lantai,
“oh ayolah kapten bolehkah kita bertarung di tempat lain saja” aku memegang lengan lery, “tidak” ia menjawab singkat dan kembali membalas pukulan si kembar, “huh terserah aku akan ke kamar kak liam saja” aku bergegas meninggalkan mereka sebelum si kembar melempar ku dangan guling yang mereka pegang.
“kak liam boleh aku masuk” aku pun melangkah masuk, kak liam menyambutku dengan senyum seperti biasa “ada apa, apa kamar mu sudah di jajah lagi”, “ya begitulah”jawabku kesal
Aku melangkah ke piano kak liam dan memainkan lagu FUR ELISE. “kamu masi ingat lagu itu?” tanya kak liam penasaran,
“tentu saja dulu mama mengajarkan lagu….” Kak liam menghampiriku “aku orang yang mengajarkan mu main piano, mama tidak bisa memainkan alat musik dengan baik” aku menatap kak liam canggung, “maaf kak sepertinya ingatantu memburuk”, “tadak masalah, aku yakin perlahan kamu akan ingat” kak liam mengelus rambut ku dan tersenyum.
Hari liburan tiba, kali ini kami memutuskan untuk pergi kepuncak untuk kemping, menghirup udara segar dan menghilangkan setres.
Papa,kak liam dan si kembar sibuk membangun tenda, mama sibuk mengeluarkan dan merapikan makanan dan peralatan lainya. Sedangkan aku dan lery pergi untuk mencari kayu bakar di dekat tebing.
Lery mengumpulkan kayu dengan cepat tapi aku hanya mendapatkan sedikit, akhirnya aku mencoba berjalan sedikit lebih jauh dari lery untuk mencari kayu lebih banyak lagi. Hingga akhirnya aku mendengar suara teriakan lery di ujung tebing, aku berlari menghampirinya.
Seketika jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat lery tergantung di ujung tebing dan hanya memegang akar-akar pohon, dengan sigap aku mencoba menarik tubuhnya dari pinggir tebing namun saat lery melepas akar pohon untuk memegang tangan ku kami berdua pun terjatuh bersama dan menghantam bebatuan tebing dan semuanya menjadi gelap.
Aku kembali terbangun di rumah sakit, namun kini aku kaget bukan main melihat orang yang ada di hadapan ku sekarang, kaila…
“ kau bangun lexi” “dokter.. dokter..”ia berteriak kegirangan “tunggu aku akan memanggil papa dan mama” aku melihat tangan ku dan menemukan goresan yang ku dapat saat menarik lery di ujung tebing.
Tak lama kemudian kaila kembali dengan papa dan mama yang langsung memelukku yang masih binggung dengan apa yang ku alami….
- Tamat-