Cinta sejati memang sangat indah, tapi cinta sesaat disore hari lebih menyenangkan. Meskipun dia tidak menjadi milikku.
):
Perkenalkan namaku Liya, aku hanya gadis desa berusia 22 tahun yang belum pernah mengenal bagaimana itu kehidupan luar dari desa ku, tempat ku bermain adalah tempat ku tumbuh dewasa. Dan di desa ku ini bisa di bilang masih belum berkembang, bahkan untuk mengakses internet saja sangat sulit. Tapi desa ku ini sangat indah dan asri, sehingga banyak wisatawan yang sering datang berkunjung untuk melihat panorama alam yang menyejukkan. Dan di desa ku ini lah kisah cinta kami dimulai.
___
Langit jingga sudah mulai terlihat di langit desa ku, matahari sudah hendak turun dari tempatnya. Seperti biasanya saat sore hari aku bermain sendiri di taman sebuah villa yang di ketahui sudah kosong sejak lama. Ayah ku adalah kepala desa di sini jadi semua penduduk desa sudah mengenal ku, dan mereka juga sudah tahu taman ini adalah tempatku bermain.
Taman villa ini begitu cantik, tapi tidak berpenghuni. Jadi sejak taman ini ada aku lah yang merawatnya. Hobi ku menanam bunga ku tuangkan pada taman ini, aku menanam berbagai macam bunga di sini. Sampai sekarang koleksi bunga ku pun sudah banyak, bunga dari taman ini ku jual kepada wisatawan yang datang. uang bukanlah prioritas ku menjual bunga tapi aku hanya suka melihat orang-orang bahagia dengan berbagi bunga milikku.
Saat sore hari semakin datang, ku putuskan untuk memetik beberapa bunga dari taman ini dan ku bawa pulang. Namun saat sedang asyik memetik bunga aku mendengar suara seorang pria yang berjalan ke arah taman bunga ini. "Siapa di sana?" tanya pria itu, aku sangat ketakutan. Villa ini sudah lama sekali kosong dan tidak berpenghuni, dan jika itu penduduk desa mereka pasti tahu siapa aku dan untuk apa aku di sini. Aku berjalan mengendap-endap dan mencari tempat untuk bersembunyi rasa takut ku mengarahkan pandangan ku pada semak-semak lebat yang ada di dekat pohon besar nan rindang itu. Aku bersembunyi di balik semak-semak di dekat pohon besar di taman ini dan ku bungkam mulutku dengan tangan kanan dan tangan ku yang satu lagi memegang keranjang bunga milikku.
Pria itu semakin mendekat ke arah taman, tubuhnya yang kekar dan kemeja putih miliknya terliat sangat jelas saat dia sudah ada di taman villa yang kurawat ini. "apa dia seorang pencuri? dia ingin mencuri apa dari villa kososng ini?" wajahku semakin pucat memikirkan hal-hal yang aneh tentang pria yang sedang berjalan memperhatikan setiap bagian dari taman ini. Pikiranku berlarian kemana-mana aku takut pria itu adalah penjahat dan akan menyakitiku. "Kenapa taman ini begitu indah dan terawat?" aku mendengar pria itu memuji taman ini, jelas saja aku tersenyum Bagaimana tidak seseorang sedang memuji hasil kerja keras ku. Rasa takut itu sedikit berkurang namun membuat ku lengah, saat aku masih senang dengan pujian itu aku mendengar suara aneh dari semak-semak tempat ku bersembunyi, dan ternyata suara itu berasal dari seekor ular hitam yang baru saja keluar dari semak-semak itu. Spontan aku berteriak dan berlari keluar dari semak semak itu. Karena teriakan ku yang tidaklah kecil membuat pria berkemeja putih itu menoleh ke arah ku. Aku kembali takut dan aku rasa keringat dingin bercucuran dari balik dres bermotif milikku. Tatapan mataku dan tatapan mata pria itu saling terkunci, aku menatap manik mata berwarna kelabu miliknya dengan sangat tajam untuk jaga-jaga jika pria itu akan melukai ku.
Dia berjalan ke arahku selangkah lebih dekat dan lebih dekat lagi, aku mundur kebelakang karena sangat ketakutan namun semakin aku mundur pria itu semakin mendekat, wajahnya membuatku lebih takut, saat langkah ku semakin jauh darinya pria itu tiba-tiba berlari kecil ke arahku dan membuat ku kaget. Aku menutup mataku karena takut, wajahku semakin pucat ku pikir dia akan menyakitiku atau munkin akan melukai ku namun badan ku tidak merasakan sakit sedikit pun melainkan aku merasakan kehangatan sedang menyelimuti tubuh ku dan itu membuat ku sangat nyaman. Yaa,, pria berbadan kekar dan berkemeja putih tadi sedang memelukku, aku bisa merasakan tangannya yang kekar sedang merangkul tubuh kecilku. kemudian aku membuka mata ku karena rasa takutku sudah hilang dan saat mataku sudah terbuka dengan sempurna pemandangan indah sedang berlangsung di depan wajahku. Rahangnya yang tajam menambah karismatik wajahnya yang sangat indah dan tampan. Pria yang berdiri didepanku saat ini terlihat mengambil sebuah ranting kecil dan mengusir ular yang kuliat tadi pergi dari taman ini, namun tangannya masih tetap merangkul tubuhku. Saat tatapan kami saling bertemu aku tidak bisa lagi mengalihkan pandangan ku darinya, aku rasa tatapan ku sudah terpaku pada manik mata pria yang saat ini merangkul ku. "apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu, yang membuat lamunanku buyar seketika. Dia melepaskan tangannya dan membantu ku untuk berdiri dengan sempurna. "aku baik baik saja". jawabku dengan sedikit menunduk karena malu, namun dia malah tertawa. dan membuat ku semakin malu karena aku berfikir dia sedang menertawakan diriku yang yang kampungan dan pakaian ku yang sangat kuno tidak seperti dirinya. tapi ternyata dia malah memegang pipiku dengan kedua tangannya yang tidaklah kecil. Dia mengangkat wajahku yang sudah memerah, "siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?" pertanyaan pria itu seketika membuat ku mengalihkan pandanganku dan mencari keranjang bunga milik ku yang entah ku lempar kemana tadi saat ular hitam itu muncul. Dia mengikutiku yang sedang berjalan untuk mengambil keranjang ku yang terlempar ke arah bunga di belakangku semua bungaku berhamburan dan aku mencoba untuk mengumpulkannya kembali. "apa semua bunga di taman ini milikmu?" pria itu membantuku mengumpulkan bunga yang kupetik tadi. "taman ini bukan milikku tapi semua bunga ini adalah milikku" ujarku dengan tersenyum. Pria itu juga ikut tersenyum, dia benar-benar tampan pikirku. "siapa namamu?" tanyanya lagi dan membantu ku berdiri setelah selesai mengumpulkan bunga yang ku petik tadi. "namaku liya, dan kau?" aku kembali bertanya kepada pria berkemeja putih yang berdiri di depanku. "nama ku Rendra, panggil saja rein " kami saling berkenalan dan berbicara lebih akrab, aku rasa dia bukan penjahat, perampok, atau semacamnya dia hanya seorang wisatawan yang menginap di villa ini.
Saat langit semakin gelap aku pun pamit untuk kembali pulang, dia juga akan masuk ke villa nya. waktu terasa sangat singkat saat aku bersamanya. Dia menawarkan untuk mengantarkan aku pulang tapi aku menolaknya, karena aku memikirkan pendapat orang-orang desa jika melihat anak dari kepala desa mereka pulang dengan seorang pria yang baru dikenalnya apa lagi pria itu hanyalah seorang wisatawan.
Sore hari berikutnya, aku kembali ke taman villa yang ku rawat itu untuk melihat bunga-bunga milikku. Namun sore ini dia datang dan menunggu ku sejak tadi. Ya dia pria berkemeja putih yang kutemui kemarin, rein. "kapan kau datang? dan kenapa kau datang?" tanya ku kepada nya saat aku sudah sampai di taman itu, rein tersenyum hangat kepadaku dan senyumannya sangat manis dia seperti beruang yang imut dan bertubuh kekar. " aku datang sejak tadi, dan aku ingin bertemu dengan mu" ujarnya yang membuat wajahku merona seketika.
Aku dan rein bermain di taman itu kami saling kejar-kejar layaknya anak kecil yang sedang bermain, rein sangat romantis dia membuat ku tidak berhenti tertawa sepanjang sore ini. yang membuat ku semakin bahagia adalah saat kami berlari bersama dan dia menggenggam tangan ku dengan sangat hangat, setelah berlari dia tiba tiba memelukku dari belakang dan meletakkan dagunya pada pundakku itu membuat ku semakin selalu ingin dekat dengan rein.
Matahari sudah ingin sembunyi dari tepatnya bertender, rein yang sedang tidur di pangkuan ku, dia bangkit dan duduk di sampingku. "apa kau sudah ingin pulang?" tanya rein wajahnya seperti tidak rela membiarkan ku pergi, meski sebenarnya aku juga tidak ingin berpisah dari nya tapi aku harus pulang, bagaimana pun aku adalah anak kepala desa di sini aku harus menjaga nama baik ayahku. Kami pun berlalu dan meninggalkan taman itu, rein kembali ke villa dan aku pulang ke rumah ku, meski sangat berat tapi kami tetap harus pulang. Malam hari begitu lama bagiku, aku sudah tidak sabar mentari menunjukkan sinarnya di pagi hari, aku sangat merindukan rein, lelaki yang baru kukenal beberapa hari ini.
Saat pagi datang ku putuskan untuk pergi ke taman lebih awal agar aku dan rein bisa bermain lebih lama. Namun saat sampai di taman aku tidak mendapati siapa pun, "munkin dia akan datang sebentar sore" pikirku. aku menunggu rein sampai sore namun dia belum juga datang, aku melihat villa tempatnya menginap jendela villa itu terlihat terbuka itu berarti masih ada yang tinggal di sana. Tapi pintunya tertutup rapat "atau dia sedang pergi keluar hari ini?" gumam ku untuk menenangkan pikiran ku. Seharian aku menunggu rein di taman tapi dia tak kunjung datang juga, jadi aku meninggalkan taman itu tanpa bermain dan bahkan bertemu dengan rein.
Setiap sore berikutnya aku terus datang di taman villa itu dengan harapan aku bisa melihat rein di sana, namun setiap sorenya tetap sama rein tidak lagi datang di taman itu, aku berfikir apa munkin rein sudah pulang ke kotanya? tapi bagaimana munkin dia pulang tanpa memberitahukan ku, meskipun kita baru kenal setidaknya dia berpamitan ke padaku meskipun hanya sebatas teman saja. aku tidak putus asa aku tetap datang di taman itu dengan harapan besar.
Tiga hari berlalu, dan berarti sudah tiga sore juga yang telah ku lewati untuk menunggu rein. Sore berikutnya aku datang lagi di taman ini tapi tidak dengan harapan besar menunggu rein melainkan untuk melakukan rutinitas yang biasa ku lakuakan saat sore hari di taman ini merawat bunga-bungaku, meski masih ada harapan kecil di lubuk hatiku untuk menantikan kedatangannya. Selesai dengan rutinitas ku aku duduk sebentar lagi sembari bersandar di pohon besar dan rindang ditaman ini aku memejamkan mataku dan menghirup dalam angin sengar yang berembus melewati ku.
Namun saat aku sudah akan masuk kedalam mimpiku aku mendengar suara pria yang tidak asing memanggilku, awalnya aku menghiraukannya aku berfikir itu hanya halusinasi ku saja, "liya!" suara itu kembali terulang, suara pria yang ku tunggu beberapa hari ini, pria yang kurindukan tawanya akhir-akhir ini. Sontak mataku yang terpejam terbuka dengan sempurna, aku berdiri dan mengedarkan pandanganku mencari sumber suara itu. Betapa bahagia nya aku saat mataku menangkap seorangn pria yang kurindukan berjalan ke arahku, dia datang, dia benar benar datang, dia ada di depan ku. "rein" ujarku dengan sedikit berkaca-kaca aku tidak bisa menahan senyumanku lagi, bibirku terus melengkung menyambut kedatangan rein.
namun seiring senyuman ku memudar saat melihat seorang wanita ikut mengekorinya dari belakang, wanita yang sangat cantik dan juga wanita yang berpendidikan.
"Liya, aku yakin kau ada di sini" ujarnya dengan tersenyum. rein berdiri di hadapanku, wanita yang mengikuti nya tadi juga berdiri di hadapan ku dan tangannya langsung menggandeng tangan pria yang ku tunggu beberapa hari terakhir ini, hati ku sagat kacau. aku hanya bisa tersenyum getir menyaksikan pemandangan yang menyakiti hatiku saat ini. "oh, iya,, kenalkan dia calon istriku catrine". srett! pisau tumpul sedang mengiris-iris hatiku saat ini, sakit, aku ingin berteriak sakit. dadaku terasa sesak aku sangat kesulitan untuk bernafas. rasanya air mataku pun ingin terjatuh namun sekuat munkin kutahan, aku bukanlah siapa-siapa bagi pria yang ada dihadapkanku saat ini.
wanita yang diakui oleh ryan sebagai calon istrinya itu mengulurkan tangannya dan mengajak ku berkenalan, ku raih tangannya dan membalas jabatan tangan itu. meski aku sangat menginginkan posisinya saat ini tapi aku tahu aku bukan dia yamg cantik dan berpendidikan, aku hanya gadis desa. Setelah mengenalkan aku dan catrine rein menyuruh wanita yang ia akui calon istrinya itu untuk menunggu nya di mobil, yaa dia akan kembali ke kota sebentar lagi. Setelah catrine pergi dan meninggalkan kami berdua rein memberikan aku sepucuk surat lalu kemudia ia benar-benar meninggalkan ku sendiri di taman ini, dengan hanya ditemani langit orange dan hembusan angin
<-_terima kasih sudah membuat ku bahagia, aku mencintai mu_ ->Isi surat dari rein.
(rein)
Setelah membaca surat itu aku merasa lega, setidaknya aku tahu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan aku juga tahu cinta pertama ku jatuh pada pria yang baik, pria yang lebih mementingkan tanggung jawabnya dari pada egonya. MESKIPUN DIA TIDAK MENJADI MILIKKU TAPI AKU AKAN BAHAGIA JIKA DIA BAHAGIA:)
by: Aziyahzen