Si Dubilih Anyia’
Oleh SHUN aoi
“Hoi Nurbaidah! Kemana kau sembunyikan emakku?!” Teriak laki-laki itu di luar rumah. Mata merahnya liar menilik jendela kaca mencari emaknya. Ditangannya pula tergenggam sebuah parang berkarat. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Apakah mau membunuh emaknya? Edan!
Dia Suparto. Seorang pria jangkung yang terkenal akan keburukan perangainya. Tidak mungkin ada orang di kampung Jagung Manis ini yang tidak disusahkan olehnya. Keberadaannya serasa duri di dalam daging. Rasa-rasa mau dibuang jauh-jauh.
Tapi tidak ada yang berani. Bahkan Pak RT saja sampai mengankat tangan. Kepolisian kota yang didatangkan pun hanya berefek sebentar. Tidak cukup satu minggu. Karena perangainya itu, maka terkenallah dia dengan sebutan 'Si Dubilih Anyia'. Nama yang melambangkan perbuatan iblis.
Entah kepalanya itu terbuat dari apa, ada-ada saja perbuatan buruk yang dilakukannya. Mencuri durian oranglah, memporak porandakan kebun timun Tek Biahlah, atau menggoda gadis kampung yang pergi mandi ke pincuran. Aakhh, benar-benar membuat gerah saja. Siapa pula yang tidak geram melihat anak gadisnya terpekik-pekik lari tunggang langgang. Apalagi mukanya itu. Hancur istilahnya.
“Emak!” teriak Si Dubilih Anyia’ yang mengagetkanku. Sampai-sampai foto yang tergantung disamping kepalaku jatuh tersundul. Dia mulai menggedor-gedor pintu rumahku. Abah yang tadi tidur dikamar sudah keluar sambil menekan-nekan tombol Hp. Menghubungi polisi. Bisa berabe kalau kita yang menghadapi. Salah-salah bisa hilang tangan. Atau kepala sekalian.
Ibunya memang ada dirumahku. Bersembunyi. Dia meringkup gemetar dikamar adik. Ditemani oleh ibu yang berusaha menenangkan. Masih terbayang di kepala dia rumah yang hancur berantakan. Pintu lemari sudah koyak tergeletak di lantai. Isinya jangan ditanya. Tidak berbentuk semua. Kamar sudah seperti kapal jatuh. Berserakan.
Penyebab malapetaka siang ini ialah motor. Dia si tukang hengkang kaki itu ingin punya motor. Karena tidak punya uang sendiri, dia mintalah sama emaknya yang janda tua itu. Seperti meminta permen karet saja dia bicara sama emaknya. Mana mau tau dia emaknya yang hanya makan satu kali sehari. Kadang-kadang dua kali kalau ada tetangga yang memberi. Yang terpenting keinginannya terpenuhi.
Tentu saja emaknya tidak mau. Mau di bilang ia pun uang dari mana. Tapi si Dubilih tetap saja ngotot. Ia obrak abrik seluruh sudut rumah untuk mencari uang emaknya. Dia pikir emaknya banyak uang habis jual tanah. Siapa tau, pikirnya. Edan emang.
Setelah sepuluh menit penuh ketegangan, akhirnya polisi datang juga. Tapi sayang, si Dubilih entah ngeloyor kemana. Hilang. Mungkin dia tau polisi akan datang. Pergilah dia bersembunyi. Semua orang sejenak menghela napas lega. Pergi juga itu si malakama.
Hari ini sore mulai mendung. Hujan sudah mulai jatuh satu-satu. Membasahi bumi Jagung Manis yang penuh limpahan rahmat. Udara sejuk mulai berhembus. Seiring, semakin tenangnya hati emak si Dubilih. Untuk keamanan, malam ini emaknya menginap di rumahku saja. Tidak aman untuk pulang kesarang beruang lapar sekarang.
Esok paginya datang sebuah kabar yang menghebohkan. Ada orang yang terbenam kepalanya kesawah Pak Junaidi. Aku berlari melihat ke tempat kejadian. Penasaran. Bagaimana bisa kepala seseorang terbenam di sawah. Kalau terbenam di sungai Cijunggol sana, ya biasa. Tapi ini ketengah sawah. Ada-ada saja.
Ketika aku sampai di sana, ternyata benar. Ada seseorang yang terbungkuk kedalam sawah. Kepalanya terbenam sebagian.
“Siapa itu?” tanyaku ke Buk Sili yang menonton berpaku tangan.
“Si Dubilih Anyia” jawabnya sambil tersenyum. Seperti mendapatkan karunia segepok uang jatuh dari langit. Setelah aku lihat dengan seksama, baru sadar aku kalau itu memang Si Dubilih. Astaga. Apa yang terjadi padanya. Orang-orang tidak ada yang mendekat. Semuanya hanya menonton sambil bicara senang. Bahkan ada yang sampai terkekeh-kekeh gembira.
Emaknya yang baru datang menangis tersedu-sedu. Walau bagaimanapun, dia tetap anaknya. Anak semata wayang yang ditinggalkan suaminya pergi merantau menjadi laki orang. Orang-orang menahannya yang hendak mencebur kesawah tempat anaknya. “Sudah, biarkan saja anak durhaka itu. Sudah berapa banyak masalah yang dia berikan kepada kau.” Begitulah kira-kira arti tatapan mereka.
Tiba-tiba dari arah kanan turun seseorang yang menyelamatkan si Dubilih. Mengangkat mayatnya maksudnya. Karena mungkin saja dia sudah mati.
Tapi Tuhan berkata lain. Setelah dibawa kerumah sakit sama budak kampung itu, si Dubilih dinyatakan masih bernyawa. Seminggunya lagi dia siuman. Aaah. Banyak orang kampung yang menyalahkan budak kampung itu. Tidak jarang pula yang mengutuk-ngutuknya. Bahkan ada yang berniat mengusirnya. Tapi itu tidak kesampaian.
Setelah keluar dari rumah sakit, si Dubilih pulang. Kembali suasana kampung mencekam. Ketakutan. Jangan-jangan iblis di tubuhnya lebih garang setelah makan lumpur sawah. Saking takutnya, bapak-bapak pergi bersama anak gadisnya ke pincuran. Takut di apa-apakan anaknya di tengah jalan. Sambil bawa-bawa pentungan. Jaga-jaga. Walaupun tidak menang melawan si Dubilih, setidaknya tidak kalah memalukan.
Sekali lagi Tuhan berkehendak lain. Setelah tiba di rumah, si Dubilih menjadi orang yang pendiam. Seperti seseorang yang terkena santet. Bengong. Sebulan kemudian, perubahan besar terjadi. Dia pergi dari rumah, merantau keluar. Dia menangis ketika berpamitan dengan emaknya. Dan lima tahun kemudian dia pulang dengan bentuk yang berbeda. Bersorban. Bahkan kini namanya sudah bertambah titel syekh. Gemparlah Kampung Jagung Manis.