Mata mereka bertemu dan itu adalah titik dimana untuk pertama kalinya Gaya membeku, lebih dari yang seharusnya ia mampu. - Gaya. Winter, 2019.
***
Gayatri merapatkan jaket musim dingin yang tebal dan sangat memberatinya, matanya berkeliling memandang kegelapan hutan yang membeku dan membentang didepannya dengan ngeri, kemudian ia memeluk dirinya dengan lebih erat lagi, mencoba mencari kehangatan yang semakin hilang tak kembali.
Untuk wanita yang berasal dari daerah tropis seperti dirinya, pergi ke tempat bersalju lebat seperti ini rasanya sama seperti menyiksa diri. Tapi Gaya tak punya pilihan lain, dirinya muak, bosan dan ingin melarikan diri dari kepahitan hidupnya yang tak terperi.
Semua orang membicarakan angka-nominal-uang, apapun yang bersifat materi dengannya. Mungkin mereka fikir dirinya ini sekelas Bill Gates yang memiliki unlimited nominal dan probabilitas dalam hidup ini. Padahal dia hanya anak kemarin sore yang masih striving -berjuang, bertahan- dengan segala energinya agar tetap waras dari tuntutan-tuntutan mereka yang tak ada henti.
Belum lagi tuntutan sosial -mereka- untuknya yang baru saja berkepala tiga. Kapan punya pacar? Kapan menikah? Kapan nabung beli rumah? Kapan punya anak? kenapa mereka tidak sekalian saja bertanya, Kapan mati?. Gaya lelah dengan semua pertanyaan itu dan mulai mati rasa. Kini, ia tidak bisa membedakan bentuk dari cinta dan perhatian yang mungkin mereka coba sampaikan melalui pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan.
Ditambah, tuntutan untuk tetap sehat lahir dan batin ditengah hiruk pikuk kehidupan karir yang ia jalani.
Gaya ingin menjerit. Melepaskan segenap batu tak kasat mata yang tak hanya membebani pundaknya tetapi juga hati nurani yang terdapat didalam diri.
Akhirnya sore itu ia melepas segala tanggung jawabnya pada dunia dan memilih untuk bersikap egois.
Untuk kali iniiii saja. Sungguh. Untuk sekali ini saja!
Kali ini Gaya bersikap egois. Ia memilih menyelamatkan mentalnya yang mulai amburadul karena tuntutan dunia dan melarikan diri dengan terbang menuju Finland untuk mewujudkan satu saja mimpinya -diantara sekian banyak mimpi lain yang harus tumbang karena kalah prioritas.
Kini ia berdiri ditengah jalan setapak dihutan pinus yang dibebani oleh tumpukan salju baik diatasnya, pun dibawahnya. Saariselkae berada di provinsi Lapland. Salah satu tempat dimana ia bisa melihat aurora impiannya. Cahaya langit yang super indah yang selalu mengunjungi setiap kisah dalam tidur lelapnya.
Dibawah cahaya aurora yang semakin lama semakin terang, Gaya menyadari ada sosok yang berdiri tak jauh dari tempatnya memijakkan kaki. Sosok itu tinggi nan tegap. Memakai setelan musim dingin nan tebal seperti dirinya.
Tubuh pria itu menjulang diantara pohon-pohon yang membayang. Seluruh diri pria itu seolah disinari oleh cahaya ilahi karena ia berdiri tepat dibawah lampu jalan yang menaungi. Wajah yang tengah tertunduk menatap gawai itu pun mendongak saat merasakan kehadiran Gaya disekitarnya.
Mata mereka bertemu dan itu adalah titik dimana untuk pertamakalinya Gaya membeku, lebih dari yang seharusnya.
Sebastian Barnes!!!
Apa matanya salah lihat?
Bagaimana mungkin ada Seb di tengah hutan, dibawah langit Lapland yang cemerlang, dijalan setapak nan sepi?
Dia pasti sudah gila.
Gaya mengerjap. sekali. dua kali. tiga kali.
Sebastian masih berdiri disana!
Ah pasti dia sudah gila. Benar-benar gila!
Jiah.. mana mungkin!
Waduh. Rupanya dunia sudah berhasil membuat akal sehatnya ricuh. Tidak mampu lagi membedakan mana dunia nyata dan mana dunia palsu.
Bertahun-tahun Gaya memimpikan sebuah pertemuan dengan penyanyi terkenal itu. Dari mulai mimpi imut-imut sampai mimpi lain-lainnya yang hadir dengan tak tahu malu. Masih segar dalam ingatan Gaya bagaimana semalam Seb mendatanginya dalam mimpi. persis seperti yang terjadi saat ini!
apakah ini hanyalah manifestasi dari rasa frustasinya akan hidup yang meningkatkan kebutuhannya akan kehadiran seb?
Seb pujaan hatinya, pelipur laranya, pelariannya dari pahitnya dunia.
Dan Seb ada disana! berdiri tepat beberapa langkah didepannya!
Dunia sudah gila!
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Bagaimana mungkin dunia membiarkan hal ini terjadi?
Dirinya bertemu dengan Seb!!!
what the...! Seb berjalan ke arahnya. Gaya rasanya ingin kencing berdiri saat itu juga.
"Hey, apakah kamu juga ingin menuju pondokan yang dibicarakan oleh pegawai hotel?" tanya Seb.
Apa Seb juga tinggal di hotel yang sama dengannya? sial! kenapa Gaya baru tahu?
Gaya mengangguk seperti orang bodoh. matanya melotot dan bibirnya melongo terbuka.
Oh Gaya, kendalikan dirimu!
"Kalau begitu ayo pergi bersama, bagaimana?"
Gaya mengangguk lagi, tapi kali ini ia berhasil mengeluarkan desah nafas untuk melepaskan ketegangan dalam dirinya. terutama di pusat perut yang terasa mules tiba-tiba.
"Tapi aku masih menunggu temanku yang tertinggal dibelakang. Apa kamu tidak keberatan menunggu sebentar?"
Gaya mengangguk lagi, kali ini ia berhasil menggumamkan kata ya.
Seb kemudian mengajak Gaya untuk berdiri dibawah lampu bersamanya. Tiang lampu khas yang sering ditemui di jalanan eropa.
Pria kaukasia bermata biru itu berdiri tiga langkah didepannya, rambutnya disisir kebelakang, menampilkan kening indah yang memiliki guratan tipis disana. Hidungnya yang tinggi sangat pas dengan wajah Seb.
Dan lihatlah rahang tegas nan kerasnya yang dipenuhi bulu-bulu tajam itu, Gaya bersumpah membutuhkan seluruh pengendalian dirinya untuk tetap menahan kedua tangannya didalam saku jaket, karena jika tidak, kedua tangannya itu sudah pasti nemplok dirahang itu dan mengelus-elus bulu kasar dan tajam disana.
Gaya tidak keberatan digelitik bulu-bulu itu diseluruh tubuhnya.
Ah tidak. Aku mulai halu lagi!
Gaya mencoba mengalihkan fokusnya dari rahang dan bulu-buluan itu. Tapi sungguh sial, matanya justru terjebak pemandangan indah bibir Seb. Bibir yang sudah pernah ia cium sebanyak jutaan kali dalam khayalan fans berat seperti dirinya!
Wanita frustasi itu menelan ludah akibat salah satu imajinasi yang pernah ia ciptakan tentang bibir itu muncul dengan brengseknya saat ini juga.
Gaya tiba-tiba merasa malu sendiri. bagaimana mungkin dia bisa membayangkan hal yang tidak-tidak tentang manusia baik hati yang satu ini?
Sekuat tenaga Gaya singkirkan bayangan itu dan mengalihkan matanya menuju mata Seb. Ia fikir, itu adalah pelarian teraman tapi justru mata Seb adalah pelarian paling berbahaya yang dia lakukan.
Cahaya aurora yang menyinari langit Lapland malam ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan biru terang yang memancar dari mata Seb. ada seberkas pantulan hijau aurora pula disana.
Indah... indah tak terperi.
Jika tujuan utama Gaya datang kemari adalah karena cahaya aurora. Maka sungguh sial, dia harus menggantikan tujuan itu dengan cahaya mata Seb.
Mata Seb besar, berkilauan dan memiliki bulu lentik yang membingkai indah.
Bagaimana mungkin ada manusia sesempurna ini?
Berlama-lama Gaya memandangi mata itu tanpa segan hingga datang detik dimana Gaya baru menyadari ternyata mata itu juga balas menatapnya. balas memperhatikannya dan balas menelisiknya.
Demi Tuhan! jadi dari tadi gue tatap-tatapan sama Seb?
Gaya merasakan pipinya memanas. seluruh tubuhnya memanas. perutnya geli akibat gelitik kupu-kupu yang muncul disana sejak pertama jumpa!
dan oh no!
Apakah ini hanyalah mimpi? apakah ini hanya salah satu bunga tidurnya? sama seperti mimpi-mimpi pertemuannya dengan Seb sebelumnya?
Tanpa sadar, salah satu tangan Gaya berhasil lolos dari saku jaket nya dan menjulur menuju wajah indah ukiran Tuhan itu.
Tangan Gaya yang beku tanpa sarung mendarat mulus pada rahang Seb, menyentuh bulu-bulu tajam yang menggelitik tangannya. Nafas Gaya lolos dari mulutnya, melepaskan desah terkejutnya, mengeluarkan kepulan asap putih yang membumbung akibat dinginnya suhu disana.
"oh, sial. kamu nyata!" gumam Gaya dengan suara rendah dan dipenuhi ketakjuban.
Seb cukup kaget mendengar Gaya, lalu senyum tipis muncul dari bibirnya.
Gaya bersumpah ia melihat pria itu berusaha keras menahan tawanya. Dasar Gaya memalukan! katrok!
"Kamu fikir aku hantu atau apa?"
Bahkan keningnya yang berkerut itu terlihat sangat indah... keindahan yang mengacaukan alam nyatanya.. membuat telapak tangan Gaya yang masih menempel dipipi Seb bergerak keatas, lalu mencubit-cubit pipi yang tidak ditumbuhi oleh bulu.
lembut, kenyal dan kencang.
"Kamu benar-benar nyata!"
"Ya, walau dibawah aurora, ditengah hutan, saling berhadapan dan terkesan seperti mimpi... tapi aku nyata dan manusia"
"Ini bukan mimpi?"
"Bukan" jawab Seb tegas.
Gaya mengerjap berkali-kali. Bernafas cepat dan memburu. ia panik bukan main.
ini nyata! ini nyata!
Demi mother earth yang dipijaknya, Seb ini nyata! bukan mimpi!
pasti dia keliatan bego banget sekarang.
"Eh.. Umm.. Uhh.. a.. aku fikir ini mimpi... be.. bertemu penyanyi favoritku ditengah hutan... ma.. maaf sudah lancang menyentuh wajahmu" Gaya berkata terbata-bata, tangannya bergerak-gerak tak tentu arah dan matanya kesana kemari, asal bukan ke arah Seb.
"Tidak apa-apa, aku mengerti"
Seb baik sekali, ia bahkan tersenyum manis sambil mengatakannya.
Suara-suara muncul dari kejauhan. Ternyata teman-teman Seb sudah mendekat dan Gaya semakin bengong. Itu barisan para malaikat, bidadari atau apa? kenapa semuanya tampan dan cantik?
Gaya berkenalan dengan Seb dan teman-teman pria itu. Perkenalan yang singkat karena mereka harus langsung melanjutkan perjalanan mereka menuju pondok kayu yang disebutkan oleh pegawai hotel, karena jika tidak, mereka bisa mati kedinginan disini.
Perjalanan itu sebenarnya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit, tapi bagi Gaya, ia merasa telah menghabiskan berjam-jam hidupnya untuk berjalan dibarisan paling belakang agar bisa menatapi punggung lebar dan kokoh Seb didepan sana.
Dorongan untuk menubruk punggung itu dan mendekapnya erat memenuhi seluruh urat nadi Gaya. Alarm tanda bahaya berdenging dikepala wanita itu. lelaki itu benar-benar bahaya. dia tidak perlu melakukan apa-apa tapi sudah berhasil membuat akal sehatnya hancur berkeping tak bersisa.
Wah.. pasti hangat kalau pelukan sama Seb...
Gaya menampar pikirannya.
Dirinya benar-benar sudah tidak waras dan terdengar seperti penguntit aneh yang perlu dikerangkeng didalam kandang singa, agar pikiran kurang ajarnya terhadap Seb ini bisa terkurung disana.
***
Pondok kayu itu besar dan berfasilitas lumayan komplit. ini salah satu fasilitas yang disediakan hotel. walau jaraknya cukup jauh dan membutuhkan nyali besar untuk kesini. Tapi Gaya tidak menyesal sama sekali.
Di depan pondok merupakan area lapang dan luas yang tertutupi salju tebal diseluruh permukaanya. Gaya bisa melihat langit luas dipenuhi cahaya aurora yang berkilauan diatas sana tanpa terhalang pepohonan. Gaya bahkan sempat merebahkan tubuhnya diatas halusnya tumpukan salju itu selama beberapa saat sambil memandang dua cahaya impiannya, Seb dan Aurora.
Baru kali ini ia menikmati hidup. Benar-benar menikmati. Walau kenikmatan ini dihasilkan dari rasa egoisnya yang melambung tinggi tak terkendali. Tapi tidak ada celah untuk rasa penyesalan sama sekali.
Apalagi saat melihat tawa Seb yang sedang asik merekam dengan menerbangkan drone didepan sana, ditemani aurora sebagai latar belakangnya, dengan bayangan gelap pepohonan dikejauhan dan dikelilingi putihnya hamparan salju...
Tidak ada penyesalan yang layak dipertimbangkan setelah melihat semua keindahan itu!
Entah untuk keberapa kalinya Gaya tersipu sendiri setiap kali bersirobok mata dengan pria itu. Gaya tidak tahu apakah tatapan itu nyata atau hanya fikirannya saja. tapi kenapa dia dan seb terkesan seperti sedang curi-curi pandang seperti ini?
Demi menolong kewarasannya, Gaya berhenti menatapi punggung lelaki itu dan berbalik menuju pondok kayu untuk menikmati kehangatan dari perapian yang ada disana, sekaligus berharap agar otaknya yang membeku ini kembali mencair dan mampu bekerja dengan layak.
Langkah Gaya terhenti ketika dia hampir melewati ambang pintu karena seseorang menarik tangannya, membawa Gaya menuju sisi dinding kayu yang ada disebelah kiri pintu. Pupilnya membesar saat mengetahui siapa pria yang sedang memerangkap tubuhnya diantara dinding kayu nan dingin dan tubuh besar nan keras dan memancarkan kehangatan.
"Seb?"
Lelaki itu bernafas keras, dadanya yang berotot mengembang kempis tak beraturan. sepertinya dia telah berlari dari tempatnya berdiri hingga sampai begitu cepat ditempat Gaya berada.
Mata Seb terlihat mengerjap beberapa kali, mulutnya megap-megap bagaikan ikan koi yang kehabisan oksigen, lelaki itu seperti ingin berkata sesuatu tapi memilih untuk menahan diri karena keraguan yang membayangi.
"Ada apa, Seb?"
"Apa kamu mau kuajari cara menerbangkan drone?"
Gaya terdiam. merasa ada yang kurang tepat dari kalimat Seb. tapi kemudian ia mengangguk saja. mana mungkin seorang Gaya menolak ajakan Seb, kan?
Seb tersenyum lalu menggandeng tangan Gaya menuju tempat sebelumnya. Sepanjang langkah mereka, mata Gaya tak lepas dari genggaman tangan Seb pada telapaknya. walaupun kini mereka sama-sama mengenakan sarung tangan tapi jiwa halu Gaya merasakan kehangatan mengalir diantara genggaman itu hingga berhasil menghangatkan hatinya juga.
Seb menarik Gaya untuk berdiri didepannya, lalu melingkarkan kedua lengannya dari belakang tubuh Gaya, sambil mengangsurkan pengatur drone didepan gaya.
wanita itu terkesiap..
Seb.. berdiri dibelakangnya. seolah memeluknya. atau memang memeluknya, karena kini gaya merasakan punggungnya menempel dengan dada Seb dan puncak kepalanya disinggahi dagu pria itu.
Ya Tuhan jika ini mimpi, tolong bangunkan aku nanti... jangan sekarang!!!!
Gaya menarik nafas pendek-pendek. grogi setengah mati. semoga tadi dia tidak lupa menyemprot minyak wangi di topi rajutnya atau di jaketnya. dimanapun deh.. pokonya dia harus wangi dihidung seb.
"mulai besok jangan makan siang sendiri, ketuk kamar sebelah kirimu.."
Gaya terkejut mendengarnya, "itu kamarmu? "
Seb tersenyum hingga giginya terlihat, mata pria itu terkejam sebentar. mungkin sedang menahan diri untuk tidak mengatai gaya yang udik. "bukan, itu kamar Jessica. dia teman baikku"
Gaya menggigit bibir bawahnya, merasa malu.
"Bagaimana kamu tahu kamarku?" gaya bersumpah suaranya terdengar seperti burung bercicit-cuit.
"Kamarku ada disebelah kanan kamarmu... "
Gaya mendongak melihat kebelakangnya. "jadi..."
"mulai besok, jangan menangis sendirian di balkon... ajak jessica atau aku bersamamu. Kami tidak akan keberatan"
"Kalian melihatnya?? "
"Tangisanmu yang membawaku kesini malam ini"
"Tapi kenapa?" wanita itu Speechless, tidak mampu berkata-kata selain bertanya kenapa.
"Kamu menangis begitu tersedu-sedu sambil mendengarkan lagu tentang pesta dan perayaan yang kunyanyikan... itu rasanya... sangat mengkhawatirkan... lalu aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan pegawai hotel tentang pondok ini.. jadi... kami khawatir, kamu... "
Itu terjadi tadi pagi. seb melihatnya menangis sambil mendengarkan lagu bahagia yang seb nyanyikan. bagaimana mungkin gaya tidak menyadari kehadiran orang lain disekitarnya?
"maaf. aku... aku bukan menangis karena lagumu.. lagumu sangat indah.. tapi aku.. aku... "
"tidak apa-apa.." seb memutar drone nya hingga mengelilingi lokasi mereka. "semoga tangisan itu membuatmu lega dan bisa lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan pribadimu"
Gaya merenung. menimbang-nimbang perasaanya sekarang, setelah meluapkan seluruh emosinya pagi tadi.
Kecewa, masih ada. sedih, masih ada. frustasi, masih ada.
Tapi semua itu sudah dibawah kendalinya lagi. tidak mungkin bukan, perasaan itu menghilang begitu saja darinya. manusia manapun pasti punya perasaan itu, tergantung bagaimana kamu mengatur intensitas semua emosi buruk yang berkecamuk didalam dirimu.
Gaya pun mengangguk. Perasaanya berangsur membaik sejak tangisan itu. Ya, Gaya merasa semua akan baik-baik saja.
Semua baik-baik saja.
Gaya mengangguk. Seb tersenyum melihatnya.
"Mulai besok jangan pergi-pergi sendiri. bahaya. kamu bisa mengajaku dan teman-temanku"
"Terimakasih... "
**
end.
jika suka dengan cerita ini,
dukung author dengan vote dan komen ya.
terimakasih!