apakah hidup itu mudah?
apa yang kamu lakukan untuk hidup?
apa kalian butuh sesuatu yang lebih?
hidup seperti apa yang kamu butuhkan?
apa kamu sudah berusaha keras?
apa kamu masih sanggup?
apa temanmu membantumu?
atau menusukmu?
#cerita ini hanya imaginasi biasa, tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, terimakasih
Berdiam diri disaat hujan dan membiarkan tetesan air membasahiku membuatku merasa tenang dan nyaman. Seluruh badanku terasa sakit, beberapa waktu yang lalu mereka memukuliku. Selama tiga bulan aku menjalani kehidupan sekolah ini dengan kegiatan yang sama.
Terkadang aku berpikir, apa memang untuk ini aku hidup? Ini terlalu sulit untukku, entah kenapa aku bisa bertahan selama ini. Aku menganggap mereka semua sebagai teman meskipun mereka memukulku, menghinaku, mengejekku, dan sepertinya tak pernah menganggapku.
Aku ingin berubah menjadi lebih baik, yang kulakukan selama ini hanyalah kebodohan.,
'apa benar kau ingin berubah?'
Aku mendengarnya dan tak melihat apapun.
'apa kau mencariku?'
'aku ada dalam dirimu'
"sepertinya aku mulai gila, dan berbicara pada diriku sendiri"
'hei! Sudahlah ini saatnya kau untuk pergi'
"apa maksudmu?"
'kau sudah lelah berbaringlah, biarkan aku tang menggantikanmu'
"ya, kamu benar mungkin ini saatnya aku untuk tidur"
Namaku Alfa, ini sudah saatnya aku berunah dan sekarang giliranku untuk memainkan permainannya. Baiklah sudah mulai gelap mungkin saatnya untuk pulang.
"aku pulang!"
"eihh alfa sudah pulang, sepertinya memarmu setiap hari makin bertambah?" ibu mengkhawatirkannya.
"oh, ini hanya masalah biasa"
"apa kamu berkelahi?" ia mulai menaruh kecurigaan, ya sebentar lagi juga semua akan selesai.
"aku lelah dan kehujanan, aku mau mandi dulu"
"kalau begitu ibu siapkan makanan ya"
"sikapnya sudah berubah hanya hitungan jam tadi pagi masih sangat sopan dan sekarang ia begitu" kakak mengkritiknya.
"jangan begitu, walau begitu ia tetap adikmu" sahut ibu dengan lembut.
"sudah ayo tunggu adikmu di meja makan" pinta ibu.
aku turun dan makan tanpa basa basi, setelah selesai aku masuk kekamarku. aku melihat ayamku sedang memelotitiku.
'sepertinya ia ingin mati' pikirku
aku mengambilnya dan membantingnya. Ayamku mati dan aku mendapat banyak uang darinya.
Baiklah saatnya berangkat sekolah. Eih ada sebuah toko mungkin aku harus membeli sesuatu. Oke saatnya berangkat.
"hei, berikan uangmu! ini perintah!" sahutnya.
"ga ada"
"berani melawan ya? lu buta ya!" ancamnya.
'ini gang sepi dan tidak ada orang lewat, mungkin sudah saatnya membersihkan sampah'
"kenapa diam, takut sekarang!" ejeknya.
katiga temannya juga tertawa.
"karena kamu, oiya Doni teman sekelasku aku beri kesempatan padamu untuk berubah"
"berani ya!"
dor! dor! dor!
"apa yang...?" Doni merasa bingung.
"aku hanya membunuhnya, memang apa lagi? kau jangan takut-"
"apa kamu akan mengampuniku? aku jan-"
jleb!
"ternyata kau lebih menyeramkan dari iblis"
'sial gerakannya terlalu cepat, apa selama ini dia menyembunyikan kemampuannya'
'heihei bicara dalam hati itu tidak baik'
"bagaimana kau bisa...?" Doni terkejut
"tentu aku bisa selama huruf belakang itu *a* tentu bisa"
jleb
"ah!! mataku!"
ia terduduk kesakitan dan mencabut pisaunya.
"oiya aku lupa yang akan ku ucapkan, jangan takut karena aku akan mengirimmu pada mereka"
"yah pistol ini lumayan juga, walaupun aku beli ilegal di toko tadi, pisau ini juga lumayan"
oke saatnya menghilangkan jejaknya, untung aku membawa banyak bahan kimia. Ini saatnya untuk menumpahkan semuanya dan menghilangkan jejak kakinya. dan meng-abu-kan semuanya.
akhirnya sampai juga disekolah. Sepertinya sudah tidak ada sampah disini. aku sudah bisa menjalankan sekolahku dengan normal.
Teng Teng Teng
Bel masuk sudah berbunyi, ini saatnya masuk kekelas.
"hari ini ibu ada kabar duka, ada empat siswa dari kelas kita yang tiada mereka adalah Doni,Reza,Rogi, dan Hari. Mereka diduga korban dari kebakaran gang sempit yang disengaja seseorang. Oleh karena itu mari kita berdoa bersama. Berdoa dipersembahkan."
'sepertinya kinerja polisi cukup cepat, aku penasaran apa mereka akan menemukan pelakunya.'
"selesai"
Ternyata di kelas ini tidak ada yang merasa kehilangan, mereka terlihat biasa saja.
Ding ding dong dong
Tanpa terasa sudah waktunya pulang sekolah. dalam sekejap berita ini sudah viral tanpa adanya barang bukti. padahal tadi ada seorang saksi kenapa ia tak membocorkan informasinya. dan sepertinya juga ada cctv aku memang kurang hati-hati.
"anu.."
'apa benar ia orangnya? aku takut jika salah orang'
dasar bodoh walaupun itu hanya pikiranmu aku bisa mendengarnya. ia lumayan cantik, apa sekarang sedang zaman rambut di cat putih perak, kenapa sekolah memperbolehkannya. satu satunya jawaban adalah itu warna asli.
"ada apa?"
"bisa bicara sebentar?"ia sepertinya pemalu.
'jika memang ia pasti tau ini'
ia masih saja, sebenarnya siapa dia?
"ya?"
"anu.. mata"
"oke, sepertinya kita tidak bisa bicara soal itu disini"
"mmm, kita bisa bicara di mobilku"
'sepertinya memang dia'
"mari" tawarnya.
"hei bukankah ia"
"ya"
blabla blabla
Dasar para tukang gosip. Jadi gadis ini saksinya, oke aku menemukan saksinya tapi bagaimana dengan cctv kenapa polisi belum menangkapku.
"baik, apa yang akan kau bicarakan?"
"begini, soal yang tadi pagi-"
"kau akan membawaku ke polisi!?"
aku menyudutkannya di pojok mobil, kami berbicara di bangku belakang.
"anu bukan begitu"
"yah, kau mengatakan yang sejujurnya, lalu..?"
"jadi memang kamu..." ia meremas tangannya.
"saat pertama kali melihatmu ini pertama kalinya aku merasakannya, tatapanmu yang dingin membuatku ingin bersamamu" lanjutnya.
"jadi?"
'ternyata ia gadis aneh'
"bisakah kita berteman?" pintanya.
"kau cukup cantik dan sepertinya sangat populer disekolahmu benarkan?"
'ia memang gadis aneh, dilihat cara bicaranya mungkin ia sulit berkomunikasi dengan orang lain'
"mungkin... meski banyak yang mengejarku tapi saat dekat denganku mereka kedinginan hanya kau yang biasa saja" jelasnya.
"tapi kulihat kau bukan orang yang dingin"
"maksudku benar benar kedinginan" lanjutnya.
kami berhenti berbicara dan dalam beberapa waktu kami terdiam. aku masih mencoba memahami perkataannya, dan sekarang aku paham. maksudnya kedinginan adalah ia bisa mengeluarkan hawa dingin. Mungkin jika ia mengontrolnya ia bisa membekukannya.
"jadi bagaimana? apa kau mau jadi temanku?" tananya.
"entahlah"
'padahal aku sudah membantumu dengan menghapus data cctvnya'
'eih jadi begitu'
"bagaimana kau!?"
"apa kamu terkejut? padahal kamu sendiri bisa mengubah sesuatu menjadi es"
"bagaimana kau tau, padahal orang tuaku sendiri tidak tau"
"dengan melogika dari perkataanmu tadi, jadi siapa namamu?"
"Miyu, panggil saja yu dan kamu pasti alfa"
"ya,apa kamu seorang hacker?"
"yah, aku tidak bisa menyangkal ataupun berbohong padamu. benar kan?"
"baiklah teman?"
"oke, biar aku mengantarkanmu pulang"
sudah sekitar dua tahun berlalu mungkin kasus itu sudah dihapus. Sekarang adalah hari kelulusanku, dan aku akan hidup dengan keinginanku apapun itu.
aku akan hidup sesuai keinginanku dan yang menghalangiku akan ku bersihkan.
aku hanya butuh seseorang untuk memahamiku
bukan mereka hanya memandangku sebelah mata
#mohon untuk memaklumi imaginasi saya, terimakasih (thanks)
and
see you next time