Hai namaku Fanda, aku seorang pelajar sekolah menengah atas kelas 11. Saat itu aku berangkat ke sekolah berjalan kaki karena jarak antara rumahku dengan sekolah lumayan dekat. Waktu itu jam tanganku menunjukkan pukul tujuh dan aku masih berada di sepertiga jalan. Karena takut telat aku mempercepat langkahku dan berlari.
Tiba-tiba aku menabrak seorang lelaki hingga aku terpental dan jatuh. Aneh kenapa tiba-tiba bisa ada laki-laki di depanku, batinku.
"Mana yang sakit?" Ucapnya menjulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Gak ada, makasih." Aku menggapai tangannya dan berusaha untuk berdiri.
Siapa laki-laki yang memakai seragam seperti aku, ganteng banget... Aku melongo melihat wajahnya yang sangat tampan.
"Kok bengong, gak mau sekolah? Udah hampir telat loh." Kata-katanya membuatku tersadar akan suatu hal yang penting.
"Astaga, udah lewat sepuluh menit. Gimana ini." Ucapku gelisah.
"Yuk aku anter, gak bakal telat kok."
"Beneran? Emang kamu bawa motor?"
"Tuh" Ia menunjuk ke arah samping.
Perasaan tadi gak ada motor itu, ah mungkin aku yang ga liat kali ya. Batinku.
"Makasih ya."
"Belum naik aja kok udah bilang makasih."
Akhirnya aku sampai di sekolah berkat bantuannya. Aku buru-buru masuk ke kelas, untungnya guru yang mengajar kelasku belum masuk. Aku pun duduk dengan lega.
Ya ampun aku lupa nanya siapa namanya, yah gara-gara buru-buru jadi lupa. Aku merasa kesal karena belum tahu siapa nama laki-laki tampan tadi.
Sepulang sekolah aku berjalan sambil merutuki diri sendiri kenapa tadi tidak menanyakan namanya.
"Hai!"
Aku menoleh ke arah samping gerbang.
"Kamu? Kok kamu di sini, siapa nama kamu?"
"Jemput kamu, Arga inget baik-baik ya." Balasnya sambil mengelus kepalaku.
"Tapi kan kita baru kenal. Kok mau jemput aku?"
"Ya gapapa dong kan permulaan, buruan naik." Katanya sambil tersenyum menatapku.
Aku pun naik ke motor beatnya, walaupun baru kenal tatapi aku tidak merasa cemas sama sekali ketika bersamanya.
"Nama kamu Fanda kan?"
"Iya, kok kamu tahu?" Jawabku terkejut.
"Tahu dong, kita jalan-jalan dulu yuk." Ucap Arga dengan nada akrabnya.
"Kemana?"
"Ke taman, gimana?"
"Emmm oke." Aku menyetujuinya lagipula dia sudah menolongku tadi pagi.
Sesampainya di taman dia menarik ku untuk duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar.
"Kamu cantik tapi sayang." Kata-katanya membuatku tahu kalau dia sebenarnya mau menggombal.
"Makasih." Jawabku tertawa kecil.
"Yah kan aku mau gombalin kamu, masa langsung dipotong aja." Ucapnya dengan nada kesal.
"Haha gak mempan kalau mau gombalin aku." Balasku sambil memandang wajah lucunya ketika sedang kesal.
"Oh ya, kenapa kamu deketin aku?" Tanyaku penasaran.
"Karena, aku suka sama kamu."
"Hah? Kan kita baru kenal."
"Kata siapa, kita pernah kenal kok."
"Masasih kok aku gak inget."
"Bercanda haha udah gak usah serius gitu."
"Dih nyebelin." Umpatku kesal.
Dia hanya memandangiku sambil sesekali tersenyum.
"Jangan liatin gue."
"Cie ngambek." Goda Arga yang kemudian langsung mencubit hidungku yang sudah mancung itu.
"Sakit sakit." Aku melepas paksa tangannya dari hidungku.
Tiba-tiba Arga memetik bunga di sampingnya dan memasangkan di telingaku.
"Kamu!"
Dia tersenyum dan seketika mendekatkan wajahnya ke pipiku.
"Fanda kamu beneran lupa sama aku?" Bisiknya sangat dekat di telingaku membuat pipiku memerah seketika. Kata-katanya terasa ada sedikit kehampaan yang membuat hatiku entah kenapa merasa sedih seketika.
"Arga apa maksud kamu?" Tanyaku sedikit penasaran.
Sontak Arga memelukku dan menangis, aku merasa kasihan dan tanpa sadar memeluknya balik. Hatiku sangat sakit seperti ditusuk-tusuk ketika melihatnya menangis, aku juga tidak tahu kenapa.
"Udah Arga jangan nangis ya, tapi aku beneran gak kenal kamu, maaf." Aku melepas pelukannya dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Kamu jelek banget kalau nangis, jadi ilfil loh aku." Godaku kepadanya.
"Dasar bukannya bujukin yang bener palah ngata-ngatain kaya gitu." Kata Arga sambil tertawa.
"Nah gitu dong senyum, ini baru ganteng wkwkwk."
"Fan boleh minta tolong gak?"
"Minta tolong apa?"
"Dua hari ke depan kita jalan ya."
Aku sedikit penasaran apa maksudnya, tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujuinya.
"Oke kita jalan." Ucapku mencubit pipinya keras-keras karena tidak tahan melihatnya yang cukup imut.
Tidak tahu kenapa aku merasa sangat akrab dan nyaman dengannya walaupun baru bertemu. Dia akhirnya mengantarkan ku pulang. Sesampainya di depan gerbang rumahku aku menyuruhnya untuk mampir tapi dia menolak dan memutuskan untuk pulang, aku pun mengiyakan saja, mungkin dia ada urusan atau mungkin dia malu.
"Fanda udah pulang? Kok telat pulangnya?" Tanya mama kepadaku.
"Ah tadi jalan sama cowok ma, padahal baru ketemu tadi pagi tapi gak tahu kenapa malah jadi akrab deh, tadi dia juga nganterin aku pulang."
"Ciee, kok gak disuruh masuk?"
"Udah kok, tapi dia nolak, ya udah deh."
"Ooh gitu ya udah gih kamu mandi sana terus makan."
***
Keesokan harinya setelah pulang sekolah Arga menjemput ku dan kali ini kita jalan ke danau di dekat sekolah. Aku baru tahu ternyata di dekat sekolahku ada sebuah danau yang sangat indah.
"Fan cantik ya danaunya." Ucapnya sambil memandang danau itu.
"Cantik bangett. Makasih ya Ga udah ajak aku ke sini, seneng banget!." Jawabku gembira.
"Kita foto yuk buat kenang-kenangan." Aku langsung mengeluarkan HP dan membuka kamera.
"Emm tapi..."
"Udah ayoo." Bujuk ku dengan wajah memelas.
"Ya udah ayo."
Kitapun foto bersama, mulai dari dia yang tersenyum merangkulku, mencubit pipiku, mengacak-acak rambutku dan lainnya. Fotonya terlihat sangat mesra dia juga terlihat sangat tampan.
"Yaampun fotonya bagus bangettt..." Ucapku sangat bahagia sambil melihat foto-foto tadi.
Tiba-tiba dia merebut HP ku dan mencium bibirku. Aku terkejut dan langsung memberontak tapi dia sangat kuat, aku membiarkan dia menciumku. Bibirnya sangat dingin membuat jantungku berdetak sangat cepat, wajahku memerah seketika. Entah kenapa ada perasaan tak asing tentangnya. Setelah beberapa saat dia melepaskanku dan kemudian memelukku.
"Arga kamu sebenarnya kenapa sih?"
Aneh kenapa aku tidak marah padahal dia baru saja mencium dan memelukku. Rasanya aku sekarang malah tidak ingin dia melepaskan pelukannya.
"Kita pulang ya, besok lagi" Ucapnya melepas pekukanku dan membelai rambutku.
Aku sedikit merasa kecewa saat dia mengajakku pulang.
"Oke" Jawabku singkat.
***
Hari berikutnya seperti biasa Arga mengajakku jalan lagi tapi kali ini dia membawaku ke sekolahku sendiri, dia membawaku ke kelasku dan menyuruhku duduk tepat di tempat duduk ku.
"Coba lihat apa yang ada di lacimu." Ucapnya membuatku penasaran dan langsung melihat ke laci mejaku, ternyata ada sebuah bunga mawar putih yang sudah hampir layu.
"Ada bunga mawar? Kok aku gak sadar padahal aku duduk di kursi ini saat pelajaran." Ucapku kebingungan.
"Masa sih? Kebanyakan ngelamun kali kamu haha."
"Tapi ini dari siapa?"
"Kan ada suratnya."
"Oh iya." Saat aku ingin membuka suratnya tiba-tiba Arga mencegahnya.
"Eits bukanya besok ya."
"Yah kan aku penasaran."
"Sabar besok kamu tahu kok, yuk jalan ke perpus." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Aku memegang tangan Arga, tangannya terasa sangat dingin.
"Arga kamu sakit ya?" Tanya ku cemas.
"Enggak kok, cuma gugup aja gandeng tangan kamu."
Setibanya di perpus dia mengambil salah satu buku dari rak bagian atas.
"Nih bawa pulang ya, inget hanya boleh dibuka besok."
"Iya iya bawel." Ucapku kesal.
"Bunga sama suratnya di bawa kan?"
"Iya udah kok, nih di tas."
"Kita dansa yuk."
"Kok tiba-tiba mau dansa sih, di perpustakaan lagi."
"Gapapa dong kali-kali." Katanya sambil berjongkok dan menjulurkan tangannya untuk memintaku berdansa dengannya.
Akupun menyetujui dan kami berdansa bersama, gerakan kami sangat kompak seperti sudah berlatih dalam waktu yang lama, tatapan dan senyumannya membuatku sesekali tertawa karena canggung.
Tidak terasa waktu sudah hampir malam, aku dan Arga berdansa cukup lama sampai badanku pegal semua. Dia mengantarkan ku pulang tapi dia selalu menolak ketika aku mengajak dia masuk ke rumahku.
Setelah selesai mandi aku mengeluarkan bunga, surat, dan buku yang Arga berikan padaku. Ingin sekali membukanya tapi Arga bilang aku boleh membacanya besok. Hari ini aku sangat bahagia, pikiranku semua tertuju pada Arga, mungkin aku mulai mencintainya. Bahkan kadang aku senyum-senyum sendiri ketika memikirkan Arga. Karena terlalu kelelahan saat berdansa dengan Arga membuatku tertidur lelap malam itu.
Keesokan harinya aku membuka mataku dan langsung mandi, aku ingin menemui Arga untuk menyatakan perasaanku berhubung hari ini adalah hari minggu. Hampir saja aku lupa aku harus membuka surat dan buku itu. Aku mencium bunga mawar putih yang sudah layu wanginya masih sangat kuat walaupun sudah layu. Aku memutuskan untuk membuka surat yang diselipkan di bunga itu.
"Fanda, ketika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Sayang jangan lupain aku ya. Semoga kita masih bisa bertemu lagi di dunia selanjutnya. Dari Arga untuk orang yang paling aku sayangi."
"Hahaha dasar Arga, ga bakat banget bercandanya." Aku tidak memedulikan kata-kata Arga lalu membuka buku yang Arga ambil kemarin dari Perpustakaan. Ternyata itu adalah sebuah buku diary dengan gembok. Dan sepertinya kuncinya hampir sama bentuknya dengan kalungku. Akupun mencoba membuka gembok buku itu dengan kalung kunciku, ternyata berhasil.
"Ternyata ada banyak foto-foto aku bersama Arga dan tulisan itu... Tulisan aku. Jadi Arga adalah pacar aku? Nggak, nggak mungkin." Aku menangis melihat tulisanku tentang cerita-ceritaku bersama Arga, tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali. Dan buku itu bersambung tanggal 15 November di mana 1 bulan sebelum aku bertemu Arga. Gak mungkin Arga udah meninggal, kemarin kita masih ketemu! .
Aku membuka HP ku dan mencari foto-fotoku bersama Arga kemarin, air mataku mengalir deras ketika melihat foto foto kemarin hanya ada aku seorang tidak ada Arga. Foto saat Arga mengacak-acak rambutku hanya terlihat aku yang rambutnya acak-acakan seperti terkena angin. Aku masih tidak percaya, aku langsung turun untuk menanyakannya kepada mama.
"Fanda kamu kenapa nangis?"
"Ma! Jelasin siapa Arga!"
"Kamu udah ingat? "
"Jawab ma!"
"Fanda, sebenarnya Arga adalah pacar kamu, waktu itu kamu hampir tertabrak mobil di jalan menuju sekolah, Arga nyelamatin kamu tapi kepala kamu masih saja terbentur hingga kamu koma bulan lalu. Tapi kamu beruntung kamu masih hidup hanya saja kamu kehilangan beberapa ingatan, dan Arga... Arga meninggal di tempat. Kebetulan kamu tidak ingat tentang Arga jadi mama sama papa memutuskan tidak cerita sama kamu."
"Kenapa? Jadi saat kepalaku diperban bukan karena jatuh di kamar mandi? Jadi Arga udah meninggal? Nggak mama bohong! Kemarin cowok yang aku temuin itu Arga ma, Arga!."
"Fanda karena kamu udah ingat ayo kita ke makam Arga, mungkin dia tidak rela kamu lupa sama Arga."
Aku dan mama menuju ke pemakaman ternyata benar nisan itu atas nama Arga. Mama memelukku dan aku menangis sejadi-jadinya di sana. Aku tidak menyangka ternyata Arga adalah pacarku dan dia yang menyelamatkan hidupku.
Arga walaupun kamu udah pergi aku janji gak akan lupain kamu, suatu saat kita harus ketemu ya. Semoga bahagia di alam sana, jangan pernah lupain aku, I love you Arga.
❤
❤
❤
Hai, terima kasih sudah membaca, jangan lupa untuk like, komen dan follow aku Revhita😊.
Semoga cinta mereka bisa bersatu kembali di dunia selanjutnya😭😭😭