"Namaku Violet. Hal terkonyol yang pernah aku dengar adalah hidupku tidak akan sampai usia 20 tahun" ucapnya. Gadis dengan mata sayu itu melempar pandangannya ke luar kaca mobil, melihat deretan pohon yang seakan berlari di sepanjang jalan.
"Itu hal yang sangat konyol" pria yang menyetir di depan berkata tanpa ekspresi
"menurut anda itu konyol?" Violet bertanya, dia melihat pada kalender digital yang tertera. Hari ini tanggal 03 Maret 2xxx.
"tentu saja" Pria tersebut menjawab singkat
"Ada yang lebih konyol dari itu. Mau dengar?" Violet menghela nafas lalu menerawang jauh...
"Nancy, kamu membuat vas bunga kesayangan mamah pecah. Mamah pasti akan marah besar padamu!" Violet kecil itu berkacak pinggang pada gadis seusianya yang menunduk takut.
"Suara apa itu?" seorang perempuan menghampiri dengan tergesa-gesa.
"Mamah.." Nancy berkata gemeter
Perempuan itu melihat pada Nancy yang ketakutan lalu pada Violet yang memiliki ekspresi geram dan menghakimi.
"Mah, lihat apa yang Nancy laku.."
plakk
sebelum Violet selesai bicara, satu tamparan utuh mendarat di pipi kecilnya.
perempuan itu memeluk Nancy lembut seraya menatap tajam pada Violet yang hanya tertegun memegangi pipinya yang perih
"Mah, Nancy memecahkan vas kesayanganmu, lihat itu!" Violet menunjuk pada pecahan vas di lantai
"Diam! Kamu membuat takut anakku"
perempuan itu memeluk lembut Nancy seraya menatap tajam pada Violet.
"Pergi dan jangan tunjukkan wajahmu lagi. Setiap kali kami mengadopsi anak kamu selalu membuat mereka kabur dengan tingkahmu. Dasar anak pembawa sial!" Perempuan tersebut berkata seraya berlalu dengan Nancy
Sementara Violet hanya menundukan kepalanya muram
Inilah aku, Violet. Seorang anak tunggal dari keluargaku, dan seperti itulah nasibku. Ibu dan Ayah tidak menyayangiku. Mereka berpikir aku adalah anak pembawa sial dan mereka yakin aku akan mati sebelum usia 20 tahun, karena aku adalah anak terkutuk. Mereka banyak mengadopsi anak dari panti asuhan atau dari orang lain, tapi aku selalu membuat mereka tidak betah dan kabur. Itu mungkin salah, dan Ayah Ibu selalu semakin marah padaku karena hal itu, tapi aku harus melakukannya karena aku tidak suka diasingkan dan diabaikan sementara mereka memanjakan anak orang lain... aku ingin merasakan sedikit saja kasih sayang dari mereka yang ditakdirkan menjadi orang tuaku. Untuk mencapai itu aku selalu bertindak egois, dan hingga aku tumbuh dewasa pun aku tetap menjadi orang egois'
𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶. 𝘕𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘴𝘪𝘳, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 '𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢' 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘯𝘤𝘺.
𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪... 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢... 𝘝𝘪𝘰𝘭𝘦
"Hai, namaku Viole. Namamu siapa?"
seorang pemuda dengan lesung pipi tersenyum dan mengulurkan tangannya
"Violet, namaku Violet" Violet menyambut uluran tangan Viole dengan sedikit enggan.
"Wah nama kita mirip yah. Senang berkenalan denganmu Violet"
𝘐𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶, 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶. 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢.
𝘋𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵...
"kenapa keluargamu membencimu Vi?" Viole bertanya pada suatu ketika
"Karena mereka percaya aku adalah pembawa sial. Saat aku lahir dulu rumah orang tuaku mengalami kebakaran. Lalu mereka pindah untuk sementara ke rumah kakek dan nenek dari ayah. Tapi tidak lama setelah itu rumah itu juga kebakaran karena Ibu lupa mematikkan kompor saat mendiamkan aku yang sedang rewel. Dalam tragedi itu nenek meninggal" Violet berkata seraya menerawang jauh.
"Lalu karena kejadian-kejadian itu mereka jadi menganggapmu pembawa sial?"
"Yah.. saat itu Kakekku yang katanya punya kepintaran meramalkan kalau aku adalah anak pembawa sial yang membawa kekuatan gelap dan musibah. Sejak saat itu mereka memperlakukan aku seperti ini, rasanya benar-benar seperti orang asing, hah" Violet mendesah pelan
"Aku juga sama. Keluargaku bahkan tidak akan mendengarkan aku ketika aku bicara" Viole berkata
"jadi nasib kita sama yah.. "
untuk beberapa saat, keduanya sama-sama terdiam
"Violet, mau menikah denganku?" Viole tiba-tiba bertanya
"Mau, tapi orang-orang bilang aku akan mati sebelum usiaku mencapai 20 tahun"
"... kamu takut mati Vi?"
"Sangat takut" Ucap Violet
"kalau begitu aku akan menjagamu agar kamu tidak mati"
Violet hanya tersenyum mendengarnya. Viole adalah satu-satunya orang yang membuat Violet merasa terjaga
"tetaplah bersamaku Vi" Ucap Viole
"tentu. Aku janji"
𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘱𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶...
"Dari mana saja kamu?" Ayah bertanya. Itu adalah pertanyaan yang tidak pernah di dengar oleh Violet sebelumnya saat dia pulang larut
"Ayah bertanya padaku?" Violet berkata sinis
"jangan banyak tingkah. sekarang tanggal 02 Maret Besok hari ulang tahunmu kan? " Ibu Violet bertanya.
"Wah tidak disangka kalian ingat ulang tahun ku. Besok usiaku genap 20 tahun. Apa kalian khawatir aku akan segera mati?"
"tentu kami ingat. Kami selalu ingat setiap kali ulang tahunmu. Karena itu selalu mengingatkan kami untuk waspada terhadap kesialan yang akan kamu bawa" Nancy, ikut bicara
"wah adikku ini sudah pandai bicara yah.."
"Siapa yang adikmu? kamu benar-benar pembawa petaka. Minggu kemarin aku gagal ulangan karena kamu menyentuh buku-buku pelajaranku.."
"Nancy sudah" ucap Ayah. Pria itu berjalan mendekat pada Violet. Lalu meletakkan tangannya di atas kepala Violet.
Violet hanya tertegun
"Maafkan aku Violet" Kata pria itu singkat lalu membalikkan badan dan langsung berlalu. Ibu dan Nancy melirik ke arah Violet sejenak lalu juga berlalu.
Violet hanya sedikit menyunggingkan senyum kecut lalu bergegas ke kamarnya. Keluarga jadi-jadiannya aneh hari ini.
Gadis itu melempar tasnya dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Drttt drttt drrttt
panggilan masuk ke ponsel Violet, itu dari Viole
"Hallo"
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩"
"Ya. Kamu sendiri?"
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶"
"Oh? sedang apa?"
"𝘝𝘪𝘰𝘭𝘦𝘵. 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘮𝘱𝘢.."
Di luar, Viole berdiri dengan memegang ponsel, sementara pandangannya melihat ke arah depan pada rumah Violet. Tepatnya bukan pada rumah Violet, tapi pada orang-orang yang menuangkan cairan berbau tajam dalam jerigen ke dinding dan ke sekeliling rumah. seorang Wanita dan pria paruh baya juga seorang perempuan muda, mereka melumuri rumah itu dengan bahan bakar, luar dan dalam.
Angin bergemuruh dan berhembus kencang, langit tampak tidak bergairah ditutupi oleh awan-awan yang menggumpal dan terkadang tercerai berai.
"puteri ku yang terkutuk.. sampai disini saja" Pria itu menyalakan api kecil di tangannya...
...
...
...
"Namaku Violet. Dan aku meninggal pada tanggal 02 Maret 2xxx, tepat di usia 20 tahun kurang beberapa menit.." ucap perempuan itu.
Pria di depannya hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun
"sudah sampai" ucap pria tersebut, mobil itu berhenti. Violet membuka pintu dan keluar
"Itu hal terkonyol yang pernah aku dengar. Mereka bilang Kamu tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun, tapi kata-kata yang paling tepat adalah mereka tidak akan 'membiarkanmu' hidup lebih dari dua puluh tahun" Pria itu berkata untuk kemudian berlalu dengan mobilnya.
Violet masih berdiri di tempatnya
"Hai" Sapaan yang hangat itu terdengar. Violet melihat Viole berdiri di belakangnya dan tersenyum hangat
"Hai" Violet juga tersenyum. Keduanya saling menghampiri
"selamat datang" Ucap Viole
"di dunia kita.. "
Mereka menggenggam tangan satu sama lain dan berjalan di dimensi yang berbeda...
Viole melihat pada orang-orang yang berjalan di depannya dengan setelan pakaian hitam.
"kamu bawa bunga yang itu?"
"Ya tentu. Kak Viole sangat menyukainya. Hah.. ini sudah tujuh tahun dia pergi meninggalkan kita.. Aku merindukannya"
"yah aku juga. Jadi ayo penuhi makamnya dengan bunga bungan indah, agar dia tau kalau kita merindukannya" Orang-orang itu terus berjalan menuju ke area pemakaman.
"Aku tau kok" Viole mengukir senyum.
"kamu punya keluarga yang baik" ucap Violet
Dan inilah akhirnya....
'