Kousei tersenyum menatap sebuah bingkai foto di genggamannya. Mengusap lembut foto tersebut, Kousei bergumam "Aku merindukanmu".
Sadar akan lamunannya, lelaki tersebut beranjak dan bersiap berangkat sekolah. Berjalan santai dipinggir jalan sambil bersenandung, menikmati hembusan angin di pagi hari.
"Teman A!" Teriakan seorang gadis yang sangat familiar masuk kependengarannya. Kousei menoleh, lalu tersenyum manis.
"Selamat pagi, Kaori"
Membuka tas nya, Kaori mengeluarkan sebungkus makanan kucing. "Mau memberi makan kucing terlebih dahulu?"
Sedikit lama, Kousei menjawab. "Tentu"
Mereka berdua menatap seekor kucing berwarna hitam yang sedang fokus memakan makanannya.
Menopang dagu dengan sebelah tangannya, Kaori bertanya. "Bagaimana kabarmu?"
Kousei menoleh, "Baik".
"Lihatlah dirimu sekarang..."
"....Dulu pertama kali aku melihatmu diumur 5 tahun, seorang anak yang tampil canggung berada di depan piano yang terlalu besar, kesulitan mengatur tempat duduk sehingga membuat penonton tertawa. "
Kaori mendongak menatap langit yang cerah, matanya sedikit memicing karena sinar matahari. "Dan ketika kau melantunkan nada pertamanya, langsung membuatku terpukau. Seolah nada itu memiliki 24 corak warna, melodinya menari-nari dengan penuh warna".
Gadis itu terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Kousei menunduk, wajahnya terlihat sangat sedih. Tiba-tiba Kaori menjitaknya kasar, "Arima! Kenapa kau menunduk hah? Jangan menunduk lagi, itu sangat merusak suasana."
Lelaki itu memandang wajah Kaori dengan tatapan yang sulit diartikan. Mulutnya terbuka, ia berucap "Ingat saat kita melompat bersama ke sungai? Juga saat.. Kita bernyanyi Twinkle, Twinkle Little Star..."
Kaori tertawa, "Hahaha aku ingat itu! Oh jangan lupakan saat kita balapan dengan kereta, lalu aku dengan percaya diri yakin bisa menang. Memalukan!"
Gadis itu menggendong kucing hitam yang sudai selesai memakan makanannya itu. "Lucu sekali, kejadian yang tidak kau lupakan ternyata sangatlah sederhana?".
Kousei berdehem sambil mendongakkan wajahnya, seolah sedang berfikir. "Nyatanya.. Kejadian-kejadian sederhana itu membuatku selalu ingat bahwa kau sudah menerobos masuk seenaknya kedalam hatiku".
menghembuskan nafasnya, Kaori berdiri. Ia memegang kedua tangan Kousei. "Jangan melupakanku ya?"
Lelaki itu tertawa, "Kalimat yang familiar".
"Diamlah! Jangan merusak suasana untuk kesekian kalinya!" Ucap Kaori dengan mata melotot.
Termenung, wajah gadis itu menjadi cerah tiba-tiba. "Dimana Canele untukku? Jangan bilang kau tidak membelinya?".
Kousei tersentak, ia langsung mengambil bingkisan dari dalam tas nya. "Maaf aku hampir lupa".
"Terima kasih..". Kaori tersenyum manis, "Ku ucapkan sekali lagi, jangan pernah melupakan aku ya?"
"Iya"
"Janji?" Kaori memperlihatkan jari kelingkingnya, "Ayo berjanji kelingking!"
Kousei mengikuti kemauan gadis itu. "Janji"
Menatap jari kelingking mereka yang bersatu membuat hati Kaori berbunga-bunga.
"Senang bertemu denganmu, terimakasih.. Arima Kousei-kun"
Perlahan tubuh Kaori menghilang bersatu dengan udara. Kousei menunduk, "Habiskan kue Canelenya untukku, Kaori" Gumamnya sedih.
Berdiri, Kousei berlari hendak menemui Watari dan Tsubaki. Ditengah larinya, Kousei tersenyum. "Kau benar-benar menghantuiku jika aku melupakanmu.."