Dari sekian banyak pria yang menggodanya tak satupun dari mereka yang mampu mendapatkan hati seorang gadis cantik dan populer itu.
Mariska natalia, gadis cantik dengan berbagai prestasi atas kepintarannya di kampus membuat namanya dikenal oleh banyak orang, terutama dikalangan pria, Mariska sangatlah cantik, ia adalah wanita tercantik di kampusnya itu, selain mahasiswa Mariska juga membuat beberapa dosen yang tergila gila akan kecantikannya.
Mariska berasal dari keluarga terpandang, ayahnya adalah salah satu orang terkaya di indonesia, namun dengan kekayaan yang dimiliki orang tuanya tersebut tak membuat Mariska menjadi orang yang sombong.
Jakarta, 13 januari 2019.
Namaku Gilang andratama, aku adalah seorang mahasiswa sekaligus pekerja paruh waktu di salah satu Mall di jakarta, hidupku yang biasa-biasa saja dan jauh dari kata mewah, karena memang aku berasal dari keluarga yang sederhana, aku mendapat beasiswa kuliah di universitas ternama di Jakarta, di usiaku yang sudah 22 tahun aku tak lagi meminta uang dari orang tuaku di kampung, karena aku sudah bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sehari hari, dan masalah biaya kuliahku syukurlah itu gratis.
Pagi yang sangat cerah, aku bergegas bersiap untuk menuju kampus dengan kendaraanku (Motor).
Sesampainya dikampus, aku masuk langsung menuju kantin, aku memang selalu sarapan dikampus karena memang aku jarang masak di kost ku, saat itu kantin sangat ramai, aku memilih tempat paling pojok agar tak terlalu terganggu, dengan suasana yang penuh kebisingan aku mulai melahap sarapan pagiku dengan penuh syukur.
Setelah beberapa saat aku selesai sarapan dan langsung menuju kelas, dalam perjalanan menuju kelas aku melihat Mariska, ia sedang duduk ditaman ditemani sahabatnya Nana dan Dewi, mereka memang sudah lama saling mengenal sejak SMA.
"Lo lagi ngeliatin apa?."suara yang mengejutkanku.
"Eh lo dik."kataku singkat.
"Mariska emang cantik lang, tapi ya gitu lo tau lah."ucap Dika sahabatku.
"Siapa yang lagi ngeliatin dia, gua sadar diri."cetusku.
"Mariska cantik, dan gak sombong itu yang buat dia sangat populer."balas dika.
"Lo ngapain bahas dia?"tanyaku heran.
"Hahaha dia cantik bro gua suka."balas Dika santai.
"Kenapa ga lo kejar ?."tanyaku.
"Haha sampe nangis darah gua ga bakal dapatin dia ."cetus Dika membuatku tertawa.
Kami pun segera berjalan menuju kelas, karena memang kelasku segera dimulai, dan sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa aku harus menjaga nama baik perusahaan yang membiayaiku.
(Perusahaan migas di kampungku).
Setelah kelas selesai, aku dan Dika sepakat untuk makan di kantin, untuk bertemu teman temanku yang lainnya.
"Lang lo mau minum apa?."tanya Dika.
"Kopi."kataku sambil tersenyum.
"Selalu."jawab Dika sambil tertawa.
Tak berselang lama orang berisik pun mulai datang, dan membuat telingaku rasanya ingin pecah.
"Gilang!,"teriak Nava temanku.
"Lo berisik Va sumpah."ucapku.
"Bodo amat."ucap Nava yang langsung menyeruput Kopiku.
"Dasar cewek berisik."ucapku menggodanya.
"Udah lu berdua ga pernah akur, kaya tikus sama kucing."ucap Meta.
Mereka adalah temanku dari dari SMA mereka juga mendapat beasiswa yang sama sepertiku.
"Lang gua mau nanya sama lo."ucap Nava serius.
"Apaan?"jangan bilang lo suka sama gua."ucapku sambil tertawa.
"Lo ada hubungan apa sama Mariska?."pertanyaan yang membuatku, Dika dan Meta terkejut.
"Tunggu, ada apa nih kayaknya ada yang lo sembunyikan dari kita."Cetus Meta.
Mereka bertiga fokus menatapku serius dan berharap penjelasan dariku.
Karena tak ingin membuat mereka terkejut aku tak memberitahu mereka tentang kebenaran yang ku rahasiakan, dengan sedikit alasan mereka bertiga langsung percaya dengan alasanku.
Aku adalah kekasih Mariska, aku tak terlalu tau apa yang menarik dariku sehingga Mariska menyukaiku, mungkin karena aku mempunyai wajah yang tampan, itulah dugaanku.
Tuutt...tuuttt
Aku langsung mengangkat telepon tersebut, karena itu dari Mariska dan aku langsung menjauh dari teman teman ku.
"Halo mas, mas dimana?"tanya Mariska.
"Aku di kantin,"kamu udah selesai ?."tanyaku.
"Iya nih udah selesai."ucap Mariska.
"Yaudah kamu pulang duluan aja ya, mas masih ada kelas nanti."
"Yaudah Mas makan yang banyak, jangan centilan matanya tuh dijaga."Mariska cerewet.
"Iya cerewet."ucapku menggodanya.
"Yaudah seeyou masku sayang."ucap Mariska.
"Seeyou tuan putri."jawabku.
Hubungan kami memang kami rahasiakan, itu permintaanku, karena aku tak mau membuat Mariska menjadi buah bibir karena berpacaran denganku.
Itulah yang menjadi alasan kenapa Mariska ta pernah menerima pria lain, karena memang ia sangat menyayangiku, dan aku pun begitu.
Namun kadang kala aku sangat merasa cemburu karena memang Marisak populer dan banyak sekali pria yang mendekatinya.
Setelah selesai kuliah aku, langsung pulang karena memang aku harus bekerja.
"Dik gua pulang duluan ya gua mau kerja nih."jelasku pada Dika.
"Oke, malam nanti jadi keluarkan."tanya Dika.
"Oke, akan kuusahakan."ucapku.
Aku langsung meninggalkan kampus dan bergegas menuju tempat kerjaku, dan tak berselang lama aku sudah bersiap untuk bekerja, disini aku juga mempunyai teman"yang baik.
"Lang, gimana urusan kampus lancar?."tanya Gita.
"Alhamdulillah lancar Git."balasku.
"Oke deh, eh aku nanti mau ke toko buku, mau temenin aku bentar ngga, aku mau cariin buku pesanan ibuku."tanya Gita.
"Oke, nanti kamu ingatin aku ya."ucapku.
Gita adalah teman pertamaku saat melamar pekerjaan, kami juga sudah lumayan lama kenal semenjak saat pertama kami mulai bekerja bersama.
Setelah semuanya selesai aku dan Gita langsung menuju toko buku, aku tak sempat melihat handphoneku, dan ternyata Mariska sangat marah karena tak mendapat kabar dariku.
Aku dan Mariska bertengkar hanya karena aku tak menghubunginya, ia mendiamkanku selama dua hari.
Saat dikampus aku melihat Mariska yang sedang berdua di taman bersama pria yang kukenal, dia adalah andre, mahasiswa kaya yang selalu menarik perhatian banyak wanita di kampusku, mereka tampak mesra, aku melihat Andre memegang tangan Mariska, mencoba menenangkan Mariska karena sedang menangis, entah mengapa aku merasakan sakit yang sangat amat perih dengan apa yang aku lihat, aku merekamnya untuk nanti kuperlihatkan padanya.
Mariska masih marah padaku, aku pun tak menghiraukannya karena apa yang aku lihat di taman adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.
Namun ia membuatku sangat terkejut, saat aku sedang asik berkumpul bersama sahabatku di kantin ia mendatangiku.
"Mas ayo pulang."ucapnya padaku yang membuat Nava, Dika dan Meta terperangah dengan apa yang di ucapkannya.
"Kamu udah selesai."ucapku gugup
"Aduhhh mati aku pasti mereka bakal marah padaku."ucapku yang yang melihat tatapan tajam dari lara sahabatku.
Tanpa banyak kata, aku langsung meninggalkan mereka yang masih tak percaya akan hubunganku dan Marisa.
Dalam perjalanan menuju keluar kampus semua mata tertuju kepada kami berdua, pandangan yang penuh dengan ketidakpercayaan, karena ulah si gadis nakalku ini. ia sengaja membuat orang-orang mengetahui hubungan kami.
Tanpa kami sadari Andre sedang memperhatikan kami, tampak raut wajah marah dari wajah Andre.
"Sialan, kau tak akan merasakan kenyamanan lagi setelah ini."batin Andre.
Keesokan harinya kampus sangat heboh, banyak yang menatapku sinis dan banyak pula yang mendekatiku untuk sekedar bertanya tentang hubunganku bersama Mariska.
"Lo bohongin kita Lang!"cetus Nava kesal.
"Iya tega lo."balas Dika.
"Ga nyangka gua."lanjut Meta.
Aku menjelaskan kepada mereka dan akhirnya mereka mengerti dan mendukung hubunganku, terutama Dika, karena kami sama-sama pria.
Mariska yang sudah kuberitahu bahwa aku akan mengenalkanya kepada para sahabtkupun datang.
"Mas." ucapnya mengagetkanku.
"Sini duduk."ucap Nava yang langsung menggandeng Mariska.
Aku hanya tersenyum, gadis nakalku ini memang menginginkan kehebohan, tampak dari semua orang yang menatap kami dikantin.
"Nav, Dik, Met kenalin ini Mariska."ucapku
"Gua udah tau."cetus Dika.
"Gua Meta."ucap Meta senyum
"Aku Mariska."jawab Mariska.
Setelah sesi perkenalan itu Mariska tampak mudah bergaul, buktinya ia tampak langsung dekat dengan Nava dan Meta, aku sangat senang karena memang sudah sepantasnya para sahabatku tau akan hubungan kami.
Namun tidak untuk Andre, ia telah mempersiapkan sesuatu kejutan untukku.
Setelah pulang kuliah aku sudah ditunggu Andre dan beberapa temannya yang sudah siap melahapku.
"Eh lo mendingan jauhin Mariska, karena dia punya gua."tegas Andre, menarik kerah bajuku.
"Gua ga mau cari ribut, dan kalo emang dia mau sama lo ambil aja."cetusku.
Jawabanku membuat Andre murka, ia menghajarku tanpa ampun, aku tak bisa banyak melawan karena memang kalah jumlah tujuh banding satu, aku hanya pasrah mereka menghabisiku.
Dika yang melihat langsung datang membantuku, dengan langsung menerjang Andre yang langsung tersungkur, melihatku yang sudah tak sadarkan diri serta darah di wajah,kepalaku serta perutku membuat Dika marah, pada akhirnya Dika pun harus rela ia pun menjadi bulan bulanan Andre dan teman-temannya.
Meta dan Nava langsung meminta bantuan untuk membawa aku dan Dika kerumah sakit, Dika tak terlalu parah, namun aku sangat kritis saat itu, karena beberapa tusukkan di pinggangku.
Keluargku sudah banyak yang datang untuk melihatku yang masih kritis, ayahku tampak terpukul dan ibuku hanya bisa menangis saat itu.
"Met, kita harus kasih tau Mariska."ucap Nava yang sedang menangis.
"Aku akan menelponnya dulu."ucap Meta.
Tak lama Mariska datang tergesa gesa dengan wajah cemas seakan tak percaya, setelah ia melihatku ia langsung menangis histeris, Nava dan Meta langsung memeluk Mariska untuk menenangkannya.
Sementara Andre dan teman temannya sudah ditangkap polisi dan mereka hanya diberi hukuman enam bulan atas perbuatannya, karena memang keluarga Andre yang kaya raya.
Sudah seminggu aku belum sadar, itu membuat keluarga dan sahabatku sangat terpukul, terlebih lagi Gadis nakaku itu yang hampir setiap hari menangis.
Waktu berjalan begitu cepat, tuhan masih memberiku waktu untuk hidup.
Semua orang terdekatku merasa lega dan senang karena kabar tentang aku yang sudah sadarkan diri.
Setelah semuanya, sudah bertemu denganku kini giliran Mariska yang sengaja bolos kuliah karena ingin melihatku.
"Halo sayang."ucapku sambil tersenyum ditempat tidur.
Ia tak menjawabku dan langsung berlari mendekatiku dan langsung memelukku, ia menangis tak berhenti, aku hanya diam sambil mengelus dan membelai rambut kekasihku itu.
"Mas jahat, mas membuatku khawatir."ucapnya sambil menangis.
"Apa ada yang rindu."jawabku menggodanya.
Namun tangisannya semakin kencang, aku langsung memegang pipinya dan langsung mencium bibirnya yang memang tampak menggoda, ia tak menolaknya, ia membalas ciumanku merayakan atas keselamatanku.
Untuk pertama kalinya kami bercumbu satu sama lain, aku senang akhirnya aku menyentuh bibir itu, bibir wanitaku tercinta.
6 bulan kemudian...
Aku yang telah menyelesaikan kuliahku dengan nilai yang memuaskan sangat senang karena kebahagiaan datang bertubi tubi, sekarang aku sudah mempunyai usahaku sendiri, aku mendirikan sebuah cafe yang sekarang sangat terkenal di kalangan anak muda, seiring berjalanya waktu usaha itu tumbuh dan terus berkembang dengan pesat, sekarang aku menjadi pengusaha di usia mudaku, aku telah membuka cabang di 10 kota besar di indonesia, aku memiliki beberapa villa di bali dan apartmen di Jakarta, masa sulitku telah berubah dan sekarang aku sudah lebih pantas bersanding dengan Kekasihku yang sekarang sudah menjadi tunanganku.
"Sayang nanti setelah menikah aku mau punya anak yang banyak."ucapku pada Mariska.
"Mau berapa Mas."jawab Mariska pipinya mulai merah karena merasa malu.
"Hhm 12."cetusku sambil nyengir.
"Mas kira aku mesin cetak anak."jawabnya sambil mencubit perutku.
"Kan bikinnya mudah sayang."ucapku menggodanya.
"Mas mesum!"teriaknya sambil tertawa karena geli aku menggelitikinya.
Sore itu kami menghabiskan waktu berdua ditemani indahnya sunset dan deburan ombak pantai serta desiran angin yang menyejukan.
Aku menatap matanya dengan penuh kasih sayang.
ia memeluku dengan erat dan kamipun bercumbu dengan mesra sore itu.
Kami berharap kebahagiaan kami bukanlah hal yang hanya sementara, aku sangat menginginkanya untuk menjadi pendampingku.
"Sayang terimakasih sudah menemaniku dari nol hingga sukses seperti sekarang.
Tamat.
Cerpen karangan : iit arianto
Kategori : Romance