Begitu katamu dan aku percaya. Aku menunggu dalam sisa-sisa bukaan mataku yang minta dikasihani. Remuk redam dadaku menanti sembari kehabisan napas.
Kamu sendiri yang ucapkan janji bahwa di antara spasi pertemuan kita, ada rindu yang mendoakan satu sama lain. Aku mengangguk, kepalaku terbenam di dadamu, tanganku melingkari tubuh, memelukmu di antara jarak 3468 km jauhnya.
Saat itu, parfum beraroma familiar yang bisa ku temukan di toko manapun, menjadi hanya milikmu seorang. Seakan, jika bukan kamu, wanginya tak akan semanis dan semabukkan itu. Tidak akan memengaruhiku untuk jatuh cinta padanya.
Aku masih duduk di beranda rumah dengan teko teh dingin serta terigu goreng yang kini, tak ayal, hanya memperburuk tenggoranku. Nama yang keluar dari rongga itu, sebenarnya memberi perih pada pita-pita suara merah muda. Di tingkat ini, tetangga mungkin akan mengira bahwa itu bisa digunakan untuk membungkus kado.
Kamu, mau tidak aku kirim kado? Hadiah berisi hatiku yang sudah didandani secantik mungkin, goresannya didempul sedemikian rupa, sehingga kamu tidak bisa melihatnya. Hanya perlu bahagia karena yang ku beri adalah sisi terbaik darinya.
Namun, aku yakin kamu akan menolak. Pesan-pesan pendek yang aku ketik di ruang obrolan virtual saja, yang bisa kamu lihat tak sampai tiga detik, tidak pernah menuai satu pun balas. Meskipun begitu, aku tetap ingin hari-harimu menyenangkan, kamu makan teratur, dan rencana panjang masa depanmu merekah seperti senyum yang kamu pajang dulu, di sebelahku.
Teman-teman dekatku bilang, bahwa aku adalah orang paling sabar hingga mampu menunggu selama ini. Padahal, aku ini sebenarnya sedang buru-buru. Waktu yang aku habiskan termangu di depan potretmu, yang entah sudah berapa purnama terlewat itu, tidak terasa untukku. Aku, hanya ingin cepat bertemu.
Kamu, karena kamu bilang akan pulang, aku mampu untuk bertahan sebisanya sekarang. Entah kapan tenggat waktu datang, atau bilamana pesawatmu tak juga landai, hari-hari berat itu, aku akan melewatinya untuk kamu.
Begitu aku kira.
Tapi, sayangku. Kamu, maafkan aku. Saat ku rasa kelopakku akan gugur, ingin ku tempel perekat agar ia tak jatuh ke tanah, ternyata tanganku lah yang lebih dulu patah.
Aku disangga batang-batang besar untuk tetap berdiri, dengan bau anyir menyiramku seperti pupuk agar bunga ini mekar besar, walau ia bukan mawar. Orang berpakaian putih menepuk bahuku, memintaku untuk berhenti menghitung mundur waktu.
Kamu, asalkan kamu tahu bagaimana aku menggeleng sebisaku saat itu. Aku merasa seperti kepalaku akan berpisah dari tubuhnya, mengolokku yang sudah tidak punya kendali lagi dalam apapun.
Aku ingin menangis. Merundung semua kesalahan ini pada diriku sendiri. Bolehkah aku minta waktu? Bolehkah aku minta dipertemukan? Bolehkah penantianku dibayar lebih dulu? Namun, sudah dikatakan, itu salahku.
Itu salahku karena menjadikanmu hitungan detik untuk hidupku. Detik yang sesungguhnya jadi murka padaku, mereka bilang ini karena aku menyayangimu lebih dari bagaimana matahari bekerja keras sehingga ia terus berjalan. Katanya, aku juga membuatmu sebagai matahariku.
Aku tidak mengerti, aku rasa mereka hanya cemburu. Detik tidak bisa sepertiku dan kamu. Saat dia mengejar menit, menit mengejar jam. Pantas saja, dia menjadikanku kambing hitam karena aku punya kamu.
Kamu, ini yang terakhir kali aku meminta maaf. Tapi aku tidak kuasa melawannya. Aku tidak bisa memotong ucapan teman-temanku, mengambil kendali atas tubuhku, menampik tangan orang berjas putih di bahuku, atau meredakan murka detik yang membara itu.
Maaf, ya, kamu. Aku harus menyerah kalah kali ini. Padahal, aku masih ingin menantimu. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku tahu menjaga diri, bahkan jika tidak di tempat yang ada kamu.
Aku, tetap senang melihatmu akhirnya pulang, walau aku menjadi yang pertama melakukannya. Melihatmu menggendong tas besar itu, dengan serangkai bunga putih yang aku tidak tahu namanya, ternyata cukup untukku benar-benar berhenti menunggu.
Ah, walau begitu, aku tahu kamu tidak membawa bunga matahari pesananku. Tapi tidak apa-apa. Aroma tipis parfummu, napas terengah dengan dada bidangmu yang naik turun, keringat di pelipis, serta genggaman ketat di hadapan fotoku, aku rasa semuanya sudah sempurna.
Aku tidak menyesali apapun.
Aku bersyukur telah menunggu.
Karena, kamu bilang kamu akan pulang.
Dan, kamu benar-benar pulang, begitu pula aku.
Selesai.