Mencintai seseorang yang bukan milik kita itu sangat menyakitkan. Seperti luka yang tersiram perasan jeruk nipis, melihat sang pujaan hati bercanda dan tertawa bersama orang lain yang bisa dikatakan memang lebih pantas bersanding dengan nya. Bagai seorang pangeran dan sang puteri, namun aku hanyalah dayang istana yang jauh dari kata layak untuk bersanding dengan sang pangeran meski hanya dalam mimpi. Wajahnya, tawanya, suaranya seperti warna dalam keseharian kelabu ku ini, layaknya pelangi yang datang sehabis hujan dan senja menjelang malam. Indah bukan?
Apa kalimat ku terlalu berlebihan untuk didengar? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Untuk sebagian orang yang memiliki nasib sepertiku kalimat itu pasti sangat mewakili isi hatimu. Aku menyukai nya, ah, lebih dari sekedar suka, aku sangat mencintainya. Aku bertemu dengan nya dua tahun lalu, tepat saat pertama kali aku masuk ke sekolah ini. Aku hanyalah gadis biasa yang hidup sederhana, entah keberuntungan atau kesialan aku mendapat beasiswa di sekolah elit yang cukup tersohor di kota ini. Aku yang tidak sederajat dengan mereka menjadi bahan bullyan di hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah ini.
Gaya ku tidak sekeren mereka, penampilan ku tidak semenarik mereka, handphone ku tidak secanggih mereka. Semua ini tentang kasta, dimana yang kaya selalu menjadi penguasa dan aku yang dari kalangan sederhana ini harus siap menjadi pesuruh sang penguasa. Hari itu, secara tidak sengaja aku menabrak tubuhnya, tubuh atletis yang diperindah dengan kulit berwarna kuning langsat. Dia salah satu senior ku, satu tingkat diatasku. Seperti senior pada umumnya, dia tidak terlalu menanggapiku. Disaat itu aku pun belum merasakan apa-apa padanya. Rasaku tumbuh saat dia dengan gagahnya melindungi tubuhku yang di lempari telur oleh beberapa teman sekelasku saat MOS. Mereka adalah sekelompok perempuan glamour yang menindas kalangan bawah sepertiku.
Tubuh atletis itu berdiri didepanku menghadang semua lemparan telur, kedua telapak tangan besarnya itu bertengger manis di bahuku, rambut hitamnya yang menjuntai menambah kesan manis dan aura memikat pada wajahnya ketika kepalanya merunduk membuat wajah tampannya itu berada didepan wajahku dengan mata bak bulan yang indah itu menatap mataku. Jantung seperti berpindah dari tempatnya. Sejak saat itu aku jatuh hati padanya.
Sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu tapi aku masih mengingatnya dengan jelas. Dia adalah Fathar Arsalan, kakak kelas sekaligus cinta pertamaku di sekolah ini. Dan dia juga yang menjadi patah hati terbesarku. Aku jatuh cinta padanya, memendam perasaan selama dua tahun, memperhatikan nya dari jauh, melihatnya bahagia bersama Kiara, pacarnya.
Haha, masa-masa SMA ku memang tidak seindah orang lain. Cinta yang katanya sangat indah di masa SMA itu bagaikan mimpi di siang bolong.
AUTHOR POV
Namanya Arunika, remaja 16 tahun yang bersekolah di SMA Starvenus. Salah satu sekolah terkenal yang dihuni para kaum elit. Arunika mendapat beasiswa dadakan yang dia sendiri tidak tau asal-usulnya. Demi membanggakan kedua orangtua nya, Arunika terpaksa menerima beasiswa itu. Sebenarnya dia sudah tau seperti apa dunia didalam Starvenus tapi itu tidak menjadi alasan yang kuat untuknya membuat orangtua nya patah harapan.
Hari pertama dia masuk sekolah semuanya tidak berjalan baik. Para kaum elit yang suka meninggi itu menjadikan dia babu mereka meskipun mereka satu tingkat. Arunika tidak punya pilihan lain, dia gadis yang kuat dan pantang menyerah. Namun semua pembullyan yang dia dapatkan sudah berhenti sejak Fathar masuk dalam hidupnya sebagi pahlawan. Fathar si penguasa sekolah yang rela mengotori dirinya demi menolong Arunika, adik kelasnya.
Arunika mempunyai beberapa teman, itu karena mereka mempunyai hobby yang sama yaitu membaca buku dan menjadi penunggu perpustakaan. Ya, teman Arunika adalah sekumpulan anak nerd yang di jauhi para kaum glamour.
“Arunika, kamu sudah mengerjakan tugas dari pak Bandi?” tanya Salsa, teman sebangku Arunika. Salsa termasuk golongan murid penunggu perpustakaan. Arunika menegakkan tubuhnya, memberi pembatas pada novel yang sedang dia baca lalu menutupnya. Dia memutar tubuhnya menghadap Salsa.
“Sudah dong! Tugas itu sudah aku kerjakan dari kemarin, memangnya kenapa?” tanya nya sambil melepas kacamata yang selalu dia gunakan untuk membaca.
“Tidak apa-apa. Aku cuman nanya aja takutnya kamu kelupaan soalnya kan aku perhatikan belakangan ini kamu sibuk dengan urusan olimpiade IPA itu.”
“Oh, begitu..” Arunika membuka tas-nya lalu mengambil sebatang coklat, membaginya menjadi dua dan memberikan nya pada Salsa. Salsa menerima coklat itu dan membuka bungkusnya. Begitupun dengan Arunika.
“Kamu tenang aja, urusan olimpiade udah beres semua. Materi udah aku hapal semua diluar kepala nih. Hahah…” ucap Arunika sembari mengetuk pelan keningnya.
“Dih, sombong kamu. Mentang-mentang jenius yaa, hati-hati loh biasanya orang sombong suka kena azab. Nanti kamu kena azab tiba-tiba lupa semua materi, mau?”
“Astaghfirullah, amit-amit deh. Jangan sampe itu kejadian, aku bisa bikin malu satu sekolahan nanti.” Kata Arunika sambil mengetuk kepalanya dan meja bergantian.
“Haha, aku bercanda. Lagian yang perlu kamu lupakan itu bukan materi pelajaran tapi kak Fathar.”
‘Uhuk!
Salsa memberika botol minum pada Arunika yang tiba-tiba tersedak. Arunika menerima botol itu, membuka tutupnya lalu menenggak airnya sampai habis.
“Kamu ngilangin batuk atau haus sih? Setengah botol langsung habis.”
“Dua-duanya. Lagian kamu malah bahas dia, bikin kaget aja.”
“Aku kan cuman ngomong apa adanya.”
Arunika menggedikkan bahunya, tiba-tiba seorang guru perempuan masuk. Ah, ternyata jam istirahat sudah selesai. Percakapan Arunika dan Salsa berhenti diganti dengan kefokusan mereka terhadap materi yang dibawakan guru tersebut.
---
Arunika baru keluar dari toilet. Dia melangkah menuju lapangan basket, hari ini ada pertandingan basket antar kelas. Seminggu sudah berlalu sejak percakapan nya dengan Salsa yang menyinggung tentang Fathar, Arunika sedikit terhasut dengan omongan Salsa. ‘Apa ini saatnya aku melupakan kak Fathar?’ batin Arunika. Sepanjang jalan menuju lapangan dia terus memikirkan itu tanpa sadar dia sudah sampai didekat lapangan.
‘Dugh!
Arunika terjungkal dan mendarat di lantai. Dia meringis sambil memegang kepalanya yang seperti akan pecah. Sebuah bola tidak sengaja terlempar ke kepala Arunika, terbuktikan kalau dia sedang melamun sejak tadi. Puluhan pasang mata menatap Arunika, beberapa orang yang merasa bertanggung jawab atas kejadian itu langsung berlari hendak menolong Arunika termasuk Fathar. Dengan langkah gesit Fathar sudah berada disamping Arunika. Tangan nya meraih bahu gadis itu, menariknya pelan agar Arunika duduk. Fathar langsung menggendong Arunika ketika melihat noda darah menempel di baju gadis itu.
Disini lah Arunika berada, ruangan UKS bersama Fathar yang telaten membersihkan luka nya. Fathar juga merapihkan rambutnya dan mengompres pelipis Arunika yang memar. Mimisan gadis itu sudah berhenti. Fathar menghembuskan nafas lega ketika Arunika mulai bergerak.
Ya, Arunika pingsan.
“Syukurlah, kamu udah sadar.”
Arunika membuka matanya, menatap seluruh ruangan mencoba mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Dia sudah ingat. Gadis itu menatap Fathar yang duduk di sisi brankar, jantungnya marathon sekarang. Baru saja dia mencoba untuk melupakan Fathar namun sang pujaan hati kembali membuatnya jatuh hati.
“Kak, makasih udah nolongin aku lagi.” Ucap Arunika dengan suara lirih.
“Sama-sama, itu juga kesalahan kami kok karena bola itu kamu jadi mimisan sampai pingsan kayak gini.”
“Itu juga salah aku kak karena tadi aku melamun sampai gak sadar kalau berdiri terlalu dekat dengan lapangan.”
Fathar tersenyum kecil sambil mengusap puncak kepala Arunika. Fathar menjaga Arunika sampai sang gadis benar-benar pulih padahal Arunika sudah menyuruhnya pergi namun dia tetap berkeras akan menjaga Arunika. Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang, sesekali mereka tertawa karena saling melempar candaan.
Sebuah musibah menjadi pembawa berkah untuk Arunika.
---
Sebulan berlalu…
Semenjak insiden itu, Arunika dan Fathar semakin dekat. Fathar memberikan perhatian penuh pada Arunika yang membuat gadis itu semakin jatuh pada Fathar. Tidak ada yang tau perasaan Fathar pada Arunika. Setiap pulang sekolah, mereka selalu belajar bersama, terkadang nongkrong di café, menikmati angin sore di taman. Pokoknya mereka seperti orang pacaran.
Suasana sekolah sudah sepi, bel pulang sudah berbunyi satu jam yang lalu. Arunika baru keluar dari perpustakaan, sejenak dia memandang koridor yang sepi itu dan mulai melangkah menuju gerbang sekolah. Langkah demi langkah sudah berlalu namun tiba-tiba dia berhenti, matanya menatap sepasang manusia yang berjalan berlawanan dengan nya.
Mereka sama-sama berhenti. Mata Arunika memanas melihat tangan Fathar melingkar manis di pinggang Kiara. Dia mencoba menormalkan dirinya, mereka bertiga saling tatap. Kiara memeluk Fathar seolah menegaskan pada Arunika bahwa Fathar adalah miliknya. Fathar membalas dengan mencium puncak kepala Kiara.
‘Bodohnya aku.’ Batin Arunika. Hatinya sudah menangis sejak tadi. Arunika tersenyum getir mengingat kenangan nya bersama Fathar. Ternyata dia yang bodoh karena berharap lebih pada sikap baik Fathar.
“Fathar, kenapa berhenti?” tanya Kiara.
Fathar melirik Arunika sebentar lalu melanjutkan jalannya melewati Arunika. Jangan tanya seperti apa perasaan Arunika sekarang.
Hancur.
---
Hari-hari Arunika kembali kelabu bahkan semakin gelap karena harus melihat Kiara yang terus menempel pada Fathar. Tidak ada kesempatan untuk Arunika bertegur sapa dengan pujaan hatinya itu. Semenjak kejadian itu, Fathar juga berubah menjadi lebih dingin. Setiap melihat Arunika, dia seperti tidak mengenalnya.
Perasaan gadis itu kian menghilang bersamaan dengan bergantinya hari, bulan dan tahun. Arunika sadar bahwa Fathar memang bukan untuknya. Waktu singkat yang diberikan Fathar untuknya menjadi kenangan terindah yang selalu dia ingat selama lima tahun ini. Dia tidak berniat merebut Fathar dari Kiara karena dia tau sesuatu yang didapatkan dari jalan tidak baik akan berakhir tidak baik pula.
Kini, Arunika sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Lima tahun sudah berlalu semenjak kelulusan nya dari Starvenus. Arunika dan Salsa sama-sama menjadi dokter. Tidak ada yang tau kabar Fathar dan Kiara. Semua sudah berjalan masing-masing. Mungkin semuanya sudah bahagia dengan kehidupan nya.
‘Cinta tidak pernah tau pada siapa dia akan tumbuh, mencintai milik orang lain bukan kesalahan tapi akan menjadi salah ketika kita berusaha untuk merebutnya. Aku tidak pernah berharap kisah cinta masa remajaku sepahit ini tapi aku juga tidak bisa menyalahkan anugerah terindah dari Tuhan yang bernama cinta. Kak Fathar adalah cinta pertamaku yang tidak bisa ku raih tapi aku yakin akan ada Fathar lain diluar sana yang akan menjadi milikku. Semua hanya menunggu waktu.’ – Arunika.
SELESAI…