Di kehidupan ini, sebenarnya... apa yang dicari?
Diskriminasi merajalela. Tidak hanya di luar. Di lingkungan keluarga, erat sekali dengan diskriminasi.
Sebenarnya, apa yang mereka cari dengan membuat jalan pintas menggunakan diskriminasi itu?
Ah, aku juga manusia.
Namun, kenapa dia memanggilku dengan sebutan hewan?
Aku selalu menuruti apapun yang mereka perintahkan. Apakah anak pertama harus diperlakukan semacam ini?
Alih-alih untuk menjadi contoh terbaik bagi adik-adiknya. Mereka melarangku melakukan suatu hal yang ku sukai.
Kebahagiaan orang, tidak sama.
Mereka menyebutku orang gila.
Apa salahnya dengan hobi menulis?
"KAU SEPERTI ORANG TIDAK WARAS YANG SELALU MEMBICARAKAN HAL YANG TAK MASUK AKAL! KAU PIKIR, AKU MENYUKAINYA?"
Bila kau tidak ingin mendengarnya, jangan larang kebahagianku. Tidak cukupkah, aku menuruti semua ucapan kalian.
"APA SUSAHNYA KAU MENURUTI UCAPANKU! INI SEMUA UNTUK KEBAIKANMU!"
Kebaikan mana yang kalian bicarakan? Bukannya, hanya larangan yang terus merusakku agar aku berkembang sesuai keinginan kalian?
Aku sudah dewasa. Aku sudah paham dengan porsi untukku.
Biarkan aku bahagia dengan hal yang ku sukai.
Aku sudah bertahan dan menuruti ucapan kalian.
"LIHAT LAH! ORANG SEUSIAMU! MEREKA YANG BERUMUR 25 TAHUN DILUAR SANA MEMILIKI TUBUH YANG BUGAR DAN ENAK DI PANDANG! MELIHATMU,SEPERTI MELIHAT ORANG YANG PENYAKITAN!"
Aku kurus bukan karena keinginanku sendiri. Haruskah aku mendengar ucapan menyakitkan itu setiap hari?
Setiap kali aku mendengar ucapan menyakitkan itu, semakin membuatku ingin sekali menengelamkan tubuh ini ke laut agar kalian tidak melihatnya lagi.
Andai saja aku egois dan tidak memikirkan adik-adikku, mungkin itu sudah ku lakukan sejak dulu.
Aku hanya ingin penerimaan dan dukungan dari kalian. Aku tidak menginginkan lebih dari itu. Aku hanya ingin mendengar dukungan yang kalian berikan pada orang lain diluar sana.
Setiap malam, makian kalian terdengar di telingaku.
Dunia ini, sungguh membuatku lelah. Terkadang menangis tanpa suara dan menepuk diri sendiri agar tetap tenang.
Membayangkan bertemu dengan karakter novel buatan sendiri dan bercerita padanya tentang hal ini. Hingga membuat diri ini ingin memeluk sosok yang bahkan tidak ada di dunia nyata.
Betapa menyedihkannya hidup ini yang bahkan tidak memiliki satu pun teman cerita.
Melukai diri sendiri adalah hal yang bodoh. Jangan hanya memberi goresan kecil saja. Mengapa tidak sekalian menusuknya hingga tembus dan menghentikan nadi?
Rasa aneh yang selalu menyelimuti dada.
Rasa yang sangat sulit dijelaskan menggunakan kata-kata. Rasa yang bila di ibaratkan seperti bendungan air di dada yang penuh dan membuat tembok besar bendungan itu roboh. Serasa ingin meluapkan semua perasaan itu.
Terkadang rasa gatal pada ujung-ujung jari yang ingin sekali merobek kulit kening hingga merobeknya ke pipi dan menarik kulit bawah mata kiri.
Ah, terkadang aku merasa sepertinya diri ini memiliki ganguan mental. Harusnya, aku segera mendatangi Psikolog.
Hari demi hari, aku semakin aneh dengan diriku.
Aku ketiduran saat bekerja dan tanpa sadar ada coretan abstrak yang menakutkan.
Sering mengalami halusinasi bertemu dengan pria seusiaku dan mengajaknya berbicara. Padahal aku bisa mendengar suaranya tapi, saat aku tersadar tidak ada siapapun di sekitarku.
Sial, ini mungkin efek karena kurang tidur dan stres akibat hal-hal yang sering terjadi belakangan ini.
Binder bekas kuliahku, penuh dengan coretan abstrak bolpoin tinta hitam.
Ini membuatku takut.
Dan aku baru menyadari, apabila ujung ibu jariku terluka.
Kapan aku mendapatkan luka ini?
Luka ini, seperti bekas kulit yang di kelombeti dengan kuku.
Mungkin aku tidak sengaja melakukannya saat tidur. Haha, aku lelah sekali.
Kenapa menambah jam tidurku malah membuatku semakin lelah.
Mataku sangat berat saat di depan layar komputer. Aku melepas kaca mataku dan pergi ke toilet untuk cuci muka.
Ada yang aneh dengan bayangan wajahku di cermin.
Ah, mungkin hanya perasaanku saja.
----------------●●●----------------
Aku kembali bertemu dengan pria itu lagi.
Dia memberiku selembar kertas dan bolpoin hitam.
Untuk apa ini?
"Baca itu, untukmu"
Dia orang aneh.
Aku hanya melihat kertas kosong disana.
Jangan bercanda!
Aku tanpa sadar berteriak. Dan disana, aku tersadar apabila aku mengigau di kantor.
"Kau baik-baik saja Andrian?"
Kepalaku pening. Semua orang melihat ke arahku.
"Maaf" Aku berdiri dan membungkukkan tubuhku pada orang-orang kantor.
"Istirahat saja kalau sakit" Ucap salah satu dari mereka.
Aku kembali duduk dan lembar kertas itu, ada dihadapanku.
MENYERAHLAH DAN BIAR AKU MENUNJUKKAN APA ARTI HIDUP○ LOL
Siapa yang menulis ini. Tidak mungkin bila aku menulisnya saat tidur.
Dasar orang gak guna
Aku meremasnya dan membuang kertas itu.
----------------●●●----------------
POV AUTHOR:
Seperti kantor pada umumnya. Andrian akan menghadiri rapat pertemuan setiap akhir tahun.
Tapi, entah mengapa Andrian akhir-akhir ini terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Minuman berenergi tidak sudah tidak mempan dengan dirinya.
Dia butuh waktu untuk tidur.
"BRUK!"
Suara hantaman keras terdengar hingga ke bawah akibat Andrian yang tak sadarkan diri.
Orang tua Andrian berlari menuju kamar Andrian dan langsung membuka pintu kamarnya.
"Apa yang terjadi?!" Ayah Andrian adalah pria berusia 52 dan dia berprofesi sebagai karyawan pada kontruksi jalan raya yang tengah dikerjakan di distrik tempat tinggalnya.
Andrian kembali bangkit dan membersihkan debu pada celana jeansnya.
"Kepleset" Jawabnya dengan santai sambil mengambil bolpoinnya yang jatuh.
"Lain kali jangan sembrono! Sudah besar! Masih saja gobl*k!" Makinya.
"CKLAK!" Bolpoint hitam pada tangan Andrian patah karena cengkramannya.
Orang tua Andrian tidak melihatnya. Mereka pergi terlebih dahulu dari kamar itu.
Andrian pergi ke acara meet hanya dengan menggunakan celana kantor putih kemejanya saja dan dasi yang tidak terikat dengan rapi tanpa jas.
"Hotel Melinza? Berarti lokasinya membutuhkan waktu setengah jam ke sana apabila jalan kaki dan 15 menit menggunakan kendaraan ditambah waktu jalan mancetnya. Pertemuannya, kurang 1 jam. Mending, jalan saja" Andrian berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya dan mengaruk leher kirinya hingga memerah mesti dia tidak merasa gatal.
Andrian melihat dunia seolah tidak berwarna. Hanya warna hitam putih yang dia lihat.
"Putih, memang warna yang terbaik" Ucap Andrian sambil melihat bayangannya dari kaca toko pakaian.
Wajah Andrian yang datar membuat dia terlihat berbeda tanpa mengenakan kacamata.
Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Hingga dia sampai di tempat meet kantornya.
Pandangan semua orang tertuju pada Andrian. Ternyata, meet telah dimulai sejak 1 jam yang lalu. Dan kini, dia datang tepat saat pembacaan kesimpulan meetnya.
Andrian, ditipu oleh teman divisinya yang memberikan informasi palsu padanya.
Andrian kembali mendapatkan ocehan kepala pimpinan divisinya di hadapan Direktur Perusahaan.
"APA-APAAN DENGAN PAKAIAN BERANTAKAN ITU!"
Andrian membungkukkan tubuhnya sekali dan dia langsung duduk di kursi kosong tanpa mendengarkan ocehan kepala Divisinya yang merupakan seorang wanita yang berusia 24 tahun.
Wanita itu adalah putri tunggal dari Direktur perusahaan. Dia memang memiliki paras yang cantik. Tapi, tidak dengan mulutnya.
Pembacaan kesimpulan oleh notulen telah usai. Acara berikutnya adalah makan-makan.
Namun, Direktur pimpinan perusahaan pergi terlebih dahulu karena ada pertemuan mendadak.
Banyak dari mereka yang mabuk karena acara makan-makan disertai meminum soju dan bir.
Tidak terkecuali putri dari Direktur itu. Andrian yang tengah makan tiba-tiba ditampar olehnya.
Piring Andrian berisi daging panggang terjatuh begitu saja ke lantai hingga piringnya pecah.
Seisi ruangan terdiam dan melihat ke arah Andrian. Andrian yang tengah duduk menatap Putri Direktur itu."Apa salah saya Ketua?" Tanya Andrian sambil memegang pipinya yang ditampar.
Ketua divisi itu, menarik kera pakaian Andrian dan merapikan ikatan dasi Andrian.
"Kau harus berpenampilan rapi saat ada ayahkuumph! UEEEK!!!" Ketua divisi itu, memutahkan semua isi perutnya pada Andrian.
Semua orang, segera memalingkan wajah mereka dan mereka pura-pura tidak melihatnya. Beberapa dari mereka yang membuat ketua divisi mabuk ada yang langsung pulang agar terbebas dari tangung jawab.
"Ah, Ketua.... Apa yang harus saya lakukan bila Anda muntah pada pakaian saya?" Andrian menunjukkan senyumannya diwajahnya.
Ketua divisi itu, membelalakan matanya kemudian dia terlihat tersipu.
"Maaf! MAAF! MAAF!!!!! DRAAPPP!!!!" Ketua divisi itu, berlari keluar dari hotel tempat mereka mengadakan meet dan makan bersama.
Senyuman di wajah Andrian menghilang dalam sekejap. Mereka melihat teman-teman kantornya yang mulai pergi bersamaan.
"Lingkungan sampah!" Lirih Andrian sambil melepas kemejanya. Dan dilihat dari manapun, Andrian tidaklah kurus. Tubuhnya sesuai dengan proposinya.
Abs juga, terlihat tipis pada perut Andrian yang kini tengah membersihkan celananya yang sedikit terkena muntahan ketua divisi.
"UGH~ menyusahkan" Andrian mengucek kemeja putihnya.
Pintu toilet tiba-tiba terbuka. Andrian melihat ke arah belakang. Dan ternyata dia adalah ketua divisi.
"Maaf, ini aku membawakan pakaian ganti untukmu. Aku terburu-buru membelinya jadi, aku tidak tau ukuran tubuh-MU!!" Ketua divisi itu menutup matanya dengan kedua tangannya saat sadar apabila Andria hanya mengenakan celana pendek hitam yang ketat.
Andrian, meletakkan kemeja dan celananya di atas wastafel dan melihat ke arah Ketua divisi itu.
"Kau yang duluan masuk dan kenala kau menutup matamu?" Andrian berjalan ke arahnya dan langsung memakai pakaian berbahan kaos dengan lengan panjang berwarna hitam.
Ketua divisi itu membuka matanya dan mendorongkan celana panjang yang masih terbungkus plastik.
Ketua divisi itu, menarik pintu keluar dan ditahan oleh Andrian.
"Mau kemana?" Tanya Andrian di sebelah telinga ketua divisi yang lebih pendek darinya 15 cm.
Ketua divisi itu menutup kedua telinganya dan tidak berani membalik tubuhnya.
"Andrian, sadari batasanmu" Ucap ketua divisi itu.
Andrian menujukkan senyuman tipisnya dan memegang kedua pingang ketua divisi itu, serta menariknya hingga menempel pada tubuhnya.
Ketua divisi itu membelalakan matanya. Dia mendorong dagu Andrian yang berada di atas kepalanya.
"Ini akan cocok saat kau melakukannya di atasku. Atau kau suka pose yang mana?" Tanya Andrian sambil mengusap perut ketua divisi itu.
----------------●●●----------------
Capek wes😩