Adikku Yang manja.
“Keysha,ayo sarapan!” panggilku di depan pintu kamarnya.
Krik! Krik!
Namun, ia tidak menjawab dan tidak terdengar suara apa pun dari kamarnya.
“K-Keysha! Apa terjadi sesuatu?” ucapku panik seraya berusaha mendobrak pintunya.
Brak!
“Kak Tian, kenapa kamu merusak pintu?” tanya Keysha yang malah baik-baik saja dan sedang tiduran di tempat tidurnya.
“Harusnya Kakak yang tanya kenapa kamu tidak menjawab panggilan Kakak?” ucapku sedikit kesal.
“Adek benci sama Kakak! Adek enggak mau bicara lagi dengan Kakak!" sahutnya cemberut.
“Ada apa sih, adek? Cerita sama Kakak!" tanyaku heran.
“Kakak akhir-akhir enggak pulang sekolah bareng sama Adek dan juga suka pulang malam. Pasti habis jalan-jalan sama pacar Kakak!” jawab Keysha.
“Ya ampun, siapa yang jalan sama pacar, sih? Punya pacar saja enggak!" jawabku heran.
“Terus, Kakak kenapa pulangnya malam dan tidak mau bareng sama Adek?" tanya Keysha.
“Kamu mau tahu? Kalau begitu, tunggu sebentar!" ucapku pamit sebentar untuk mengambil sesuatu di kamarku.
“Nih!" ucapku seraya memberinya sesuatu.
“Apa ini?” tanya Keysha terkejut.
“Itu hadiah untuk kamu. Selama ini Kakak kerja paruh waktu demi bisa membeli barang kesukaan kamu itu," jelasku padanya.
“Huh, apa? Kenapa Kakak kerja paruh waktu? Bukannya Kakak dikasih uang jajan sama Ibu dan Ayah?" tanya Keysha.
“Hmm ... memangnya kamu pikir ke mana semua uang jajan Kakak selama ini? Semuanya habis karena kamu Dek!” jawabku menyinggungnya.
Keysha yang ceroboh terkadang tak sengaja merusak barang milik orang lain sehingga aku terpaksa memberi uang ganti rugi. Selain itu, Keysha juga jajannya banyak. Pokoknya boros deh. Namun, ia tidak sadar dengan sifat buruknya itu.
“Hehe, maaf Kak!" ucap Keysha malah cengengesan.
“Ya sudah. Sekarang kamu enggak ngambek lagi, kan? Ayo kita turun dan sarapan sebelum berangkat sekolah!" ucapku mengajaknya sarapan.
“Kak, aku juga punya hadiah untuk kamu,” ucap Keysha.
“Mana?” tanyaku penasaran.
“Sini mendekat!" Pinta Keysha.
Begitu mendekat, Keysha malah mencium pipiku.
“Itu hadiah dari aku," ucapnya tampak senang.
Ah, tidak. Sifatnya yang seperti inilah yang membuatku selalu luluh dan tak bisa berhenti untuk perhatian padanya.