Kau datang dan pergi sesuka mu, kau hinggap hanya sementara, datang padaku hanya untuk beristirahat.
terkadang aku bingung dan berfikir, sebenarnya kau menganggap ku seperti apa?, apa aku hanya sebuah tempat singgah ketika kau lelah, atau karena kau masih ada rumah yang harus di jaga dengan baik?.
.
.
.
angin sejuk, menyerbak berhembus melewati kulit seorang wanita yang tengah berjalan dengan berpakaian gaun berwarna biru pias dan warna putih, mengenakan topi jerami dengan motif bunga di depannya, rambut hitam legap panjangnya berayun kedepan, kebelakang, kesamping kanan dan kiri.
wajah cantik nan imut itu kini tengah menahan rasa sedihnya, rasa sedih... karena kekasihnya kini telah pergi, ia sudah berada di tempat yang tidak terjangkau oleh tangan, mata atau pun telinga, hanya alam mimpi yang dapat membawa mereka bertemu kembali.
Ayla nama gadis berparas cantik nan imut itu. seorang Guru Biologi di sekolah SMA Wanugiril umurnya kini baru menginjak 25 tahun, hidup sebagai seorang wanita yang kuat, tangguh, berhati lembut, bak bidadari dari surga.
.
.
.
.
.
9 tahun sebelumnya, Ayla dan juga Ihsan, anak lelaki kelas sebelah menyatakan cintanya beberapa jam lalu. Ayla yang baru pertama kali merasakan ada seseorang lelaki yang menyatakan cinta padanya itu merasa sangat gugup, dia bahkan ragu ragu untuk menjawabnya.
hingga kedua kalinya, Ihsan di terima oleh Ayla, Ayla sudah yakin jika Ihsan pria baik, terlihat dari caranya berbicara dengan lawan jenis, bersuara lembut dan menenangkan. Tapi selalu ingat, ombak yang tenang menyimpan rahasia yang dalam.
.
.
hari hari berlalu, mereka telah menjalani kisah mereka, menjadi pasangan atau pacaran di jaman SMA, umur remaja adalah umur seorang anak mendapat banyak hal yang baru mereka tahu, itu pun hanya bagi Ayla.
"Ayla (memanggil), Kau jadi kerja kelompok kan?" kata siswi itu.
"ah, Anggi maaf, aku masih belum bisa pergi ke rumah mu" ucap Ayla
"kamu sedikit berubah yah, sejak... kau kenal dengan Ihsan, hati hati loh" kata Anggi
"hati hati kenapa?" tanya Ayla
"hati hati dalam menilai seseorang, jangan selalu melihat buku dari sampulnya saja, tapi kamu juga harus membacanya, agar tahu, baguskah dalamnya?" kata Anggi
"iyah iyah, aku paham Gi, yaudah makasih yah, dan maaf loh ini, nanti kalo ada yang belum selesai bilang ke aku aja yah, nanti aku selesain" ucap Ayla pada Anggi, setelahnya dia langsung pergi dari sana.
.
.
.
bertemu dan terus bertemu, Ayla selalu bersama dengan Ihsan, setelah menjalani hubungan selama satu tahun lamanya, Ayla baru saja merasakan adanya perbedaan dari cara bicara Ihsan, dimana yang tadinya lembut, kini menjadi sedikit kasar, dia juga tidak peduli pada Ayla yang meminta untuk menghantarkan ia pada tempat yang ingin ia tuju.
"sekarang aku mengerti kenapa Anggi bilang hati hati" kata Ayla, dia menundukkan kepalanya saat berbicara.
kini dia berada di sebuah perpustakaan umum, dimana lebar perpustakaan itu cukup untuk banyak pengunjung yang ingin datang.
duduk di kursi pojok membaca buku pelajaran dan juga buku cerita, cerpen, novel atau apapun itu. dengan wajah yang sedikit mengantuk dan terlihat lesu, dia masih tetap bersemangat untuk membacanya.
.
.
.
"ding dong ding dong, perpustakaan akan segera di tutup, ding dong ding dong, perhatian, perpustakaan akan segera di tutup, ding ding dong" penjaga perpustakaan.
mendengar itu, Ayla langsung buru buru merapihkan buku buku itu, dan membawa sebagian untuk di pinjam terutama buku cerita.
'bruk' dirinya tak sengaja menabrak seseorang karena terburu-buru.
"A maaf, aku tidak lihat tadi" katanya tidak enak hati pada seseorang yang dia tabrak itu.
"oh tidak papa, aku baik-baik saja" ucap pria itu, lalu pergi mendahului Ayla.
saat Ayla akan pergi dia melihat sebuah buku di lantai, yang dia kira itu adalah buku yang pria itu pinjam, akhirnya dia mengejarnya dan mengatakan.
"maaf, apa ini buku yang ingin anda pinjam?" tanya Ayla
"oh itu buku saya, terimakasih banyak eum..?" kata pria itu
"Ayla" ucap Ayla
"oh, terimakasih banyak Ayla" kata pria itu, lalu pergi dari sana.
melihat itu Ayla pun menuju tempat penjaga perpustakaan, dia memberikan izin untuk meminjam buku itu, selama satu minggu jika tidak kembali maka akan terkena denda sebesar 25 ribu rupiah.
Ayla pun pergi dari sana setelah menerima buku itu, dia menaiki ojek online untuk pulang ke rumahnya.
.
.
.
"Assalamualaikum, Ayla pulang" salamnya saat masih di luar pintu.
"eh" terkejut karena ada tamu yang berkunjung ke rumah kedua orang tuanya.
"ini anak terakhir saya, namanya Ayla Asykiyah, dia masih muda" ucap Ayah Ayla
"duduk dulu sini nak" ucap ibunya, Ayla pun duduk di samping ibunya dan mendengarkan pembicaraan mereka.
.
.
.
"jadi Nak Ayla siap untuk menikah di umur berapa?" tanya wanita paruh baya yang ada di samping kanannya itu.
"Ayla siap kapan saja, tapi jika boleh Ayla masih ingin melanjutkan Study Ayla" katanya.
"baiklah, saya paham kalau begitu" ucap Wanita itu.
selesainya dari kunjungan kedua orang tamu itu, Ayla bertanya pada ayah dan ibu nya.
"Ayla di jodohku bu, yah?" tanya dia pada kedua orang tuanya.
"iyah sayang, kamu tidak suka" ucap ibunya mengelus kepala Ayla
"Ayla tidak papa, tapi jika Ayla tidak bisa melanjutkan Study Ayla gimana?" katanya
"kamu bisa melanjutkannya, mereka sepakat bahwa membiarkan mu setidaknya lulus S1 di pendidikan Biologi, kamu suka dengan Biologi bukan?" tanya Ayahnya
"yah Ayla ingin jadi guru Biologi, kalo gitu Ayla akan berusaha" katanya.
.
.
.
Hari, Bulan, Tahun pun berlalu, kini sudah kelulusan, kisah Ayla dengan Ihsan pun sudah berakhir saat mereka menjalani hubungan lamanya satu tahun satu bulan, saat mereka kenaikan kelas 3.
"wah selamat semuanya, selamat" para siswi yang mengucapkan selamat kepada teman mereka masing-masing dan guru guru juga yang ikut berbahagia pada kelas 3 SMA Wanugiril.
sepulangnya dari sekolah, Ayla langsung menuju rumahnya untuk berganti pakaian, dia ingin membaca buku lain di perpustakaan umum yang sering dia datangi itu.
.
.
.
.
Hingga tahun tahun berlalu, kini dia sudah lulus dari S1 pendidikan ilmu biologi, dan dia ingin terus melaju hingga S2 dan seterusnya.
hari pertamanya mengajar di umur 22 tahun, guru muda SMA yang menjadi berita di kalangan siswa siswi SMA 2 Wanugiril.
.
.
.
di rumah sakit.
"kamu sudah siap menikah nak?" tanya Ibunya pada Ayla
"ibu ingin Ayla cepat cepat menikah bu?" tanyanya dengan lembut
"jujur saja nak, ibu sudah tidak kuat lagi, ibu ingin melihat Ayla menikah dengan Pria baik yang ibu pilihkan" katanya
"baiklah, Ayla siap kapanpun jika pasangan Ayla sudah siap bu" katanya
"terimakasih nak" ucapnya dengan lemas
"eum.. tidak, justru Ayla yang harus berterimakasih pada ibu, pada Ayah juga, akhirnya Ayla bisa mencapai cita-cita Ayla, maaf jika Ayla jarang di samping Ibu sama ayah" katanya memeluk sang ibu yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit itu.
.
.
.
.
6 bulan setelah itu, hari H di pernikahan mereka ibu Ayla menangis bahagia, akhirnya dia melihat anaknya berdiri di atas pelaminan bersama seorang Pria pilihannya, dalam hati ia terus berdoa untuk kebahagiaan anaknya dan juga suaminya itu.
.
.
.
hingga kejadian menyedihkan terjadi beberapa hari setelah pernikahan Ayla, kabar bahwa Ibunya meninggal membuat Ayla merasa terpuruk, dia tidak datang saat saat ibunya dalam masa kritis di rumah sakit, tidak dapat mendengarkan ucapan terakhir ibunya adalah hal yang paling menyedihkan.
sang Ayah hanya bisa menenangkan anaknya yang kini sudah menjadi rapuh, kedua kakaknya pun tengah menangis di dalam kamarnya, belum berani untuk melihat sang Ibunda tercinta mereka pergi lebih dulu.
Ayla kini berada di samping kedua orang tuanya, menatap ibunya yang sudah tertutup dengan kain kain di sekujur tubuhnya, dengan air mata yang terus mengalir, dia tetap mencoba tersenyum dengan tenang. suaminya yang kini sudah menjadi bagian dari keluarganya hanya bisa menenangkan Ayla, membacakan surah Yasin untuk kepergian mertuanya itu.
"ibu maaf, Ayla tidak bisa datang di saat saat terakhir ibu, Ayla menyesal, tapi Ayla akan selalu bahagia seperti pesan ibu, jadi ibu tenang saja disana yah" katanya, menahan tangis dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
.
.
.
.
sudah empat puluh hari Ayla tidak berkunjung ke rumah mertuanya, dia tinggal bersama Ayahnya yang tinggal sendirian, suaminya pun memahaminya, oleh karena itu suaminya ikut tinggal di rumah ayah mertuanya, dan kini Ayla mengunjungi rumah mertuanya untuk menyatukan tali silaturahmi mereka.
.
.
di kamar, Ayla dan suaminya tengah berbincang ini dan itu, hingga Ayla berkata.
"manusia itu seperti kupu-kupu yah?, datang dan pergi sesukanya saja" kata Ayla
"tapi dia tetap akan menetap dan singgah untuk beberapa waktu, bukan?" ucap suaminya
"itu benar, tapi kenapa tidak menjadikan tempat itu sebagai rumahnya saja, masalahnya, jika sudah ketemu satu kali lalu pergi, maka dia tidak akan datang lagi" kata Ayla
"sudah sudah, jangan pikirkan soal itu lagi, kamu beristirahat lah, lelahkan seharian kerja dan mengajar" kata suaminya
"eum, iyah" kata Ayla
kehidupan mereka bahagia saja, sebelum datangnya orang ketiga dalam hubungan keluarga, masalah selalu muncul, lalu.. memiliki satu anak adalah anugerah bagi pasangan ini.
tapi Ayla mengalami keguguran, anak pertama mereka kini tak terselamatkan, di umur 25 tahun Ayla sedang hamil di saat itu pula suaminya mengalami musibah, ia kecelakaan karena mendapati truk yang mengalami rem blong dan akhirnya meninggal dunia.
tentu Ayla menangis sejadi jadinya saat pemakaman suaminya, sambil terus memegangi perutnya yang sudah membulat itu, mertua dan ayahnya selalu menenangkan nya, sudah keberapa kali orang-orang yang dia sayang di hidupnya pergi ke rumah mereka yang seharusnya.
.
.
.
.
.
berjalan di pinggiran sawah, Ayla mencoba menenangkan dirinya atas kepergian suaminya, angin yang menyejukkan membuatnya merasakan dingin serta hawa panas secara bersamaan.
"musim sudah berganti, tapi aku masih sedih memikirkannya, ibu, suami ku, aku baik-baik saja disini, calon anak mu pun baik-baik saja, aku akan menjaganya dengan baik suami ku" katanya.
.
.
.
"dan pada akhirnya kupu-kupu itu pergi bukan?" ucap Ayla
saat ada kupu-kupu hitam dengan warna lain di sayapnya melintas melewati dirinya, dia terus memandangi kupu-kupu itu hingga dia tidak terlihat lagi.
.
.
.
.
Tamat