#cerita cinta
"PACAR MASA GINI?"
~cerpen oleh Bulan Separuh 🌙
...
Dia adalah crush gue yang gue kubur hidup-hidup di dalam sekotak kaleng Kong Guan. Itu udah berlangsung lima tahun yang lalu.
Sebentar! Gue ga se-pesikopat itu, anjoy. Maksud gue bukan orangnya tapi itu adalah bukti cinta gue ke dia. S eenggaknya barang itu udah gue kubur jadi ga ada lagi yang mengira kalau isi kaleng itu adalah rengginang.
Kita kenang kembali kejadian sekitar tiga bulan yang lalu. Waktu itu adalah pertama kalinya gue ketemu dia setelah lima tahun menghilang. Dia yang menghilang dari hadapan gue. Gue korban ghostingan? Bisa dibilang begitu.
Dia adalah kakak kelas gue yang jadi panitia ospek. Gue yakin itu dia, tapi kok dia ga kenal gue ya? Sampai gue berkali-kali carper dengan pura-pura keseleo, pura-pura pingsan, bahkan pura-pura kesurupan. Hasilnya, dia ga menunjukkan tanda-tanda kenal sama gue. Hiks.
Dia adalah senior ter-killer. Tapi, ga apa-apa, gue rela disiksa dia demi bisa terus sama-sama dia. Walaupun sebenarnya sangat apa-apa banget (😭🤌). Siapa yang tahan disiksa kaya disuruh push up melulu, disuruh nyemplung ke kubangan yang banyak kodoknya, sampai ditimpuk sol sepatu walaupun itu gue lagi pakai helm full face.
Setelah ospek berakhir, gue cari lagi dimana gue kubur kotak harta karun gue itu. Letaknya ada di lembah dekat sekolah waktu SMP.
Dia suka banget main sepakbola. Tiap ada pertandingan di lembah itu gue selalu datang sengaja buat nonton dia main.
Suatu ketika tibalah waktu istirahat dia bermain sepakbola. Dia menanggalkan sepasang sepatunya yang ternyata udah ketawa. I mean, antara alas dan pembatas sepatu bagian samping itu udah terpisah jadi sepatunya kelihatan mangap kaya ketawa gitu.
Gue pun menyelinap, kebetulan kondisi sekitar lagi rame banget so ga ada yang merhatiin gue. Gue pun mengambil sepasang sepatu butut itu diam-diam.
Niat gue adalah ngejahit sepatu-sepatu itu. Gini-gini gue jago jahit sebagaimana emak gue ajarin. Tapi sayangnya emak gue ga pernah ngajarin gue ngejahit sepatu. Ternyata susah (😭🤌). Jarumnya harus ukuran gede, benangnya bukan pakai benang jahit kain.
Mumpung waktu istirahat masih belum selesai, gue pun buru-buru gimana caranya biar sepatu crush gue ini selesai gue perbaiki. Sampai-sampai gue tertusuk jarum. Perjuangan gue astoge.
Akhirnya sebelah sepatu berhasil gue perbaiki dengan tambalan sedikit potongan bekas celana jins. Belum sempat gue kerjain sepatu satunya lagi, gue tanpa sengaja melihat seorang cewek mendekati crush gue dan ngasih air minum buat dia. Cursh gue pun tersenyum dan membelai kepala cewek itu.
Emosi gue tiba-tiba meledak, ngalah-ngalahin meledaknya Gunung Krakatau yang bikin gempa dan tsunami sealam jagad raya di zaman purba. Dari balik batang pohon gue sembunyi terus gue timpuk sebelah sepatu yang belum sempat gue perbaiki itu ke kepala crush gue. Gue pun pergi.
Tanpa sadar salah satu sepatu crush gue terbawa di tas gue. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan gue ga berani balikin sepatu itu. Sampai akhirnya dia lulus sekolah dan ga ada kabarnya lagi, gue pun menjadikan sepatu itu harta karun gue.
Karena sewaktu ospek dia ga notis-notis sama gue, gue pun berinisiatif buat nimpuk dia pakai sepatu jadul itu. Gue melakukannya pakai cara yang sama, yaitu sembunyi dari balik batang pohon.
Dia memungut sepatu itu dengan ekspresi heran banget terus berteriak, "WOI, SIAPA YANG NIMPUK GUE PAKAI SEPATU INI? TUNJUKKIN DIRI LU! ELU JUGA KAN YANG NIMPUK GUE LIMA TAHUN LALU PAKAI PASANGAN DARI SEPATU INI? WOI! MUNCUL WOI."
Setelah itu gue pun muncul. Dia ngelihatin gue dengan mata yang digede-gedein kaya mau keluar. "I-itu elu?" kata dia. Gue pun mengangguk.
Dari situ kami pun jadian. Akhirnya dia tahu ketulusan gue dengan melihat sepatunya udah diperbaiki dengan bertambal-tambal.
Selama kami jadian gue selalu dibuat happy.
Suatu ketika, sebagaimana kebiasaan gue yang suka pakai high heels, merasa kaki gue pegel banget. Gue sendiri yang cari gara-gara karena gue yang ngajak dia kulineran. Udah tahu jajan di tempat seluas lapangan stadion itu pasti dilakuin dengan berjalan kaki, masih aja gue pakai high heels.
Jadi sangking kasihannya dia sama gue, dia pun nyerahin sepatu kets-nya buat dipake sama gue. Dia jadi nyeker dong, jadi gue paksa dia buat pake high heels gue. Mana gue jalannya cepat bahkan lari-lari kecil, jadi dia kesusahan ngejar. Gue dibuatnya ngakak ga kelar-kelar.
Gue udah membuat dia tersiksa. Ga jarang gue ancam dia di depan umum, atau teriak-teriak ga jelas dan membuat dia malu. Kejadian yang lari-larian pakai high heels itu cuma salah satu di antara sekian banyak kisah kami.
Akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Sebenarnya dia yang mutusin gue, cuma redaksi barusan itu biar kelihatan elegan aja.
Lama jadian kami cuma sekitar kurang dari tiga bulan.
Gue pun berdiam diri di bawah pohon di taman tempat pertama kali kami jadian.
Gue pun ga sengaja melihat sesuatu yang aneh di arah yang random. Ga jauh dari tempat gue duduk ada kaya bekas galian yang ditimbun tapi ada tanaman pisangnya yang masih berupa tunas kecil.
Gue pun segera nyari sesuatu buat gali tempat itu. Gue balik lagi dengan membawa sekop mini dan tempat itu pun gue gali.
Gue menemukan sebuah kaleng Kong Guan. Firasat gue ga enak, ini terasa seperti djavu. Gue buka kaleng itu ternyata berisi sepasang sepatu high heels gue.
Astoge!
Gue pun segera menelepon mantan gue itu buat nanya lokasi dia. Gue pun datang dengan warna muka yang kaya lagi nahan lava pijar mau tersembur. Gue ga peduli dia lagi ngapain.
Kali itu dia lagi istirahat dari main sepakbola. Gue lempar kaleng Kong Guan itu ke bahu dia.
PRAAAANG...
Seketika semua perhatian orang-orang tertuju pada kami.
"Lu udah tahu kalau sepatu bututlu gue kubur kan? Ngaku lu!" kata gue.
"Ha?" Dia terlihat bingung.
"Kenapa pakai kaleng Kong Guan juga? Kenapa lu kubur sepatu gue sama kaya yang gue lakuin dulu? Padahal gue ga pernah cerita soal kaleng Kong Guan itu! Dan kenapa sepatu gue ga lu balikin ke gue, anjoy!" kata gue.
Dia pun cerita kalau dulu di lembah tempat masa kecil kami, dia pernah nemuin bekas galian dan dia bongkar. Setelah dia tahu di dalam kaleng itu adalah sepatu miliknya yang udah diperbaiki, dia balik lagi menguburnya seperti sedia kala.
"Waktu itu gue berikrar kalau suatu hari nanti gue tahu siapa yang memperbaiki sepatu gue, kalau dia cowok bakal gue jadiin saudara, kalau dia cewek bakal gue nikahin," kata dia.
Gue pun mematung setelah mendengar kalimat terakhir dari dia. Tapi ga lama gue kembali tersadar dari bengong gue.
"Kenapa gue lu putusin? Lu kan udah janji mau nikahin gue?" kata gue.
"Ya nikahnya nanti aja. Kalau sekarang gue ga sanggup. Lu ngerepotin gue banget," kata dia.
Gue pun bersiap buat nimpuk dia pakai sepatu high heels gue. Tapi tiba-tiba seketika dia berlutut.
"Ran, maukah elu menikah sama gue tiga tahun lagi?" kata dia.
"TERIMA... TERIMA... TERIMA..." Seketika orang-orang malah neriakin kata-kata itu.
"Lama bet, anjoy! Ngapa melamarnya sekarang?" kata gue.
"Ya kan gue belum lulus, Ran. Selain itu gue juga percaya lu udah berubah dan jadi selembut Rapunzel setelah tiga tahun mendatang," kata dia.
"TERIMA... TERIMA... TERIMA..."
"BERISIKIIIK! BISA DIEM GA LU PADA!" teriak gue.
"Kalau gue terima berarti kita balikan?" kata gue. "Enggak juga," jawab dia. "Heh! Maksud lu apa?" protes gue.
"Kan gue udah bilang, pacaran sama elu ngerepotin. Nanti ajalah langsung nikah, gue mau lu berubah dulu," dia jawab.
"Ampun dah ampun... Mimpi apa gue?" keluh gue sambil pergi ninggalin dia.
"JADI LU MAU NIKAH SAMA GUE GA?" teriak dia karena kami udah berjauhan.
Gue pun berbalik. "IYA, MAU," dan gue pun berbalik arah lagi buat ngelanjutin langkah gue ninggalin tempat itu.
Seketika suara orang-orang pun riuh bersorak atas kami berdua.
Kenapa gue terima dia? Jelas karena gue cinta banget sama dia. Gue memang bar-bar, tapi rasa cinta gue masih bisa mengalahkan sifat bar-bar gue.