SMA Taruna Bangsa adalah sekolah elite yang terkenal dengan Alumni-alumninya yang sukses di bidang politik maupun wirausaha. Setiap tahunnya SMA Taruna Bangsa selalu mendapat perhatian lebih karena kembali berhasil meluluskan orang-orang hebat, seperti Mentri dan CEO Perusahaan besar.
Tapi, tidak ada yang tahu jika sebelum menjadi seperti itu, ada sistem kasta yang membuat mental mereka diuji.
Orang yang 'beruntung' dalam artian penerima Beasiswa full akan menjadi kasta paling rendah dan dianggap 'budak' oleh kasta di atasnya.
Sedangkan orang yang memiliki orang tua hebat di belakangnya akan menduduki kasta paling tinggi dan dianggap 'Penguasa Sekolah' oleh Kasta paling rendah.
Brugh!
Gadis dengan memakai kacamata itu jatuh terpelanting menghantam lantai, dua Laki-laki dan satu perempuan yang berada di hadapannya menatap Gadis itu tanpa minat.
"Nggak becus banget sih!?" Sarkas Alexa, matanya menyorot tajam pada Gadis yang masih terduduk di lantai itu.
"M-maaf, Aku udah cari kemana-mana roti yang sama persis seperti yang kamu suruh, tapi tetep nggak ada."
Dion, Laki-laki berperawakan kekar itu menekuk lututnya agar dapat melihat jelas ekspresi ketakutan Gadis itu,seringai tipis menghiasi wajahnya.
"Yuna 'kan budak, Jadi harus menurut apa kata Tuannya bukan? Jangan jadi pembangkang ya." Peringat Dion.
Yuna bergerak mundur dari posisi sebelumnya, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Paham?" Ucap Dion.
Yuna mengangguk ribut.
Alan, orang yang hanya diam menyaksikan pembullyan yang dilakukan oleh kedua temannya mulai bersuara.
"Udahlah, Yon, kita udah ditungguin Pak Satya nih." Ujar Alan.
Dion dan Alan berlalu meninggalkan Yuna sedangkan Alexa masih berdiri ditempatnya dengan tangan terlipat di dada.
Alexa mendekatkan dirinya ke Yuna. "Pulang sekolah kita ketemu di Lab!"
Setelahnya Alexa menyusul kedua temannya, Yuna menghembuskan nafas berat.
Saat ingin beranjak dari lantai, Lily dan Dinda memanggilnya seraya berlari menghampirinya.
"Yuna! Kamu nggak papa kan?" Tanya Dinda memastikan kondisi Yuna sedangkan Lily membantu Yuna untuk bangun.
"Aku nggak papa kok," Sahut Yuna sembari tersenyum. "Kalian kok bisa di sini?"
"Jangan ngalihin topik deh, Yun." Ucap Lily. "Kamu pasti di bully lagi kan sama and the geng nya pacar kamu itu."
Dinda mengangguk membenarkan ucapan Lily, "Lagian, buat apa sih masih bertahan sama cowok kaya Alan? Kamu nggak kasian sama diri kamu sendiri?"
"Tadi Alan bantuin aku kok, Li, Din." Ucap Yuna dengan ceria.
"Oh ya? Pasti dia jadi pendengar dan penonton yang baik 'kan?" Kata Dinda.
Yuna menundukkan wajahnya, ekspresi kecewa tergurat jelas di wajahnya. "Aku pasti terlihat seperti Gadis bodoh ya?" Lirih Yuna.
Lily yang tau kalau kondisi Yuna sedang tidak memungkinkan untuk di ajak berdebat pun bergerak untuk merangkul bahu Yuna. "Ayo, kita ke Kantin. Kamu pasti lapar kan?"
Saat Dinda ingin kembali bersuara dengan cepat Lily menarik lengannya. "Jangan kebanyakan ngomong, nanti laper lagi."
"Yang bener aja, Li!" Protes Dinda.
Mereka bertiga pun berlalu pergi, menyusuri lorong koridor menuju area kantin.
***
Di tempat lain, lebih tepatnya di ruang kepala sekolah, terlihat seorang Guru yang hari ini baru diterima kerja tengah duduk berhadapan dengan kepala sekolah.
"Selamat ya, Ibu Mira. Anda akan menjadi Guru konseling baru di sini." Ucap Kepala sekolah sembari menjabat tangan Ibu Mira.
"Terima kasih, Bu Wulan. Saya akan berusaha menjadi Guru Konseling yang bisa mengeluarkan murid-murid dari masalah se-pelik apapun." Kata Ibu Mira.
Ibu Wulan tersenyum, "Hari ini, Ibu bisa mulai kerja." Katanya.
Ibu Mira mengangguk, "Baik Bu. Kalo begitu saya permisi."
"Silakan, Bu." Ucap Ibu Wulan.
Ibu Mira beranjak dari kursinya lalu melangkah keluar dari ruangan kepala sekolah.
Ibu Mira diam-diam tersenyum tipis, tidak ada yang menyadari kalau ternyata Ia adalah alumni SMA Taruna Bangsa, Ia juga adalah salah satu korban dari kejamnya sistem kasta yang ada di sekolah ini.
"Aku akan memusnahkan segala bentuk Bully yang ada di sekolah." Ujarnya.
***
Kondisi kantin sekolah masih di penuhi lautan manusia yang bertujuan mengisi perut mereka yang terkuras akibat berpikir terlalu keras.
Di sebuah meja panjang ada Yuna, Dinda dan Lily yang masih menikmati makanannya tiba-tiba saja, Farah salah satu teman sekelas mereka datang menghampiri meja.
"Yuna, kamu di panggil sama Alan." Ujarnya.
"Dimana?" Tanya Yuna bingung.
"Di kelas kamu." Kata Farah.
Yuna mengangguk mengerti, "Makasih ya, Farah."
"Iya,"
Yuna baru ingin pergi, tapi lengannya di tahan oleh Dinda. "Lo harus putusin Alan." Ucapnya pelan.
Yuna menggeleng tegas, "Aku nggak bisa, Din."
"Udah, Dinda. Jangan paksa Yuna, kita harus terima keputusannya." Ucap Lily.
Mau tak mau Dinda melepas pergelangan tangan Yuna, kembali melanjutkan makannya.
Yuna berlalu pergi meninggalkan mereka.
Lily melirik Farah yang masih pada posisinya, "Ayo sini duduk, Far."
Farah mengangguk, Ia ikut bergabung dengan Lily dan Dinda. "Jadi Alan itu pacarnya Yuna ya?" Tanyanya penasaran.
Dinda dan Lily saling lirik, Dinda yang berada di dekat Farah pun berbisik padanya.
"Kalo rahasia ini sampe ke sebar, kamu orang pertama yang aku cari." Bisik Dinda.
Farah mengangguk, Ia tidak menduga kalau Dinda ternyata bisa lebih seram daripada Alexa.
"Vibes kamu udah kaya Alexa tau, Din." Kata Lily sembari tertawa.
"Loh kok gitu sih?" Dinda menatap Lily dengan raut wajah tidak terimanya.
***
Ruang kelas yang hanya diisi dua orang berlawanan jenis itu tampak sunyi untuk sejenak.
"Kenapa, Lan?" Pertanyaan Yuna memecah keheningan.
"Maaf." Ucap Alan.
Yuna tersenyum, "Nggak papa kok. Oh iya, tadi pagi aku bikinin ini buat kamu." Yuna menyodorkan bekal makanannya.
Alan menerimanya. "Apa ini?"
"Nasi goreng favorit kamu," Sahutnya penuh antusias.
Alan meletakkan bekal makanan itu di meja yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri lalu kembali menatap Gadis di depannya.
Alan membawa tangan Yuna untuk digenggam nya. "Kita akhiri saja semuanya ya? Aku nggak mau bikin kamu kecewa terus-menerus."
Senyum manis Yuna seketika luntur, "Maksudnya apa?"
"Kita putus aja." Ujar Alan.
Deg!
"Kamu cuman bercanda, iya 'kan?" Yuna menengadahkan wajahnya menatap tepat pada manik pekat milik Alan.
"Aku serius. Kamu bisa bebas cari Lelaki yang bisa melindungi kamu, bukan Lelaki pengecut seperti aku." Ujar Alan mencoba membuat Yuna mengerti.
"Tapi sayangnya, hatiku memilih Lelaki pengecut seperti kamu! Lan. Ngerti nggak sih?" Tanya Yuna merasa frustasi.
Dirinya sebisa mungkin untuk mempertahankan hubungan mereka, tapi kalau orang yang di pertahankan memilih untuk pergi Ia bisa apa?
Yuna menghempaskan tautan tangan mereka, "Kita bicara lagi nanti." Ia berlalu pergi meninggalkan Alan.
Mata tajam Alan menyorot pada punggung Yuna yang mulai menjauhinya.
Sesaat keluar dari ruang kelas, Yuna berlari dengan air mata yang sudah tidak dapat di halau lagi.
Ibu Mira yang kebetulan lewat menyaksikan semua itu, diam-diam Ia tersenyum. "Mulai dari anak itu." Katanya dengan masih menatap Yuna.
***
Bel pulang berdering keras membuat penjelasan Ibu Wulan terhenti.
"Ibu cukupkan hari ini, kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya. Ibu permisi." Kata Ibu Wulan.
Ketika Ibu Wulan keluar dari ruang kelas, Yuna lekas memasukkan semua alat tulisnya ke ransel.
"Mau pulang bareng nggak, Yun?" Tanya Lily yang duduk di sebelahnya.
Yuna menggeleng pelan sembari tersenyum, "Aku ada janji sama Alan, Li." Katanya.
"Dasar Bucin," Ejek Lily. "Ya udah deh, Aku pulang duluan ya."
"Iya. Hati-hati, Li."
Begitu ruang kelas hanya tersisa dirinya saja, Yuna melangkah menuju Lab. Ia terpaksa berbohong pada Lily karena tidak ingin temannya itu ikut terkena masalah.
Di Lab tak terpakai itu hanya ada Alexa dan Dion, meskipun agak ragu Yuna memberanikan diri untuk memasuki Lab.
"Wah! Gede juga nyalinya." Ujar Dion.
Alexa terkekeh, Ia mendekatkan diri pada Yuna, tanpa aba-aba Alexa menampar pipi Yuna.
Plak!
Tamparan keras yang didapat itu membuat kepala Yuna terasa berdenging keras, tangannya terulur memegangi pipinya yang terasa berdenyut.
"Dasar licik!" Sarkas Alexa.
"Aku nggak ngerti," Ucap Yuna.
"Nggak ngerti ya?" Alexa mengapit pipi Yuna memaksanya untuk menengadah. "Jangan berakting bodoh lagi, aku tau kau dan Alan selama ini menjalin hubungan.
"A-aku..." Kata-kata yang ingin dikeluarkan Yuna tiba-tiba saja hilang.
"Sadar nggak sih? Kau itu budak?! Berani sekali menjalin hubungan dengan Penguasa Sekolah." Setelah mengatakan itu, Alexa menghempaskan apitan nya.
"Nggak tau diri!" Alexa berdecih.
"Kayaknya kita harus laporin ini ke Kepsek, pasti mereka berdua langsung di keluarkan dari sekolah." Dion memperingati aturan sekolah tentang tidak diperbolehkannya siswa-siswi SMA Taruna Bangsa berpacaran.
Sontak saja Yuna melebarkan matanya mendengar perkataan Dion.
"Ide mu bagus juga," Ujar Alexa seraya tersenyum manis.
Tanpa di duga Yuna berlutut di hadapan Alexa, "Xa, aku mohon jangan laporin ke Kepsek. Aku nggak mau Alan sampe di keluarin dari sekolah."
Plak!
Tamparan keras kembali mendarat di pipi Yuna yang masih berbekas karena tamparan yang didapat sebelumnya.
"Kau tidak berhak mengaturku!" Ucapnya lantang.
Yuna merasakan ada yang mengalir dari sudut bibirnya, reflek Ia menyentuhnya.
"D-darah." Yuna menatap tidak percaya pada bercak darah pada tangannya yang sebelumnya digunakan untuk meraba sudut bibirnya.
Yuna memiliki fobia pada darah, respon tubuhnya akan selalu berlebihan dan tidak terkontrol jika melihat cairan merah itu.
Nafas Yuna mulai tidak teratur, Ia dengan cepat merogoh saku seragamnya mengeluarkan inhaler nya, saat ingin menggunakannya inhaler itu lebih dulu berpindah tangan.
"Eitss! Apa nih?" Seringai licik Dion terlihat.
"B-balikin, aku m-mohon.." Lirih Yuna, sudah tidak kuasa lagi bicara dengan benar karena nafasnya yang tersedat.
"Enak aja," Dion dengan segera melemparnya ke Alexa begitu Yuna berjalan mendekatinya. "Xa, Tangkep!"
Yuna berbalik, menjadi ke arah Alexa. "Yon! Tangkep nih!"
Pasokan udara yang menipis membuat Yuna jatuh terduduk, tangannya meremat bagian ulu hatinya yang terasa sangat sakit.
Menyadari itu Alexa dengan segera melempar asal Inhaler Yuna ke sembarang tempat lalu menarik Dion untuk pergi dari Lab.
Dengan putus asa Yuna berusaha menggapai Inhaler yang cukup jauh darinya, tapi tetap tidak bisa.
Detak jantung Yuna mulai melemah, perlahan-lahan tubuhnya mulai meluruh.
Di sisa kesadarannya, Yuna dapat mendengar suara pintu Lab yang terbanting.
"Yuna!!" Alan berteriak keras memanggil nama Yuna, Ia mengguncang tubuh Yuna mengusahakan agar Gadis itu sadar.
Namun tidak ada respon dari tubuh Yuna, Alan mengecek denyut nadinya.
"Yuna, jangan bercanda. Ini nggak lucu." Ujar Alan histeris saat tidak dapat merasakan denyut nadi Yuna.
"Minggir!" Dinda mendorong tubuh Alan agar Ibu Mira dapat memeriksa kondisi Yuna.
Setelah mengecek kondisi Yuna, raut sedih tergurat jelas di wajahnya.
"Yuna sudah pergi meninggalkan kita."
"Nggak! Ibu pasti bohong kan, Yuna nggak mungkin ninggalin aku." Karena Alan yang semakin tidak terkendali, Ibu Mira dan Dinda menahan tubuhnya.
Alan memberontak, "Lepas! Aku mau Yuna."
"Ikhlasin Lan, supaya Yuna bisa tenang perginya." Kata Dinda, air matanya sudah mengalir.
Ia juga teramat terpukul atas kepergian Yuna, tapi ini sudah digariskan takdir.
Siapa kita, berani melawan takdir?
Jagalah sesuatu yang berharga, karena sesuatu yang berharga tidak akan bertahan lama.
TAMAT..