Aku duduk sendiri di keheningan malam, menerawang ke luar jendela dengan pandangan kosong. Entah apa yang kupikirkan sehingga selarut ini aku belum juga beranjak tidur. Aku melirik jam dinding di atas meja belajarku, sudah pukul sebelas malam, dan rasa kantuk belum juga menyerangku.
"Kok belum tidur, Ran?"
Aku menoleh ke belakang dan kulihat Raja mengintip dari pintu.
"Belum ngantuk." sahutku singkat.
"Ini sudah malam, lho." katanya lagi, lalu melebarkan langkah memasuki kamar dan menghampiriku yang belum juga beranjak dari depan jendela. Aku nenatapnya dengan mata berbinar dan ia langsung tersenyum melihatku.
"Ayo tidur!" Raja membungkukkan badannya, berlutut di depanku, dan mengangkat tubuhku.
Raja menggendongku sampai di kasur. Akupun hanya bisa diam sambil berpegangan di kedua bahunya. Ia menurunkanku secara perlahan, membantuku memakai selimut, lalu ia duduk di sisi ranjang sambil menatapku lirih.
"Pejamkan saja dulu, nanti pasti bisa tidur." katanya lagi.
"Kalau tetap nggak bisa, gimana?"
"Kan belum dicoba."
Aku diam, lalu memejamkan mataku, mengikuti perintahnya, dan aku hanya bisa nenghela napas berat.
"Mimpi indah, ya." ujarnya sembari mengusap kepalaku berulang kali. Setelahnya aku merasakan dingin di keningku. Pastilah karena Raja mendaratkan ciumannya di keningku seperti biasanya.
"Selamat tidur." katanya lagi lalu beranjak dari kamarku. Membiarkan aku sendiri.
**
Sore ini Raja terus membuatku tertawa geli. Ia terus membuat lelucon sembari membawaku jalan-jalan ke taman kompleks. Bahkan sampai pulang, ia terus membuatku tertawa. Sepertinya, ia tak pernah kehabisan stok lelucon. Ketika kami sampai di gerbang rumah, Raja menghentikan langkahnya, membuatku terheran. Wajahnya tampak shock begitu melihat seorang gadis berdiri di hadapannya. Gadis itu cantik, rambutnya tergerai lurus di bawah bahu, dan senyumnya sangat manis.
Aku heran melihat mereka, terlebih gadis itu. Aku tak mengenalnya. Ini pertama kalinya aku melihat gadis itu.
"Ran, kenalin nih. Namanya mawar." Gadis yang bernama mawar itu mengulurkan tangan kanannya, dan senyumnya masih ada.
"Rania." sahutku sembari membalas uluran tangannya. Aku juga membalas senyumnya. "Nice to meet you," kataku ramah dan langsung menatap Raja. "Dia ini temen baru kamu ya?" Raja tak langsung menjawab. Ia malah tersenyum sambil merangkul mawar dengan tangan kanannya.
"She is my girlfriend," katanya penuh rona. Aku terkejut bukan main. Dadaku langsung bergemuruh. Mawar adalah pacarnya, dan dia baru memperkenalkannya padaku?
Tiba-tiba ada perasaan aneh dalam diriku. Terlebih saat melihat pandangan mereka yang saling bertautan, saling melempar senyum. Aku benar-benar merasa aneh. Mungkin, aku sedang cemburu.
**
"Aku bawa ini untukmu."
Aku mengucek mataku berulang kali dan melihat mawar merah di tangannya. Aku terkesima. Bukan karena bahagia tiba-tiba Raja memberiku mawar, namun sedikit heran kenapa ia pilih mawar.
"Mawar?" Aku masih menampakkan wajah bingungku di hadapannya, dan ia hanya melempar senyum kepadaku.
"Kenapa mawar? Biasanya kamu kasih bunga Lily."
"Kamu harus suka mawar juga. Dia cantik, seperti kamu!" katanya merayu.Huh, Raja. Tak pernah berhenti menggodaku seperti tadi. Padahal dia tahu bahwa aku lebih suka Lily putih ketimbang bunga manapun.
"Apa karena pacarmu Mawar, sehingga aku juga harus suka mawar ini?" kataku pelan.Kulihat ia salah tingkah. Malu, dan terlihat kikuk.
"Ambillah! Dia harum, jadi kamu nggak perlu pakai parfum lagi." katanya masih menyodorkan mawar itu kehadapanku.
Aku meraihnya, mencium bau mawar yang memang benar seperti katanya. Harum.
"Aku harus berangkat lebih pagi nih. Hari ini, aku bertugas sebagai pimpinan upacara."
"Semangat, ya. Jangan sampai salah ya ngasih aba-abanya. Salam juga buat mawar." kataku menyemangatinya.
Raja mengacungkan jempolnya, lalu ia bangkit dan keluar dari kamarku.Seperginya Raja, aku menatap mawar pemberiannya yang masih di tanganku lekat.Apa istimewanya mawar?
Mungkin bagi banyak orang mawar adalah bunga yang terindah. Lambang pengungkapan cinta. Tapi bagiku, mawar tidak begitu berarti apa-apa. Mawar tidak seperti Lily yang teduh. Warnanya yang putih berhasil membuatku damai. Mencium aroma Lily membuatku bahagia. Lily adalah lambang dari ketulusan. Seperti ketulusanku mencintai hidup ini.
Hidup yang telah merenggut otot-otot kakiku sehingga aku hanya bisa menghabiskan waktu di atas kursi roda saja. Hidup yang membuatku lepas dari hiruk pikuk sekolah formal, dan lebih baik menimba ilmu di rumah, home schooling. Hidup yang juga tlah membawa Raja selalu di sampingku.
Aku terkesiap di depan jendela kamarku. Kenangan itu, masih saja menghantuiku. Harusnya aku sudah lupa dengan kejadian setahun tahun silam tersebut. Aku tidak boleh mengingatnya, karena ini adalah bagian dari takdirku. Aku juga tidak ingin Raja terus merasa bersalah. Kecelakaan itu bukan kesalahannya seratus persen, tapi takdir.
Aku menghela napas berat. Membiarkan penat ikut terbawa bersama helaan napas tadi.
**
Beberapa jam lagi, hari akan berganti. Aku duduk sendiri di depan kolam renang. Bertemankan beberapa lilin di atas meja, dan juga kue tar dengan lilin angka 17 di atasnya.Beberapa jam lagi ulang tahunku tiba. Harusnya di sini ada Raja yang senantiasa menemaniku di setiap tahun, lalu kami akan sama-sama berdoa, dan meniup lilin bersamaan. Namun kali ini, tak ada Raja. Ia pergi bersama Mawar, sedangkan aku, dibiarkan sendiri di tengah malam yang dingin ini. Sehelai jaket juga tidak bisa menepiskan dinginnya. Aku masih berharap Raja ada di sampingku. Kemungkinan itu kecil. Sekarang, bukan cuma ada aku di hari-harinya. Ada Mawar.
Aku melirik jam tanganku. Hanya tersisa setengah jam lagi menuju hari lahirku.
"Haaaah ...!" Aku menghela napas berat, sambil memandangi sebatang bunga mawar yang terpasang anggun dalam vas kecil berwarna putih di atas meja. Bunga yang diberikan Raja sebelum ia pergi bersama kekasihnya, Mawar.
Sekarang, dia lebih menyukai mawar ketimbang Lily. Dia juga mulai meracuniku dengan kesukaan barunya tersebut. Sejak ada mawar, ia tidak pernah lagi memberikan bunga Lily untukku. Dan sekarang aku merindukan aroma Lily yang teduh, yang mampu membuatku bahagia, meski hanya memandanginya.
"Mawar, kamu memang cantik, indah, mempesona dengan warnamu yang merah merekah. Tapi, entah kenapa aku belum juga bisa mencintaimu seperti aku mencintai Lily. Mawar ..., bisakah kamu membawa Raja pulang, sekarang? Aku merindukannya ...! Aku ingin meniup lilin-lilin ini bersamanya ...!"
Aku mengerlingkan pandanganku dari mawar, berpangku tangan sambil menunggu waktu bergulir cepat ke jam dua belas.
"Sepertinya ada yang merindukanku."Aku menoleh ke belakang, ke arah sumber suara. Aku terperangah melihat siapa yang datang. Senyumku langsung mengembang melihat Raja melambaikan tangannya untuk menyapaku.
"Hai ...!" katanya sambil berjalan mendekatiku, mendekati tempatku merenung tadi dan duduk di hadapanku. "Aku belum terlambat kan?"
"Belum. Masih ada dua puluh menit lagi." kataku setelah melirik jam tanganku. "Apa yang terjadi? Kenapa berubah pikiran?"
Dia menjawab pertanyaanku dengan senyuman. Penuh misteri, sehingga aku mengerutkan keningku. "Ah, aku melupakan sesuatu. Sebentar, yah dan lihat apa yang aku bawa untukmu ...!"
Raja bangkit dan menjauhiku. Aku sangat penasaran apa yang ia bawa untukku. Ah, apapun itu, yang tepenting ia ada di sampingku sekarang. Merayakan malam ini bersama.
"Thank's God!" kataku menengadah.
"Special for you!"
Raja sudah kembali, menyodorkan sebuket Lily di hadapanku. Aku terkejut dan terharu. Lily yang kurindukan, kini datang, tak hanya setangkai. Aku bahagia, melihat Lily kembali.
"Wow, Lily ...!" ujarku menerima pemberiannya. Bunga Lily yang sangat aku nantikan.
"Iya, dong. Kamu kan suka Lily, makanya aku bawain Lily ini untuk kamu." katanya sembari duduk kembali di hadapanku.
Aku memandangi wajahnya lekat. "Thank you, Raja ...!"
"You're welcome, dear ...!"Raja mengerlingkan pandangannya pada setangkai mawar yang ada di hadapannya, meraihnya, lalu meletakkannya di bawah meja.
"Kenapa di ambil? Itu kan mawar pemberian kamu?"
"Mulai hari ini aku nggak akan paksa kamu suka mawar."Senyumnya mengembang, membuatku tenang. Tapi, aku masih saja penasaran. Kenapa Raja begitu cepat berubah?
"Harus ada penjelasan atas hal barusan," ujarku.
Raja tak langsung menjawab. Ia mengela napas berat. Mencoba mengumpulkan jawaban atas tuntutanku.
"Mawar itu cantik, tapi berduri. Nyakitin ...! Aku nggak mau kamu terkena durinya." katanya pelan, disusul dengan desahannya.
Aku tertegun. Begitukah? “Bagaimana dengan Mawarmu?" tanyaku lagi.
Aku benar-benar ingin tahu. Apa sebenarnya yang terjadi antara Raja dan Mawar?
"Seperti yang kukatakan tadi." katanya pelan.
Aku menatapnya lirih. Pantas saja malam ini ia berubah menjadi Raja yang dulu, yang selalu memberiku bunga Lily, bukan bunga Mawar.
"Time up!" aku mengalihkan kesedihannya. Tidak perlu bersedih lagi karena ini malam spesial. "Sudah waktunya tiup lilin. Ayo!" seruku sembari meletakkan sebuket Lily yang sedari tadi kupegang ke atas meja.
Kami memejamkan mata, mulai berdoa karena sudah tiba waktunya.
Fuh!
Aku dan Raja meniup lilin 17 secara bersamaan. Perlahan, Raja memegang kedua tanganku, menatapku lekat sembari tersenyum manis di hadapanku. "Selamat ulang tahun, Rania ...! Aku sayang kamu, forever!" katanya tegas.
Tidak ada alasan untuk tidak membalas senyum Raja yang masih saja melekat di bibir tipisnya. Akupun membalasnya dengan perasaan haru. "Happy birthday my dearest twin ...!"