Aku memiliki segalanya. Keluarga yang baik, sahabat yang selalu ada saat suka dan dukaku, ditambah lagi seseorang yang spesial di hatiku. Ya... Aku selalu menganggap dirinya spesial. Aku pun yakin ia menganggapku demikian pula. Banyak teman-teman yang iri padaku karena hubungan spesialku dengan seorang Bintang.
Yups, namanya Bintang. Sesuai namanya, ia pun memang selalu jadi sosok bintang di kampus. Parasnya yang tampan rupawan serta pesonanya yang terpancar ketika ia tengah bermain basket. Ia ikut klub basket di kampus, pertemuan pertamaku dengannya pun di lapangan basket kampus. Tak hanya itu, ia selalu ke kampus dengan berganti-ganti mobil super mewah. Penampilannya selalu modis. Mungkin kekayaan keluarganya bisa mencapai tujuh turunan dilihat dari gaya hidupnya itu.
Aku dekat dengan Bintang sudah hampir setahun. Aku sering mencicipi rasanya duduk di dalam mobil super mewahnya karena ia beberapa kali mengantar aku pulang atau pun menjemputku untuk ke kampus bersama. Aku merasa kisahku normal, ini biasa-biasa saja.
Saat itu, aku dan Bintang tengah berada di sebuah cafe. Seperti biasa kami menyempatkan 'nongkrong' di cafe untuk sekedar mengobrol sambil mengisi perut setelah selesai kuliah.
"Han, kamu pesenin buat aku ya! Kamu tau kan apa yang aku suka?"
"Kayak biasa kan? Okee, tunggu bentar yaa.."
Setelah aku memesankan minuman untuk Bintang, Bintang meminumnya dan... Ia memuntahkannya sambil marah-marah.
"Kamu gimana sih? Ini gak enak. Gak sesuai sama apa yang aku mau!"
"Ma-maaf Bintang, tapi aku dah bilang sesuai yang kamu minum biasanya. Aku gak tau kalo--"
"Ahh udahlah. Bikin bete aja. Aku mau cabut sekarang!" Bintang pergi begitu saja.
Saat aku ingin menyusul Bintang, Ara sahabatku yang juga berada di sana sempat menghentikanku.
"Hani, kenapa sih kamu mau digituin terus sama Bintang? Dia selalu seenaknya suruh-suruh kamu. Bahkan tadi dia bentak-bentak kamu gitu. Kalo dia memang pacar kamu, seharusnya dia sayang sama kamu. Gak kayak gini!"
"Ra.. Aku gapapa kok. Mungkin emang Bintang lagi ada masalah aja yang bikin dia pusing. Aku gak keberatan kalo dia minta tolong ke aku. Udah, gak usah dipikirin!"
"Aku cuma gak mau liat sahabat aku digituin apalagi sama cowok yang ngakunya pacar kamu itu."
---
Semenjak mendengar perkataan Ara--sahabatku, aku mulai menimbang-nimbang mungkin ada benarnya yang dikatakan.. Ah tidak, sepertinya aku mulai terpengaruh. Aku tak ingin berpikir macam-macam. Aku percaya Bintang memang sayang padaku.
Malam itu, Bintang mengajakku pergi jalan-jalan. Sebenarnya awalnya aku menolak karena ingin memilih belajar untuk kuis besok, tapi melihat Bintang merajuk seperti itu akhirnya membuat hatiku luluh juga.
"Makasih ya, udah mau nemenin aku ke acara temen-temen aku. Aku tau kamu emang sayang sama aku."
"Sama-sama Bin."
"Tapi kayaknya dari tadi kamu keliatan gak hepi gitu. Kamu masih belum rela kurangin waktu belajar kamu buat kuis besok?"
"Bukan gitu Bin. Aku cuma lagi bingung soal tugas makalah review jurnal. Deadline-nya udah deket, tapi aku belum ngerjain, laptop aku lagi error."
"Eh iya, aku baru inget soal tugas itu. Ya udah, kamu bisa kok pake laptop aku dulu. Besok aku bawain ke kampus ya. Hm, tapi Han.. Aku pengin minta tolong sama kamu, sebenernya aku gak paham sama tugasnya, belum lagi aku sibuk ngurus turnamen basket. Kamu mau kan sekalian bikinin tugas aku?"
"Oh iya gapapa kok Bin. Biar aku buatin sekalian. Makasih ya udah bolehin aku pinjem laptop kamu."
"It's OK Han.. Aku sayang sama kamu."
•••
Selesai mengerjakan tugasku dan tugas milik Bintang, aku segera menyimpan file tugas Bintang di folder dokumen laptopnya. Tiba-tiba aku tak sengaja membuka history chat Bintang. Aku terkejut begitu tahu isi chat itu. Kenapa Bintang berbalas pesan semesra itu dengan Fena yang juga teman satu kampus kami. Apa Bintang mengkhianatiku?
Aku pun curhat pada Ara sahabatku. Aku makin kecewa ketika Ara bilang sebenarnya sudah sejak lama Ara tahu kelakuan Bintang di belakangku. Ara sering memergoki Bintang berduaan dengan Fena dan bersikap layaknya sepasang kekasih. Ara ingin memberitahuku sejak lama, tapi ia takut aku tak percaya dan justru jadi membencinya. Aku berbohong jika kukatakan aku tak menangis.
"Udah Han, cowok kayak Bintang gak pantes kamu tangisin. Masih banyak yang lebih baik di luar sana. Aku gak tega liat kamu begini. Aku akan kasih pelajaran buat dia."
Setelah itu aku bertekad mengakhiri hubunganku dengan Bintang. Hubungan ini tidak sehat. Bintang hanya mempermainkanku, ia egois, hanya mementingkan kesenangannya sendiri, ia justru mengganggu fokus belajarku, membuatku jadi pesuruhnya. Dan.. Ia meracuni hatiku, ia pun mengkhianatiku.
Aku menemuinya untuk mengembalikan laptopnya, "Makasih buat laptopnya. Aku mau hubungan kita berakhir. Kamu sendiri pasti tau alasannya kan? Dasar pengkhianat! Oh ya, tugas kamu udah aku save, di file 'Review'. Anggep aja itu tanda terima kasih aku buat laptopnya dan buat cinta semu kamu selama ini!"
"Han, maksud kamu apa? Kamu pasti salah paham."
"Ya, kamu bener. Selama ini aku dah salah paham karena mikir kalo kamu beneran cinta sama aku, tapi ternyata aku salah. Kamu cuma mau mainin aku. Aku juga gak tahan sama sikap kamu selama ini. Udah deh, gak ada ruginya buat kamu kan? Kamu bisa cari cewek bodoh yang lain. Semoga kamu bahagia sama Fena!"
"Aku-aku bisa jelasin Han.."
"Cukup Bin! Stop to toxic my life! Aku sadar, aku bisa lebih bahagia tanpa kamu."
Itu kata-kata terakhirku untuk Bintang. Semenjak hari itu aku memilih sebisa mungkin menjauh dari batang hidungnya. Bahkan hanya bertegur sapa atau berpapasan dengannya pun sangat kuhindari.
Bukannya aku takut tak bisa melupakannya. Saat ini aku masih butuh ketenangan. Aku hanya tak ingin terjebak dalam toxic relationship lagi. Lebih baik aku fokus pada kuliahku.
Lebih baik kehilangan seseorang daripada terjadi kerusakan lebih jauh pada hidupku. Lagipula aku tak sendirian saat ini. Ada sahabat dan keluarga yang selalu menyayangi dan mendukungku. Masih banyak pula teman-teman yang begitu peduli padaku.
Hubungan yang baik adalah hubungan tanpa ada rasa saling menyakiti. Hubungan yang membangun, bukannya malah menjatuhkan. Selama ini aku salah menganggap semua perlakuannya itu sebagai hal biasa. Kebahagiaan ternyata bisa lebih dari itu.
Aku memutuskan lebih menata hidupku. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Aku akan menjaga hidupku, mencintai diriku sendiri dengan tak membiarkan seorangpun meremehkan diriku lagi.
-Love Your Self-
❤