Ini adalah fanfiction Harry Potter. Para potterhead, mari merapat^0^
Khususnya DRAMIONE Shipper;)
☆☆☆
Tumpukan kertas memenuhi kedua tangannya. Peluh menggantikan tugas hujan, membanjiri wajah yang dipenuhi rasa cemas dan gelisah. Bola matanya celingak-celinguk, tidak berniat menabrak mahkluk dalam wujud apapun.
Sebuah kepala yang kontras ditimpa sinar matahari menarik atensinya. Hermione tersenyum senang, ini saat yang tepat untuk menjadi seorang Ratu Drama. Cepat-cepat dia mendekati pria yang sedang asik bersantai dengan secangkir kopi, menikmati pagi indah yang santai di halaman depan kantor.
"Huuhh ... ini terlalu berat, tanganku pegaall ...! Eh? Ternyata ada kau, Ron. Bisa tolong bantu aku?" Dia memasang senyum terbaiknya, berharap sifat pemalas Ron bisa lenyap untuk sesaat.
Pria itu menoleh, mengangkat cangkir plastik yang ada di tangan kanannya. "Aku sedang minum kopi, Hermione. Lagi pula ada banyak orang di kantor ini. Kenapa harus aku?" Senyum Hermione luntur, gravitasi menarik turun harapan yang sempat dia lambungkan.
"Aku cuma butuh sedikit tenagamu, Ron! Kenapa kau tidak pernah bisa mempermudah hidupku, sedangkan aku sudah sering menyelamatkan masa depanmu!" protes Hermione menggebu-gebu. Kenangan saat ia berulang kali menyelamatkan Harry dan Ron yang hampir dikeluarkan dari sekolah saat SMA, terputar di kepalanya bagaikan film lama.
"Untuk apa kau minta tolong pada mahkluk menyedihkan yang berkepala merah?" Mereka berdua serempak menoleh. Dari arah pintu masuk kantor, seorang pria berjas datang mendekati mereka. Hermione menghela napas, lelah menyambut kedatangan penghuni neraka yang ditakdirkan menjadi atasannya.
Terpancing emosi, Ron berdiri tegak. Dengan satu lemparan beruntung, cangkir kopi itu masuk ke dalam tempat sampah terdekat. Adrenalinnya berpacu, siap membuat pria yang ada di depannya menyusul cangkir kopi tadi. "Kau tahu, Malfoy? Jika nama perusahaan ini Weasley Corps, kupastikan kau tidak akan berani mengangkat kepala di hadapanku!"
Smirk nakal terbit di wajahnya. Melihat serangga kecil yang terbakar sebelum disiram minyak, selalu bisa memberikan hiburan yang hebat. Draco berhenti, menatap remeh pada pegawainya yang terlalu banyak bermimpi tanpa tertidur.
"Kau tahu, Weasley? Nama perusahaan ini Malfoy Corps, dan tetap begitu selamanya. Gedung bercat silver-green ini, tidak akan pernah menjadi warna merah. Kecuali ... jika kau bersedia menyumbangkan darahmu. Kau tahu maksudku, kan? Hahaha!" Tawa yang begitu sinis, hawa dingin dan kejam menusuk setiap senti kulitnya. Ron berdiri kaku, berusaha mengembalikan kesadaran yang seluruhnya hampir dilahap oleh api amarah.
Jika bukan karena ingin bersenang-senang, Draco tak akan segan mengusirnya dari Malfoy Corps sejak lama.
Ia menoleh, bertemu pandang dengan satu-satunya wanita yang tidak akan mau bertekuk lutut di depannya. Kedatangan angin mengibarkan rambut yang sengaja diikal, menghilangkan efek semak yang tentu Draco hapal betul. Tumpukan kertas yang sempat menjadi fokus utama Hermione, sudah duduk manis di sebelah kakinya. Sebuah jepit rambut besi yang dicat emas berada di atas tumpukan, mencegah angin mengacaukan pekerjaannya.
"Apa yang kau tunggu? Cepat fotokopi berkas itu, lalu antar ke ruanganku." Setelah memerintah Draco berbalik, meninggalkan Ron yang menatapnya penuh rasa dendam. Sedangkan di sisi lain, Hermione membisikkan sumpah serapah dengan setulus hati. Jika saja dia punya tongkat sihir, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menyiksa Draco hingga mau mencium kakinya.
Tidak berniat melanjutkan ritual bersantai, Ron pergi tanpa permisi. Hermione menatap nanar kepada punggungnya yang mendekati pintu masuk kantor. Ia menghela napas, lelah berharap pada orang yang tidak pantas untuk diharapkan. Jika saja Harry tidak diutus untuk rapat ke luar kota, pekerjaannya dijamin menjadi jauh lebih mudah.
Dengan sekuat tenaga, Hermione berjuang membawa tumpukan berkas itu ke tempat fotokopi yang ada di sebelah kantor mereka. Salah satu hal yang paling layak disalahkan adalah mesin fotokopi kantor yang rusak tanpa alasan pasti. Hermione curiga Draco yang sengaja merusak alat itu untuk mempersulit hidupnya.
Lagi pula, mengurus berkas bukanlah tugasnya.
"Pe-permisi, Pak! Hosh ... saya ... hosh ... mau ... hosh ... anu–-"
"Tolong fotokopi berkas-berkas ini rangkap dua ya, Pak. Saya tunggu." Omongannya disela, dan Hermione tidak suka hal itu. Ia menoleh, menatap tajam pada sesosok mahkluk yang terus saja menguras rasa sabar dari sumur hatinya. "Jika kau akan datang ke sini, kenapa tidak membantuku membawanya?! Sialan!"
Ia menoleh dengan wajah tanpa rasa bersalah. "Kenapa? Itu kan tugasmu. Lagi pula, kantor itu bernama Malfoy Corps, bukannya Granger Corps. Paham?" Hermione tersenyum paksa, dalam hati menangisi kedua tangannya yang sudah terkulai lemas.
Dengan hati gosong terpanggang emosi, Hermione duduk di kursi plastik yang tersedia. Tanpa diduga, Pria pirang itu ikut duduk di sebelahnya. Satu hal yang dia tahu pasti, sebentar lagi bendera perang akan kembali berkibar.
"Oleskan ini, supaya tanganmu membaik," ucap Draco tanpa menatap lawan bicaranya. Hermione ternganga melihat botol kecil berisi minyak gosok yang disodorkan oleh atasannya. "Kau gila? Bergerak saja tanganku tidak bisa, apalagi mengoles minyak!" protes Hermione, secara tak langsung menolak keramahtamahan itu.
Draco mengusap kening, pergolakan batin membuatnya kehilangan akal sehat. Belum puas menghakimi, Hermione kembali buka suara. "Kau ini memang ahlinya membuat hidup orang menjadi neraka. Kemudian datang seperti malaikat, dan pura-pura memberi pertolongan. Tidak heran kenapa kau suka sekali pada ular!"
Lidahnya berdecak, muak dengan basa-basi dan penolakan beralaskan harga diri. Tangan Hermione ditarik paksa, lalu dicengkram tanpa perasaan. Wanita itu meringis, mengundang atensi dari konsumen toko yang lain. "Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku, sialan!" Namun dia tidak sanggup memberontak. Tanpa dicengkram pun, tangan Hermione sudah terlanjur sulit digerakkan.
Dia menggigit, lalu membuka tutup botol kaca itu. Tanpa pikir panjang, dia menumpahkan isinya sedikit demi sedikit di atas tangan kiri Hermione. Setelah dirasa cukup, dengan lembut Draco mengoleskan minyak itu hingga merata. Hermione terkesiap, sensasi panas mulai memijit-mijit seluruh otot tangannya.
"Mungkin kau menganggapku sebagai orang yang jahat, kejam, dingin, tidak punya hati, dan lainnya. Tapi kau tahu, Granger? Kebaikan yang paling mahal berasal dari sesuatu atau pun seseorang yang tidak masuk akal."
☆☆☆
Terima kasih sudah membaca;)