"Farsya, tolong pinjamkan buku berjudul Lentera di Perpustakaan Gentala."
Sebuah pesan masuk ke ponsel Farsya. Tangannya meraih ponsel dengan rasa malas, mengetik beberapa kata pesan balasan, melemparkan kembali ponsel itu begitu saja ke tumpukan berkas di hadapannya. Dia meregangkan kedua tangannya, mencoba melemaskan otot-ototnya yang kaku. Jam di komputer menunjukkan pukul tujuh malam. Matanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sudah banyak staf kantor yang pulang.
"Oke. Mari kita akhiri lembur hari ini"
Farsya mematikan komputer. Dengan sigap membereskan berkasnya, memasukkan ke dalam ordner. Tangannya menyambar tas yang tersampir di kursi, berjalan menghampiri perempuan yang duduk di seberang meja.
"Mbak Tian, aku duluan ya."
“Oke. Hati-hati di jalan.”
Perempuan itu mengangguk, tersenyum membalas ucapannya. Farsya berjalan keluar kantor. Langit sudah berubah gelap, lampu jalan menyala terang. Begitu gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Suasana jalan begitu ramai, lalu lalang mobil dan motor tidak sampai menimbulkan kemacetan. Beberapa pedagang kaki lima menjajakan makanan di trotoar.
Gadis itu mengeratkan pegangan tali tasnya. Mengingat-ingat kembali nama perpustakaan yang dimaksud kakaknya. Rasanya pernah mendengar ada perpustakaan baru dibangun tak jauh dari kantornya. Namun dia tak memiliki kesempatan berkunjung ke sana.
Dan disinilah Farsya berdiri. Sebuah bangunan bertuliskan Perpustakaan Gentala. Keningnya berkerut heran, matanya berkedip beberapa kali. Di depannya berdiri bangunan tua bergaya kolonial. Gedung utama bagian depan berbentuk lingkaran ini memiliki atap mendatar. Di belakangnya ada bangunan memanjang berbentuk setengah lingkaran di ujungnya. Jendela berjajar terdapat di setiap lantai, ditambah pilar-pilar di depannya. Di teras gedung ada lima anak tangga.
Dia merasa seperti tengah wisata ke kota tua. Perpustakaan ini memiliki tiga lantai dengan cat putih mulai menguning di sana sini. Jauh dari gambaran gedung yang baru saja dibangun. Plang di depan gedung memang benar bertuliskan Perpustakaan Gentala. Bahkan cat di papan nama mulai mengelupas. Taman sekitarnya juga dibuat mengikuti arsitektur gedung. Pagar besi berujung runcing dan pilar lampu taman berwarna hitam, persis seperti masuk ke abad pertengahan.
Farsya mengenyahkan semua pikiran anehnya. Kakinya melangkah menaiki anak tangga. Tangannya membuka pintu. Bel tua di samping pintu berbunyi. Ini pertama kalinya dia melangkahkan kaki memasuki ke sini. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian hitam menganggukkan kepalanya. Ia mengenakan kacamata monocle dengan rantai tersampir telinga kanannya.
Gadis itu menggelengkan kepala keheranan. Bagaimana bisa penjaga perpustakaan juga mengenakan pakaian seperti abad pertengahan. Mungkin ini merupakan promosi untuk mengenalkan perpustakaan baru. Entahlah. Perpustakaan sepi, tidak ada pengunjung kecuali dirinya. Meski dari luar terlihat tua dan kusam, di dalam terlihat bersih dan rapi. Dinding bernuansa coklat dengan bentuk ruangan yang melingkar.
Bau khas buku menyeruak indera penciuman. Rak buku berwarna coklat sampai menyentuh langit-langit. Tangga kayu bersandar di tengah rak untuk mengambil buku. Terdapat jembatan mezzanine menyatu pada dinding dan beberapa pilar menghubungkan sepanjang tengah rak buku. Jembatan selebar setengah meter untuk menjangkau buku di rak paling atas memiliki pagar pembatas berukir. Lampu dinding klasik menempel sepanjang pilar. Langit-langit melengkung bercat putih memiliki ukiran bergaya kolonial dengan beberapa lampu gantung.
Gadis itu menyusuri rak-rak buku diterangi temaram lampu. Matanya membaca deretan judul buku yang berjajar rapi. Langkahnya terhenti di rak buku fiksi. Sebuah buku berwarna abu-abu mencuri perhatian. Dia membolak balik buku itu, terlihat agak usang sepertinya cetakan pertama. Ada semilir angin melewati kuduknya. Lampu berkedip-kedip. Farsya mengusap lengannya, kepalanya menengok ke sana kemari. Sunyi.
Matanya melirik jam tangannya, masih ada waktu setengah jam. Farsya memutuskan membaca buku tua berjudul Fantasi Mimpi. Dia duduk di kursi kayu tak jauh dari rak tempatnya berdiri. Kursi digeser menimbulkan bunyi berdecit. Tangannya mulai membolak balik buku halaman demi halaman. Pikirannya tersedot oleh keseruan buku di tangannya.
Sebuah buku jatuh dari rak paling atas seperti ada yang mendorong dari belakang. Sesaat tubuhnya membatu, kepalanya mendongak ke atas. Rak buku tertata rapi, tidak ada yang acak-acakan. Tangannya meraih buku berwarna hitam. Sampulnya tampak sangat tua. Dia menggeser tangga kayu tak jauh darinya. Kakinya melangkah menaiki tangga, mengembalikan buku itu pada tempatnya dan langsung turun ke bawah. Seseorang menyentuh pundaknya. Farsya membalikkan badan, menutup mulutnya hampir menjerit kaget. Bulir keringat menetes di pelipisnya. Penjaga perpustakaan itu menatapnya tajam.
"Sekarang sudah jam tutup. Silahkan keluar." Suaranya dingin terdengar menyeramkan.
Farsya mengembalikan buku yang dibacanya, bergegas mencari buku yang diminta kakaknya. Tak lama berselang, dia menemukan buku itu di kumpulan buku fiksi. Kakinya berlari kecil menghampiri laki-laki itu, menyerahkan buku yang dibawanya untuk dipinjam. Laki-laki itu menatapnya tajam, raut wajahnya datar tak terlihat emosi apapun. Dia menarik napas lega setelah keluar perpustakaan. Agak menyeramkan tapi membuatnya penasaran.
Kali keduanya dia kembali lagi ke tempat ini setelah lembur. Bulu kuduknya meremang begitu memasuki perpustakaan megah dengan berbagai macam buku yang tersedia di sana. Kehadirannya disambut dengan anggukan oleh penjaga perpustakaan. Pakaian yang dikenakan masih sama. Suasana perpustakaan seperti kemarin. Tidak ada pengunjung. Dia segera menuju rak buku yang dibaca kemarin, namun tak menemukannya. Aneh! Keningnya berkerut. Kemanakah rak buku itu.
Kakinya kembali melangkah menyusuri deretan rak buku. Ujung jarinya menyentuh buku yang berjejer. Langkahnya terhenti setelah melewati dua rak buku. Tak salah lagi, itu rak yang kemarin, tapi letaknya berpindah tiga rak lebih ke belalang. Dia berdiri di tengah lorong, memperhatikan semua rak disekelilingnya. Jari telunjuknya bergerak memperhitungkan jarak dari rak sebelumnya. Matanya membelalak lebar menyadari sesuatu. Tak hanya satu, semua posisi rak berubah. Masih menanggapi semua keanehan dengan pikiran positif. Mungkin petugas perpustakaan sengaja memindah rak untuk menarik pengunjung.
Farsya mengambil buku itu, menyandarkan punggungnya di bangku kayu yang terletak di sudut ruangan. Kembali tenggelam dalam novel yang dibacanya. Lagi-lagi, sebuah buku jatuh dari rak paling atas membuyarkan konsentrasinya. Dia meraih buku tua itu, persis dengan buku yang jatuh kemarin. Memperhatikan rak yang tertata rapi sejenak. Kakinya memanjat tangga kayu menimbulkan bunyi berderit, mengembalikan buku itu pada tempatnya. Sekelebat bayangan muncul di balik rak membuatnya terlonjak kaget. Penjaga perpustakaan mendekatinya dengan tatapan tajam.
"Sekarang sudah jam tutup. Silahkan keluar."
Farsya menghela napas lega. Segera dia mengembalikan buku itu ke tempatnya. Berdiri sejenak di depan rak, mengingat dimana letak rak itu. Ada kemungkinan bisa lupa. Penjaga perpustakaan menganggukkan kepala, membukakan pintu untuknya. Taman terlihat remang-remang. Sesekali lampu penerangan berkedip. Suasana di tempat itu benar-benar sunyi, begitu kentara menambah kesan horor. Beberapa kali mengusap tengkuk lehernya sambil menoleh ke kiri dan kanan, seperti ada seseorang yang tengah mengawasi gerak-gerik dari kejauhan. Dia bergegas pergi menjauh.
"Tolong kembalikan lagi bukunya setelah pulang kantor ya," Mbak Arin menyodorkan buku yang dipinjam tiga hari yang lalu.
Farsya menerima buku itu. Sebelah alisnya terangkat, bibirnya terbuka hendak memprotes namun diurungkan. Sudah cukup dua kali mengunjungi perpustakaan itu. Suasananya mencekam, membuat bulu kuduk merinding. Dia mengenyahkan pikirannya lagi. Seperti ada sesuatu yang menariknya, Farsya kembali menaiki anak tangga perpustakaan. Bunyi bel berdenting saat tangannya membuka pintu. Penjaga perpustakaan menyambutnya dengan anggukan.
Firsya mengeluarkan buku dari dalam tas dan menyodorkan padanya. Penjaga perpustakaan itu menerimanya, menatapnya cukup lama. Gadis itu memperhatikan pakaiannya sendiri, tidak ada yang aneh. Segera dirinya berlalu dari tempat itu. Buku itu tidak ada ditempatnya. Ingatannya tidak ada yang salah. Posisi rak buku berubah lagi. Rasanya aneh, seperti ilusi tak gampang terpecahkan. Dia berjalan melewati rak-rak buku, mencari buku yang akan dibaca kemarin. Perpustakaan ini hanya ada dia seorang diri, bersama dengan penjaga perpustakaan ini. Suasana yang begitu hening.
Kepalanya melongok ke tangga kayu setengah melingkar menuju lantai dua. Pencahayaan remang-remang. Memberanikan diri menaiki pijakan anak tangga, menyusuri lorong. Terdengar suara pijakan kaki yang beruntun, bersahutan dengan langkahnya, seperti ada yang mengikuti. Farsya menghentikan langkahnya sejenak. Hening. Sepertinya itu gema dari bunyi sepatunya. Suasana dan interior lantai dua sama seperti lantai satu. Hanya saja dia disini sendiri. Semilir angin yang berhembus keluar dari penyejuk udara.
Buku itu ditemukan pada rak paling depan. Farsya mengerutkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati. Untuk apa posisi rak buku selalu berubah setiap hari. Sebuah buku jatuh di sebelah kakinya dari rak paling atas. Tubuhnya membeku, matanya menatap nanar buku tua itu. Persis dengan kejadian sebelumnya. Dia berjongkok, mengambil buku tua itu. Ada sedikit debu menempel di sampulnya, menepuk-nepuk sesekali meniupnya. Tangannya meraba huruf yang tertulis di sana. The Lost Soul.
"Anda ingin meminjamnya." Suara berat membuatnya terhenyak.
Penjaga perpustakaan itu berdiri di hadapannya. Sejak kapan sudah ada di sana. Sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Kali ini penjaga perpustakaan itu tersenyum, mengulurkan tangannya membantu berdiri. Gadis itu mengerjapkan matanya, pikirannya penuh dengan pertanyaan aneh yang belum terjawab. Setelah cukup lama mempertimbangkan, dia memutuskan meminjam buku itu.
"Anda bisa mengembalikan buku itu kapan saja."
Farsya tersenyum mengucapkan terima kasih. Saat membuka pintu, ada cahaya menyilaukan. Menutupi wajahnya dengan buku yang dipegang, mencoba menghalangi matanya yang silau. Dia baru menyadari ini bukanlah perpustakaan lagi. Di mana ini sekarang? Sebuah ruangan serba putih dengan cahaya lampu begitu terang.
Ada bunyi menggeresek pintu terbuka. Mbak Arin menjatuhkan tas yang dibawanya, bergegas memeluknya. Wajahnya terlihat lelah, ada perasaan lega terpancar di sana. Farsya merasakan sakit menyerang sekujur sendinya. Tidak ada tenaga sekedar menggerakkan tangannya.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Suaranya terdengar lega.
"Ini dimana?" Suara Farsya serak seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan.
"Kamu tidak ingat? Kamu tertidur selama satu bulan."
Matanya melebar, mencengangkan. Dia merasa seolah tidak ada yang salah dengan rutinitas hariannya, menjalani kehidupan normal selama seminggu. Sakit kepala tiba-tiba menyerangnya. Ingatannya yang kabur perlahan kembali pada malam itu. Farsya berniat mengembalikan buku yang dipinjam, berdiri di pinggir jalan, menunggu lampu merah menjadi hijau. Tangannya memeluk buku itu erat-erat. Perpustakaan Gentala ada di seberang jalan. Lampu menyala berganti hijau. Dia melangkahkan kakinya menyeberang jalan.
Sebuah mobil dengan cepat menyambar. Tubuhnya terpental beberapa meter, terkapar tak berdaya. Rasa sakit luar biasa mendera sekujur tubuhnya. Matanya menatap buku yang terlempar tak jauh darinya. Tangannya berusaha menggapai buku itu. Beberapa pejalan kaki dan pengendara yang lewat berbondong-bondong menghampirinya. Napasnya tersengal-sengal, kepalanya terasa berat, darah mulai menggenang membasahi pakaiannya. Semuanya terasa gelap, dia menutup matanya.
Aku harus mengembalikan buku itu.
Farsya mencoba menggerakkan tubuhnya, wajahnya menyeringai kesakitan. Lukanya cukup parah. Patah tulang kaki kiri, tiga tulang rusuk, dan pergelangan tangan kiri. Beruntung nyawanya tidak melayang. Tatapannya tertuju pada buku hitam yang amat sangat mirip bahkan judulnya berada di atas meja samping tempat tidurnya.
"Mbak, buku apa ini?"
"Oh... Aku membawanya kesini biar kamu tidak bosan. Bukannya kamu yang meminjam buku itu dari perpustakaan?"
Matanya membelalak lebar, "Lalu buku Lentera yang Mbak Arin pinjam?"
"Loh, bukannya sudah kamu kembalikan?"
Mulutnya menganga lebar. Otaknya mencoba mencerna semua perkataan kakaknya. Hah! Kapan dia mengembalikannya? Dia yakin belum mengembalikan buku itu sebelum kecelakaan. Dia membuka buku itu, benar ada namanya tertulis di balik sampulnya. Tangannya menutup mulutnya saat melihat tanggal peminjaman. Hari itu dia sudah koma. Apa semua itu mimpi atau mimpi yang menjadi kenyataan. Tangannya membolak balik halaman demi halaman. Kosong. Dia yakin buku itu ada tulisannya.
Mulutnya kembali menganga melihat bangunan di hadapannya. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat dari saat pertama kali melihatnya. Perpustakaan di depannya seperti baru dibangun, terlihat minimalis dengan kombinasi cat putih dan biru. Lantai perpustakaan didominasi oleh warna hijau untuk memberikan nuansa alami dan ketenangan. Beberapa sudut terdapat sofa dan kursi nyaman yang bisa digunakan untuk membaca atau aktivitas lainnya. Perpustakaan terlihat ramai. Banyak sekali pengunjungnya hari ini. Sekali lagi dia mengucek-ucek matanya tidak percaya.
Farsya menghampiri meja peminjaman buku. Ada laki-laki muda dengan senyum ramah menyambutnya. Dia menyodorkan buku yang dipinjamnya. Bukannya penjaga perpustakaan itu bilang bisa mengembalikan kapan saja.
"Dengan Mbak Farsya ya. Terima kasih sudah meminjam buku di sini."
Eh! Ternyata benar bisa mengembalikan buku ini. Kenapa bisa begitu? Apa perpustakaan ini bisa terhubung ke dunia mistis. Otaknya bisa-bisa berasap memikirkan jawabannya.
"Kapan perpustakaan ini selesai dibangun?"
"Sekitar sebulan yang lalu, Mbak."
Farsya menelan ludahnya, "Tapi sebulan yang lalu tidak seperti ini? Seperti bangunan tua."
Dia tak jadi meneruskan ucapannya. Penjaga perpustakaan itu memandangnya dengan tatapan aneh. Farsya bergegas keluar dari perpustakaan. Menyandarkan punggungnya di bangku taman. Cahaya lampu bersinar terang menyinari setiap sudut taman. Dia memperhatikan kendaraan lalu lalang. Semua yang dialami sungguh tak masuk akal. Ekor matanya melihat seseorang yang tak asing. Penjaga perpustakaan itu tersenyum dengan jari telunjuk di bibirnya. Sebuah mobil lewat dan penjaga itu menghilang. Sontak dia berdiri, matanya berkedip beberapa kali. Apa dia salah lihat?
"Fasya, pulang yuk."
Mbak Arin menggandeng tangannya menjauh dari perpustakaan itu. Langkahnya tertatih-tatih, bekas kecelakaan yang belum sembuh benar. Sekali lagi Farsya menengok ke belakang. Tidak ada yang berubah, gedung itu masih sama. Lalu apa yang sebenarnya yang sudah terjadi? Ah sudahlah. Lupakan saja.
Waktu berlalu menunjukkan pukul delapan. Plang Perpustakaan Gentala mulai menyala. Sebuah bangunan bergaya kolonial disirami dengan temaram cahaya lampu. Seorang laki-laki muda masuk ke dalam. Bunyi bel berdenting saat pintu terbuka. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian hitam mengenakan kacamata monocle dengan rantai tersampir telinganya menganggukkan kepalanya. Matanya menatap tajam pengunjung yang baru datang. Sudut bibirnya naik membentuk senyuman.