Kisah perjuangan seorang perempuan broken home bernama ratih, orang tua nya sibuk dengan keluarga nya masing-masing. Dia tinggal bersama ayah dan keluarga baru nya.
"RATIH, CUCI PIRING SEMUANYA" teriak ibu tirinya.
"Iya, bu" jawab ratih.
"Cepat" sahut ibu tirinya.
"Habis itu bersihin rumah ini secepatnya, karena nanti sore ada temen saya mau arisan" ucapnya.
"Baik, bu" jawabnya.
"Ck, udah sana cepet" berdecak sambil mendorong punggung ratih.
Mendengar itu ratih tergopoh gopoh memasuki dapur yang luas, mengerjakan perintah ibu tirinya itu. Ratih sangat lelah diperlakukan seperti ini setiap harinya saat tidak ada ayahnya.
"Huft" menghela nafas saat pekerjaan nya sudah selesai.
Lanjut memasuki kamarnya yang didekat dapur, ruangan sempit hanya cukup satu orang saja buat tudur, mengambil buku belajarnya dan menghafalkan rumus karena besok pagi ada ujian.
Entah berapa lama belajar nya sampai lupa kalau sekarang sudah sore, keluar kamarnya tanpa tau di ruang tamu banyak ibu ibu yang berpakaian mewah, dandanan menor dengan perhiasan bergantungan di setiap tangan nya.
"Eh jeng lina, itu siapa" ucap ibu berbaju merah,sambil menunjuk arah Ratih.
"Itu anak dari suami mu kah, jeng" ucap ibu berbaju ungu.
"Loh jadi itu anakmu jeng, kok kampungan banget sih" ucap baju gold sambil memandang ratih sinis.
"Bukan jeng itu mah anak pembantu saya kebetulan dia ikut ibunya disini" ucapnya Lina ibu tiri Ratih.
"Owlh begitu, bagus tu dek bantuin ibunya jangan main terus ya haha" ucap ibu baju merah sambil tertawa.
"Orang miskin" gumam ibu baju gold.
Sakit itulah yang dirasakan Ratih saat ini ,menghela nafas untuk menguatkan diri seolah tak ada apa apa, memasuki kamarnya melanjutkan belajarnya.
Disini belakang rumahnya Ratih duduk sambil memandangi malam yang begitu indah sambil merenungi hidupnya yang kejam ini.
"RATIHH" teriak Lina.
Ratih yang mendengar itu menghampiri ibu tirinya yang ada di atas tangga, berlari sekuat tenaga agar tidak di murkai oleh Lina ini.
"Hosh hosh"
"Iya bu" tanya Ratih.
Lina memandang Ratih murka dengan muka merah mendorong dan hampir terjatuh dari tangga.
"Kamu ya bisa ngga sih, ga usah nyari gara-gara saya malu karena kamu" ucapnya sambil mendorong dorong ratih.
"Ibu udah bu, nanti jatuh" ucapnya ratih dengan mata yang mengalir deras.
Ratih yang hendak didorong hanya mampu menghidar dari jangkauan lina, terus mendorong tanpa tau sandal nya yang tinggi membuat nya keseleo dan terjatuh kebawah tangga. Badannya mengguling disetiap tangga ada darah yang berceceran itu mata Lina terpejam.
Brukkk
Pintu terbuka lebar menampilkan sosok pria tua yang masih gagah, melihat Lina yang terjatuh dia syok sambil menjatuhkan tas kerja nya.
"LINA" pekik pria paruh baya itu.
Mata berkaca kaca melihat istrinya jatuh dari tangga,memangku kepalanya yang berdarah itu. Memandang aras tangga dan dia menemukan Ratih yang sedang mematung.
Deg
Melihat ayah nya yang menatap Ratih murka, setelah mengatakan kepada supirnya untuk membawa Lina kerumah sakit secepatnya dia menghampiri Ratih yang masih berdiam diri itu.
Plakk
Bunyi tamparan yang begitu nyaring, muka tertoleh bibirnya luka pipinya merah. Ratih menangis menatap sosok didepan yang menatap benci padanya.
"APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ISTRIKU, HAH!!" bentak nya.
"E-enggak a-ayah" jawabnya gagap.
"Jangan panggil aku ayah, aku tak sudi menjadi ayah pembunuh sepertimu" bentak ayahnya.
"Sini kamu harus saya kasih pelajaran" ucapnya sambil menarik paksa tangan ratih.
Digudang tak terawat disini Ratih berada duduk meringkuk meringis karena tubuhnya kesakitan, dia hanya pasrah tanpa berbuat apa apa.
Cetakk
Ratih dicambuk oleh pria yang menyandang ayahnya, tak peduli darah dagingnya itu yang terpenting dirinya bisa melampiaskan emosinya ini.
"Akhh, s-sakit ayah" pekik ratih.
Cetakk
Setelah sudah puas pria paruh baya itu meninggalkan Ratih tak mempedulikan yang tak sadarkan diri itu karena nya.
Seorang pria paruh baya sedang berjalan tergesa gesa di koridor rumah sakit mencari ruangan istrinya itu, melihat supir pribadinya yang sedang berbicara pada dokter dia mempercepat langkahnya.
"Bagaimana, keadaan istri saya" ucap pria paruh baya itu.
"Begini pak, akibat benturan yang begitu kuat kepada kepala dan matanya membuat istri bapak mengalami kebutaan permanen" ucap dokter itu.
Pria paruh baya itu mematung saat mendengar ucapan dokter itu.
"Lalu bagaimana, apa sudah ada pendonor mata dok" ucapnya pria paruh baya frustrasi.
"Ya begitu pak, kebetulan disini stok pendonor mata sudah tidak ada pak" ucap dokter.
Ratih bangun dengan tubuhnya yang sakit, dia berdiri meraih knop pintu. Tanpa sengaja mendengar ucapan supir dan tukang kebunnya membicarakan nyonya nya yang mengalami kebutaan. Memasuki kamarnya mengambil sesuatu dan memasukan ke dalam tas ransel nya, mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu.
Mengendap endap keluar dari rumah ayahnya itu, membalikkan badannya menatap rumah dengan kenangan yang begitu menyakitkan. Menelusuri jalan raya tak tau akan kemana, saat hendak menyebrang tak tau ada truk yang hendak melintas itu.
Brakk
Seseorang tertabrak oleh truk itu terlempar sejauh 2 meter dan dari arah berlawanan ada mobil yang hendak melintas dan terlempar lagi kepalanya terasa sakit dengan luka di sekujur tubuhnya, seorang warga yang melihat itu langsung menelepon ambulans .
Pria paruh baya hendak keluar dari rumah sakit ini dengan keadaan marah, entah apa yang akan dia lakukan kepada ratih karena membuat istrinya mengalami kebutaan, tanpa tau dia berlawanan dengan Ratih yang didorong oleh suster karena mengalami kecelakaan.
Membuka pintu nya dengan lebar tanpa mempedulikan pintunya yang hendak copot, berlari ke gudang mencari seseorang.
"Dimana anak sialan itu" desis pria paruh baya.
"RATIH" teriaknya.
Memasuki kamarnya yang kumuh anaknya itu, dirinya baru sadar jika kamarnya berbeda dengan kamar lainnya ini. Pria ini yang sebagai ayah nya tak pernah memperhatikan anak nya ini.
Dimeja rapuh terdapat sebuah tulisan yang pastinya ini surat dari ratih.
Ayah itu bukan kesalahanku, aku tidak mendorong ibu.
Meskipun aku tak menyukainya, aku tidak pernah berpikir untuk mencelakai nya.
Aku juga selalu diam saat ibu yang semena mena terhadap ku, tapi maaf kali ini aku membongkar nya untuk berkata pada ayah.
Jika ayah masih tak percaya, lihatlah disini banyak cctv.
Terimakasih ayah, selamat tinggal.
Pria itu beralih memasuki ruang kerjanya dan melihat laptop yang menampilkan istrinya itu selalu semena mena pada anaknya yang hanya bisa menunduk dan diam.
"Maaf nak" ucap pria itu sedih.
Drett
Bunyi telepon genggam pria itu, mengambil tertera nomer tak dikenal.
"Halo"
"Maaf kami dari rumah sakit Anggara, bahwa anak bapak yang bernama Ratih Kurnia sedang dirawat disini karena kecelakaan"
"A-apa baik saya kesana sekarang"
Tergesa gesa mengambil mobilnya menuju rumah sakit untuk menemui anaknya itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok? " tanya pria paruh baya.
"Maaf pak, pasien yang bernama Ratih Kurnia tidak bisa diselamatkan akibat benturan keras di kepala dan badan nya membuat dia patah, dan dia meminta mata nya untuk didonorkan kepada Ibunya yang bernama Lina" ucap dokter.
Deg!
Jadi disini saya mau menyampaikan bahwa penyesalan memang ada diakhir, tapi sebelum berbuat alangkah baiknya mencari kebenaran agar tidak salah paham.