Tidak ada kematian, namun rasa duka terlalu pekat menyelimuti keduanya. Rasanya selalu mendung, selalu kelabu, bahkan mungkin kelam. Tinggal menunggu kilatan petir Yang siap menghancurkannya, menghancurkan keduanya.
"Bagaimana kabarmu?" Jungkook mengulas senyum yang Ji hoo tahu itu sangat di paksakan. Rambut ikalnya teracak asal dan mengenakan pakaian yang senada dengan bawahannya.
Ntahlah, tidak ada kerinduan yang terpenuhi, kebebasan, senyum tanpa kepura puraan atau mungkin genggaman tangan yang menghangatkan meski mereka berdua kini di pertemukan.
"Aku selalu baik baik saja." Ji hoo pun melakukan hal yang sama, mengulas senyum meski sebenarnya enggan.
Ji hoo gugup dan berulang kali tangannya ia sembunyikan di bawah meja bertumpu pada paha. Ia tahu perbincangan yang ia dan Jungkook lakukan tidak pernah berjalan dengan baik. Selalu ada kepalsuan dan sesuatu yang ditutup tutupi. Kesedihan dan luka yang mendalam, sangat dalam, bahkan terlalu dalam.
"Kau semakin kurus, apa kamu tidak makan dengan baik?" Jungkook bersikap wajar. Harusnya dia ikut casting film karena aktingnya luar biasa. Dia jelas sangat terpaksa menarik senyum palsunya, tapi dia kini berpura pura tidak terjadi apa apa.
"Benarkah? Aku makan sangat banyak sampai berat badanku bertambah." Ji hoo berbohong lagi dan ntah itu sudah yang keberapa kali.
"Kau harus bahagia, agar aku bisa bahagia."
Ji hoo menunduk, tidak berani menatap mata tajam Jungkook yang siap menyayat hatinya yang telah rusak.
"Aku ingin kamu bahagia," ulang Jungkook pelan.
Ji hoo mengulas smirk pahit, Ji hoo sudah tidak tahan lagi berpura pura. "Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi."
Jungkook sukses tercekat, rahangnya mengeras tertahan, tangannya mengepal erat. Ingin sekali memeluk gadis berambut sebahu berwajah sendu di hadapannya dan membawanya lari, pergi jauh, pergi sejauh yang ia bisa.
"Kalaupun aku bahagia, aku ingin kau bisa melihatku. Aku ingin kau melihatku meski kau tak disisiku, aku ingin kau melihatku meski kita tak bersama." Ji hoo menghela nafas dan sedikit tersengal. Air di matanya mengumpul dan siap menetes namun tak pernah diizinkan oleh tuannya.
"Maaf." Jungkook menunduk, ia tahu saat ini air di pelupuk mata Ji hoo tumpah melesat di pipinya, maka Jungkook memilih untuk tidak melihatnya, ia tidak bisa.
"Aku mencintaimu Jung," ucapnya dalam isakan. "Aku sangat mencintaimu sampai hampir gila, aku tidak masalah kehilangan apapun, tapi tidak untuk kehilanganmu. Terima kasih karena mau menerima kedatanganku. Jangan pernah meminta maaf, kau membuatku tampak jahat karena cinta. Jangan pernah menyalahkan dirimu."
"Cintamu hanya akan sia sia padaku Park Ji hoo. Kau harus memberikannya ke orang yang lebih tepat, jangan mengunjungiku lagi hanya untuk mencintaiku. Aku tidak perlu cinta, kau pantas bahagia dengan orang lain."
"Tolong hentikan!"
"Pergilah! Temui orang lain, jangan mengharapkan apapun dariku. Cinta ... Jika cinta yang kau mau, kau tak akan pernah mendapatkannya dariku. Aku tidak bisa memberikan apapun termasuk ragaku," ucap Jungkook tanpa penyesalan. Ia hanya berharap manusia keras kepala didepannya ini mengerti dan menyetujui apa yang ia katakan. Meski nyatanya sangat sulit untuk menghentikannya.
"Apa karena ini kau pada akhirnya mau menemuiku? Apa karena kau ingin mengatakan hal menyakitkan ini? Tidak, aku tidak perlu apapun. Cintamu, tubuhmu, atau sesuatu yang lain darimu. Aku tidak perlu apapun darimu. Cukup jangan memintaku untuk pergi. Jangan menyuruhku untuk meninggalkanmu Jung," pintanya semakin terisak.
"Park ji hoo."
"Aku tidak perlu apapun. Aku hanya ingin kau mengingatku, kau tak sendiri, aku ada untukmu. Seseorang yang biasa biasa saja dan mungkin terlalu biasa." Ji hoo menjeda ucapannya. "Tapi akan selalu ada disampingmu meski raga kita selalu berjarak. Seseorang yang akan melakukan apapun untukmu. Kau tak sendiri, hanya ingat itu Jung, aku bersamamu. Aku tidak akan pernah sedikitpun melangkah menjauh darimu. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri dan kau tak perlu mencintaiku, tidak perlu. Hanya ingatlah aku, ada aku disisimu, kau tak pernah sendiri."
"Tahanan nomor 107, waktu anda telah habis," suara itu seketika membuat Ji hoo gugup.
"Tidak, aku baru saja berbicara dengannya. Jangan membawanya pergi! Tidak, beri aku waktu sebentar lagi. Lepadkan dia! Dia bukan pembunuh! Lepaskan! Apa yang kalian lakukan sampai menangkap orang yang salah? Dia hanya menyelamatkan ibunya, Dia bukan pembunuh, kumohon lepaskan dia!" Teriak Ji hoo terus menggebrak sekat kaca pemisah jarak antara tahanan Jungkook dan ia yang tengah berbicara.
Jungkook sudah berdiri, berpakaian serba orange dengan tangan di borgol dan tanpa penolakan mengikuti intruksi.
Ji hoo tak berhenti menggebrak sekat kaca tebal di depannya. "Jeon Jungkook, tunggu! Sebentar lagi, kumohon! Jungkook-ah ..." teriak Ji hoo semakin kencang ketika Jungkook telah digiring keluar ruangan.
Jungkook tidak bergeming dan terus melangkah menjauh. "Jangan biarkan dia menemuiku lagi. Jika dia datang kembali, aku tidak ingin menemuinya," pintanya pada seorang sipir yang bisa Ji hoo dengar meski lirih.
Ji hoo melemas, ambruk di lantai dingin yang kotor. Hatinya seperti ikut terbang dengan jiwanya, menyisakan tubuh tak berdaya dan lemah yang merapuh. Meski lirih, suara Jungkook terdengar membuat hati Ji hoo hancur tak tersisa. "Apa begini caramu mencintaiku Jeon Jungkook? Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Aku sungguh tidak mengerti dirimu." Ji hoo menunduk meremas kerah bajunya yang mencekat, rasanya seperti semua terhenti, seluruh tubuhnya nyeri dan dadanya sangat sesak.
Rasanya ingin memejamkan mata dan tidak masalah jika tidak terbangun. Naif, apa memang begini orang orang yang putus asa? Sepertinya aku tidak berniat untuk melanjutkan hidupku. Aku tidak berniat melanjutkan pagi dan malam yang gelap tiada beda. Aku tidak ingin melanjutkan takdir ini. Terserahlah, aku tidak ingin tahu akhirnya. Cukup seperti ini, ini sudah cukup menyakitkan, ini sudah cukup membunuhku. Jadi jangan tanggung, bunuh saja sekalian ragaku, akan aku persilahkan. Ji hoo menyerah.
Jungkook juga tidak baik baik saja. Sudut matanya berair ketika ia kembali lagi mentusuri lorong sempit yang menggiringnya menuju ruang lembab dan pengap tempat ia menghabiskan semua waktu tak berguna. Air matanya tak henti tumpah, dengan kedua tangan yang terikat ia menyeka sudut mata yang tak kunjung kering. Jalannya semakin melambat lalu ambruk menyesali semua perkataannya. "Bodoh, kau sungguh tak berguna Jeon Jungkook."
Maafkan aku, aku tidak ingin kau ikut merasakan jutaan pedih yang ku tanggung. Kau tidak seharusnya hidup dengan mencintai manusia tak berguna sepertiku. Aku mencintaimu Park Ji hoo, aku benar benar mencintaimu, bahkan aku selalu mengingatmu tanpa kau minta. Aku bertahan krenamu, aku masih kuat berdiri karenamu. Tapi Park Ji hoo, aku harus melepasmu, aku tak ingin kau terjebak dalam hidupku yang telah hancur tak tertolong, aku tidak ingin membuat hidupmu lumpuh sepertiku. Bahagialah, aku akan mengingatmu dan mencintaimu sendiri sampai mata ini terpejam dan tiada asa untuk terbuka. Maafkan aku, karena aku kini tidak akan pernah bisa menjadi aku yang dulu, yang pernah bersamamu.
End-
#lombafanfic