#Cerita cinta
Pelajaran Cinta
••••••••••••••••
Santi.💝
Nama itu nama adalah yang sangat berkesan dalam hidupku.
Nama yang tidak akan pernah aku lupakan, sampai kapanpun.
Nama yang untuk pertama kalinya mengajarkan aku akan arti cinta, kepada lawan jenis.
Pagi hari sekitar jam 09.00 atau 09.30 aku sudah lupa pastinya, namun yang jelas itu adalah saat istirahat pertama, dari dua kali istirahat yang ada di sekolah kami.
Aku adalah murid yang sangat pemalu, yang duduk di bangku kelas 3 tsanawiyah atau setingkat dengan kelas 3 Sekolah menengah pertama
Tidak seperti biasanya dimana aku begitu Ingin beristirahat, hari itu aku tetap duduk diam di bangkuku.
Aku berusaha mengisi jawaban dari soal-soal pekerjaan rumah, yang sebelumnya telah ditugaskan oleh guru kami.
Tiba-tiba dua orang wanita yang merupakan teman sekelasku, yakni Santi dan Sahara datang dan duduk di samping kiri dan kananku.
Aku terjepit diantara kedua wanita cantik ini, sehingga membuat aku yang begitu pemalu melihat wanita, merasa sangat 'kikuk' dan kaku.
Di satu sisi aku merasa begitu malu takut dan gemetar, sementara di sisi lain tubuh mereka yang begitu lembut menempel di tubuhku, membuat aku merasa sangat nyaman dan ingin berlama-lama dengan posisi itu.
Salah seorang wanita tepatnya temanku yang bernama Santi, kemudian bangkit dari sisi kananku dan berdiri tepat di depanku.
Dia mengatakan
"Fahri kau itu sebagai lelaki terlalu penakut terhadap wanita, maka hari ini aku akan mengajarkan kepadamu apa itu wanita dan seperti apa keindahan yang ada pada mereka, agar kau tidak takut lagi kepada makhluk yang bernama wanita itu.
Dengan kata lain, aku hendak mengajarkan dan memberikan kepadamu pelajaran tentang cinta."
Tanpa di duga Santi menciumku perlahan, aku yang memang sudah benar benar mati kutu, jangankan untuk membalas ciumannya, bahkan melihat wajah cantiknya saja aku tak berani atau mampu.
Entah Karena rasa gemas, frustasi atau juga penasaran, aku tak tahu pasti, yang jelas Santi semakin beringas.
Santi mendongakkan kepalaku ke atas, agar aku bisa melihat wajahnya, yang sedang berdiri tepat di hadapanku.
Entah setan apa yang merasuki dirinya, dia melumat bibirku dan mencium seluruh wajahku juga mengacak acak rambutku.
"Santi apa yang kau lakukan...?
Ini sudah tidak benar, bukan ini rencana kita sejak awal...!
Bukankah tadi kita hanya ingin untuk mengerjainya...?
Lalu Kenapa kau melakukan semua ini...?
Oh Tuhan tidak...!
Lalu Sahara berlari ke pintu kelas dan dengan secepat mungkin menutup dan mengunci pintu itu.
Setelah menutup pintu, dia pergi ke jendela dan duduk di dekatnya, memastikan tidak ada orang yang melihat apa yang terjadi di kelas kami itu.
"Santi....! Hei kau kenapa...?"
"Diamlah Sahara, tiba tiba saja aku suka pria pemalu ini, apakah kau tidak ingin memberinya pelajaran cinta juga Sahara....?
Santi terus mencium dan memeluk aku yang telah dipaksanya berdiri.
Aku hanya bisa pasrah walaupun memang sangat rela, dengan keadaan itu.
Setelah puas dengan semuanya.
Santi yang saat ini terlihat lemas, duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Fahri....!"
Aku diam membisu.
"Fahri....!"
Aku masih bergeming.
"Fahriiiii....!"
"Ya...!"
Aku menjawab malas, hanya agar dia tidak berteriak lagi.
"Aku sudah kotor, aku telah ternoda, kau harus bertanggung jawab...!"
"Ya, aku akan bertanggung jawab."
"Kalau begitu cium aku, agar aku tidak lagi merasa kotor, karena sudah menciummu sebelumnya lebih dahulu. "
Aku lalu menoleh wajah putih bersih dan cantik itu dan kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibirnya yang polos tanpa lipstik itu.
Santi menyambutku dengan hangat dan lembut, tidak lagi beringas seperti tadi di awal
"Hei tolonglah sudahi ini aku mohon."
Sahara menggigit bibirnya dan meremas jari jarinya sendiri, terlihat begitu tersiksa, entah karena apa.
Santi menariknya ketengah kami dan akhirnya aku menciumi kedua wanita cantik itu, pada saat yang bersamaan.
"A....Apa yang telah kita lakukan...?
Sambil menggeliat sahara masih bertanya, apa yang dilakukan, meski dia sangat menikmati suasana itu.
Bel kemudian berbunyi dan kami kembali ke bangku masing masing.
Agar tidak mencolok, aku menyisir dan merapikan rambutku dengan jari jemariku dan mengusap wajahku.
Entah kenapa sejak saat ini, aku tidak takut lagi melihat wanita.
"Hei kenapa Santi terus melihatmu...?"
Teman sebangkuku, mulai berisik.
"Mungkin kaulah yang dilihatnya."
"Eh jangan mengada-ada, walau kita satu meja pandangannya jelas mengarah padamu."
Aku lalu menoleh pada Santi dan dia tersenyum manis padaku.
Merasa dia sudah menjadi wanitaku aku membalas senyumannya, dengan senyum yang tidak kalah manisnya.
Setelahnya wanita kedua yang berada di samping Santi yang tidak lain adalah Sahara, juga tersenyum manis padaku.
Sama seperti Santi aku juga membalas senyum manis dewi kelas kami itu.
Sejak saat itu hidupku begitu indah dan penuh warna.
Aku adalah pria paling bahagia di sekolah kami
"Fahri sejak hari ini, kamu tidak usah masak biar kami yang memasakkan untukmu dan mencuci pakaianmu."
"Lalu apa yang harus aku lakukan....?"
"Ya seperti murid lainnya, kau cukup beraktifitas biasanya."
"Lalu bagaimana jka teman seasramaku heran, aku tidak pernah mencuci pakaian...?"
"Katakan saja kau mengupahkan orang lain, untuk mencuci pakaianmu dan memasakkan untukmu."
'Oh begitu ya...?"
"Iya.."
Selama aku sekolah berasrama di tempat itu, aku tidak pernah lagi mencuci pakaian dan juga memasak makanan sendiri.
Namun pakaianku selalu menjadi pakaian yang paling rapi di antara teman-temanku sesama pria di kelasku.
"Fahri, aku melihat sesuau yang berbeda padamu, pakaianmu selalu rapi juga harum dan bersih.
Makananku juga sangat teratur dengan lauk yang beragam, dari mana kau dapatkan semua itu..?"
"Kau juga bisa begitu teman, selama kau mau mengeluarkan sedikit uang.
Orang tuaku mengupahi putri saudara kami, untuk mencuci baju dan memasakkan untukku."
"Tidak butuh waktu lama agar kami ketahuan memiliki hubungan, berulang kali kami di hukum, tapi aku dengan ksatria akan selalu mengerjakan hukuman dari kedua kekasihku itu.
Yang biasanya adalah membersihkan semak belukar di sekitar lokasi sekplah kami itu.
Hubunganku dengan kedua wanita luar biasa itu, berlanjut sampai ke tingkat Aliyah.
Setelah tamat Aliyah, aku bersama Santi kemudian hidup dalam satu ikatan pernikahan yang sah dan menjalani kehidupan berumah tangga, sebagai suami dan istri.
Adapun Sahara melanjutkan pendidikanya ke Akademi kebidanan dan menjadi bidan di sebuah desa.
"Bang."
"Ya."
Sahara dijodohkan oleh keluarganya kepada saudara ayahnya.
Dia akan menikah dengan pria, yang merupakan anak saudara perempuan ayahnya tersebut."
"Ya! Itu baik, memangnya kenapa..?"
"Tidak ada.
Lucu saja, dulunya kami pernah berjanji akan sama sama, menjadi istrimu bang"
"Hehe.
Itukan janji kalian dik, takdir tidak perduli itu.
Ah sudahlah, jangan berpikir macam macam."
Sejak Hari itu kami tidak pernah mendengar atau melihat maupun mengetahui cerita tentang Sahara.
Namun tidak sampai setahun, pernikahan Sahara kandas, lalu Sahara mencari dan mendatangi kami berdua dan menyatakan ingin menjadi istriku.
Istriku yang pada dasarnya sejak awal memang bersahabat baik dengannya, tidak menolak hal itu dan begitu juga dengan aku.
Orang tua Sahara tidak bisa berkata apa-apa, daripada menjadi istri dari pria yang ternyata penjudi dan pemabuk berat juga penjahat kelamin itu.
Beliau lebih memilih menyetujui aku menikah dengan putrinya, sejak saat itu kami hidup bahagia.
•~End~•