Kehidupan... satu kata yang memiliki banyak arti, karena setiap orang memaknai kehidupan dengan cara yang berbeda-beda. Layaknya bumi yang selalu berputar, baik mengelilingi matahari maupun berotasi pada porosnya. Kehidupan pun terus mengalami perputaran. Dengan arti lain, seseorang dalam hidupnya pasti pernah merasakan suka dan duka. Bagaimana rasanya ‘di atas’ dan bagaimana rasanya ‘di bawah’. Tidak jarang pula terjadi pertentangan antara pihak-pihak yang merasakan ‘perbedaan’ dalam hidup.
Di suatu wilayah perkampungan, tepatnya kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Guyub Asri. Meskipun itu termasuk perkampungan kecil, kampung tersebut terletak sangat strategis dan sesuai namanya, warga kampung di sana selalu rukun dan membina toleransi dengan baik. Banyak arti kehidupan yang dapat dipelajari dari mereka. Warga kampung yang selalu hidup sederhana, suka bermusyawarah, dan menganggap satu sama lain sebagai keluarga.
Di sisi lain, ada kumpulan manusia berpendidikan tinggi yang tergabung dalam suatu perusahaan konstruksi. Di dalamnya pun terdapat orang-orang yang disebut ‘penguasa’ karena bergelimang harta benda. Mereka sedang berbicara di suatu ruang pertemuan yang mewah dan ber-AC. Bisa dikatakan bahwa itu ‘musyawarah’. Namun, tujuan utama mereka tetaplah keuntungan pribadi.
“Jadi, sudah saya putuskan bahwa lokasi pembangunan proyek kita di daerah itu,” kata seorang pemimpin proyek yang bernama Pak Reza.
“Pak, tapi di sana sepertinya masih banyak tempat tinggal penduduk.”
“Iya benar, Pak, ada kemungkinan mereka tidak akan menyerahkan wilayah mereka begitu saja.”
“Apa tidak sebaiknya kita pikirkan lagi mengenai lokasi tersebut, Pak?” Muncul banyak pendapat dari rekan kerja yang lain.
“Saya sudah mengambil keputusan, dan itu tidak dapat diganggu gugat. Lagi pula, hanya wilayah itu yang strategis untuk proyek kita ini, dan benar-benar cocok. Ini proyek yang besar, kita akan rugi ‘miliaran’ jika kita kehilangan proyek ini. Bila ada yang tidak suka dengan keputusan ini silakan angkat kaki dari perusahaan.”
Tak ada yang berani menentang keputusan Pak Reza. Pihak perusahaan segera mengirimkan pemberitahuan pada warga. Ternyata proyek pembuatan mall itu akan dilakukan di wilayah Kampung Guyub Asri. Itu berarti bahwa, kampung tersebut akan segera mengalami penggusuran.
“Baiklah, kita sudah kirimkan surat pemberitahuan untuk warga kampung. Kita tinggal menunggu bagaimana reaksi mereka. Setelah itu, beberapa hari lagi kita laksanakan penggusuran.”
“Baik, Pak.”
Sementara itu, warga kampung mulai resah setelah mendengar berita penggusuran itu. Mereka berkumpul di balai desa untuk membahas hal itu bersama ketua RT/RW.
“Bagaimana ini, Pak? Bila kampung ini benar-benar digusur, lantas mau dibawa ke mana nasib kami ini?”
“Iya, Pak, mereka tidak bisa seenaknya mengganggu ketenangan kampung kita.”
“Betul, Pak.” Warga nampak kesal dan bingung, terdengar suara ricuh protes warga di sana-sini.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, tolong tenang dulu. Di sini kita berkumpul untuk mencari solusi, bukan membuat keributan semacam ini. Saya sebagai ketua RT di sini hanya bisa memfasilitasi untuk menyatukan pendapat dari Bapak, Ibu, dan warga sekalian.”
“Pak, perusahaan itu hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri. Mereka tega merampas hak kita sebagai sesama manusia.”
“Ya, Pak, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan nasib kita sekarang?”
Setelah bermusyawarah, berbicara panjang lebar, mereka mengambil keputusan untuk melakukan demonstrasi. Mereka menuntut pihak perusahaan agar tidak jadi melakukan penggusuran. Meskipun pihak perusahaan berjanji akan memberi uang ganti rugi, warga merasa uang ganti rugi tidaklah cukup untuk menggantikan tempat tinggal mereka yang telah mereka tinggali selama berpuluh-puluh tahun, maupun untuk menopang kehidupan mereka selanjutnya. Kenyataannya memang uang ganti rugi itu tidak seberapa, karena perusahaan tidak mau mengeluarkan uang terlalu banyak.
Demonstrasi di depan perusahaan berlangsung ricuh. Warga terus berteriak dan menjerit menuntut hak-hak mereka. Dengan membawa berbagai properti seperti poster dan papan bertuliskan jeritan hati mereka, warga Kampung Guyub Asri tetap pantang mundur hingga mendapat respons positif dari pihak perusahaan.
“Tolak Penggusuran Kampung Kami!”
“Kami warga kampung yang sudah bertahun-tahun di wilayah itu. Jangan ambil rumah kami. Jangan rusak kehidupan kami.”
“Kami rakyat kecil juga manusia. Kami tidak ingin ditindas, kami juga punya hak.”
Pak Reza yang mengetahui tentang demonstrasi itu tidak peduli dengan jeritan para warga. Ia berpikir mereka tidak akan bisa bertindak lebih dari itu, karena mereka hanya rakyat kecil yang tak punya cukup daya untuk menentang keputusannya dan melawannya. Pak Reza justru mengirimkan para preman sewaannya untuk mengatasi demonstrasi itu. Alhasil, banyak warga yang mengalami luka-luka.
Saat waktu penggusuran tiba, warga akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. Mereka telah kehabisan tenaga untuk berupaya melawan pihak perusahaan. Sudah jatuh banyak korban akibat penggusuran paksa itu. Warga kampung terpaksa merelakan Kampung Guyub Asri hanya tinggal nama, serta mereka harus kehilangan tempat tinggal mereka. Mereka hanya berpikir bahwa bagaimanapun kehidupan akan terus berlanjut.
Sebagian warga pergi ke tempat kerabat mereka, ada pula yang memilih merantau ke daerah lain, tak sedikit dari mereka yang akhirnya hidup terlunta-lunta karena tidak dapat mencari tempat tinggal baru.
Sementara itu, proyek pembangunan mall terus berlangsung. Pihak perusahaan merasa menang dan merayakan keberhasilan mereka dalam proyek itu meskipun di atas derita orang lain. Bagi mereka yang terpenting adalah keuntungan dan kekayaan duniawi.
Beberapa bulan kemudian, tanpa disadari beberapa orang dalam perusahaan itu termasuk Pak Reza terlibat dalam kasus suap dan proyek konstruksi ilegal.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Tidak, saya tidak ingin masuk penjara.”
“Anda harus kami tangkap, ikut kami sekarang!”
“Tidak, ini tidak mungkin. Saya tidak mau.”
“Bila Anda tidak ingin masuk penjara, seharusnya Anda berpikir dulu sebelum berbuat kesalahan. Koruptor seperti Anda ini memang harus dihukum seberat-beratnya supaya lekas sadar.”
“Tapi, Pak, ini mungkin kesalahpahaman. Jangan bawa saya! Saya bisa bayar berapapun.”
Pak Reza dan beberapa rekan kerjanya yang lain akhirnya harus mendekam di penjara. Seluruh harta kekayaannya disita oleh pihak bank. Sekarang ia tak memiliki apa pun, bahkan tak sanggup membayar pengacara. Entah sampai kapan mereka akan menghabiskan waktu di penjara.
Semua manusia diberi hak yang sama berdasar kodrat mereka sebagai manusia. Meskipun status manusia terlihat berbeda di dunia, bagi Tuhan Yang Maha Esa semua manusia itu sama. Kita sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Penting juga untuk diingat, setiap perbuatan pasti punya konsekuensi masing-masing. Jadi, harap jangan pernah bertindak tanpa dipikirkan dulu. Bagi sebagian orang menyebutkan hukum karma pasti berlaku. Bila tidak di kehidupan sekarang, mungkin di kehidupan yang akan datang.
...
Begitulah, sebuah cerita pendek buatanku yang baru saja dibaca oleh Bu Sudi—guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahku. Beberapa hari yang lalu, Bu Sudi memintaku mencoba membuat karya cerita pendek untuk mewakili SMA-ku dalam sebuah lomba karya sastra yang diadakan oleh salah satu universitas. Tema yang diminta adalah ‘Kemanusiaan’.
“Bagaimana menurut, Ibu?” tanyaku.
“Sudah, begini saja ceritanya?”
Aku mengangguk.
“Sebenarnya tulisan kamu sudah cukup rapi. Namun, akan lebih baik kalau kamu bisa menyesuaikan tema dengan realitas yang ada di negeri ini.”
“Maksudnya, Bu? Apa tulisan saya ini belum sesuai tema?”
“Dibilang sesuai, itu sudah. Ada unsur kemanusiaan yang kamu bawa. Namun, dari segi realistisnya, dalam kisah kamu ini, begitu mudah ‘si korup-korup' mendapat karmanya dan dijatuhi hukuman. Padahal, apa kenyataan di negeri ini seperti itu? Kamu tengoklah berita-berita, memberantas korupsi yang mendarah daging di negeri ini bukan semudah macam balik telapak tangan. Jangankan yang korupsi di proyek konstruksi ilegal yang lingkup kecil macam cerita kamu, koruptor andal—petinggi negeri yang makan uang negara pun licinnya bukan main. Ada saja alasan mereka bisa kebal hukum.”
Bukan main, guru Bahasa yang mau bicara fakta malah bagiku serasa ‘nyerempet’ ke politik. Pikirku, ini cerpen, Bu. Bisa jadi fiksi, ‘kan? Lagi pula, aku ingin menciptakan negeri yang ‘sehat’ dalam kisahku. Huh, apalah daya, Bu Sudi sudah berkata. Jadi, bersiaplah aku untuk revisi lagi.