Anya Variska Leksono, seorang mahasiswi semester tujuh program studi Teknik Kimia di Universitas Asmajaya. Gadis manis berlesung pipi, berambut ombak panjang yang terkuncir rapi dengan satu ikatan itu kini tengah mengikuti upacara pelepasan di Lapangan Widaya Universitas Asmajaya bersama para mahasiswa lain yang akan segera diberangkatkan ke daerah tujuan masing-masing untuk menjalani KKL.
Setelah rektor selesai memberi sambutan dan beberapa wejangan, para mahasiswa segera bergabung dengan tim masing-masing untuk persiapan keberangkatan. Tim yang terbentuk secara random dengan lintas prodi bahkan lintas fakultas diharapkan bisa mempermudah jalannya KKL yang bertujuan mengimplementasikan pengabdian mahasiswa, di mana dalam satu tim akan tergabung berbagai disiplin ilmu.
Anya kini sudah bersama tiga orang teman anggota timnya.
"Nah, akhirnya kumpul juga. Hm, mending sekarang kita perkenalan dulu satu-satu biar pada tau, mungkin cukup nama panggilan sama prodi aja. Gimana?" usul salah satu mahasiswa dalam tim itu.
Yang lain pun mengangguk sembari mengucap kata setuju.
"Oke kita mulai aja ya. Aku Haidar dari prodi Agroekoteknologi."
"Aku Sheril dari Kesehatan Masyarakat."
"Aku Irfan, prodi Fisika."
"Aku Anya dari prodi Teknik Kimia."
"Oke deh, udah pada tau nama sama prodi masing-masing kan. Eh eh tapi tunggu deh, kita perasaan harusnya gak cuma berempat deh. Iya gak sih?" tanya Haidar.
"Iya harusnya sih berlima kayaknya," tukas Sheril.
Tiba-tiba muncul satu mahasiswa laki-laki di tengah kebingungan mereka.
"Sorry semuanya, maaf telat nih, tadi habis dari toilet," ucap lelaki itu.
"Nah, ini dia orangnya. Jadi lengkap sekarang ya?" sahut Haidar.
Semuanya terdiam sesaat begitu Anya bertemu pandang dengan lelaki itu. Hanya beberapa detik saja dan pecahlah adu mulut antara mereka.
"Kamu??" seru Anya kaget.
"Eh loh kok kamu di sini? Ngapain?" sahut lelaki itu.
"Ya menurut kamu ngapain? Mau KKL lah. Kayak gitu kok pake ditanya."
"Apa ini? Maksudnya kita satu tim KKL gitu?"
"Pikir aja sendiri, Mas!"
"Kok bisa sih! Wah kacau nih, kenapa mesti satu tim sama kamu sih?"
"Eh maaf ya, Mas Aaron yang terhormat, kamu pikir aku mau satu tim sama kamu! Huh, dulu padahal udah sempet berdoa biar gak liat muka kamu lagi. Ternyata doa aku gak terkabul."
"Gak cuma kamu ya, aku pun heran. Sejak waktu perpisahan SMA dulu, itu aku harap jadi pertemuan terakhir aku sama kamu. Tapi kenapa sekarang kita bisa ketemu lagi? Satu tim pula di KKL. Aku gak terima ini."
"Aku juga gak sudi kali!"
"Jadi kalian berdua ini udah saling kenal? Dulu kalian satu SMA?" sela Irfan.
"IYA!!" sahut Anya dan Aaron bersamaan.
"Wah wah kompak bener. Napa dari tadi pake ribut sih? Anggep aja sekalian reuni ya kan?" sindir Haidar.
"NO!" sahut Anya dan Aaron bersamaan sekali lagi.
"Tuh kan. Kompak banget. Udah deh, gak usah ribut-ribut lagi ya!" kata Haidar.
Mereka pun berangkat ke daerah tujuan KKL. Anya dan Aaron terpaksa menerima bahwa mereka harus jadi satu tim. Bukan tanpa alasan mereka ribut begitu bertemu lagi setelah sekian lama. Anya dan Aaron sudah jadi rival sejak SMA. Dari kelas sepuluh, mereka bersaing dalam segala hal. Baik dalam nilai pelajaran, peringkat di kelas, perebutan posisi ketua OSIS, bahkan untuk perlombaan kecil di sekolah sekalipun saat kegiatan class meeting.
"Kali ini aku yang menang kan?" ucap Aaron.
"Eh gak bisa gitu, liat ke belakang deh. Waktu ulangan harian kemarin kan nilai aku juga lebih bagus dari kamu. Jadi kita sekarang masih seri dong."
"Hm, okelah. Kita buktiin aja di ulangan yang selanjutnya."
Seringkali mereka selalu seri, itu sebabnya mereka selalu ribut menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Pernah waktu pemilihan ketua OSIS, hasil mereka pun seri. Itu lalu memicu keributan lagi di antara mereka.
"Jadi hasil akhir pemilihan, posisi pertama diduduki Anya dan Aaron dengan perolehan nilai sama, mereka seri, dilanjutkan posisi kedua dan ketiga berturut-turut jatuh ke kandidat atas nama Jihan dan Raga," terang ketua panitia pemilos.
"Jadi gimana nih hasil akhirnya?"
"Karena Anya dan Aaron di posisi pertama, otomatis yang menjadi ketua OSIS adalah salah satu di antara mereka. Untuk penentuannya mungkin bisa kita lakukan pemilihan ulang untuk mereka atau untuk menghemat waktu, adakah kesepakatan antara Anya dan Aaron, barangkali siapa yang bersedia jadi ketua dan siapa yang jadi wakil ketua."
"Kalo gitu, saya aja yang jadi ketua. Saya kan laki-laki. Biar si Anya jadi wakil aja," tukas Aaron.
"Gak bisa gitu dong! Enak aja. Emang perempuan gak bisa jadi pemimpin apa?" sahut Anya tak terima.
"Yah terus mau gimana lagi? Udah terima aja napa sih!"
"Emang kamu yang berhak nentuin? Gak adil banget ih."
"Heh ini juga biar menghemat waktu. Lagian gak mungkin juga aku yang jadi wakil dan kamu yang jadi ketua."
"Kenapa gak mungkin?"
"Yak gak ada jamannya cowok bisa tunduk sama cewek."
"Ih siapa bilang? Bisa aja lah. Kamu aja yang belagu gak mau ngalah sama cewek, dasar pengecut!"
"Eh kamu ngatain aku apa tadi?"
"UDAH CUKUP-CUKUP!!" teriak ketua panitia dari pihak guru melerai. "Kalian ini udah SMA tapi masih suka ribut aja kayak anak kecil. Bapak udah perhatiin dari dulu kalo ada kalian pasti ada keributan. Bener-bener kayak anjing sama kucing."
"Maaf Pak, tadi Aaron dulu yang mulai," sahut Anya.
"Loh kok aku sih? Anya yang gak mau ngalah dan ngata-ngatain saya tadi Pak."
"Itu gara-gara kamu yang mulai tau!"
"Ealah cukup-cukup! Kalian mau minta maaf tapi ribut lagi. Bener-bener deh. Sekarang bapak yang ambil keputusan, di antara Anya dan Aaron, gak ada yang jadi ketua OSIS. Jadi untuk jabatan ketua OSIS periode tahun ini jatuh ke tangan Jihan sebagai yang menempati posisi kedua."
"Loh tapi Pak?" sergah Aaron.
"Pak, kok gitu sih?" Anya pun ikut.
"Keputusan ini udah mutlak. Kalian berdua nih harusnya introspeksi diri! Gimana mau mimpin OSIS sekolah ini kalo kerjaan kalian tuh ribut aja?"
---
Mereka berlima sampai ke sebuah desa yang jadi tempat KKL mereka.
"Oke semua, kita udah sampe nih. Kita bisa mulai pikirin rencana-rencana yang udah kita susun sebelumnya buat desa ini. Biar cepet bisa direalisasiin," kata Haidar.
"Bener tuh, tadi udah tau asal prodi masing-masing kan? Biar lebih mudah kerja sama dan terapin ilmunya," lanjut Sheril.
"Eh iya tadi si Aaron belum perkenalan kan? Karena tadi ada sedikit kesalahan teknis. Hehe. Bisa kenalan dulu ya Ron! Aku Haidar anak Agroekoteknologi, ini Sheril dari Kesehatan Masyarakat, terus ada Irfan prodi Fisika, dan ehm yang tadi ribut sama kamu udah tau sendiri kan ya?"
"Oke, aku Aaron dari prodi Teknik Lingkungan."
"Nah, clear sekarang. Kita bisa mulai atur waktu kita dan bagi-bagi tugas."
Mereka pun memulai pekerjaan mereka di hari pertama. Setelah melakukan pengamatan ulang kondisi desa tersebut dan mengorek informasi dari masyarakat serta kepala desa terkait, akhirnya mereka bisa membagi tugas.
"Gitu ya guys, aku rasa itu pembagian yang tepat," ungkap Haidar.
"Boleh-boleh," setuju Sheril.
"Loh kok aku sama dia sih? Gak mau ah," tolak Aaron.
"Udah deh terima aja. Kali aja kalian bisa baikan. Lagipula disiplin ilmu kalian tuh cocok banget, Tekim sama Tekling. Kalian bisa wujudin instalasi limbah yang baik buat desa ini."
"Aku ngerti, Dar. Tapi sampe kapan pun aku gak bakal baikan sama dia. Aku rasa kalo kami kerja bareng malah jadi berantakan deh. Mending aku sendiri aja," terang Anya.
"Gak bisa gitu, Nya. Lagipula tugas ini terlalu berat kalo dipikul sendiri. Mungkin Aaron bisa bantu kamu kan?"
"Eh cewek belagu, emang kamu pikir aku juga gak bisa kerja sendiri apa?"
"Udah-udah! Ini udah fix ya. Aku gak mau ada ubah-ubah lagi. Aaron, Anya, kalian coba dulu deh ya!"
Anya merasa begitu sial, sudah satu tim dengan Aaron, kini ia juga harus mengerjakan suatu proker hanya berdua dengan Aaron. Hari-hari melelahkan baginya akan segera dimulai.
Benar saja, di hari kedua mereka bekerja. Cek-cok antara mereka semakin nyaring saja. Teman-teman anggota tim mereka yang lain sampai tak habis pikir bagaimana membuat mereka akur barang beberapa hari demi proker berjalan baik. Haidar, Sheril, dan Irfan, hanya bisa geleng-geleng kepala.
Jika bukan karena proker dan KKL yang begitu penting ini, Anya pasti sudah memilih mundur dan lebih baik pulang ke kota. Ia tak sanggup menghadapi sikap Aaron. Sama halnya dengan Aaron, ia pun juga beranggapan demikian pada sikap Anya.
Proker instalasi limbah tetap berjalan meski diwarnai berbagai perselisihan. Tak masalah selama Aaron dan Anya masih merasa proker ini sebagai prioritas dan bisa sedikit meredam ego masing-masing atau pun nafsu masing-masing untuk menjadi rival. Karena di sini mereka harus bekerja sama bukan bersaing.
---
Di hari ketiga, semua tetap bekerja pada tugas masing-masing. Namun sore itu, perdebatan Aaron dan Anya membuat Anya hampir celaka. Aaron yang melihat Anya jatuh tersungkur bukannya menolong malah justru menyumpahinya.
"Makanya jadi cewek gak usah banyak petingkah, kualat sendiri kan tuh."
"Ih dasar cowok aneh. Gak berkemanusiaan banget," ucap Anya sambil kesakitan.
Irfan yang melihat kejadian itu langsung sigap membantu Anya bangun.
"Astaga Nya, kok bisa jatuh begini sih? Ayok aku bantuin bangun."
"Ahh," Anya mengaduh.
"Ternyata kaki kamu luka, Nya. Ayok Nya, pelan-pelan, biar aku bantu obatin kaki kamu."
Irfan mengobati luka di kaki Anya dengan telaten.
"Makasih banyak ya, Fan."
"Sama-sama Anya. Lagian kok kamu bisa begini sih? Apa Aaron nyakitin kamu? Tadi dia bahkan gak mau nolongin kamu."
"Sebenernya ini gara-gara aku yang kurang hati-hati aja. Tadi waktu lagi ribut sama Aaron, aku gak liat-liat kondisi jalan di belakang aku. Jadi kepleset deh."
"Hm gitu, lain kali hati-hati ya Nya! Lagian kamu kerjaannya ribut mulu sama Aaron sih."
---
Di malam hari keempat mereka, akhirnya mereka punya waktu istirahat sejenak. Sejauh ini mereka tinggal mengecek progress proker mereka. Warga desa yang mereka berdayakan untuk ikut membangun desa sungguh mempermudah tugas pemberdayaan masyarakat mereka, warga desa bisa bekerja sama baik dengan mereka.
Irfan yang melihat Anya di luar pondok malam itu pun menghampirinya.
"Anya.."
"Eh, Irfan."
"Kamu kok sendirian di sini? Apa gak kedinginan? Udah malem loh."
"Gapapa kok Fan. Gak dingin kok."
"Ini buat kamu, Nya," Irfan menyerahkan segelas kopi hangat pada Anya.
"Makasih Fan."
"Kalo gitu biar aku temenin kamu di sini ya."
"Hm, terserah kamu aja deh."
Irfan mulai mengajak Anya mengobrol.
"Gimana proker kamu, Nya? Baik kan?"
"Iya. Semua lancar kok."
"Syukurlah. Aku gak habis pikir sih, dari awal kamu sama Aaron tuh ribut mulu, gak ada akur-akurnya."
"Udah deh Fan, aku males bahas orang itu. Intinya aku sama Aaron dari SMA selalu jadi rival dan seterusnya bakal begitu."
"Hm oke-oke. Oh ya, Nya. Kamu kan anak Tekim nih, gimana Tekim menurut kamu? Jujur dulu aku sempet mau masuk prodi itu juga tapi, ya aku tersingkir, hehe. Sekarang jadi nemplok di Fisika deh."
"Oalah, kalo boleh jujur jadi anak Tekim tuh satu kata sih buat aku, 'capek'. Aku sebelumnya juga gak ngebayangin bakal se-hectic itu."
"Iya Nya, aku juga sering denger-denger soal anak Tekim. Kamu harus 'strong' dong Nya!"
"Hehe, bisa aja kamu Fan. Tapi btw, Tekim juga gak jauh-jauh dari Fisika loh. Padahal waktu SMA tuh aku lebih suka Kimia daripada Fisika. Tapi ternyata takdir berkehendak lain."
"Oh gitu ya. Tapi banyak yang bilang kalo Tekim itu ilmunya universal, kayak segala ilmu teknik tuh ada di Tekim."
"Iya bener kok. Makanya bisa kebayang capeknya kan?"
"Haha iya yaa. Tetep semangat ya Nya! Kamu pasti bisa! Ngomong-ngomong aku seneng bisa punya kenalan temen anak Tekim."
---
Perhatian Irfan tak sebatas itu. Makin hari makin terlihat begitu perhatiannya Irfan pada Anya. Itu pun bukan tanpa alasan. Terbukti di malam hari ketujuh di desa, Irfan memilih bicara serius pada Anya.
"Hai Nya!"
"Eh halo Irfan."
"Boleh aku bicara sama kamu?"
"Bolehlah Fan, kok pake izin segala? Ngomong aja kali!"
"Sebenernya aku-- aku suka sama kamu, Nya. Kamu mau jadi pacar aku?"
"Haha, apaan sih Fan? Gak usah ngaco deh."
"Aku serius Anya, aku udah suka sama kamu sejak kita pertama kali ketemu di Lapangan Widaya waktu itu."
"Aduh Irfan. Gimana ya? Maaf banget, Fan. Hm, sebelumnya makasih buat segala perhatian kamu ke aku selama ini. Tapi aku gak bisa kasih kamu harapan palsu. Percuma kalo aku paksa terima kamu tapi aku gak punya perasaan apa pun buat kamu. Kamu memang baik, Irfan. Tapi kita cukup temenan aja ya."
"Kamu tolak aku? Nya, kenapa gak bisa?"
"Irfan, lagipula kita cuma sepuluh hari di sini dan setelah itu kita gak akan ketemu lagi kan?"
"Anya, kita bakal ketemu lagi kok. Gak masalah kalo aku bolak-balik ke Tekim buat ketemu kamu. Lagipula jarak gedung FSM ke gedung Teknik gak begitu jauh kan?"
"Irfan ... "
---
Esok paginya di hari kedelapan, mereka berlima berkumpul untuk membicarakan penutupan proker. Pengabdian yang mereka kerjakan hampir finishing. Proker instalasi limbah, mengajar anak-anak desa, memberi penyuluhan pada warga terkait kesehatan dan budidaya 3M untuk mencegah penyakit, serta seminar mengenai tips bercocok tanam yang baik bagi para warga tani, semua telah berjalan.
"Akhirnya, kita tinggal dua hari aja di sini. Makasih buat kerja sama kalian selama beberapa hari ini ya," ungkap Haidar.
"Hm, kalo bukan terpaksa mana mau aku sama ... "
"Aaron, maksud kamu apa nih? Mau ngajak ribut lagi? Kamu pikir kamu doang yang gak suka, aku juga ogah kali."
"Ron, gak usah cari ribut lagi sama Anya napa sih?" tukas Irfan.
"Hm, ya yaa. Ada yang belain sekarang. Mentang-mentang baru jadian. KKL bukannya fokus kerja malah bucin aja," sindir Aaron.
"Maksudnya apa nih?" tanya Anya heran.
"Gak usah belaga polos deh, aku liat sendiri kok semalem kalian berduaan pake peluk-peluk segala lagi," sahut Aaron.
"Kamu salah paham Ron. Aku memang semalem nembak Anya. Tapi.. Dia nolak. Dan kami tetep sepakat berhubungan baik sebagai temen," jelas Irfan.
"Makanya Ron, kalo nguntit tuh jangan setengah-setengah," sindir Haidar.
"Hah, aku gak nguntit kok. Gak sengaja liat aja."
"Tapi Aaron, kalo memang mereka mau jadian terus kenapa? Sah-sah aja kan! Kok malah kamu yang sewot? Jangan-jangan kamu cemburu ya?" terka Sheril.
"Ih mana ada? Cemburu sama mereka? Idih, itu hal mustahil yang gak bakal terjadi."
---
Pada hari kesembilan, terjadi hal tak terduga. Aaron sempat mengalami cidera di tengah hutan saat ia sedang mendokumentasikan kondisi desa untuk tugas khusus dari prodinya. Kebetulan saja, Anya ada di sekitar sana setelah mengecek prokernya dan Anya mendengar suara minta tolong Aaron.
"Aaron, kamu kok bisa di situ?"
"Pake nanya segala. Aku jatuh tadi."
Karena tak tega, Anya pun menolong Aaron. Ia membantu Aaron bangun dan terlepas dari jeratan ranting-ranting pohon. Anya pun membalut luka di tangan Aaron dengan sapu tangannya.
"Hm, Nya. Makasih.."
"Wah sekali seumur hidup aku baru denger seorang Aaron Nathaniel bilang makasih ke aku."
"Anya, please deh. Aku tuh bukan mau cari ribut."
"Iya deh iya. Lagipula aku cuma kebetulan lewat sini. Aku nolongin kamu atas dasar kemanusiaan aja kok."
"Nya, bisa gak kalo kita gak usah ribut lagi? Aku capek Nya. Lagipula masa putih abu-abu kita udah lewat, kita udah dewasa. Apalagi yang buat kita bersaing? Kita pun beda prodi sekarang, mau jadi rival sampe kapan?"
"Kamu kesambet apa? Kita memang rival seumur hidup kan? Dari dulu kita selalu seri. Semua baru bisa clear kalo ada yang menang."
"Kalo aku bilang kamu yang menang gimana Nya? Kamu menang. Karena kamu udah berhasil buat aku luluh dan aku jatuh cinta sama kamu. Jujur aku memang cemburu waktu aku pikir kamu udah jadian sama Irfan Fernanda. Kita bisa mulai hubungan yang baru kan? Aku gak mau ribut lagi sama kamu. Kita akhirin semua persaingan di antara kita."
... ... ...
Di hari kesepuluh, mereka pamit pada semua warga desa. Sebelum mereka berangkat kembali ke kota, warga desa menjamu mereka dengan begitu istimewa meski di tengah kesederhanaan. Bisa dibilang KKL mereka kali ini sukses.
Sekitar pukul empat sore, mereka sampai di Lapangan Widaya.
"Anya, kamu mau ke mana?"
"Apa sih Ron? Aku mau ke kampus aku lah."
"Mau aku anter?"
"Gak usah. Kamu apaan sih? Orang kampus aku cuma di belakang gedung ini doang."
"Eh iya yaa. Aku lupa. Sorry deh. Ehm, Nya, soal pertanyaan aku waktu di hutan itu ... "
"Aaron, maaf ya. Aku gak bisa bilang apa-apa. Kalo kamu mau damai, oke. Kita bukan rival lagi karena memang gak ada yang bisa kita jadiin bahan persaingan lagi. Tapi soal yang lain, aku masih belum mau mikirin itu. Aku mau fokus kuliah dulu. Kuliah di Tekim gak gampang."
"Oke Anya. Aku ngerti. Kamu tenang aja. Aku bakal nunggu kamu, aku bakal terus jaga hati kamu sampe gelar S.T. tersemat di nama kamu. Dan setelah itu, kalo kita jodoh, Tuhan pasti kasih jalan buat aku biar bisa dapetin hati kamu dan nantinya orang bisa panggil kamu dengan sebutan Nyonya Aaron Nathaniel."
"Hah.. Kita liat aja nanti ya! Daa Aaron."
"Sampe ketemu lagi calon takdirku!!"
Yah.. This is RIVALOVA, kisah rival yang berubah jadi cinta antara Anya Variska Leksono dan Aaron Nathaniel.