-Ada yang ingin menyelamatkan dunia, tapi dunianya sendiri tidak terselamatkan.-
Seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun sejak dulu punya cita-cita mulia yaitu menjadi seorang relawan. Namun untuk mencapai tujuan mulia itu banyak hal yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Termasuk melunasi hutang keluarga agar suatu saat dapat dengan tenang pergi kemana saja ia mau tanpa memikirkan beban lagi.
Namun entah sejak kapan ia tak pernah lagi mengirim uang dari gajinya ke kampung halaman dan lebih parahnya sekarang gadis itu sedang dililit hujang pinjol (pinjaman online). Ia terus menerus menulis pengeluarannya untuk mengetahui dimana letak titik salah dalam perputaran uang yang dia kelola.
“Tunggu, saat itu utangku hanya 3 juta, lalu..”
Lagi-lagi Kimi mencoba mencari titik start kehancuran hidup. Awal mula memang wanita itu telah ditipu oleh seorang teman. Yang katanya minta tolong pinjam uang sebanyak 3 juta rupiah sementara saat itu Kimi sama sekali tidak memegang uang sepeser pun dan pembayaran uang kuliah sudah dekat namun yang ia tahu temannya yang bernama Luan ini adalah orang baik. Maka Kimi mengambil jalan pintas yaitu dengan meminjam dari pinjaman online.
Salahnya, Kimi malam itu tidak memperhatikan detail jelasnya tempo waktu yang diberikan oleh aplikasi tersebut. Yang wanita itu baca adalah tempo waktu 60 hari. Sementara 60 hari yang dimaksud adalah 15 hari x 4. Setelah menekan tombol setuju dan sedang proses pencairan barulah Kimi menyadari tempo waktu yang ia perkirakan ternyata salah.
“Aduh, matilah aku.”
Ting!
Pesan masuk. Uang sejumlah 3 juta rupiah masuk ke rekening milik Kimi. Dengan cepat ia mengirim pesan pada Luan temannya itu.
“Aku bisa kasih pinjam 3 juta Luan, tapi jangka waktunya 15 hari ya.. ini aku bantu dari aplikasi pinjol, nanti bunganya biar aku saja yang bayar kamu bayar pokoknya saja ya..”
Kimi mengirim pesan dan mendapat balasan dari Luan. “Iya, Mi. Makasih ya.. kalau bukan untuk pengobatan ibu aku nggak mungkin nyusahin kamu juga.”
Ya.. karena alasan orang tua yang sakit lah makanya Kimi mengambil keputusan paling ceroboh seumur hidup.
Dua minggu pun berlalu, Kimi terus dihubungi oleh pihak aplikasi berulang kali. Tak kalah banyak, Kimi juga terus-terusan menghubungi Luan tapi tidak direspon sama sekali.
“Luan.. sudah jatuh tempo, tolong dibayar."
“Luan.. halo”
“Luan.. jangan lupa ya.. “
Karena terus didesak dan diancam akan disebar data oleh pihak penagih, Kimi pun membayar tagihan dari gajinya yang sebelumnya sudah ia hitung untuk membayar uang kuliah.
Sebulan berlalu, Kimi sudah menalangi cicilan tagihan 2 kali. Lalu pendapat pesan dari Luan.
“Maaf ya Kimi, aku bukannya mau lari dari tanggung jawab tapi seharusnya kau mengerti posisiku. Aku sedang sekarat dalam keuangan ibuku juga lagi sakit. Tolong pengertiannya, jangan ganggu aku dulu (emot menyembah).”
Kimi menggigit jempol, leher belakangnya terasa dihantam oleh sesuatu, kepala Kimi terasa berat. Tapi ia memutuskan untuk memahami Luan. Lalu gaji berikutnya ia gunakan untuk menalangi cicilan tagihan yang seharusnya dibayarkan oleh Luan.
Dan sampailah dimana saat Kimi sudah selesai membayar tagihan online, kakak Kimi mengirim pesan untuk meminjam uang dengan alasan anaknya sedang sakit. Dilihatnya lagi kertas tagihan UKT yang menunggak selama dua bulan. Lalu pesan jahanam pun muncul.
*Kredibilitas anda bagus. Limitmu naik jadi 7 juta! Ambil sekarang!😍😘"
Kimi tidak punya jalan lain selain mengklik setuju saat itu. Dengan bunga pinjaman yang besar ia nekat demi menyelamatkan apa yang ia perjuangkan selama ini. 7 juta pun masuk dalam ke dalam rekening. Tangan Kimi sampai gemetar terlebih saat melihat tagihan dalam dua minggu mendatang.
Tagihan tanggal 15 maret 2021 2.500.000
Tagihan tanggal 30 maret 2021 2.500.000
Tagihan tanggal 14 April 2021 2.500.000
Tagihan 30 april 2021 2.500.000
Kimi ingin berteriak. Tapi ia tahan karena sedang bekerja. Langkah awal yang ia lakukan adalah membayar UKT sebanyak 5juta. Dan Kimi mengirim satu juta untuk sang kakak. Sisalah satu juta lagi untuk biaya kehidupannya karena gajinya sudah habis untuk membayar tagihan Luan.
Ah, teringat dengan Luan, Kimi sudah lama tidak berkomunikasi. Kimi lagi-lagi mengirim pesan.
“Luan, uangnya sudah ada?’’
“Luan.. tolong diusahakan ya..”
“Halo.”
“Luan,”
“P”
“P”
“P”
Namun pesannya tidak pernah di baca oleh Luan. Kimi semakin merasa tercekik. Apalagi tiga hari ke depan tagihan pertama sudah jatuh tempo dan sms pemberitahuan pembayaran terus meneror Kimi. Wanita itu geram setengah mampus.
Kemudian terpikir olehnya ide gila lainnya. Kenapa aku tidak menggunakan aplikasi lainnya untuk menutup pinjaman yang ini sampai Luan membayar utangnya?
Titik puncak kehancuran pun datang menghampiri Kimi secara bertubi-tubi. Kira-kira ada 7 aplikasi yang ia gunakan untuk gali tutup lobang dengan bunga yang hampir tidak masuk akal.
Suatu malam, Kimi menghitung semua utang yang tertera dalam pada aplikasi. Entah sejak kapan total utang tersebut mencapai angka 50juta dalam waktu kurang dari 6 bulan. Mustahil bagi mereka yang tidak mengalaminya, tapi Kimi benar-benar mempunyai hutang sebanyak itu saat ini. Ia tenggelam dalam ambisi menolong.
Tiga juta yang awalnya ia pinjam untuk hal yang mulia kini Kimi mulai mengutuk sisi baik dalam dirinya. Kakaknya terus-menerus menelepon meminta uang, Kimi memblokirnya. Lalu mengirim pesan kepada Luan untuk terakhir kali sebelum Kimi memblokir pria itu.
“Persetan dengan ibumu! Matilah kau bersamanya! Makan uang itu sampai kenyang di alam baka!”
Dua bulan sudah berlalu Kimi tidak kuliah dan telah mengambil surat cuti, wanita yang dulunya selalu tersenyum itu kini terlihat lebih sering murung. Kimi jadi pendiam. Baik dilingkungan keluarga maupun pertemanan. Hanya saja ia tetap profesional dalam bekerja meski beberapa kali ia ceroboh dan menampakkan emosi yang tak wajar.
Di kost Kimi ada balkon tempat ia biasa bermain gitar dan bersantai disana. Malam ini tepat pukul 00.00 Kimi berdiri menghadap ke bawah. Kimi sedang membayangkan hal bodoh. Yaitu tentang kematian.
Sementara ditangannya terus menerus berdering panggilan masuk dari tim penagih karena besok sudah jatuh tempo.
Prangggg!!!
Kimi melempar ponsel miliknya hingga hancur parah namun tetap terus berdering. Kimi menutup kedua telinga dengan kuat. Entah sejak kapan ia merasa trauma mendengar dering ponsel tersebut. Kimi mulai berteriak histeris pikirannya mulai gelap.
Kimi menutup mata, tangannya gemetar menggenggam tembok balkon lantai 3.
“Aku mau mati.” Rintihnya pada angin malam.
Air mata Kimi lolos jatuh dari mata cantik miliknya. Tatapannya kosong. Saat ini kematian mendominasi pikirannya. Kimi benar-benar frustrasi. Dalam kegelapan itu muncul bayangan cita-cita yang selama ini ia idamkan. Suatu saat dirinya berhasil jadi sarjana, utang orang tua lunas dan jadi bagian penolong untuk orang-orang yang dunianya tidak tertolong. Anak-anak berkulit hitam di ujung bumi yang ingin sekali ia bantu supaya bisa belajar, memberi mereka minum dan pakaian. Kimi benar-benar memimpikan menjadi sosok penyelamat dunia. Tidak ingin jadi bagian besar, hanya ingin jadi sebutir pasir namun bisa membantu mengubah kehidupan dan dunia seseorang.
Nyatanya, dunia Kimi sendiri sudah hancur. Kimi kalah. Kim menangis sejadi-jadinya malam itu. Kimi sudah berjuang melunasi hutang-hutang namun ia kalah dengan waktu dan bunga pinjaman.
“SHIBAL!”
Teriaknya terakhir kali.
20 Maret 2022.
Kimi, perempuan 24 tahun meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.
*Shibal : sialan.