~Cinta Karena Pilihan-Nya~
Secangkir teh dan pemandangan lautan di Kota Tua pagi ini sangat indah dan menenangkan. Begitu dekatnya dengan segara biru itu sampai aku bisa mendengar deru ombak yang tenang menerpa bibir pantai, seolah mengajakku bercengkrama - menanyakan tentang hariku dan hidupku saat ini.
Aku teringat kisah lama tentang aku yang pernah jatuh cinta dan dijatuhkan oleh cinta itu sendiri. Tentang aku yang pernah memiliki keluarga yang bahagia meskipun kebahagiaan itu menjatuhkan harapan keluargaku sendiri.
Aku mencintai lelaki yang saat itu menempuh pendidikannya di sebuah pesantren di kotaku. Dengan didikan agama yang 'kudapatkan, jatuh cinta adalah hal yang normal, namun menjalani suatu hubugan adalah salah (pacaran). Minimnya iman dengan perasaan yang menggebu pada akhirnya membuat pemahaman keagamaanku runtuh, begitupun dia.
Kami tidak bisa menahan diri untuk tidak saling jatuh cinta, saling berbagi cerita lewat surat, dan bahkan saling mengungkapkan rindu yang menggebu dengan kalimat manis berbahasa Arab demi membungkus hubungan haram itu menjadi tampak lebih agamis dengan "uhibbuka fillah, ukhti". Iman kami terpelanting jatuh karena cinta yang menggebu di dada, bahkan surat yang saat itu hanya berbalas sekali seminggu, yang isinya bisa dijadikan buku novel jika terkumpul dalam sebulan, pun berubah ironis - berakhir dengan dia yang tiba-tiba pergi tanpa pamit.
"Sakit?" Itu pasti.
Bagaimana mungkin cinta yang saat itu sedang berada di puncak ribuan mimpi-mimpi tiba-tiba lenyap begitu saja sedang ratusan surat telah mengisi kotak masa depanku. Aku bermunajat, meminta, dan meronta pada-Nya untuk mengembalikannya, tetapi Dia adalah Maha Pecemburu. Tak ada yang bisa 'kulakukan selain diam dan menerima keadaan itu dengan ikhlas hingga beberapa tahun lamanya.
Saat itu teman sebayaku bertanya, "siapa sih dia; beberapa tahun ini kau masih menyebut namanya, padahal banyak yang antri, kenapa tidak kamu menerima yang lain saja. Karena cinta yang hilang akan terganti jika kau menerima cinta yang baru". Itu memang benar. Namun aku harus tahu penyebab hilangnya cinta itu terlebih dahulu, sehingga aku bisa memulai cinta yang baru. Sampai pada akhirnya, pertanyaan tentang "mengapa dia pergi tanpa pamit?" berubah menjadi "mungkin dia sudah mati."
Aku lalu memutuskan untuk mulai membuka hatiku lagi. Aku menyukai salah seorang senior di kampusku. Dia memiliki watak dan ciri-ciri yang persis dengannya. Aku tak tahu, apakah aku yang gagal move on ataukah kriteria lelaki idamanku memang seperti dia.
Lelaki yang baru ini adalah seorang ketua organisasi Islam yang cerdas dan berpandangan luas, seolah-olah semua kajian yang dia sampaikan tak bercacat sama sekali. Bahkan aku meluangkan waktuku yang juga disibukkan oleh kegiatan yang lain hanya demi mengikuti kegiatan yang ada dia di dalamnya. Aku kadang tertawa betapa kekuatan cinta itu tak terkalahkan dan juga membutakan. Kami rutin berkomunikasi lewat telepon. Begitu rutinnya sampai membuatku berpikir bahwa Tuhan mungkin menjauhkan cinta yang lama sebab ada yang lebih baik tengah menunggu.
Cinta yang menggebu itu kembali 'kurasakan untuk yang kedua kalinya, walaupun tanpa status, aku sudah sangat bahagia. Sampai aku berpikir bahwa "dia adalah lelaki soleh yang mengerti bahwa menjalin hubungan itu haram, jadi dia hanya sebatas memberi hubungan untuk saling mengenal dan mendekat." Namun kenyataannya tidak seperti itu. Sebab di balik kata-kata manisnya itu ada kalimat bahwa "dia sedang menjaga perasaan wanita lain".
"Sakit?" Sekali lagi, itu pasti.
Bagaimna mungkin aku tidak menyadarinya. Apakah aku yang terlalu bodoh sampai bisa dikelabuhi sedemikian rupa dengan banyaknya hadis, dalil, ayat yang dia tuturkan dengan sangat bijak sampai pada akhirnya dia menelanjangi semua penjelasan itu sendiri. Aku lama terdiam, dan aku memutuskan untuk pergi dari organisasi yang dia naungi itu. Aku sadar bahwa aku lah yang salah sejak awal karena masuk organisasi itu demi dirinya.
Setelah sakit yang kedua kalinya, aku memutuskan untuk fokus pada pendidikanku yang tak lama lagi selesai; sedikit lagi aku akan menyandang gelar. Namun sebelum itu, aku harus melalui penderitaan yang sama seperti mahasiswa lainnya: merevisi, mengejar dosen, begadang, dan sampai pada titik akhir - ujian tutup.
Karena waktu wisuda masih cukup lama, aku pun mencoba untuk menyibukkan diri - mencari pekerjaan untuk menghindari kata "stay at home". Situasi rumah yang bising karena pertengkaran tak bisa menolongku untuk tetap waras. Tak lama waktu berselang, aku akhirnya diterima untuk menjadi seorang guru magang di salah satu SMA di kotaku.
Aku menikmati hari-hariku bertemu dengan para siswa yang usianya tak berjarak jauh denganku. Gombalan sudah menjadi makanan sehari-hari dari mereka yang di usianya begitu mudah kagum dengan hal-hal yang kecil. Ditambah lagi beberapa keluarga mulai tertarik untuk menjadikanku menantu mereka, sampai hari itu pun tiba. Aku akan dinikahkan dengan pria yang baru 'kutemui sekali. Aku tak tahu banyak tentangnya, namun saat itu aku berpikir bahwa "inilah yang terbaik atas pilihan-Nya. Mungkin jatuh cinta dengan pria yang menjadi pendamping hidup secara sah adalah cinta yang sebenarnya. Sebab dia tidak akan pergi dan tidak akan menyakiti.".
Jatuh cinta adalah hal yang lumrah, tetapi jangan sampai hal tersebut membuat dirimu terhanyut hingga kau berpikir bahwa dia adalah segalanya. Cinta itu wajar, tetapi jangan pernah menentukan bahwa dia lah yang terbaik, karena rasa sakit terburuk adalah ketika seseorang membuatmu merasa istimewa kemarin namun membuatmu merasa tak diinginkan hari ini.
Sebab sebaik-baiknya rencana, ada Sutradara terhebat yang mengatur segalanya.