#Ceritacinta *YANG TAK TERBACA*
_"KAMU seharian di depan laptop mulu,”_ katanya.
Aku hanya tersenyum saat kalimat itu dia lontarkan.
Panggil saja dia Mas Dika. Dia adalah seorang yang ditunjuk oleh kedua orang tuaku untuk menjadi imam - orang yang bertanggung jawab penuh atasku.
Perkenalan kami tak begitu lama. Ketika kami saling mengenal baik-buruk satu sama lain, pola pikir yang terdengar di antara kami begitu seadanya. Namun, kami akhirnya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk lanjut ke jenjang berikutnya dengan komitmen membangun rumah tangga yang Islami.
Kami menikah saat usiaku masih menginjak 21 tahun (dan dia berusia 22 tahun). Kebetulan waktu itu kami baru menyelesaikan ujian akhir skripsi.
Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana senyum keluarga kami, terutama ayah-ibuku terukir saat upacara sakral itu dilangsungkan. Sama seperti yang orang lain katakan: pengantin baru itu membahagiakan.
Aku pun mengikuti Mas Dika pindah ke kota sebelah - di daerah tempat tinggalnya yang berjarak dua belas jam perjalanan darat dari rumah kedua orang tuaku. Meskipun cukup jauh dari keluarga, aku tetap merasakan kekeluargaan yang sangat hangat di perantauan.
Aku tak khawatir di tahun-tahun awal kami sebagai pasangan sah karena semua fasilitas yang kami butuhkan ditanggung oleh orang tua Mas Dika yang _notabene_ merupakan keluarga mapan, meskipun banyak perbedaan-perbedaan yang membuatku dan Mas Dika syok ketika kami telah tinggal di bawah atap yang sama, entah itu hobi, kebiasaan, dan yang lainnya.
Seiring waktu berjalan keadaan berubah lebih sulit dari biasanya, terutama karena tuntutan orang tua dan keluarga kami. Sebab tiga tahun pernikahan belum cukup membuat kami bisa dikaruniai seorang anak. Kami sudah berusaha berobat dan memeriksakan diri secara berkala di rumah sakit, baik dalan maupun luar kota, dengan harapan kami akan mendapatkan kabar baik yang lama kami tunggu-tunggu itu, namun hasilnya tetap nihil.
Tak terhitung berapa cara yang kami lakukan demi mendapatkan calon buah hati kami, mulai dari pengobatan tradisional, tonik, ramuan herbal, berolahraga, dan juga menjaga pola makan dan tidur. Semuanya kami lakukan. Tidak! Bukan kami, tapi aku.
Sayangnya, terlepas dari usaha keras yang aku lakukan, semua kesalahan tetap dilimpahkan kepadaku. Keluarga Mas Dika mencurigaiku sebagai penyebab dari masalah ini. Mereka mengungkit-ngungkit masalah keluargaku, di mana ibuku yang pernah menanti kehadiranku begitu lama di dunia. Walaupun aku sudah memperlihatkan hasil tes dari rumah sakit bahwa tak ada yang salah denganku, tetapi tak ada yang mengindahkanku.
Aku salut, di balik keluarga Mas Dika yang menaruh curiga itu, dia tak pernah berkata kasar padaku, hanya sesekali menyinggung dan menggores hatiku. Kami tetap ikhtiar sampai pada kalimat: “sudahlah, kalau rezeki ngga bakalan kemana, mungkin Allah belum memberi agar kita bisa lebih baik lagi.”
Kami pun mulai aktif mengikuti kajian dengan harapan Tuhan bisa mengasiani keluarga kami. Setelah mengikuti beberapa kajian keagamaan, Mas Dika semakin menjadi seorang imam yang taat. Aku bersyukur untuk itu. Namun ada sesuatu yang berat di hatiku, yang sulit aku jelaskan.
Aku sering, sepulang kerja, mengajaknya bercerita bersama, namun dia selalu menegurku bahwa itu dosa. Ketika aku menggunakan pewarna bibir, dia selalu mengatakan bahwa _“itu tabarruj, mending ngga usah pakai”._ Ketika aku membeli pakaian yang aku sukai, dia selalu menagatakan bahwa _“itu akan tercatat sebagai dosa”._ Ketika aku melakukan hobiku membaca novel-novel favoritku yang lama tidak aku selesaikan, dia selalu mengatakan bahwa _“membaca buku-buku fiksi adalah dosa.”_
Nyaris semua hal yang 'kulakukan di matanya adalah dosa. Namun, sebagai istri, sekali lagi aku menuruti segala yang dia perintahkan, kecuali dua: membaca dan menulis. Aku selalu diam-diam membaca buku-bukuku di tempat kerja, atau di sela-sela aktifitasku di rumah, bahkan aku juga menyembunyikan beberapa aplikasi baca di ponselku dan menulis acak ide-ideku di beberapa buku catatanku atau mengetiknya di laptop.
Tahun berganti, pertengkaran-pertengkaran kecil tak bisa dipungkiri, kata orang itu lumrah, tapi aku yang telah dibentuk sedemikian rupa oleh pengalaman hidup semacam itu membuat mentalku berantakan, sisi agamais seperti apa yang diinginkannya pun tidak 'kumengerti, sampai dia memberikan pertanyaan yang cukup frontal: _“kamu pilih pekerjaan atau menjadi istri?”_
Pertantayaan yang sulit.
Semakin hari, ideologi keislaman kami berbeda, prinsip rumah tangga yang dia dan aku inginkan berbeda, dan selama beberapa tahun itu pun aku selalu menulis puisi untuknya, di sosial media, melalui chat pribadi tentang mengapa dan bagaimana aku, tetapi dia tidak pernah membacanya dengan alasan _"itu terlalu panjang”._ Dia selalu bersikap biasa-biasa saja tanpa merasa bahwa ada masalah dalam cara kami menjalin hubungan.
Aku meminta petunjuk kepada-Nya bahwa aku hanya ingin mencintai dengan iman yang cukup, aku tak memiliki kuasa lebih daripada itu.
Suatu hari yang tak tertahankan, kami pun memutuskan untuk hidup masing-masing; aku memutuskan untuk mundur dari hidupnya dan dia pun menyetujui itu. Mungkin terdengar simpel, namun aku nyaris kehilangan kesadaran dan kewarasanku.
Banyak kata yang kulontarkan dengan puisi yang santun hanya untuk sekedar untuk dibacanya, namun semuanya hanya dibalas dengan cuplikan ceramah dari salah satu ustad yang mengatakan, _“Jangan mengejar wanita yang meninggalkanmu, karena semakin kau kejar kau akan kehilangan harga dirimu, kamu adalah lelaki, pemimpin, jika wanita tersebut pergi maka masih banyak yang lain, yang jelas niatnya karena Allah.”_
Andai saja dia membaca semua teks panjang yang 'kukirimkan di aplikasi hijaunya tentang apa yang 'kuinginkan, tentang apa yang 'kurasakan, tentang rapuhnya imanku, tentang penjelasan, tentang mentalku, tentang hobiku, tentang makanan kesukaanku, apakah kami akan tetap berada di jalan ini?
Semuanya berlalu begitu saja. Aku mulai menggeluti karirku dan mengembangkan hobi membaca dan menulisku. Rasanya membahagiakan saat melakukan apa yang hatiku inginkan. Aku menulis tidak hanya di laptop tetapi juga di berbagai platform, meskipun banyak orang yang menganggapnya sepele. Ini bukan tentang _income_ yang akan 'kudapatkan dari tulisan-tulisan itu, namun tentang seberapa bermanfaatnya tulisan-tulisani itu pada orang lain. Seperti kata Imam Al-Ghazali: _“Jika kamu bukan anak seorang raja, atau anak seorang ulama besar, maka menulislah.”_
Meskipun terkadang aku merasa _insecure_ dengan usiaku karena aku baru memulai melakukan hobiku ini, namun seseorang menyadarkanku dengan berkata bahwa _“usia bukan tolak ukur untuk memulai kebaikan, jadilah produktif dan kamu akan mendapatkan manfaatnya.”_
Dalam tulisan ini, aku tidak membenarkan perceraian, karena setiap individu punya masalah yang berbeda-beda. Hidup itu pilihan, benar! Dan aku memilih menjadi diriku sendiri, percaya pada diriku sendiri dan ingin mencintai kekasihku Allah Azza Wajalla yang Maha Baik dengan semampuku dan dengan imanku yang tipis ini, karena aku tahu Dia adalah Maha Pemberi nilai terbaik.