*Tak Mudah Jadi Aku*
DAHULU, adikku sering mengatakan bahwa aku adalah anak terbaik di keluarga kami, karena sejak kecil aku dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin. Dia kerap membandingkan dirinya denganku bahwa dia hanya lah penggenap di keluarga kami; bahwa dia hanya lah anak manja yang hanya tahu merengek, menangis dan menuntut.
Suatu hari adikku pernah menolak saat aku hendak mengantarkannya ke sekolah. Dia menolak saat aku ingin menemaninya bertemu teman-temannya. Dia menolak saat aku ingin menghadiri pertemuan orang tua/wali untuknya ketika orang tua kami berhalangan hadir; dia lebih memilih tanpa perwakilan, daripada aku datang ke pertemuan itu.
Banyak penolakan darinya atas keberadaanku di sekitarnya, hingga aku bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu membenciku.
_“Karena ayah dan ibu lebih memilih kakak,"_ katanya, _"Karena ayah dan ibu selalu membanggakan kakak, dan karena aku tidak sebaik kakak.”_
Dia terus membandingkan dirinya dan menyalahkan yang lain. Dia seolah berpikir bahwa alasan mengapa dia tidak sepertiku adalah karena ayah dan ibu tidak mengonsumsi makanan bernutrisi ketika mengandungnya. Sering kali dia memberontak di depan ayah dan ibu. Kami sudah berusaha untuk memberinya pemahaman bahwa apa yang dia pikirkan itu salah - kami bahkan sangat menyayanginya.
Sampai suatu hari, ketika hari pengumuman peringkat tiba, kami kompak tak hadir sebagai perwaliannya di sekolah. Selain karena dia meminta agar kami tidak datang, kami sudah membuat rencana kejutan untuknya di rumah: Ibu memasak semua makanan kesukaannya. Aku membersihkan dan menata kamarnya. Sedangkan ayah sengaja mengambil cuti hari itu karena ingin memberikan waktu luang untuk adikku.
Ketika dia membuka pintu rumah dengan wajah yang lesu, aku menyambutnya dengan pelukan hangat, mengusap kepalanya dan berkata, _“Kamu sudah melakukan yang terbaik.”_ Diikuti ayah yang juga memeluknya, mencium keningnya, dan berkata, _“Kamu kebanggaan ayah.”_ Sedangkan ibu pun demikian - memeluknya, mencium kening dan pipinya, lalu berkata, _“Kamu selalu menjadi yang terbaik untuk kami, nak.”_
Begitu banyak doa dan rasa syukur yang kami taburkan dalam ucapan kami, hingga adikku menangis sesenggukan, dan meminta maaf sejadi-jadinya.
Saat adikku merasa tenang, dia bergolek di kamar tidurnya sembari memainkan ponselnya. Aku coba mendekat - ingin mendengarkan bagaimana harinya. Seperti biasa, dia hanya berbicara seadanya tanpa mau menatapku. Namun hari itu aku bersikukuh untuk tetap di dekatnya apapun yang terjadi.
_“Kamu masih marah sama kakak?”_
_“Aku tidak marah, aku hanya risih mendengar obrolan keluarga.”_
_“Obrolan apa?”_
_“Saat ibu bertemu dengan anggota keluarga yang lain, mereka pasti menanyakan kakak terlebih dahulu, dan mengabaikanku.”_
Aku terdiam mendengar keluh kesahnya itu. Aku menahan air mataku ketika mulutnya melontarkan kalimat bahwa baginya aku adalah duri yang menusuknya dari dalam. Dia bahkan berandai-andai, jika dia tidak memiliki kakak, pasti dia satu-satunya anak yang dibanggakan; untukknya aku adalah penjahat yang sebenarnya. Aku adalah manusia yang berpotensi untuk menyakitinya.
Untuk sesaat 'kutepiskan ucapannya dan mengajaknya bepergian di seputaran kota. Dia setuju. Entah apa yang membuatnya meng-iya-kan ajakanku. Tetap aku sangat senang, sebab bagiku menghabiskan waktu dengannya adalah momen yang sangat membahagiakan. Seharian kami berkeliling dan bertemu dengan teman-temanku.
Sesampainya di rumah guratan senyum tergambar di wajahnya. Bahkan aku heran melihat senyumnya yang mekar itu.
_“Kenapa?”_
_“Aku tidak menyangka kalau di mata teman-teman kakak, kakak ternyata biasa saja. Tadi banyak yang memujiku kalau aku lebih cantik daripada kakak.”_ Ujarnya penuh semangat. Dia lalu melihat pakaian yang 'kukenakan, _“Hum, sepertinya benar. Lain kali kakak harus tampil lebih keren; pakai pakaian yang lagi nge-tren.”_
Dia memang sangat menjaga penampilannya. Berbeda denganku. Demi mendapatkan pakaian _branded_ favoritnya, dia rela menunggu lama sampai tabungannya cukup untuk membelinya.
Berkebalikan denganku, aku hanya membeli pakaian seadanya - yang penting aku punya sesuatu yang bisa aku kenakan.
Suatu malam, dia pernah masuk ke kamarku dan bertanya, _“Apakah kakak pernah membenciku?”_
Saat itu aku sedang sibuk mengerjakan skripsiku. Aku lalu berbalik dan mendudukannya di hadapanku, _“Menurutmu?”_
_“Sepertinya, iya,”_ katanya.
_“Tidak sama sekali. Kamu adikku, sebagian dari jiwaku. Kamu adalah pelengkap duniaku. Selain ayah dan ibu, kamu adalah orang yang ingin aku bahagiakan. Kamu tahu, kakak seringkali menangis saat kau marah? Kakak seringkali menyalahkan diri sendiri. Tapi kakak tidak berdaya, karena kakak memikul beban sebagai anak pertama dan cucu pertama. Kamu mungkin melihat bahwa kakak selalu mendapat pujian, tetapi kamu perlu tahu bahwa pujian itu adalah beban untuk kakak. Bagi kakak, pujian sama dengan kewajiban untuk menjadi yang terbaik setiap saat dan itu tidak mudah. Sebab itu membikin kakak lupa tentang apa yang sebenarnya kakak inginkan untuk diri kakak sendiri.”_
Sesaat dia terdiam kemudian kembali memberi pertanyaan, _“Jika orag lain menjatuhkan dan berbicara buruk tentangku, apa yang harus aku lakukan?”_
_“Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan kepada kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menanggapinya. Ketika kita berpikir baik, maka kita akan mengucapkan dan melakukan hal yang baik. Tidak munafik! Cukup jangan jadi seperti mereka,"_ aku melanjutkan, _"Dan satu lagi, jadikan aku teladanmu
bukan sainganmu. Kalau menurutmu jalan yang aku lalui sesuai dengan keinginanmu, maka ikuti aku. Jika tidak, maka temukan jalanmu sendiri. Kakak akan selalu mendukungmu.”_
Dia kemudian memelukku dengan erat, aku pun begitu.