Namaku Sherila Christine, orang-orang biasa menyapaku dengan sebutan Sheril. Inilah hari-hari baruku. Aku baru saja pindah ke sekolah baru. Ada sesuatu yang terjadi sebelumnya hingga membuatku harus meninggalkan sekolah lamaku. Jika aku ceritakan secara runtut dari awal sampai akhir, tentunya akan menghabiskan banyak halaman. Tapi intinya, aku ingin memulai hari-hari yang baru. Aku ingin sukses move on dari hal-hal yang telah lalu.
SMA Rasana, itu nama sekolah baruku. Pada awal tahun ajaran baru, aku menjadi salah satu pendaftar di sekolah itu. Tak perlu banyak basa-basi, aku pun diterima. Sejak itulah, peperangan baruku dimulai.
Tak terasa sudah satu minggu hariku di sekolah baru ini berjalan. So far so good. Semua bisa kuatasi dengan sedikit lelah perjuangan baik hati maupun pikiran.
Siang ini, para siswa sedang membicarakan mengenai ekskul yang akan mereka ikuti. Di sekolah ini, tiap siswa wajib ikut ekskul paling tidak minimal satu kegiatan. Kewajiban itu tentunya juga berlaku untukku.
"Sheril, kamu mau ikut ekskul apa?"
"Uhm, apa ya? Aku juga masih bingung. Kamu sendiri mau ikut apa?"
"Aku sih pengin ikut paduan suara. Kamu mau ikutan juga? Biar kita bareng."
"Aduh Nesa, gimana ya? Aku gak bisa nyanyi, suaraku parah banget kalo disuruh nyanyi."
"Ya kan nanti di sana kita bakal dilatih sama-sama. Lama-lama pasti bisa kok."
"Gak deh. Aku gak tertarik sama padus."
"Nah terus kamu mau ikut apa dong?"
"Kayaknya aku lebih prefer ikut KIR deh."
"KIR? Aduh Sheril.. Kita mau ikut ekskul itu buat refresh otak kita dari beban belajar tiap hari. Nah kalo KIR, bukannya refresh kita malah jadi makin pusing karena mikirin penelitian juga."
"Tapi kayaknya seru tau.."
"Ahh terserah kamu deh. Tapi aku jamin deh, anggotanya pasti bakal dikit banget nanti. Temen-temen kita mana ada yang tertarik buat lebih bikin pusing diri sendiri."
"Ya kalo dikit bisa lebih bagus dong. Jadi suasananya bisa lebih kondusif."
Perdebatanku dengan Nesa pun selesai. Aku memutuskan untuk menuju ke laboratorium IPA, tempat di mana biasa diadakan pertemuan ekskul itu.
Benar saja kata Nesa. Sudah bermenit-menit menunggu, anggota di dalam laboratorium tak kunjung bertambah. Hanya ada beberapa orang, bahkan tak ada teman yang satu kelas denganku. Aku benar-benar bertemu orang-orang baru.
Pembina ekskul KIR pun datang. Beliau adalah Bu Nurjanah, guru yang mengajar mata pelajaran biologi. Bu Nur memberikan sambutannya. Beliau menuturkan segala macam kegiatan yang biasa dilakukan di ekskul KIR. Aku pun makin antusias.
Beberapa menit kemudian, datanglah sosok kakak senior kelas dua belas yang menjabat sebagai ketua ekskul KIR.
"Selamat siang temen-temen, kenalin aku Fauzan Reinhard. Di sini aku bakal bantuin kalian buat explore lebih dalem lagi minat kalian di bidang penelitian dan karya ilmiah. Semoga kedepannya semua kegiatan kita bisa berjalan lancar."
Kak Fauzan, aku harus memanggilnya dengan sapaan itu. Terkesan aneh, karena sebenarnya aku dan dia itu seumuran. Sekedar informasi saja, karena aku pindahan dari sekolah kejuruan, di sekolah baruku ini aku harus mengulang dari awal, dari kelas sepuluh. Bahkan teman sekelasku banyak yang memanggilku dengan sebutan 'kak'.
Saat itu kak Fauzan berkeliling untuk mengedarkan absensi serta form yang harus diisi mengenai identitas akun sosial media berupa akun chat seperti line, WA atau semacamnya. Itu membuatku agak sedikit down. Pasalnya, aku tak punya semua itu.
Untuk ukuran anak SMA sepertiku yang bahkan berusia jauh lebih tua, rasanya aneh kalau aku belum mengenal aplikasi semacam itu. Aku hanya memiliki ponsel jadul yang hanya bisa untuk dua fungsi pada umumnya, telepon dan mengirim pesan singkat atau SMS. Untuk membeli android, pastinya aku butuh waktu lama mengumpulkan uang. Orang tuaku bukanlah orang kaya raya yang bisa membelikan apa pun yang diinginkan anaknya. Aku pun sebagai anak juga tahu diri, tak ingin rasanya membebani mereka dengan permintaan yang aneh-aneh. Selama ini aku masih mampu mensiasati semuanya dengan tetap dalam kehidupan yang sederhana.
"Dek Sheril, kok data yang lain gak diisi?"
"Ehm maaf kak. Saya cuma ada nomer ponsel, itu pun cuma bisa dihubungin lewat telepon atau SMS."
"Oh maaf-maaf. Oke gapapa kok, gak ada masalah. Yang penting kita masih tetep bisa komunikasi."
"Iya, makasih kak."
Hari itu berakhir dengan rencana kegiatan selanjutnya. Untuk pembelajaran awal mengenai penelitian, kegiatan yang akan dilakukan di pertemuan selanjutnya adalah penanaman biji cabai. Selama proses pertumbuhan tanaman nantinya akan dilakukan penyiraman dengan media air yang berbeda-beda seperti air suling biasa, air teh, air beras, dan sebagainya. Dampak penyiraman itulah yang akan jadi bahan pengamatan untuk para anggota KIR.
---
Malam ini malam minggu. Aku seperti biasa sedang berkutat di kamar dengan kertas-kertas dan pena. Aku suka sekali menulis, baik itu cerpen atau puisi. Oleh karena itu, tiap ada waktu luang selalu kuisi dengan kegiatan menulis.
Saat sedang menuliskan satu kalimat di lembar kertas baruku, suara nada dering tanda adanya pesan masuk menginterupsi kegiatanku.
Dari : +6285727××××××
Dek Sheril? Besok kita praktikumnya hari Selasa setelah pulang sekolah. Yang harus dibawa : botol aqua bekas 3 buah (diusahakan aqua), gelas pop ice yang tutupnya cembung 3 buah. Besok Minggu kalo ada info tak kabari lagi dek.
-Fauzan-
Aku pun langsung membalas pesan darinya.
Sheril
Oh begitu kak. Itu jadinya hari Selasa? Bukan hari Senin?
Fauzan
Iya dek. Jadinya hari Selasa.
Sheril
Oke kak. Makasih infonya..
Fauzan
Iya sama-sama. Besok Selasa jangan lupa bawa bahannya dan sudah paham cara-caranya ya dek.
Sheril
Siap kak.
Aku bersyukur karena ketua KIR itu begitu baik. Ia memberi aku info yang tak bisa aku ketahui karena aku tak bisa bergabung dengan grup chat para anggota KIR.
Hari Senin berikutnya, kak Fauzan kembali mengirimiku pesan singkat untuk mengingatkanku.
Fauzan
Jangan lupa besok ya dek!
Sheril
Iya kak.
Oh ya kak, kalo praktikumnya hari Selasa, jadi nanti pulang sekolah tetep ada kumpul kayak biasa gak?
Fauzan
Gak ada dek.
Sheril
Buat hari-hari berikutnya gimana kak? Apa pertemuannya diganti jadi tiap Selasa?
Fauzan
Iya dek setiap Selasa. Besok jangan lupa bawa gelas bekas pop ice yang tutupnya cembung 3 ya dek. Pakai baju putih juga.
Sheril
Baik kak.
•••
Pertemuan pun tiba, Selasa itu aku bersemangat mengikuti kegiatan ekskul KIR. Berjibaku dengan tanah, pupuk, dan biji-biji cabai. Semua anggota tampak bersuka ria, mereka menanam sambil terus bercanda bersama. Satu lagi, hari itu anggota KIR bertambah. Raisa, teman sekelasku yang juga mendaftar di keanggotaan MPK ternyata juga tertarik mengikuti KIR.
Selesai penanaman, kami membereskan sisa-sisa sampah serta kotoran. Setelah itu tiba waktunya pulang ke rumah masing-masing.
Malam harinya, aku pun terkejut membaca pesan dari kak Fauzan.
Fauzan
Dek makasih ya sudah dateng. Sering-sering ikut becandaan ya dek. Hehe. Biar gak canggung. Oke?
Awalnya aku hanya ingin membalas dengan singkat, hanya mengetik kata 'iya kak' tapi entah kenapa jadi kebablasan.
Sheril
Iya kak. Tapi kak, jujur saya kalo dibilang masih canggung sih iya kak. Masalahnya saya kayak ngerasa masih aneh aja. Saya itu pindahan dari sekolah kejuruan SMK Prima dan di sini saya harus ngulang dari awal kelas sepuluh. Padahal seharusnya saya sekarang udah kelas dua belas. Saya bahkan seumuran sama kak Fauzan. Makanya itu agak susah kak, apalagi saya orangnya juga susah adaptasi. Sebenernya sih saya juga pengin bisa lebih akrab dan bercanda sama yang lain. Eh maaf ya kak, malah jadi curhat. Hehe..
Entah kenapa langsung saja aku tekan tombol kirim, aku sungguh menerka-nerka respon kak Fauzan terhadap curhat tak jelasku itu.
Fauzan
Oalah gitu dek, wah kenapa gak diterusin aja dek? SMK Prima kan bagus. Kuncinya satu dek, percaya diri. Jadi diri sendiri dan buktiin kalo kita tuh bisa kita tuh beda. Terus banyakin interaksi sosial. Kita di KIR satu keluarga, jadi seneng satu ya seneng semua. Semangat ya dek. Curhat aja gapapa dek. Wkwk. Sama aku mah santai.
Sheril
Ada beberapa alasan yang buat saya mantep buat pindah sih kak. Intinya kalo saya tetep ada di sana, saya gak akan bisa berkembang dan semuanya serasa terhambat. Tapi saya bakal usaha buat perbaikin semua di sekolah saya yang baru ini. Saya bakal berusaha berubah jadi lebih baik. Makasih buat semangat dan nasehatnya kak!
Fauzan
Yaudah ditata lagi buat masa depanmu dek. Tunjukkin kalo kamu lebih bisa dari yang lain. Tunjukkin kalo anak KIR itu lebih cerdas dari yang lain. Sippp. Sama-sama.
Kata-kata kak Fauzan seakan memberiku motivasi dan semangat yang baru. Bagiku, dia adalah sosok ketua yang ideal. Memimpin, memperhatikan, dan merakyat.
•••
Entah kenapa sikap kak Fauzan padaku jadi agak berbeda sejak curhatanku waktu itu. Mungkin itu perasaanku saja, atau mungkin itu memang benar.
Aku justru lebih sering melihat keakraban kak Fauzan dengan Raisa. Mereka begitu dekat. Mengobrol, makan bersama, saling meminjam buku, bahkan kak Fauzan pernah memberikan coklat untuk Raisa.
Tunggu, mengapa aku jadi terlihat seperti tak suka? Apa mungkin aku merasa iri? Cemburu? Apa itu artinya aku menyukai kak Fauzan? Entahlah..
Raisa pernah curhat padaku, ternyata Raisa dan kak Fauzan sudah saling kenal cukup lama. Mereka bahkan bertetangga. Dan yang membuatku terkejut, kak Fauzan pernah menembak Raisa, tapi Raisa menolaknya karena ia menyukai pria lain. Itulah sebabnya mereka tampak dekat seperti itu.
Pernah waktu itu saat pertemuan, anggota KIR yang bisa hadir hanya 4 orang, itu sudah termasuk aku. Dan saat itu kak Fauzan bersama satu temannya yang membimbing karena Bu Nur masih ada urusan. Hari itu adalah jadwal penyiraman dan pemisahan tanaman yang tak bisa berkembang baik. Aku ikut bekerja bersama yang lain. Bahkan waktu aku harus berkomunikasi dengan kak Fauzan karena suatu hal, sikap dan respon kak Fauzan berbeda sekali dengan setiap responnya melalui pesan singkat. Justru teman kak Fauzan yang lebih memperhatikanku.
---
Sekian lama setelah itu. Aku baru kembali mencoba mengirim pesan pada kak Fauzan untuk menanyakan sesuatu.
Sheril
Pagi kak, ini saya Sheril salah satu anggota ekskul KIR. Maaf kak, saya mau tanya, kemarin Jumat itu jadi ada kumpul dan pengamatan tanaman gak kak? Kalo jadi, maaf kemarin saya gak bisa ikut karena ada kerja kelompok mendadak.
Fauzan
Sorry baru bales ya dek, kemarin lagi di Jateng Fair dan sampe rumah lupa. Baru inget sekarang. Gak jadi dek, kemarin itu waktu ke greenhouse belum ada tanda-tanda pertumbuhan. Hehe.
Balasan pesan kak Fauzan itu bahkan baru sampai padaku dua hari setelah aku mengirim pesan padanya. Aku pun hanya membalasnya dengan singkat.
Sheril
Oke kak, makasih.
Itu pun juga jadi pesan terakhirku dengan kak Fauzan. Karena setelah itu kak Fauzan jarang mengurus KIR, dia harus fokus dengan ujian kelulusannya. Aku pun juga sudah jarang ikut kegiatan di KIR karena aku sendiri merasa harus membatasi kegiatanku jika masih ingin tetap sehat dan bisa mengikuti KBM dengan lancar. Pasalnya di masa SMA itu fisikku mulai drop, terlebih pada akhirnya aku tahu bahwa aku punya penyakit hati yang cukup serius.
•••
Di kelas sebelas aku justru benar-benar meninggalkan KIR dan beralih pada kegiatan untuk persiapan olimpiade matematika serta lomba sastra. Aku pun tak lagi mendengar kabar kak Fauzan yang sudah lulus lebih dulu.
Sebelum kelulusannya, terakhir kali aku sempat bertemu dengannya.
"Sheril, aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"Ada apa ya kak?"
"Entah ini bener atau gak, tapi aku ngerasa kalo aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku gak?"
"Kak Fauzan.. Bukannya saya mau nyakitin kakak, tapi saya bener-bener gak mau mikirin pacaran atau semacamnya kayak gitu di SMA ini. Saya cuma mau fokus, lulus dengan nilai baik, dan bisa lanjutin hidup saya kedepannya dengan baik entah itu harus kuliah atau kerja. Untuk saat ini, saya gak bisa terima kakak. Maaf kak."
"Tapi Sheril, aku--"
"Kalo kita memang harus sama-sama, suatu saat kita pasti bakal ketemu lagi kok kak. Saya yakin itu. Tapi kalo memang bukan itu takdir kita, ini udah pasti jadi pertemuan terakhir kita."