"Permisi, maaf apa ini dompet Om? Tadi saya lihat jatuh di sekitar meja Om."
Kimi menyerahkan sebuah dompet pada lelaki di hadapannya.
"Oh, astaga. Iya, ini milik saya. Terima kasih ya. Kamu mau repot-repot kejar saya cuma buat kembalikan dompet ini."
"Gapapa Om. Kebetulan meja saya cukup dekat sama meja Om dan sebelum saya mau pergi, saya sempat lihat dompet ini di lantai."
"Oh ya, ini kartu nama saya. Kamu bisa hubungi saya kalau perlu sesuatu."
Lelaki itu memberikan kartu namanya. Kimi melihatnya sekilas dan membaca nama yang tertera di sana.
"Ditya Pratama--CEO Pratama Group."
"Ya. Itu saya. Lalu, nama kamu?"
"Saya Kimberly, Om."
Itulah sekilas kisah pertemuan Kimi dengan Ditya, pria dewasa yang bisa dibilang idaman para wanita, tampan dan mapan.
Setelah pertemuan itu, Ditya selalu mengingat paras manis Kimi. Ia bahkan merasa tak asing dengan wajah Kimi. Ditya baru sadar, ia pernah melihat foto Kimi di sebuah majalah fashion. Ya, Kimi memang seorang model.
Entah rasa datang dari mana, Ditya mulai penasaran dengan sosok Kimi. Ia berusaha mencari segala informasi tentang gadis itu sampai akhirnya menemukan banyak hal, dari tempat tinggalnya hingga nomor ponselnya.
Ditya menghubungi Kimi lebih dulu, padahal Kimi yang punya kartu nama Ditya pun sampai saat itu sama sekali tak punya niat menghubungi Ditya.
Pembicaraan lewat ponsel merambah ke pertemuan-pertemuan selanjutnya. Mereka sering membuat janji temu untuk sekadar mengobrol atau makan siang.
Karena Ditya jarang menceritakan tentang dirinya di obrolan-obrolan mereka, Kimi mencoba mencari info seputar Ditya lewat peramban. Ia yakin pasti menemukan sesuatu sebab perusahaan Ditya itu cukup besar dan dikenal.
Kimi terkejut begitu mendapati hal besar yang baru saja ia ketahui.
"Apa ini? Ternyata selama ini Mas Ditya udah punya istri? Jadi, selama ini aku jalan sama suami orang? Kenapa dia gak pernah bilang soal ini?" gumam Kimi.
Mungkin Kimi memang menyesal telah mengenal Ditya, bahkan menjalin keakraban dengannya. Ia tak mau ada kesalahpahaman dan terjebak dengan sebutan perebut suami orang. Di balik itu pun ada kecewa karena selama ini Ditya tak pernah cerita perihal istri padanya, atau mungkin itu karena ia tahu bahwa lelaki yang kini dekat dengannya ternyata milik orang lain. Apa artinya Kimi sebelumnya juga berharap bisa hidup bersama Ditya selamanya?
Kimi tak ingin membuat kejadiannya makin kompleks. Ketika ia bertemu lagi dengan Ditya, Kimi mencoba meluruskan segalanya.
Mereka tengah bicara sambil makan siang di sebuah cafe.
"Gimana pemotretan kamu tadi?" tanya Ditya mengawali.
"Lancar aja kok, Mas. Mas Ditya, sebenernya aku mau bicarain sesuatu sama Mas."
"Oh ya? Bicara apa, Kim? Apa semua baik-baik aja?"
"Justru itu, Mas. Aku mau bicara sama Mas sekarang karena aku takut nantinya semua jadi gak baik-baik aja. Aku baru tau kalo Mas Ditya udah punya istri."
Raut wajah Ditya berubah tegang setelah mendengar kata istri, "Kim, soal itu—“
"Aku gak ngerti alasan Mas gak mau cerita ke aku soal itu, tapi itu gak penting Mas. Mas Ditya, aku rasa kita gak perlu ketemu sesering ini lagi. Aku gak mau orang atau istri Mas salah paham. Lagi pula kita memang gak ada hubungan apa pun selain temen ngobrol."
"Kimi.. Maaf soal itu, tapi buat gak ketemu kamu lagi, mas gak akan bisa, Kim. Jujur, mas berharap kita bisa lebih dari itu. Mas pengin hubungan kita bisa lebih jauh, lebih serius."
Kimi terkejut dengan penuturan Ditya.
"Mas? Itu gak mungkin. Aku gak mau jadi pelakor, Mas."
"Kim, apa kamu gak punya perasaan itu buat mas? Setelah banyaknya waktu yang kita lalui berdua? Mas ngerti pemikiran kamu, tapi asal kamu tau, kamu gak rebut mas dari siapa pun. Sebelum kita ketemu, hubungan mas sama istri mas bahkan udah gak baik. Mas lagi urus proses perpisahan sama dia."
"Tetep aja sekarang status Mas masih suami orang.”
"Sambil nunggu proses cerai mas selesai, kita bisa coba jalanin dulu, kan? Mas cinta sama kamu, Kim."
Pertahanan Kimi goyah, ia menuruti permintaan Ditya untuk menjalani ‘hubungan spesial' dengannya. Sepertinya model 25 tahun itu kini terjerat pesona CEO tampan berusia 32 tahun.
---
Ditya sering mengunjungi Kimi, baik di tempat pemotretan maupun di apartement-nya. Bagi Kimi, Ditya sosok kekasih yang baik, penuh perhatian, tak pernah membuatnya kecewa selama ini.
Ketika mereka tengah bersama di apartement Kimi, tiba-tiba ponsel Ditya berdering.
"Mas, dari tadi kok gak diangkat?"
"Gak penting kok, Sayang."
"Dari mana Mas tau kalo itu gak penting? Siapa Mas?"
"Bukan siapa-siapa."
"Apa istri Mas yang telepon? Mas, siapa tau penting kan."
"Kimi.. Mas males bicara sama dia. Lagi pula mas gak mau ada yang ganggu waktu kita."
"Lebih baik Mas pulang aja sekarang. Istri Mas mungkin butuh Mas."
"Kenapa kamu malah usir mas?"
"Bukan gitu. Kan kita juga masih bisa ketemu lagi lain hari."
Malam harinya Ditya pulang ke rumahnya. Seperti biasa, jika ia sudah berhadapan dengan Sasa--istrinya yang ada hanya keributan.
"Mas, kamu ke mana aja? Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah, bahkan selalu susah dihubungin."
"Hah? Apa gak salah ini? Sejak kapan kamu peduli soal aku? Selama ini kamu juga selalu sibuk sama urusan kamu sendiri kan? Kamu lebih suka keluyuran keluar sama temen-temen kamu, gak pernah peduli soal rumah apalagi suami. Pernikahan kita dulu juga cuma karena kemauan keluarga kita, rasanya sulit buat tumbuhin rasa cinta di antara kita. Bahkan kita juga lagi urus proses cerai, kan? Kenapa kamu mendadak peduli aku habis dari mana?"
Sasa terdiam sejenak. Ia memikirkan perkataan Ditya barusan. Memang benar yang membuat mereka makin renggang ialah kelakuannya sendiri. Sasa tak pernah perhatian pada Ditya. Sejak awal pernikahan tanpa dasar cinta itu, hubungan mereka tak pernah harmonis.
Ditya dan Sasa bagai dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Status pernikahan mereka memang sebatas goresan tinta di buku nikah. Namun, gelagat Ditya yang berubah akhir-akhir ini membuat Sasa curiga kalau Ditya punya wanita lain di luar sana.
"Aku ngerti Dit. Oke aku memang salah selama ini, tapi gak ada salahnya kalo kita coba perbaiki semuanya sebelum perpisahan kita terjadi, kan?"
"Astaga, Sasa! Apalagi yang mau diperbaiki? Aku udah lelah.”
"Kamu bilang begitu karena ada perempuan lain, kan?"
"Kalo iya kenapa? Asal kamu tau, aku punya kekasih yang jauh lebih sempurna dari kamu. Dia calon istri ideal. Dia bisa buat aku nyaman, bukan macem kamu yang selalu bikin aku naik darah."
Sasa merasa agak kesal mendengar Ditya membandingkannya dengan wanita lain.
---
Hubungan Ditya dan Kimi sudah hampir dua bulan. Ditya selalu menjaga Kimi dengan baik, Kimi adalah prioritasnya. Di saat Kimi jatuh sakit, Ditya begitu panik. Ia bahkan rela menemani Kimi siang-malam.
Ditya bahkan sudah berkali-kali bicara soal keinginan menikahi Kimi. Namun, Kimi bersikeras tak mau sebelum Ditya benar-benar tak berstatus suami orang lagi.
Setelah sidang perceraian Ditya dan Sasa usai, pengadilan memutuskan mereka sungguh berpisah dan bukan suami-istri lagi. Ditya begitu lega mendengarnya. Ia sudah tak bisa menunggu lagi untuk memulai hidup baru bersama Kimi.
Namun, ketika Ditya menemui Kimi dan mengabarkan perceraiannya, ia justru mendapat kenyataan pahit.
"Sayang, kamu seneng kan denger kabar ini? Kenapa kamu diem aja? Kita bisa mulai bicarain pernikahan kita."
"Mas Ditya, maaf. Aku gak bisa."
"Maksud kamu apa? Kamu kenapa, Kim? Sekarang mas bukan suaminya lagi. Mas cuma akan jadi suami kamu. Gak akan ada yang bilang kamu pelakor atau semacamnya. Mas sayang kamu, Kim."
"Sayangnya aku gak bisa peduli soal itu Mas."
"A-apa?"
"Hah.. Aku rasa cukup. Sekarang aku bisa tenang karena bisa bales Mas."
Ditya masih tak mengerti maksud Kimi.
"Apa Mas masih inget perempuan di foto ini?" Kimi menunjukkan sebuah foto.
"Giselle? Kim, kamu dapet foto itu--"
"Kak Giselle, dia kakak kandung aku yang udah Mas sakitin dulu, Mas justru lebih pilih menikah sama orang lain dan hancurin pernikahan impiannya. Mas Ditya dulu gak pernah tau aku karena aku lama tinggal di luar negeri."
"Kimi.. Ini apa—“
"Aku cuma mau bales Mas. Bales rasa sakit Kak Giselle yang sampai harus dirawat karena mentalnya terganggu. Sementara Mas gak pernah peduli sama dia. Sekarang aku mau Mas rasain juga apa yang kakak aku rasain. Aku gak pernah berpikir sedikitpun buat jatuh cinta sama Mas."
Ditya tak menyangka ternyata niat Kimi berhubungan dengannya hanya untuk balas dendam atas kakaknya. Setelah membuat Ditya sangat mencintainya, Kimi ingin menyakiti Ditya dengan menyudahi segalanya.
Kimi baru mengetahui perihal Ditya dan Giselle setelah kali pertama ia mencari info tentang Ditya dan tahu perihal Ditya yang sudah beristri. Sejak itu Kimi mulai menjalankan rencananya dan Ditya justru mempermudahnya dengan mengajak Kimi menjalin hubungan.
Kimi merasa takdir mendukung niatnya. Ia sengaja dipertemukan dengan Ditya lewat insiden dompet kala itu dan jalannya mendekati Ditya sungguh mudah. Yang paling ia sesali setelah tahu segalanya tentang Ditya waktu itu ialah, mengapa bisa sebelumnya ia sempat tertarik pada lelaki yang telah menyakiti kakaknya dan justru merasa nyaman bersamanya.
"Kimi, soal Giselle mas tau mas salah, tapi asal kamu tau, mas gak pernah sengaja nyakitin dia. Mas terpaksa nikah sama Sasa waktu itu. Sekarang mas bener-bener sayang kamu, Kim. Mas gak akan nyakitin kamu."
"Kalo Kak Giselle harus menderita dan kehilangan pernikahan impiannya, Mas Ditya juga gak akan bisa dapetin pernikahan impian Mas. Mas harus rasain hal yang sama."
Balas dendam Kimi sudah mengalahkan rasa cinta yang sempat tumbuh dalam dirinya untuk seorang Ditya.