Melepaskan Cinta Pertama
Malam itu begitu indah, aku menatap bulan dan bintang di langit biru malam. Jendela kubiarkan terbuka, angin dingin mulai masuk ke dalam kamarku. Aku duduk di dekat jendela sembari membuka sebuah album foto, lebih tepatnya album kelulusan SD milikku. Aku membolak-balik beberapa lembar foto dan berakhirlah pandanganku pada foto seorang anak laki-laki, lengkap dengan biodata di samping fotonya. Aku tersenyum kecut, mengingat bahwa dia adalah cinta pertamaku.
Kini, aku berumur 18 tahun. Sekitar 5 tahun aku masih menyimpan rasa sukaku padanya, jatuh cinta pada pandangan pertama saat aku duduk di kelas 6 SD. Mungkin bisa dikatakan cinta monyet, hahaha. Awal mulai aku menyukainya, itu karena aku merasa kasihan padanya. Dia seorang anak laki-laki yang pintar, selalu mendapatkan juara 3 besar di kelas. Namun, dalam hal pertemanan terkadang dia menjadi seseorang yang disuruh-suruh oleh teman-temannya. Tapi, kuperhatikan dia tak melawan dan terkadang dia juga memberi sedikit perlawanan kepada teman-temannya.
Aku termasuk anak yang sangat pendiam, sangat jarang orang lain mengajakku berbicara. Jika pun ada, pasti aku hanya akan mematikan topik pembicaraan. Di sekolahku dulu tak ada yang namanya pacaran, hanya berteman dan jika saling suka, maka diam-diam malu. Begitu saja, jadi aku pikir belum waktunya untukku merasakan rasa suka atau apalah itu. Tapi entah mengapa ketika mata kami bertemu, ada perasaan senang di dalam hati. Aku tak ingat bagaimana rasanya jatuh cinta saat itu, hanya dibilang suka padanya.
Sepen diam-diam nya aku, aku masih memiliki teman yang baik. Bisa dihitung dengan jari, teman-teman yang sering diasingkan oleh teman-teman sekelas, termasuk aku. Jadilah perkumpulan orang-orang yang terasingkan di kelas 5 itu.
Berawal dari rasa kasihan, timbullah benih-benih rasa suka. Aku jadi lebih sering memperhatikannya dalam diam, tapi mata kami terkadang bertemu. Itu membuatku malu sekaligus merasa senang. Tapi teman-temanku tak ada yang mengetahui rasa sukaku padanya, biarlah aku saja yang memendam rasa suka ini. Aku selalu berharap agar bisa mengobrol dengannya, tapi banyak murid perempuan yang juga menyukainya karena ia tampan. Jadi, aku merasa insecure dengan mereka yang lebih cantik dariku dan juga pintar. Aku bukanlah anak yang pintar dan supel, berbeda dengan mereka.
Hingga ada sebuah berita yang gempar di kelasku, dikabarkan seorang adik kelasku menyukainya. Saat mendengar hal itu, hatiku rapuh. Karena teman-temannya dari orang yang kusuka ini mendesaknya agar mendekati adik kelas tersebut, mungkin dia jadi memiliki rasa suka pada adik kelas tersebut. Aku ingin mengabaikannya, tapi tak bisa. Mataku terus tertuju padanya, rasanya sakit.
Kudengar mereka tak berpacaran karena memang tak boleh di sekolah dan umur mereka juga masih anak SD, itu sungguh memalukan. Hingga tibalah kelulusan SD, aku masih menyimpan rasaku padanya dan belum sempat kuutarakan. Aku memasuki sekolah SMP, lebih tepatnya aku sekolah di sebuah pesantren di luar kota. Sedangkan dia bersekolah di sekolah MTS di kotaku. Susah rasanya untuk move on darinya, tapi aku berusaha untuk menyibukkan diriku dengan kegiatan di sekolah.
Tapi setiap per pulangan semester, aku selalu memantaunya lewat instagram. Aku dan dia tak saling mengikuti satu sama lain, aku juga baru membuat akun instagram saat kelas 1 SMP. Aku terus memantaunya, aku terlihat seperti stalker ya? Hahaha, maafkan aku. Aku memberanikan diri untuk mengikutinya di media sosial, berharap dia tahu bahwa aku masih hidup di dunia ini. Lama aku menunggunya untuk mengikutiku balik, akhirnya aku pasrah dan meng-unfollow dia. Untuk apa aku mengikutinya, jika dia bahkan tak tahu tentangku. Tapi beberapa hari setelah itu, dia mengikutiku di instagram, aku terkejut dibuatnya. Aku berniat untuk melupakannya, tapi dia malah menarikku kembali dalam rasa suka ini. Aku menguatkan tekadku bahwa aku bisa move on darinya, aku tetap tidak mengikuti dia di media sosial.
Hingga pada suatu liburan, aku bertemu dengannya. Mata kami bertemu setelah sekian lama tak saling memandang. Aku langsung mengalihkan pandanganku, tapi hatiku masih tetap ingin terus melihatnya. Aku terus berjalan bersama ibu dan adikku, aku berharap kami masih bisa bertukar pandangan. Namun, aku tak menemukan sosoknya lagi setelah aku mengalihkan pandanganku. Ah, sudahlah. Lupakan dia, lebih baik aku melanjutkan liburanku dengan tenang. Tapi setelah kejadian itu, aku terus memikirkan dan memimpikannya. Aku tidak boleh memikirkan laki-laki yang bukan mahramku, aku selalu berusaha untuk menepis rasa suka ini.
Untuk kedua kalinya pada liburan semester yang berbeda, aku bertemu kembali dengannya. Saat itu aku berpakaian tertutup dengan kerudung panjang, sedangkan pertemuan pertamaku yang itu aku masih menggunakan kerudung pendek. Pertemuan keduaku terjadi di tempat yang sama, namun dengan keadaan yang berbeda. Aku sedang duduk makan bersama ibu dan adikku dipinggir lapangan, sedangkan dia bermain sepak bola bersama teman-temannya yang aku tak kenal siapa mereka. Tendangan bolanya tak sengaja tergiring keluar lapangan dan bola itu berguling di dekatku. Aku yang awalnya tak peduli, tiba-tiba ibuku mencolek tubuhku. “Hei, bukankah itu dia? Apa kabar, nak? Masih ingat ga sama si ini?” – Tanya ibuku. Sontak aku menoleh, seorang laki-laki tersenyum ke arah ibuku seraya mengambil bola milik timnya. Mata kami kembali bertemu, namun aku langsung mengalihkan pandanganku darinya. Namun, aku curi-curi pandang ke arahnya. Ya Allah, kuatkan hambamu ini.
Adikku memintaku untuk bermain balon tiup di pinggir lapangan, terpaksa akulah yang harus meniup balon tersebut. Aku tak berniat menoleh ke arahnya dan sibuk meniup balon milik adikku. Namun, lagi-lagi hatiku tak kuat untuk melihatnya. Dia bermain bola dengan begitu gesit, perawakannya pun berbeda dengan yang terakhir kali kami bertemu. Astagfirullah, sudah. Lupakan dia, ibu segera mengajakku pulang dan dengan berat hati aku mengiyakan ajakan ibu. Rasanya aku tak ingin berpisah lagi, aku ingin tetap di sini.
Akhirnya aku lanjut ke jenjang SMA pada pondok pesantren yang sama, aku cukup terkejut saat mendengar dia juga masuk ke pondok pesantren. Apakah ini takdir? Apakah aku masih boleh berharap padanya? Bisakah kami bersama? Hahaha, itulah hal pertama yang aku pikirkan. Aku masih terus memantaunya dan kami saling mengikuti di media sosial, dia tahu bahwa aku hidup. Aku selalu mengikuti live nya di instagram, aku selalu memantaunya dari media sosial. Ingin rasanya aku menyatakan perasaanku padanya, tapi aku terlalu takut. Selama dia belum memiliki pacar, maka tak apa.
Tibalah saat yang tak kuinginkan, dia memiliki seorang pacar. Saat melihat itu, hatiku hancur berkeping-keping. Aku yang baru saja memulai liburan semesterku dengan tenang, menjadi galau karena hal itu. Bahkan dengan bodohnya aku katakan pada temanku bahwa aku tak akan membuka media sosial karena melihat hal itu, betapa konyolnya aku saat itu. Aku memang tak pernah ketinggalan live nya saat aku liburan, tapi entah malam itu hatiku hancur melihat dia live di instagram bersama seorang gadis remaja. Aku tak kenal siapa dia, bagaimana bisa dia berpacaran sedangkan dia anak pondok?! Aku merasa sangat kecewa padanya, bahkan dia secara terang-terangan membangga-banggakan pacarnya di media sosial. Saat itu juga, rasa sukaku mulai menghilang. Aku kesal sekaligus marah padanya, anak pondok tapi berpacaran?! Aku tak habis pikir, bahkan dia berpacaran dengan gadis yang berkerudung pendek dan bercelana. Dengan riasan tebal yang memenuhi wajah gadis itu, apakah tipe dia yang seperti itu? Astagfirullah, baiklah aku mundur. Aku tidak sesuai dengan tipe idealnya, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pengagumnya. Lagi pula dia telah memiliki pacar, awalnya sakit melihat dia bersama orang lain. Tapi, aku berusaha untuk mengikhlaskannya dengan gadis tersebut. Mungkin jodohku bukanlah dia, biarlah hati ini untuk seseorang yang benar-benar spesial untukku. Aku akan menjaga hatiku agar tak jatuh hati pada dia yang bukan jodohku dan tak akan kubiarkan orang lain menarik hatiku ini. Ya Allah, aku harap aku bisa Istiqomah menjaga hati kecilku yang rapuh ini.