- Aku, Dia dan Dirinya -
Ini adalah tentang persahabatan kami dan Dia. Aku berteman dengan Dera sudah sejak kami duduk di bangku SMP. Hingga kini kami berada di SMA dan kelas yang sama. Hal ini mbuat persahabatan kami makin erat.
Dera tak pernah sungkan untuk bercerita tentang keluarganya, Suasana hatinya, mimpi - mimpinya, bahkan laki - laki yang dia sukai. Semuanya Dera ceritakan padaku, seperti saat ini, Dera tengah dilanda asmara pada salah satu teman seangktan kami. Dia adalah Sadewo, laki - laki super humble dengan senyum lebar menawannya.
Aku, Dera dan Dewo nama panggilannya, kami ada dalam satu organisasi sekolah yang sama. Hampir setiap hari, setiap malam, Dera selalu bercerita tentang Dewo. Hingga kadang akupun enggan mengangkat panggilan Dera jika yang dibahas Dewo, Dewo dan Dewo lagi. Tapi apalah daya, aku memang selalu ada untuk Dera.
Hingga suatu ketika, aku dinobatkan sebagai pasangan kandidat wakil OSIS yang mendampingi Dewo. Hal ini membuat aku dan Dewo berhubungan lebih intens, kita sering bertemu, bertukar pesan, bahkan saling bertelepon untuk membahas visi, misi dan banyak hal lain. Dewo tampaknya memang berambisi menjadi ketua OSIS sehingga dia dengan sangat sungguh - sungguh memikirkan strateginya.
Aku sempat merasa tidak enak hati pada Dera karena aku dan Dewo sering bersama, dan menjalin komunikasi di belakang Dera. Bahkan kadang Dewo menunggu ekskul taekwondo selesai, padahal ekskul basket yang ia ikuti telah usai. Atau dia akan kembali ke sekolah atau bertemu di luar saat ekskul renang dia selesai. Pertemuan dan komunikasi kami menjadi lebih intens dari hari ke hari. Kadang jokes - jokes alay pun Dewo utarakan, dan aku hanya menganggap itu adalah gurauan semataa karena Dewo memang sosok yang humble pada siapa saja.
Karena sifat inilah Dewo digilai para adik kelas dan kakak kelas. Jadi tak heran ketika aku bersama dengan Dewo baik di depan kelas, di gazebo, maupun di perpustakaan selalu ada mata yang mengawasi.
Baru saja Dewo mengirimku pesan teks, dia memintaku menemuinya di pondok baca di depan perpustakaan. Sebuah pilar dengan atap menyerupai payung besar dan dibawahnya terdapat meja melingkar beserta tempat duduknya. Aku ragu hendak keluar kelas, karena mendung tebal dan hawa dinginnya mulai terasa. Takut kalau kalau akan terjadi hujan nantinya, pasti kita akan terjebak disana.
Benar saja... Hujan besar disertai kilat turun tak lama saat kami sedang berdiskusi. Alhasil terjebaklah kami di sini, si pondok baca. Setiap siswa yang lewat koridor kelas pasti akan menoleh ke arah kami.
"Al, lo sore ini ada ekskul apa?" Ucap Dewo sambil menatap hujan.
"Ya... Kaya biasanya lah, kan lo dah apal juga kayaknya." Jawabku asal.
"Yaudah, pulangnya kita keluar yuk. Tar sore gue tunggu diparkiran." Ajak Dewo.
"Bolehlah, ini hari terakhir kita memantapkan kampanye, lusa sudah paparan visi - misi." Jawabku. Aku pikir ini pun hanya akan menjadi diskusi biasa seperti hari - hari sebelumnya.
Saat hujan mulai sedikit reda, aku berlari menuju koridor kelas meninggalkan Dewo sendirian. Aku menoleh ke arah Dewo saat sampai di teras koridor, dan Dewo tersenyum padaku. Mendadak hatiku menghangat melihat senyumnya.
Padahal biasanya aku biasa saja dengan segala reaksi Dewo, tapi kali ini, hati terasa tergelitik.
Sesampainya di kelas, aku melihat Dera dengan wajah masamnya.
"Ujan - ujan darimana?" Tanya Dera ketus.
"Biasa, Dewo ngajak diskusi. Perpus tutup Pak Saidnya lagi keluar." Jawabku santai, karena memang begitulah kenyataannya.
"Asik ya..." Ucap Dera sambil berlalu.
"Ahhhh... Kenapa lagi tuh Dera." Gumamku lirih.
*Klik* Suara pesan masuk ke ponselku.
-Dewo-
"Ekskulku hari ini off. Libur katanaya. Lo gimana?"
-Taekwondo senpai-
"Berhubung hujan belum reda, jadwal latihan kita lakukan lebih awal. Segera setelah jam sekolah selesai.Terima kasih."
-To : Dewo'-
"Gue gak libur, cuma dimajuin lebih awal."
-Dewo-
Yaudah gak papa, gue tunggu Lo latihan.
"What? Ni orang kenapa dah, kesambet kali dia." Gumamku sendiri, dan tanpa kusadari aku pun tersenyum.
Jam belajar berlalu, sekarang bel pulang sudah berbunyi. Aku dan Dera segera menuju mushola dan setelahnya kami akan langsung ke ruang ekskul taekwondo. Saat kami sampai di depan ruang ekskul, ternyata Dewo sudah ada disana.
👋👋👋
Dewo melambai. Aku hanya diam saja, dan Dera membalas lambaian tangan Dewo.
Saat kami memasuki ruangan, Dewo mengekor dari belakang.
"Eh...ada tamu pasangan kandidat ketos hari ini." Ucap Rio, senior kami.
"Cie... Ada pasangan kandidat ketos nih." Timpal Ana.
"Iya dong, jangan lupa vote kami ya..." Ucap Dewo riang sambil merangkul bahuku yang berdiri tepat disamping Dera.
"Cie... Kalian tuh pasangan paling serasi tahu ga? Aldrea kalem, Dewo humble. Sapa sih yang ga kenal kalian berdua." Ucap Indira yang baru saja muncul dari bilik ganti.
Hatiku menghangat mendengar ucapan kak Indira apalagi saat ini Dewo masih merangkulkan tangannya.
Ooopppssss Aku lupa tentang Dera. Aku lepaskan rangkualan Dewo dan bergegas ke tengah ruangan. Sambil berjalan, aku melihat raut wajah Dera yang nampak muram.
"Tuh kan..." Aku merutuki kelalaianku sendiri.
"Yuk cepet mulai." Ucapku sambil menggulung rambutku yang tadi masih terurai.
"Yuk... Yuk... Segera. Dewo, Lo nyolong start tuh... Bisa gue laporin lu." Ucap Rio.
"Maap... Maap kak... Bukan maksud kampanye juga. Gue disini mau nungguin Aldrea." Jelas Dewo.
"Cie... Ada apa nih..." Celoteh Citra, dan yang lain.
Dera menyenggol bahuku dengan sangat kencang. Sepertinya dia tidak suka dan kecewa padaku.
"Iiissshhh bukan apa apa. Cuma persipan buat lusa aja kok. Kalian ini..." Sanggahku segera.
"Al... Semakin Lo bersikeras mengelak, itu justru makin jelas." Ucap Dewo yang malah membuat suasana makin riuh dan kesalah pahaman makin melebar.
"Iya bener, ngaku aja lo. Kalian jadian ya..." Goda Kristin.
"Udah - udah... Yok kita mulai." Sergah Rio.
Pukul 4 sore, latihan selesai dan hujan pun sudah reda sepenuhnya. Langit pun kembali cerah.
Aku sengaja memperlambat pergerakanku agar Dera dan yang lain oulang terlebih dahulu. Sebenarnya aku tak enak hati bertemu dengan Dewo dibelakang Dera.
Aku pergi ke tempat yang Dewo arahkan. Disana kita hanya mengobrol ringan seputar hal pribadi masing - masing. Anehnya, tak ada pembahasan secuil pun tentang kempanye lusa nanti. Aku pun tak mengerti sebenarnya apa yang ingin Dewo bahas. Hingga akhirnya kita pulang dan berpisah jalan, tak ada sedikitpun pembahasan tentang pemilihan nanti.
Sejak saat itu Dewo lebih intens meengirimkan pesan text. Membuatku terbuai sekaligus resah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan perasaan Dera? Apa yang akan aku katakan pada Dera nantinya?
Aku terus berusaha untuk tidak terbawa perasaan terhadap perlakuan Dewo. Singkat cerita, kami terpilih menjadi Ketos dan wa ketos. Semua mengatakan bahwa kami pasangan paling serasi tahun ini. Bukan berarti aku cantik ya... Aku sering disebut tomboy nanggung oleh teman - temanku. Dari penampilan pun ga ada feminin - feminin ya apalagi tingkah laku aku yang bar bar juga. Aku pun tak tahu dari sisi mana kami dinilai serasi. Mereka saja yang aneh dan terlalu mengada - ada.
Hari ini adalah tepat 2 Minggu kami terpilih menjadi pasangan Ketos dan Nanti sore, adalah persiapan perkemahan pelantikan OSIS. Seperti biasa, aku hanya membawa barang - barang yang sangat amat aku butuhkan. Aku memang cuek dalam hal apaapun sehingga aku tak pernah ambil pusing dalam bnyak hal. Simply better lah.
Setelah sampai di perkemahan, tepat menjelang tengah malam kami mengadakan acara "find Ur duty". Aku dan Dewo harus menemukan para anggota OSIS lain yang disembunyikan oleh senior dan memberikan tag tugas mereka. Tag itulah yang akan menjadi tugas mereka di organisasi dibawah kepemimpinan Dewo.
Aku dan Dewo berjalan berdua saat mencari satu demi satu anggota OSIS yang disembunyikan. Tag di tangan kami Tersisa hanya tinggal 2 lagi. Namun sepertinya Dewo sudah kelelahan. Akhirnya kita beristirahat di pinggir jalan tepat di bawah pohon kersem yang rindang atau kadang kami menyebutnya ceri Jawa. Dewo merebahkan dirinya di tengah aspal jalan raya yang untungnya sedang sepi. Dia memintaku untuk ikut tiduran disampingnya.
Dewo memainkan musik lewat ponselnya, lalu kembali merentangkan tangannya sambil menatap langit.
"Al..." Panggil Dewo.
"Hmmmm..." Sahutku.
"Langitnya lagi cerah tuh." Ucapnya lagi.
"Iya kebetulan juga purnama." Jawabku.
"Hatiku juga terasa cerah kalo kita lagi barengan. Walau kadang cuma chat, tapi aku bahagia." Ucap Dewo.
Dewo membalik tubuhnya menghadap ke arahku.
"Gue suka sama Lo." Ucap Dewo sambil menyelipkan anak rambut yang terurai ke belakang telingaku.
Aku tak mampu bereaksi dengan pernyataan Dewo. Aku memikirkan perasaan Dera.
"Maaf, gue gak tahu harus bereaksi bagaimana." Ucapku bingung sambil merubah posisi menjadi duduk.
Kini Dewo pun mengubah posisinya.
"Kenapa?" Tanya Dewo.
"Ada hati yang harus gue lindungi." Jawabku.
"Siapa? Rio?" Selidik Dave.
Aku menggeleng.
"Lalu siapa?" Tanya nya lagi.
"Dera." Jawabku.
"Kenapa dengan Dera?" Tanya Dewo geram.
"Dera suka sama kamu bahkan sejak kita belum dekat. Aku gak mau lukai hati persahabatan kami." Jelasku.
"Tapi gimana sama perasaan kamu?" Tanya Dewo.
"Perasaan gimana?" Tanyaku bingung.
"Kamu suka juga sama aku ga?" Tanya Dewo lagi.
"Aku gak tahu. Yang aku tahu, hatiku berbunga - bunga meski hanya menjawab dan membalas pesan text dari kamu." Jawabku polos.
Dewo terkikik.
"Baiklah... Kita akan tetap seperti ini." Ucap Dewo sambil memegang tanganku dan mengecup kilat bibirku.
"Yuk... Jalan lagi." Ajak Dewo sambil mengulurkan tangannya membantuku berdiri.
Sepanjang jalan Dewo merangkul tubuhku tanpa ragu. Kita harus menjalankan tugas OSIS dengan profesional tanpa mencampurkan perasaan. Persahabatanku dengan Dera tetap berlanjut, begittu pun pertemananku dengan Dewo. Aku, Dera dan Dewo hanya ada rasa sayang diantara kami.