BUKAN SEBATAS HADIAH
"Ibu sudah jangan menangis, esok masih ada bu," kata Pian pada ibunya yang bernama Mentari itu.
"Tidak nak kita mau makan apa setelah ini, abis semua jualan kita dihancurkan oleh Gino preman pasar itu," Mentari menatap hiba jualannya yang sudah tidak ada rupa itu.
Sufian yang dipanggil Pian oleh Ibunya itu memeluk ibunya agar tenang. Dia yang sudah habis mikir cara bagaimana mau membantu ibunya untuk memodalkan jualan kue besok harinya.
"Ya Allah aku lupa kan ada tabungan, bisa aja buat modal jualan ibu besok" pikirnya.
Sufian menghantar ibunya pulang ke rumah. Rumah itu adalah satu-satunya tinggalan armarhum ayahnya. Rumah usang yang memberi kenangan manis buat mereka sekeluarga.
Sufian pamit meninggalkan ibunya membereskan semua wadah-wadah jualannya.
Mengeluh terduduk memikirkan jualan untuk besoknya sambil memcuci wadah jualan yang tidak mendatangkan hasil itu.
"Ya Allah permudahkan lah urusan ku dan anakku ya Allah" mohonnya.
******
"Alhamdulillah syukur lumayan juga tabunganku, moga ibu senang," gumamnya sendirian. Dia berjalan ke satu lorong yang sunyi.
Tanpa dia sedari, ada seseorang yang duduk bersandar. Menahan sakit di perutnya. Sufian mendengar suara ringisan. Mencoba meneliti dan terkejut melihat sosok laki-laki seusia seperti ibunya. Mendekat.
"AstagfiruAllah!!," Sufian menghampiri laki-laki itu.
"Maaf om, kenapa bisa jadi begini," tanya nya.
"Aku di rampok.... nak," balas nya menahan sakit di perut karena tusukkan pisau.
Tanpa membuang masa, Sufian membantu Dhimas bangkit terus ke rumah sakit berhampiran. Sufian panik untuk membuat daftar masuk karena perlukan uang. Dia mengeluh.
"Ngak pa pa lah, aku harus membantu dia, kasian juga gak punya apa-apa, rezeki akan datang lagi," doanya dalam hati.
Segala urusan pembayaran rumah sakit telah dia urus. Setelah melihat om Dhimas istirahat. Sufian pulang ke rumahnya walau dalam keadaan hampa namun dia tersenyum senang dapat membantu.
Tiba dirumah dia melihat ibunya telah beristirahat di kamar. Lantas Sufian terus ke kamarnya beristirahat sejenak. Memikirkan langkah selanjutnya. Dia terlena.
Pagi sudah menjelang. Setelah solat subuh Sufian membantu ibunya didapur. Pagi ini ibunya tidak berjualan. Niat ibunya ingin berjumpa saudara terdekat untuk meminjam uang untuk memulakan semula jualan harian mereka. Namun mereka di halau.
"Bu, jangan menangis, kita berdoa agar ada jalannya.. ayo kita pulang," ucap Sufian memujuk ibunya.
Tibanya di depan rumah, mereka di datangi oleh 2 orang yang sepertinya bukan di kalangan orang biasa. Ibunya Sufian menjadi takut dan trauma dengan apa yang berlaku sebelum ini.
"Maaf ya, kalian siapa, ini rumah kami pak, kami gak punya apa-apa, apalagi uang," kata Sufian membuat mereka saling berpandangan dan tersenyum.
"Sabar dek, biar kami bicara, begini... Sekarang ikut kami ke rumah sakit X, bertemu dengan tuan besar kami, dia menunggu adek dan ibu disana," jelasnya kepada Sufian dan Mentari membuat Mentari terpikir apa sebenarnya.
"Rumah sakit X???, Om Dhimas??, Kenapa dengannya pak??, ap--," belum sempat Pian habiskan bicara nya, malah dipotong oleh salah seorang bodyguard itu.
"Ikut saja kami dek, mari,"
Sesampainya di Rumah Sakit X, Pian terus berlari menuju ke ruang kamar inap Dhimas dan bersyukur Dhimas tidak kenapa-kenapa hanya sedang beristirahat.
"Assalamuaalaikum Om...,"
"Waalaikumusalam Pian, udah sampai sini nak, kamu dengan siapa?," tanya Dhimas santai. Baru saja mau mulai bicara pintu di buka oleh salah seorang bodyguardnya.
"Maaf Tuan, silakan ibu nya Pian, saya permisi tuan," sambil menunduk mempersilakan Mentari untuk masuk bersama anaknya.
"Men.... Mentari, apa benar kamu Mentari," tanya Dhimas masih menunggu jawaban dari Mentari. Lama Mentari mikir dan mengangguk.
"Dengan siapa?, Apa ku kenal degan mu??," tanya Mentari masih menatap wajah yang mungkin dia kenali saat lalu, tapi siapa.
"Aku Dhimas.... Sahabat suami kamu yang kamu tolong saat ku susah..., Dimana Munir Tari, apa dia sehat?," Jelas Dhimas sekalian dengan pertanyaan yang membuat Tari sedih menunduk.
"Om .... Ayahku sudah gak ada, udah 4 tahun kami hidup tanpa ayah,om kenal dengan ayahku," jelas Pian membuat Dhimas kaget dan mengangguk tanda dia amat mengenal Munir.
Dhimas menceritakan semua tanpa selindung kepada anak temannya. Dari awal mula kenal dan berpisah saat ayahnya di tuduh tidak amanah.
"Tari maafkan papa ku, dia di hasut oleh orang-orang bawahannya yang tamak kuasa,"
"Gak papa mas Dhim, ayahnya Pian sudah lama maafkan kalian, lagian untuk apa merebut kuasa yang belum tentu hak itu kita punya," jelas Tari.
"Iya baik sungguh kamu Tari, ini anakmu ya, terima kasih banyak atas pertolongan kamu tempoh hari, kalau kamu gak ada, mati aku gak siapa tau, hahaha," ucapnya membuat muka Tari terkejut. Dan Pian menceritakan semuanya.
"Astagfirullah, jadi gimana keadaan mu mas?,"
"Hahhaha alhamdulillah gak pa pa, aku kuat,"jelas nya memandang ke arah pian yang masih santai melihat ibunya serta om Dhimas berbicara.
"Jadi om kenapa memanggil ku kemari?,ada yang kurang kah atau bayaran rumah sakit ini gak cukup om?," ucap Pian dan mendapat senyuman dari ibu dan Dhimas.
"Bukan masalah itu nak, mulanya ku hanya ingin pulangkan semula bayaran rumah sakit ini beserta bonus buatmu, tapi setelah melihat siapa yang membantu ku, langsung ku ubah pikiran," ucapnya memandang kedua orang yang selama ini dia cari.
"Terus...,"tanya Pian penasaran.
"Begini .....," Dhimas mula membahas soal perusahaan yang mereka bangun kan bersama dengan ayahnya Pian, Munir. Mereka bekerja keras sehingga pada satu saat fitnah berlaku. Sekarang setelah di selidik Munir tidak ada sebarang kesalahan.
Akhirnya Dhimas memutuskan untuk memulangkan kembali hak mutlak pemilik saham kedua terbesar di perusahaan itu.
Sufian terkejut dengan apa yang di bicarakan oleh Dhimas. Memang tak di sangka apa yang terjadi.
Akhirnya Dhimas mengangkat Sufian sebagai pewaris tunggal perusahaan tersebut karena Dhimas tidak punya pewaris sah yang harus dia turun kan.