#The Mysterious Culprit.
SMA Taruna Bangsa adalah sekolah elite yang terkenal dengan Alumni-alumninya yang sukses di bidang politik maupun wirausaha. Setiap tahunnya SMA Taruna Bangsa selalu mendapat perhatian lebih karena kembali berhasil meluluskan orang-orang hebat, seperti Mentri dan CEO Perusahaan besar.
Banyak dari para orang tua yang ingin mendaftarkan anak-anaknya ke sini, mereka merelakan uangnya terkuras banyak oleh biaya sekolah yang tidak sedikit.
Tapi, kabar burung yang akhir-akhir ini merebak di seluruh penjuru Kota mengakibatkan para orang tua mengurungkan niatnya untuk mendaftarkan anak-anaknya ke SMA Taruna Bangsa.
Dihari tertentu selalu ada kejadian janggal di SMA Taruna Bangsa yang mengakibatkan para Guru serta Murid dibuat resah.
Ketika hari Senin tiba, selalu ada coretan-coretan berisi ancaman yang ditunjukkan pada pihak sekolah maupun Murid-muridnya.
Ketika Jumat datang, selalu ada murid yang tergeletak dengan bersimbah darah di koridor Sekolah.
Kepolisian setempat sudah menindaklanjuti kasus ini, tapi mereka tidak kunjung menemui titik terang.
Siapa dalang dibalik semua ini dan apa motifnya?
Para murid dilanda kecemasan yang berlebihan, mereka takut jika sewaktu-waktu akan menjadi target selanjutnya. Tapi, berbeda dengan Great Glory.
Apa itu The Great Glory? Mereka adalah salah satu Geng di SMA Taruna Bangsa yang semua anggotanya terkenal ambisius dan memiliki kapasitas otak di atas rata-rata.
Yang mengejutkan, The Great Glory berniat mengusut tuntas kasus yang menjadi misteri di Sekolahnya itu.
Seisi Sekolah gempar akan gosip itu, tanda tanya besar muncul di kepala mereka. Jika Polisi saja menyerah dengan kasus ini, apakah mereka yang hanya Murid Biasa saja mampu menemukan dalangnya?
"Kita mulai saja pembicaraannya."
"Baiklah, Ayo kita--"
Brak!
Pintu terbuka dengan kencang membuat mereka serempak menoleh ke arah pintu, Gadis dengan kacamata itu bisa-bisanya tersenyum padahal nafasnya sudah tersengal.
"Sorry, aku telat lagi ya?"
Semua anggota The Great Glory hanya bisa menarik nafas panjang, mereka sudah kehabisan kata-kata untuk menceramahi anggotanya yang satu ini. Dia Yuna, Dia adalah anggota paling ceroboh di Great Glory.
Menurut mereka, Pemimpin memiliki motif apa sampai bisa merekrut Yuna sebagai anggota.
"Sudah, tidak apa. Lain kali kau tidak boleh mengulanginya lagi." Ujar Dion membuat Yuna mengangguk.
"Iya, Terima kasih."
Yuna berjalan ke tempatnya, yang berhadapan langsung dengan dua Gadis yang terus melemparkan tatapan sinis padanya, mereka adalah Alexa dan Maira.
"Aku selalu curiga, apa Dia menggoda Dion?" Ujar Alexa salah satu dari Gadis dua Gadis itu.
"Bisa saja, jika bukan Dion pemimpinnya mungkin saja Dia sudah diusir dari Great Glory." Jawab Maira.
"Kau benar, Ra. Great Glory tidak akan menerima anggota yang ceroboh dan tidak memiliki kemampuan apa-apa seperti Dia." Ujar Alexa lagi.
Mereka lalu tertawa cekikikan.
Yuna mendengar semuanya, tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain diam dan menundukkan kepala dalam-dalam.
"Kita berkumpul hari ini bertujuan untuk menemukan pelakunya, dan menyelidiki apa motifnya. Silakan, siapa yang ingin memberikan opini." Ujar Dion sembari menatap satu-persatu anggota The Great Glory.
Lily mengangkat tangannya. Dion mengangguk sekilas memberikannya izin untuk berbicara.
"Sepertinya pelaku melakukan ini untuk merusak citra sekolah. Jadi, mungkin saja pelakunya bukan dari lingkungan sekolah."
Mereka semua yang berada di ruangan sontak saja terdiam.
"Itu benar juga. Tapi, kenapa polisi setempat tidak bisa menangani ini?" Pertanyaan Dinda memecah keheningan.
"Pasti pelakunya orang berpengaruh." Jawab Alexa.
Mereka semua mengangguk menyetujui ucapan Alexa.
"Bisa juga, pelakunya ada diantara kita." Celetuk Yuna secara tidak sadar.
Maira berdecih. "Memang motifnya apa? Untuk apa merusak citra sekolah sendiri."
Yuna menatap Maira sembari tersenyum. "Agar bisa diakui keberadaannya. Merusaknya lalu menyelamatkannya lagi layaknya super hero."
Ucapan Yuna lantas membuat mereka saling menatap satu sama lain. Mencurigai orang yang gerak-geriknya terlihat mencurigakan.
"Jika pelakunya berada di antara kita, kau pasti pelakunya." Tuduh Alexa pada Yuna.
Yuna menaikan salah satu alisnya, "Apa alasanmu menuduhku?"
"Kau 'kan orang yang paling ingin diakui keberadaannya."
"Lalu apa aku terlihat mampu untuk menutup mulut polisi? Aku ini hanya Gadis beruntung yang mendapat beasiswa full di SMA Taruna Bangsa." Jawaban Yuna membuat Alexa bungkam.
"Cukup! Kenapa kalian jadi saling menuduh? Jika ingin mengetahui pelakunya, kita harus bekerja sama." Ujar Dion tidak habis pikir.
"Apa yang dikatakan Ketua ada benarnya." Ucap Farah. "Lebih baik kita memfokuskan diri untuk mencari bukti-bukti yang mengarah pada pelaku."
"Besok hari jumat. Pasti pelakunya kembali berulah. Aku ingin memastikan bahwa Great Glory bersih dari semua tuduhan. Jadi hari ini kita menginap di sini, tak ada yang boleh pulang sampai besok."
"Tidak bisa begitu, Dion. Aku bisa di hukum Ayah kalau sampai tidak pulang." Protes Lily.
"Lily benar, jika kita sampai menginap pun. Mau tidur dimana kita?" Kata Dinda.
"Kita tidak akan tidur."
Alexa melebarkan matanya. "Jangan bercanda, Dion."
"Aku serius, semakin kalian protes entah kenapa membuatku semakin yakin dengan rencana ini."
"Iya, lagipula kita ini Great Glory. Kemana hilangnya rasa ambisius kalian?" Alan menambahkan.
"Terserah kalian saja. Pokoknya aku ingin pulang." Alexa beranjak dari kursi.
"Yang ingin pulang ke Rumah. Berarti dia Pelakunya." Ujar Alan.
Alexa dengan raut wajah kesal kembali mendudukkan dirinya. Matanya melirik Yuna sinis. "Gara-gara kau, kita semua jadi terkurung di sini." Cibirnya.
Yuna sedikit merasa bersalah, di sebelahnya. Lily dan Dinda sibuk menelfon orang tua mereka untuk meminta izin. Jika saja Ia tidak asal berbicara seperti tadi, mereka pasti bisa pulang ke Rumah dengan tenang.
Beberapa menit pun berlalu, hari mulai gelap. Semua yang berada di ruangan terlihat gusar, mereka bosan jika harus menunggu berjam-jam hingga esok hari.
Dion berdeham, "Aku akan pergi ke Toilet. Kalian tetap di sini jangan pergi kemanapun."
Mereka dengan kompak mengangguk, setelah pintu ditutup oleh Dion, suasana kembali hening.
"Apa mungkin, pelakunya Dion?" Cetus Nayla, orang yang sedari tadi diam.
"Aku akan melihatnya, kalian di sini saja." Maira tiba-tiba beranjak dari kursi.
Ia melangkah keluar dari ruangan. Kali ini mereka mulai kebingungan, sudah ada dua orang yang keluar dan belum kembali sampai saat ini.
"Jika pelakunya benar Dion, aku khawatir dengan Maira. Aku akan menyusulnya." Tanpa menunggu respon temannya, Alexa beranjak dari kursi.
Ponsel Farah mendadak berdering. "Ini dari Nenek. Aku izin keluar untuk mengangkatnya." Ucapnya sembari melangkah terburu-buru keluar dari ruangan.
"Apa ada yang ingin keluar lagi?" Ucap Alan menatap satu persatu lima anggota Great Glory yang tersisa.
Ditengah suasana tegang itu, teriakan melengking tiba-tiba saja terdengar.
"Suara siapa itu?" Ujar Dinda.
"Entahlah, tapi kita mesti tetap di sini. Sepertinya pelakunya sedang menjalankan tugasnya kita bisa ada dalam bahaya kalau keluar dari sini." Sahut Yuna.
"Kamu benar," Alan menyetujui usulan Yuna.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka menampilkan Dion dan Alexa. Mereka terlihat kelelahan.
"Kalian kenapa?" Tanya Lily.
"Maira hilang, kami tidak bisa menemukan Maira dimana pun." Ujar Alexa.
"Bagaimana itu bisa terjadi." Kata Dinda tidak habis pikir.
"Tunggu, kalian tidak bersama Farah?" Mendadak Alan menyadari sesuatu.
Mereka berdua menggeleng. "Untuk apa Dia keluar?" Tanya Dion.
"Katanya ingin mengangkat telfon dari Neneknya." Sahut Yuna.
"Nenek?" Beo Dion. "Nenek Farah sudah meninggal dua tahun lalu."
"Jangan asal bicara, Dion." Kata Dinda.
"Aku serius, asal kalian tau. Rumahnya berdekatan denganku." Ucap Dion.
"Jadi, apa pelakunya Farah!?" Panik Alexa.
"Kita harus keluar dari sekolah secepatnya," Sahut Alan.
"Tapi, bagaimana dengan Maira?" Ujar Alexa.
"Jangan pikirkan Dia, bisa saja pelakunya Maira. Ayo, kita harus keluar dari sini bersama." Ujar Alan.
"Pelaku sebenarnya adalah Farah. Maira menyusul Dion, karena dia tidak ingin Dion mendapat tuduhan dari Great Glory." Ucap Yuna tiba-tiba membuat semuanya menatapnya.
"Apa alasan Maira melindungiku?" Tanya Dion kebingungan.
"Maira sudah lama memiliki rasa padamu." Jawab Yuna. "Itulah alasannya selalu sinis padaku, dia cemburu."
"Jadi teriakan barusan itu. Teriakan Maira?" Mendadak mereka menoleh ke arah Dinda.
Yuna mengangguk.
"Aku akan mencarinya." Ujar Dion membuat Alan menarik kerah seragamnya.
"Kau gila!? Kau bisa saja menjadi korban selanjutnya." Ujar Alan emosi.
"Biar saja, Maira juga rela kenapa-napa demi melindungiku. Aku bukan lelaki pengecut Lan. Aku pergi, kalian cepatlah pulang ke rumah."
"Tidak! Kami akan membantumu menemukan Maira." Dinda bangkit dari duduknya.
"Itu benar. Kita ini, Great Glory. Kita harus tetap sama-sama meski itu dalam kondisi bahaya sekalipun." Lily menambahkan.
Mereka semua tersenyum ke arah Dion, "Ayo kita hadapi ini sama-sama." Ujar Yuna dengan yakin.
Mereka semua dengan berani melangkah keluar dari ruangan ditemani matahari yang mulai terbit.
TAMAT...