Perjuangan cinta seorang ibu untuk pulih dan menjadi ibu terbaik buat anak-anaknya
Anakku Tak Salah Apapun
“Maaf ya sayang, mama salah….”
Itu adalah mantra yang selalu aku ucapkan kala aku melihat bayi mungilku sedang terlelap dalam tidurnya. Sejak awal melahirkan aku menjadi ibu yang sangat “mellow”. Acapkali aku menangis karena hal aku sendiri tak memahaminya. Sakitnya melahirkan melalui bedah caesar membuatku mengalami trauma. Aku melahirkan pada usia yang tidak lagi terbilang muda. Aku menjadi seorang ibu saat usiaku sudah mencapai 34 tahun, setelah empat kali keguguran yang aku alami.
Sakitnya melahirkan secara bedah Caesar masih mempengaruhiku saat itu, karena seperti ibu lain aku sebenarnya ingin merasakan melahirkan secara normal hanya saja pertimbangan kondisi medisku sebelumnya dan umurku yang sudah hampir mencapai 35 tahun dokter kandunganku menyarankan untuk melahirkan secara caesar. Sebagai informasi, kehamilanku saat itu juga tidak berjalan secara normal karena aku mengalami gangguan kehamilan yang disebut plasenta pervia dimana ari-ari (plasenta)ku berada di bagian bawah rahim sehingga menutupi sebagian jalan lahir.
Sejak kehamilanku berusia dua bulan aku mengalami pendarahan setiap aku kelelahan, berjalan atau berdiri terlalu lama. Menurut dokter kandunganku, kondisi itu akan membahayakan kandunganku. Bila aku memaksakan diri kemungkinan plasenta mengalami kebocoran dan akan membahayakan baik janin maupun diriku. Dokter juga memintaku memilih untuk mengutamakan pekerjaan atau anak dalam kandunganku, sehingga dengan dilema yang luar biasa saat itu aku memutuskan memilih anakku dan merelakan pekerjaanku. Aku resign dari kantor tempat aku bekerja saat usia kehamilanku lima bulan.
Aku sudah berusaha mempertahankan keduanya semampuku, tapi takdir mengharuskanku memilih situasi yang sulit itu karena aku juga mengkhawatirkan kondisi perekonomian kami bila aku harus melepaskan pekerjaanku. Tapi yang aku pegang saat itu adalah Tuhan itu baik, bila Tuhan memberikan kami kesempatan untuk memiliki keturunan setelah enam tahun umur pernikahan kami maka Ia juga pasti akan memberikan rejeki yang mengikuti kelahiran anakku.
Aku mengalami pendarahan selama tujuh bulan kehamilanku yang mengharuskan aku untuk beristirahat dan banyak berbaring, tidak melakukan pekerjaan berat dan tidak boleh stres. Saat itu dukungan keluarga besar sangat membantu kami melalui kehamilanku. Aku juga sangat bahagia karena pada akhirnya anak yang selama ini kami nantikan bertumbuh dengan baik di rahimku, dan gangguan kehamilanku juga tidak terlalu mempengaruhiku saat itu. Singkat cerita, akhirnya saat usia kehamilan ke 38 minggu, aku melahirkan anak pertamaku yang berjenis kelamin laki-laki. Proses kelahirannya juga tak segampang yang aku bayangkan karena anakku harus mendapatkan suntikan obat kortikosteroid (obat untuk mematangkan paru-paru pada bayi) saat kehamilanku berusia 35 minggu karena dokter mengkhawatirkan kondisi kehamilanku saat itu. Dan seminggu sekali aku harus melakukan check-up ke dokter untuk memastikan kondisi janinku. Di usia kehamilan 37 minggu dokter mengatakan bahwa air ketubanku berkurang dan sudah sedikit keruh, sehingga dokter menyarankan agar aku segera melahirkan bayi sebelum ada kejadian yang tak diinginkan terjadi pada bayiku. Kami dan keluarga sepakat, dan akhirnya pada saat kehamilanku berumur 38 minggu lebih dua hari aku pun melahirkan secara bedah caesar.
Hari itu adalah hari yang membahagiakan bagi kami dan keluarga. Tapi ternyata kebahagiaan itu dibayangi oleh sesuatu yang menakutkan bagiku. Saat berada di rumah sakit, kami berdua dengan suamilah yang mengurus diriku yang masih merasakan sakitnya hasil bedah pada rahimku. Saat itu tanpa aku sadari aku mengalami trauma pasca melahirkan atau disebut dengan PTSD (Post-traumatic Stress Disorder) yaitu suatu gangguan mental entah itu ringan atau berat pasca melahirkan. Kesakitan yang aku alami pasca melahirkan membuatku sempat mengalami demam tinggi yang sempat membuat perawat di rumah sakit khawatir. Untungnya setelah mendapatkan obat, demamku berangsur turun.
Trauma itu juga mempengaruhi ASI (Air Susu Ibu) yang keluar dari tubuhku. ASIku sama sekali tak mau keluar walau sudah dirangsang dengan berbagai cara. Mengonsumsi berbagai jenis olahan makanan dan minuman untuk memperbanyak ASI, sama sekali tak memberi pengaruh apapun pada tubuhku. Hal itu membuat aku semakin stress dan mengalami depresi ringan. Aku merasa bersalah kepada anakku dan menganggap diriku bukan ibu yang baik bagi anakku. Aku sering menangis sendiri dalam kamar saat aku melihat anakku. Lalu mengucapkan kata-kata kepada kesatria kecilku,
“Maafkan mama ya sayang, mama yang salah. Mama engga bisa jadi ibu yang baik buat adek.”
Suamiku sudah berusaha untuk menenangkan dan menghibur diriku dengan cara yang dia tahu. Karena suamiku bukan tipe yang peka atau mempunyai tingkat keromantisan yang tinggi. Ia hanya akan memelukku saat aku menangis dan tanpa membubuhkan kata-kata yang menenangkan. Aku sering merasakan kesepian di tengah keramaian, karena saat itu aku tinggal di kediaman mertuaku. Karena kondisi mentalku, aku menarik diri dari keluarga besar kami dan lebih banyak menghabiskan diri di kamar berduaan dengan bayiku.
Saat itu aku merasa kalah dengan keadaanku. Aku sempat tenggelam dalam keputusasaan dan takut membayangkan masa depan anakku kelak. Sampai di satu titik ada perasaan dimana aku menyalahkan keberadaan anakku yang menyebabkan ketidakbahagiaan dan perasaan sakit yang aku alami. Aku merasa diambang kehancuran, hingga akhirnya aku mencurahkan semua rasa itu kepada suamiku. Aku takut kalau ujung dari semua depresi yang aku alami akan menyebabkan aku menyakiti diri dan anakku.
Akhirnya aku dan suami sepakat untuk berkonsultasi dengan yang ahli untuk permasalahan yang aku alami. Kami mendatangi psikiater yang direkomendasikan oleh salah satu kolega kami yang sebelumnya juga mengalami gangguan mental yang sama dan sudah berangsur pulih. Pertama kali kami mendatangi psikiater untuk melakukan konsultasi, tak ada hasil yang aku rasakan sama sekali. Aku masih merasakan kekosongan dan penderitaan yang sama. Pada saat konsultasi yang kelima dan aku mulai rutin mengkonsumsi obat dari psikiater, aku perlahan bisa merasakan ketenangan. Saat berkonsultasi dengan psikiaterku, aku didiagnosa mengalami PTSD dan Baby Blues Sindrome. Hal itu seakan menampar diriku. Untungnya aku segera berkonsultasi dengan yang ahli sebelum kondisiku semakin parah.
Selain berkonsultasi dengan psikiater aku juga menemukan ketenanganku dengan bermeditasi dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Perasaan bersalah, atau menyalahkan kehadiran anakku perlahan menghilang. Aku menjadi lebih lembut kepada diriku dan anakku. Kali ini mantraku sudah berganti.
“Anakku tak salah apapun, ini hanya bagian dari hidup yang harus aku jalani. Dan bukan kesalahanku juga bila aku mengalami PTSD dan Baby Blues Syndrome. Itu hanya suatu fase yang kebetulan aku alami. Tak ada yang salah dengan diriku atau anakku. Aku hanya belajar untuk tumbuh menjadi ibu yang terbaik buat anakku.”
Lima tahun berlalu dari kejadian itu, aku konsultasi ke psikiater selama enam bulan karena kondisi perekonomian kami tak cukup menopang bila aku melanjutkan sesi konsultasi yang saat itu cukup mempengaruhi kondisi finansial kami. Karena saat itu kami hanya mengharapkan gaji dari suamiku. Saat ini aku masih terus menjalani proses pemulihanku melalui doa, puasa dan meditasi serta membaca artikel dan buku-buku inspiratif yang berhubungan dengan gangguan mental yang aku alami.
Satu hal yang aku pelajari dari gangguan kesehatan mental yang aku alami, bahwa siapa pun yang mempunyai predikat seorang ibu kemungkinan besar akan mengalami apa yang aku alami. Itu adalah salah satu fase terberat menjadi seorang ibu. Merawat bayi, keluarga dan diriku sendiri bukan hal yang gampang seperti banyak orang lain pikirkan. Acapkali aku harus berdamai dengan pikiran dan gangguan mentalku agar mampu menjalani kehidupan normal yang menjadi stigma di masyakarat dimana menjadi seorang ibu memang kodrat semua perempuan. Dan ibu yang menangis dan tak mampu memberikan Asi ekslusif buat anaknya adalah ibu yang gagal. Padahal tak ada seorang ibu pun yang ingin mengalami gangguan mental yang tiba-tiba menyelubunginya dan menjadi momok yang menakutkan tanpa bisa ia hindari.
Kadang aku mendoakan semua ibu diluar sana yang mungkin sedang mengalami kejadian yang aku alami dan terkadang tak menyadari ia mengalami gangguan mental berupa PTSD dan baby blues syndrome atau gangguan mental lainnya yang berhubungan dengan kehamilan atau kelahiran bayinya tetap mendapatkan rengkuhan hangat dari pasangan dan keluarganya untuk memberikan kekuatan kepada mereka untuk bertahan dan segera menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan.
Aku masih berusaha untuk pulih dari trauma itu, karena ada hari dimana gangguan itu datang untuk menggelitik relung jiwaku dan membuat kewarasanku memudar saat itu. Tapi aku sudah bisa mengontrol pikiranku dan mehafalkan mantra baru dalam relungku.
“Anakku tak salah apapun, begitu juga dengan diriku.”
T A M A T