"Kakanda?!" seru dia, wanita dengan pakaian anggun nan mewah seperti dilapisi oleh emas. Hiasan kepala bak mahkota menempel cantik diatas permukaan surai rambutnya, tengah berlari kecil dengan langkah yang tergesah menuju kearah sosok yang ia panggil sebagai kakanda.
Lelaki tersebut menoleh, dibarengi beberapa pasang mata lainnya.
"Hati-hati Adinda, dikau bisa tersandung!" ucapnya lantang menbalasi panggilan dari wanita itu sembari menampilkan raut muka yang khawatir. Kalau-kalau sesuatu tak mengenakan tiba-tiba saja terjadi, menimpa wanita cantik sang pujaan hati.
"Hehe..." dia malah terkekeh, begitu sampai dengan aman tepat dihadapan.
"Kakanda," panggilnya gantung. Merapikan hiasan kepala yang sejujurnya memberatkan kepala tapi tak apa. Ini sudah biasa.
"Iya Adinda?" menyahut dengan halus.
"Daku dengar bahwa dikau akan pergi keperbatasan, apakah benar?" tanya dia, sang adinda. Kakanda yang mendengar terhenyak, diam untuk beberapa saat seperti orang yang tak mampu bicara.
Sambil menanti jawaban dari mulut yang bungkam, salah seorang tiba-tiba saja maju mendatangi mereka. Menundukkan tubuh juga berkata;
"Salam hamba, Prabu, Permaisuri..." ucap dia menarik perhatian sang kakanda juga adinda. Wajah tak asing nampak dengan pakaian khas ajudan, adinda yakin seseorang yang baru saja menyapa mereka adalah ajudan kepercayaan kakanda sekaligus teman sepermainan mereka sewaktu kecil.
"Salam," sahut adinda yang bertitalkan permaisuri lalu mengangguk kecil sembari tersenyum. Begitu juga kakanda, sang Prabu dari kerajaan ini.
Wajah kakanda berseri-seri, seakan senang teman lamanya datang kemari—mungkin bisa membantunya untuk berdalih. Melihat perubahan raut wajah, adinda mengerutkan kening. Ini jelas tak beres, ujarnya membantin.
"Torus?" panggil adinda tiba-tiba, mengejutkan para pendengar.
"Ya Permaisuri?" sahut ajudan bernama Torus tersebut secara spontan. Menanti jawaban dari mulut kakanda sepertinya tak akan membuahkan hasil, pikir adinda. Maka dari itu ia memilih langsung bertanya saja dengan orang yang akan menjawab pertanyaan miliknya dengan pasti tanpa ada unsur kebohongan.
"Daku mendengar bahwa rombongan akan pergi ke-perbatasan? Apakah benar?" tanya adinda berwajah seram hingga berhasil membuat kakanda yang mendengar tersentak. Menggulung bibir kedalam.
Torus melirik, menilai sedikit reaksi sang prabu.
Rupanya prabu belum angkat suara, begitu pikirnya. Membuat Torus mau tak mau menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari bibir sang permaisuri.
"Benar permaisuri..."
"Apa ada hal yang terjadi? Sampai-sampai Kakanda harus turun tangan membawa rombongan prajurit menuju perbatasan termasuk dikau Torus?" tanya adinda kembali, tak lagi menghiraukan kakanda. Biarkan dia gelagapan sendiri, mencari jalan untuk masuk kedalam pembicaraan ini.
"Benar sekali wahai Permaisuri..." sahut Torus yang membuat kakanda memekikan suara karena panik lalu meminta Torus kembali kebarisan—meninggalkan mereka.
Tanpa pikir panjang Torus mengiyakan sambil menjauh dari dua orang berpangkat tinggi yang tidak lain adalah sang prabu serta permaisuri dari kerajaan ini.
"Jadi?" ucap adinda, berwajah dongkol.
Kakanda yang mendapati respon sedemikian rupa hanya mampu tertawa. Tawa hambar tepatnya.
"Daku bertanya 'apa yang sebenarnya terjadi?' wahai Kakanda... daku harap dikau menjawab."
Kakanda menelan ludah kasar, sejak kapan adinda manisnya ini berubah? Padahal mereka baru saja menikah, tak genap satu setengah tahun yang lalu. Kemana perginya gadis muda yang selalu memanggil kakak kepada dirinya?
Kembali melihat keterdiaman, adinda kesal. Wanita tersebut memutuskan menginjak ujung kaki milik lelaki yang ia panggil sayang dengan sebutan kakanda. Meski tak sakit hal ini berhasil membuat kakanda meringis. Bak orang canggung ia kemudian menjawab.
"Para Setan tiba-tiba saja menerobos masuk area perbatasan wahai Adinda, maka dari itu daku bersama prajurit akan menuju kesana demi keselamatan dari para rakyat."
***
Tiga setengah bulan kemudian.
"Enyah kau dasar makhluk jelata!"
Tiba-tiba saja teriakan seseorang memenuhi genda telinga, adinda bersama para dayang ikut menoleh. Penasaran kearah sumber suara.
"Apa gerangan yang terjadi sana?" tanya adinda, melihat ramai-ramai diujung jalan. Para dayang yang menemani jalan-jalan permaisuri mereka di kota menggeleng, sama-sama tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tak mendapat jawaban yang diinginkan, adinda melambai tangan kearah pengawal yang bertugas menjaga mereka.
"Bisa dikau periksa gerangan apa yang terjadi disana?" pinta sang permaisuri halus. Pengawal tersebut langsung mengiyakan, lantas tanpa membuang massa dia bergerak cepat menuju kearah sana guna mencari tahu punca masalah.
Menghabiskan sedikit waktu akhirnya pengawal yang diutus kembali, mengucapkan informasi yang sudah ia peroleh kepada sang permaisuri ibu dari seluruh negeri.
"Salah seorang bangsawan dari kelas menang sedang mendisiplinkan rakyat jelata wahai Permaisuri..." ucapnya. Adinda yang mendengar mengangguk, sebuah hal yang wajar. Para bangsawan memiliki kewajiban atas rakyat sama halnya seperti prabu dan dirinya yang berkewajiban atas seluruh rakyat di kerajaan mulai dari jelata hingga kaum bangsawan.
Ingin mengetahui lebih banyak, langkah kaki adinda tergerak—menuju kearah sana. Dia ingin mengetahui metode seperti apa yang bangsawan itu lakukan dalam mendisiplinkan orangnya. Tapi belum sampai manik mata indah tersebut melihat juga mencerna, jeritan pilu terdengar.
"ARGHHH!"
Adinda tersentak. Lantas dia berlari diiringi para dayang juga pengawal; menerobos masuk kedalam kerumunan. Dan pemandangan yang ia lihat hanyalah sebuah penyiksaan.
"Ampun! Ampun Tuan ku?!" begitu katanya yang berhasil menarik keluar seluruh amarah milik adinda.
"APA YANG TERJADI DISINI?!" lantang wanita itu yang membuat seluruh pandangan teralihkan. Menyadari acaranya diganggu, bangsawan muda tersebut berbalik. Siap melayangkan protes meski sayang otaknya lebih dulu menyadari.
"Salam, wahai Permaisuri!"
Serentak semua orang disana memberi hormat, menunduk malu dengan lidah yang kelu. Selain beberapa bangsawan rata-rata dari mereka adalah rakyat jelata.
"Mohon ampun Permaisuri, hamba hanya sedang mendisiplinkan rakyat jelata ini..." ucap bangsawan muda tersebut.
Adinda menukikan keningnya, tak paham.
"Apa kata disiplin memiliki arti yang sama dengan menyiksa?" desis adinda. Dilihatnya sosok rakyat jelata yang terkulai lemas diatas tanah dengan tubuh bersimbah darah.
Belum sempat bicara, adinda memilih memotong ucapan bangsawan muda itu.
Dia hanya ingin berdalih, pikirnya.
"Bangsawan memiliki kewajiban untuk melindungi, mengurus, membimbing, dan membina rakyatnya. Bukan menganiaya mereka." ungkap adinda, geram.
Suasana berubah tegang, bangsawan yang mendapat teguran menundukkan kepala malu. Sedang para rakyat jelata terkesima atas kebijaksanaan permaisuri mereka. Walau sayang hal tersebut tidak berlangsung lama.
Keributan lain tiba-tiba datang, bersama suara benda mirip pukulan.
TENG! TENG! TENG!
"PARA SETAN DATANG! PARA SETAN DATANG!" teriak seseorang.
Banyak yang mendengar berlarian, bak alarm bahaya ujar mereka. Kericuhan terjadi sepersekian detik setelahnya.
Adinda merinding, rasa takut memenuhi semua indara milik wanita itu namun dia masih berusaha untuk tenang.
Manik mata indah berwarna terang melihat kearah ujung langit sana, memang benar—para setan disini mereka bergerak menuju kemari.
Apa yang—! Jerit panik dewi batin adinda.
Perubahan atmosfer seketika terjadi, udara semakin kotor dengan langit yang menggelap. Ratusan bahkan mungkin ribuan dari makhluk bernama setan tersebut sedang bergerak menuju kesini.
Bukannya Kakanda sudah membereskan mereka! batin adinda mengingat kembali surat yang ia dapatkan sebulan yang lalu.
Belum sempat mencerna situsi dengan baik, jawaban yang ia cari muncul bersamaan dengan para setan yang memperkikis jarak diantara mereka.
"I-itu?" gumamnya, gemetar.
Melihat kepala dari sang kakanda tepat diatas ujung tombak.
END
Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun mungkin karena ketidaksengajaan semata.
Jangan lupa reaksinya; like, vote, maupun comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis.
Terima kasih
Bye... bye...
:3