Renungan ketika hujan
Siang itu, cuaca yang mulanya panas. Secara tiba-tiba berubah menjadi dingin yang disertai dengan hujan deras. Aku yang pada awalnya memiliki niatan untuk pergi menuju ke masjid, terhalang oleh hujan deras yang secara tiba-tiba turun.
"Sayang sekali, padahal jika siang ini aku bisa menuju ke masjid, sholat Jum'at ku tidak akan bolong" Ucap ku dalam hati
Sarung yang tadinya sudah aku rapikan, agar nyaman di kenakan. Kini harus ku lepas. Hujan ini agak membuatku kesal. Kenapa harus siang ini turunnya?, Kenapa bukan saat pagi atau sore hari saja.
Aku menggrutuk sendiri beberapa kali sembari melipat sarung merah yang tadi aku kenakan, kemudian meletakkannya kembali ke dalam lemari.
Tempat yang nyaman dan sederhana (kamarku), kini menjadi tempatku yang ingin merasakan ketenangan saat ini, ku luruskan kakiku keluar tepi kasur sembari duduk dan melihat keluar jendela. Terlihat hujan di luar sana yang lumayan deras, telah membasahi dedaunan dari berbagai macam pepohonan yang ada.
"Hu......dingin sekali ya dek!?" Tanya kakak ku
Kakak ku yang bernama Marcho Nouviq Iquino, dengan nama panggilan Marcho. Sedari tadi berada di sebelahku. Dia membaringkan badannya dengan posisi tengkurep. Handphonenya yang menjadi temannya mengisi waktu luang siang ini. Mungkin saja akan trus di lihatnya sampai ibu kami memanggil untuk meminta bantuan.
"He'em...lumayan dingin sih kak. Tapi kalau swasananya udah kayak gini, kadang bisa ngebantu aku untuk merenung" Sahutku
"Ya ya ya, kebiasaan jelekmu kayaknya mau mulai nih, merenungkan hal yang seharusnya tidak di renungkan" Ledeknya kepadaku
Aku hanya sedikit tertawa ketika mendengar kakak ku berkata demikian. Ku baringkan kepalaku di bantal empuk milikku. pandangan ku kini Ter'arah ke langit-langit kamarku.
Pikiran ku mulai mengarah ke kenangan-kenangan pada masa lalu. Kalau di ingat-ingat semua yang telah ku lalui sampai usiaku menginjak 16 tahun, sangatlah panjang. Aku juga merasa heran, bagaimana bisa aku melewati semua masalah yang sebelumnya ku hadapi.
Sempat aku berfikir aku tidak bisa melewati masalah yang aku hadapi. Tapi ternyata semua itu hanyalah sebuah sudut yang mendorongku agar menjadi orang yang lemah.
Terkadang aku berharap mendapat bantuan dari orang lain. Sesekali aku juga berharap ada yang mengerti dengan apa yang aku rasakan. Hingga pada saatnya tiba, waktu menjawab semua harapan yang hanya menjadi angan-angan ku.
Waktu memang berjalan cepat. Berkat waktu aku bisa menjadi pribadi yang lebih tangguh. Sebelumnya ketika mendapat masalah, aku merasa takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dan sekarang ketika berhadapan dengan berbagai masalah, aku selalu merasa tenang.
Dari dalam diriku keluar beberapa kata, yang membangkitkan tekadku. Keyakinanku menjadi tinggi, dan aku percaya bahwa aku bisa melewati semua ini.
Lamunanku terhentikan oleh kakak ku, yang mendorong kepalaku dengan jari telunjuknya. Aku kembali menoleh ke arah kakak ku. Alisku mengerut. Berniat ingin marah, tapi kakak ku sudah berbicara terlebih dahulu
"Awas kesambet loh!!, Sini mending nonton Vidio ini aja, ada kamu loh di sini" Kata kakak ku yang agak menyodorkan ponselnya ke arahku, supaya aku juga bisa melihat Vidio yang ia maksud.
Mulut yang tadi mendatar, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Kini berubah menjadi senyuman tipis. Di layar ponselnya, terlihat Vidio saat aku dan kakak ku masih kecil. Ternyata banyak sekali momen lucu saat aku dan kakak ku masih kecil.
Melalui Vidio ini, aku tersadar bahwa masa laluku. Tidak sekelam yang aku kira. Cuaca yang dingin pada saat itu kembali membuat merenung sejenak.
Pada dasarnya Kebahagiaan tidaklah bertahan lama, begitu pula sebaliknya, Ketidak bahagiaan juga tidak akan bertahan lama. Waktu lah yang akan berbicara mengenai semua itu. Aku rasa tidak baik menyia-nyiakan waktu, apabila kebahagiaan sudah datang. bukan begitu?
Isak tawa keluar dari mulutku, ketika sampai pada bagian momen lucuku. Dalam Vidio itu, terlihat aku yang tidak tahu apa-apa, tengah memainkan kotoran ayam. Yang baru saja keluar dari ayam hitam.
"ternyata aku dulu,terlalu lugu ya" Ucapku sembari tertawa
"Loh kan memang, sekarang aja masih begitu...hahahahaha" Sahut kakak ku
Wajahku menunjukkan rasa sebal, seolah-olah tidak suka dengan candaan kakak ku. Dengan niatan membalas, aku pun memukul lengan kakak ku dan berlari keluar kamar. Nampak kakak ku sepertinya mengejar.
"Bruk..." Suara benturan.
Saat itu aku tidak sengaja menabrak ibuku, ibuku sepertinya agak marah. Terlihat dari wajahnya yang kurang menyenangkan, dan tangan yang sepertinya bersiap untuk memukul.
Aku seharusnya tidak berlari menuju ke dapur. Karena saat ini ibuku tengah memasak di sana. Rasa panik tadilah yang membuatku asal mengambil arah untuk bisa berlari. Menghindari kejaran kakak ku.
Kakak ku yang melihat kejadian barusan, hanya berdiam di tempat. Dan melihat aku yang tengah terduduk di lantai, tengah menundukkan kepala.
"Ngapain sih main lari larian?, Untuk gak kena makanannya, nanti kalau makanannya jatoh gimana?" Kata mamaku kesal.
"Eee... A-anu mah ,tadi kak Iko ngejar"
Jawabku. Kak Iko adalah nama panggilan khusus dari orangtuaku, yang menyuruhku memanggil kakak ku dengan sebutan kak Iko.
Ibuku menoleh ke arah kakakku, "Gimana gak ngejar, orang dia iseng main mukul-mukul" kakak ku memberikan penekanan.
"Udah-udah sekarang ayok ikut ibu ke depan!!!" Kata ibuku
Aku mengira pada saat itu, ibuku ingin menghukum kami. Tapi ternyata tidak. Sesampainya di depan teras, kami bertiga duduk di kursi yang ada. Pikiran buruk pun mulai muncul dari dalam pikiranku. Apalagi saat ini kakak ku tengah memperhatikan ku dengan tatapan kesal. Benar benar di luar dugaan ku.
Ibuku masih memperhatikan kami berdua, sampai beberapa saat kemudian memberikan kami sebuah pertanyaan
"Kalian tau gak, kenapa ibuku bawa kalian ke sini?" Tanya ibuku
Aku dan kakak ku menggelengkan kepala. Ibuku mengalihkan pandangannya ke arah depan. Hujan masih tampak turun dengan derasnya. Cukup lama ibuku melihat hujan.
Karena merasa tidak nyaman aku pun memberanikan diri untuk menoleh ke depan. Aku ikut memperhatikan hujan yang turun dengan sangat deras
"Ternyata Ini maksud ibu, menyuruh kami duduk di sini" Ucapku
Ibuku tersenyum tapi pandangannya tidak berpaling dari hujan itu. Sepertinya kakak ku juga mulai sadar.
Dahulu ibuku, aku dan kakak ku pernah terjebak hujan saat ingin kembali kerumah. Posisinya saat itu kami baru saja kembali dari rumah pamanku menaiki motor. Sialnya, pada saat itu ibuku lupa menaruh mantel di dalam jok motornya, yang membuat kami harus berteduh.
Baju yang kami bertiga kenakan agak basah, sehingga membuat aku dan kakak ku yang pada saat itu masih kecil. Merasa kedinginan.
Ibuku yang sepertinya sadar akan kondisi kami. Memeluk erat kami berdua.
Hangat.....itulah yang aku rasakan pada saat itu. Aku tau ibuku juga kedinginan, tapi demi anak anaknya ia rela menahan rasa dingin. Agar anak anaknya tetap merasa hangat.
Kami bertiga trus memandangi hujan yang turun dengan derasnya. Seakan-akan menikmati swasana dingin yang merasuki tubuh. Pikiranku mulai kembali kepada beberapa momen-momen indah yang aku dapatkan bersama ibu dan kakak ku.