#Cerita Cinta
Pria yang mengandai istrinya selingkuh, lihatpembalasan istrinya
1
Setelah memikirkannya dengan baik, sebenarnya sumber konflik antara aku dan suami sudah ada sejak lama. Namaku Vera, suamiku bernama Jansen. Kami bertemu di universitas, aku jurusan seni rupa dan dia jurusan olahraga.
Postur tubuhnya mirip dengan Hyun Bin, bahkan wajahnya juga agak mirip, aku langsung jatuh cinta pada kegantengan dan style koreanya. Setelah lulus kuliah pada tahun 2002, kami berdua mencari pekerjaan di Jakarta.
Awalnya, suamiku bekerja sebagai trainer gym di sebuah lembaga kebugaran, sementara aku bekerja sebagai editor desain di sebuah surat kabar.
Pada tahun 2006, aku melahirkan seorang putra. Selama cuti melahirkan, aku tidak diam saja. Awalnya, aku hanya bermaksud untuk memanfaatkan waktu luang untuk mengambil beberapa pekerjaan desain dan menghasilkan uang susu anak-ku. Siapa sangka, penghasilan tambahan ini jauh lebih tinggi dari gajiku, sehingga aku memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Begitu cuti melahirkan berakhir, aku mengundurkan diri dari surat kabar dan mendaftarkan sebuah perusahaan desain iklan.
Beruntungnya, perusahaan ini mengalami booming dalam periode awal usaha, jadi menghasilkan banyak uang. Sementara itu, suamiku masih menjadi trainer gym, hanya saja dia bekerja di lembaga yang lebih besar. Waktunya lebih fleksibel, jadi ketika aku sibuk, dia yang biasanya menjaga anak kami.
Setelah memiliki uang, yang pertama kali aku pikirkan adalah investasi properti dan pendidikan anak. Agar dapat menghindari sistem pendidikan dan lingkungan kompetisi yang gila di Indonesia, setelah memikirkannya bersama suamiku, kami memutuskan untuk memberikan anak kami jalan pintas, yaitu studi di luar negeri.
Tapi anak kami masih kecil, aku tidak akan merasa tenang meninggalkannya di keluarga asuh. Oleh karena itu, harus ada satu orang yang menemaninya di sana. Suamiku mengatakan bahwa ia dengan senang hati melakukannya, dan aku dapat tetap tinggal di dalam negeri untuk terus mengelola perusahaan dan memberikan dukungan finansial yang kuat bagi mereka. Pada awal tahun 2014, kami menyelesaikan semua urusan investasi imigrasi dan membeli rumah di sebuah daerah kelas menengah di kota Quebec.
Saat itu, agen properti yang melayani kami adalah seorang wanita Indonesia yang telah menjadi imigran selama beberapa tahun, namanya Anna. Anna beberapa tahun lebih muda dariku, tidak hanya cantik, mulutnya juga manis.
Melihatnya sangat fasih dalam bahasa Inggris dan pandai dalam bernegosiasi dengan pemilik rumah dan staf departemen terkait transaksi properti. Aku sangat kagum padanya. Setelah semua prosedur selesai, aku tidak hanya kagum padanya, tapi juga sangat mempercayainya.
Aku bertanya padanya bagaimana dia bisa berbicara bahasa asing dengan baik, dan dia menjawabnya sambil bercanda bahwa rahasianya adalah menikah dengan suami bule dan menjadikannya guru bahasa asing gratis.
Dia menceritakan kisahnya padaku, ia bilang suaminya adalah bule, dan mereka memiliki anak kembar blasteran. Dia juga menceritakan beberapa cerita lucu tentang kehidupan di luar negeri, aku sangat menikmati ceritanya. Aku pura-pura menyesal dan mengatakan bahwa aku terlalu terlambat mengetahui ini.
Dilihat dari kondisinya, dia sepertinya berhasil beradaptasi dengan baik di sini, dan ini semakin meyakinkanku bahwa mengirim putraku untuk belajar di luar negeri adalah pilihan yang tepat. Ditambah lagi, dia sering memanggilku dengan sebutan "kakak", aku yang merupakan anak perempuan tunggal dalam keluarga jadi bisa merasakan punya saudari untuk pertama kalinya. Aku sangat tenang memiliki seorang adik yang bisa menunjukkan jalan setelah aku mendarat di sini, dan bahkan bisa menitipkan suami dan anakku padanya.
Saat itu, aku sama sekali tidak berpikir bahwa orang yang begitu aku percayai, adalah orang yang melukaiku paling dalam...
2
Pada awal tahun 2015, aku menjual perusahaanku dan berkumpul bersama suami dan anakku di Kanada. Aku tidak bekerja dan tidak punya jalan lain untuk berinvestasi, jadi aku memutuskan untuk membeli apartemen sebagai investasi pertamaku. Aku menghubungi Anna. Setelah satu tahun tidak bertemu, Anna masih sangat ramah.
Dia tidak hanya membawaku ke mana-mana untuk melihat apartemen, tetapi juga memberiku saran tentang segala hal yang perlu diperhatikan saat hidup di Kanada, mulai dari mengajariku cara menghindari pajak yang tidak wajar, membayar pajak dengan benar, sampai merekomendasikan pelatih berpengalaman dari kalangan orang Indonesia untuk mengambil kursus mengemudi dan mengganti SIM, dan banyak lagi.
Dia tidak hanya membawaku untuk makan dan melancong di sekitar kota dan tempat-tempat wisata terkenal, tetapi juga mengajak keluargaku saat keluarganya berlibur ke luar negeri.
Sebagai ungkapan terima kasih, aku sering mengajaknya makan dan memberinya berbagai hadiah. Namun, biasanya dia hanya mengajakku minum secangkir kopi, dan tidak pernah memberiku hadiah.
Terkait hal ini, dia merasa tidak enak hati dan berkata bahwa dia dan suaminya selalu menerapkan sistem pembagian biaya, sehingga biaya hidup di rumah hampir selalu dibagi dua. Baru ini aku mengetahui situasi sebenarnya.
Aku awalnya mengira dia menikah dengan bule kaya yang memiliki properti dan bisnis di sini sehingga secara finansial harusnya sangat baik. Namun, dia mengatakan bahwa bahkan biaya tiket pesawat untuk liburan harus dibayar sendiri, dan sebagai agen properti, dia tidak memiliki gaji tetap dan kadang-kadang sulit untuk menghidupi dirinya sendiri. Aku sering menyayangkannya di belakang, merasa bahwa dia seperti menikah hanya untuk mencari teman tidur. Aku bahkan sedikit merasa kasihan padanya. Setelah aku datang ke Kanada, aku juga belum punya rencana berkarir, jadi atas saran Anna, aku membeli tiga apartemen lagi dan meminta bantuannya untuk mencarikan penyewa, sehingga aku bisa lebih santai dan dia bisa mendapatkan komisi untuk membantu biaya hidupnya.
Aku yang biasanya sangat sibuk, jarang sekali bisa santai, hari-hari kulalui dengan bercocok tanam dan mengurus anak. Suatu hari di bulan Oktober, teman wanitaku di Jakarta, Yeni, datang ke Amerika Serikat untuk mengunjungi kerabatnya dan sekalian menemuiku.
Yeni adalah teman sekelas-ku saat kuliah, setelah lulus ia juga pergi ke Jakarta bersama pacarnya untuk membangun karir. Pacarnya Yeni bekerja di industri keuangan, setelah mengumpulkan banyak sumber daya, ia beralih ke bisnis. Kemudian, bisnisnya semakin besar, Yeni memutuskan untuk berhenti kerja dan menikmati hidup dengan treatment, shopping, dan menjaga putrinya. Dia telah menikmati hidup dengan “pensiun dini” yang membuatku iri.
Aku menjemput Yeni di bandara, dia mengatakan bahwa dia tidak hanya datang untuk melihatku, tetapi juga untuk mengunjungi lokasi syuting drama Korea populer "Goblin" di Quebec. Aku bertanya kepadanya, bukankah kamu tidak suka drakor? Mengapa tiba-tiba jadi penggemar drakor? Dia secara misterius menjawab, "Bukan untuk-ku, tapi untuk putriku." Umur putrinya masih di bawah 10 tahun, bagaimana dia bisa menyukai drakor? Aku bertanya-tanya di dalam hati. Namun, siapa sangka dia bilang ia baru saja memiliki pacar brondong dan bilang bahwa pacarnya mirip dengan pemeran utama pria Gong Yoo dalam drama "Goblin", tampan dan penyendiri.
Harapan pacaran brondongnya adalah berwisata ke tempat-tempat syuting drama Korea "Goblin"di Quebec. Dia ingin mengunjungi hotel Fairmont Chateau Frontenac. Membawanya datang terlalu mencolok, jadi dia datang melihat-lihat dulu. Aku seketika terkejut: ternyata rumor yang beredar di kalangan teman-teman benar, Yeni menjadi seorang playgirl.
Aku belajar dari rumitnya kehidupan di masyarakat bahwa bahkan teman terbaik hanya peduli dengan urusan pribadi mereka sendiri. Tentu saja, aku tidak dapat membereskan masalah temanku, tetapi aku memutuskan untuk tidak membiarkannya menginap di hotel, tetapi tinggal di rumahku, sekalian memperlihatkannya "rumah mewah" yang aku beli dengan harga murah setara harga di lingkar luar Jakarta.
Setelah menemaninya beberapa hari, aku menyimpan kejutan besar di dua hari terakhir, menunjukkan gaya hidupku sebagai seorang imigran yang kaya dan memiliki aset, karena jika keberhasilan imigrasi tidak ditunjukkan pada orang, aku akan merasa ada penyesalan.
Hari itu, kami jalan-jalan ke pusat kota, dan aku ingin memamerkan "aset pribadi" ku, jadi aku mengeluarkan segepok kunci untuk menunjukkan bangunan apartemen yang aku miliki.
Sepanjang perjalanan, aku juga memperlihatkan kepandaianku dalam sastra Perancis, dan mengatakan bahwa setiap kunci ini dilengkapi dengan kartu identitas, jika hilang, harus memesan ulang dari pabrik, tidak seperti di Indonesia, di mana kunci duplikat bisa didapat di pasar, jadi ini sangat aman.
Saat itu, aku tidak berpikir bahwa satu set kunci akan memiliki dua kunci, dan kunci ini juga mungkin dimiliki oleh orang lain. Setelah membuka pintu, kami melihat Anna yang hanya mengenakan pakaian dalam dan Jansen yang bertel*nj*ng dada sedang berciuman dengan panasnya di dapur! Aku merasa seketika seperti ada sesuatu yang runtuh dalam diriku.
3
Yeni dengan lembut menarik lenganku, aku tersadar dan berteriak, "Pancinya gosong!" Kemudian, aku berlari ke dapur untuk mematikan api.
Suamiku bisa menjadi milik orang lain, tetapi rumah adalah milikku sendiri, aku sangat kesal karena rumahku hampir terbakar.
Saat Anna melihatku, dia segera masuk ke kamar dan menutup pintunya, suamiku juga ingin ikut masuk, tapi aku langsung mengambil spatula dan memukulinya.
Kedua orang biadab ini, mereka sangat tidak punya hati nurani! Si Anna juga, padahal aku sangat mempercayainya, aku bahkan membeli sebuah apartemen darinya dan kemudian empat apartemen lagi untuk investasi, dan juga meminta bantuannya untuk menyewakan apartemen tersebut. Aku menganggap dia sebagai teman baik, tapi dia mengkhianatiku dan berhubungan dengan suamiku.
Pakaian dalam yang dikenakan Anna, bahkan adalah hadiah dariku minggu lalu ketika aku berbelanja di Victoria's Secret bersamanya, dan celana dalam suamiku juga dibelikan olehku di hari itu!
Sejak suamiku berimigrasi, dia tidak pernah bekerja dan sepenuhnya bergantung padaku. Pasangan biadab ini, makan dan pakai semuanya milikku, bisa-bisanya mereka berani berselingkuh di apartemen yang aku beli dengan uangku sendiri?!
Aku merasa marah dan benci! Jantungku tiba-tiba sakit, ternyata, saat terluka dalam, memang bisa menyakitkan ya! Aku memegangi dadaku, merangkak dan menangis di lantai. Sedangkan suamiku yang bejat, memanfaatkan kesempatan ini dan berlari ke kamar mandi.
Yeni berjalan cepat ke dapur dan menarikku bangkit. Aku melempar spatula dan berlari keluar apartemen. Kejadian tangkap basah yang tidak terduga, tapi tak disangka yang paling canggung adalah Yeni.
Dia mengejarku dan diam-diam menemani. Setelah beberapa saat, dia merangkul bahu ku dan berkata: "Aku mengalami hal yang sama beberapa tahun yang lalu. Tidak ada yang tidak bisa dilalui! Aku bisa melaluinya saat itu, jadi aku yakin kamu juga bisa melaluinya!"
Yeni dan aku tidak makan malam, kami langsung pergi ke sebuah bar untuk minum, hanya perselingkuhan saja, siapa takut?
Yeni minum sambil membujukku, ia mengatakan bahwa suaminya telah selingkuh beberapa kali, awalnya dia menangis dan marah, tapi kemudian dia memikirkannya dengan jernih. Jika dia bercerai, apa yang bisa dia lakukan selain kembali ke dunia kerja dan bersaing dengan gadis-gadis muda yang baru lulus? Siapa yang akan merawat anak-anak saat ia bekerja dari pagi hingga malam?
Yeni telah memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya meskipun suaminya selingkuh. Sekarang, dia hidup berkecukupan, setiap tahun ke luar negeri beberapa kali, mencari kekasih muda, apakah ini tidak menyenangkan? Pernikahan hanyalah selembar kertas, apa yang perlu diperdebatkan! Kehidupan sungguh penuh dengan drama, mengubah Yeni yang dulu berjanji setia pada cinta, menjadi seperti ini.
Menurut kata-katanya yang bijaksana, akhirnya aku bisa menghentikan air mataku. Ketika aku memikirkannya lagi, dia memiliki argumen yang cukup baik. Selama aku bisa memberikan rumah yang utuh untuk anak-anakku, dengan kelihatan bahwa suamiku dan aku masih bahagia, dan dengan sedikit uang, maka hidup akan sempurna dan akan iri. Mengapa aku harus peduli apakah dia berselingkuh atau tidak? Dan selain itu, jika dia bisa bermain, mengapa aku tidak? Tinggal jauh di luar negeri, aku tidak akan bertemu dengan kenalan, dan tidak akan memalukan diriku sendiri.
Di bawah bimbingan misterius dari Yeni, aku pergi ke klub penari telanjang terkenal di Montreal. Yeni mengatakan, ini adalah panduan yang dia temukan online sebelum pindah ke Kanada. Ketika aku sampai di sana, aku mabuk sampai tidak dapat membedakan antara pria dan wanita, seperti berada di dunia lain.
Yeni mengetahui aku mabuk berat dan tidak berhasil melakukan apapun, langsung berkata sayang sekali. Dia dengan gigih mengubah jadwal tiket pesawatnya untuk kembali ke negara asal, dan membawaku ke klub. Ketika aku sadar, setiap kali aku bertekad untuk berani dan membalas dendam terhadap Jansen, tapi setiap kali mencapai titik penentuan, aku kabur. Kami berada di sana selama tiga hari berturut-turut, bahkan putraku pun terlupakan.
4
Hingga sore hari pada hari ketiga, guru anakku menelepon dan mengatakan bahwa anakku tidak ada yang menjemput dan tinggal setelah sekolah selama satu jam. Setelah menerima telepon, aku segera bergegas ke sekolah.
Anakku melihatku dan dengan sopan mengucapkan selamat tinggal pada gurunya, lalu keluar dari pintu sekolah di depanku.
Ketika aku mengejarnya, dia sudah menangis tersedu-sedu. Dia bertanya, "Apakah kalian berdua (aku dan suaminya) tidak ingin aku lagi? Jika kalian merasa aku mengganggu, aku bisa pergi sendiri ke kampung halaman untuk menemui kakek nenek."
Kata-kata putraku seperti gunting yang menusuk hatiku yang keras seperti kulit kerang, dan membuat hatiku berdarah-darah. Pikiranku yang mabuk pun seperti dipukul dengan palu besi.
Apakah pernikahan baik atau tidak, anak-anak tahu. Meskipun tidak ada yang memberi tahu dia, ketakutan ditinggalkan dan ditinggalkan sudah melingkupinya.
Melihat mata merah putraku yang menangis dan tatapan matanya yang merasa ditinggalkan, aku sangat menyesal. Tindakan balas dendam yang konyol seperti ini, siapa yang sebenarnya aku balas dendam?
Aku sangat menyesal dan menarik putraku ke dalam pelukanku, tinggi badannya sudah mencapai bahuku.
Hari itu kami berdua tidak pulang ke rumah. Kami makan mie sapi di restoran favoritnya. Aku bertanya tentang kehidupan sekolahnya, teman-temannya di sekolah, sama seperti di negara asal kami, tidak peduli seberapa sibuknya pekerjaanku, aku selalu berusaha pulang sebelum dia tidur, dan berbicara dengannya tentang sekolah dan teman-temannya.
Aku semakin menyesal, bagaimana aku bisa lupa bahwa alasan kami berimigrasi adalah untuk anakku? Aku mempertahankan keluarga yang tampak utuh di permukaan, tetapi kenyataannya, yang paling terluka adalah anakku. Untuk anakku, aku memutuskan untuk mengubah strategi.
5
Sesudah berpikir dan merenung, aku memutuskan untuk jujur dan terbuka dalam berbicara dengan suamiku. Namun, dia malah mengatakan bahwa ketika kami pertama kali pindah ke luar negeri, dia merawat anak sendirian tanpa pengalaman, tidak mengerti bahasa, dan Anna membantunya di mana-mana. Sebelum aku datang, dia dan Anna sudah berhubungan, seperti saling memenuhi kebutuhan. Sekarang aku datang, dia merasa aku tidak menghargai bantuan Anna dan merasa tidak adil.
Lagi pula, sekarang di luar negeri, hubungan antara pria dan wanita asing dianggap sangat santai, hidup ini singkat, bebaslah melakukan apa yang diinginkan, selama aku tidak terlalu keras kepala, hal-hal antara dia dan Anna tidak akan mempengaruhi hubungan suami istri kami.
Kalimat-kalimat ini membuat api di dalam hatiku semakin naik! Dia tidak hanya berselingkuh tetapi juga tidak mengakui kesalahannya, bahkan dengan sikap yang begitu merajakan diri? Dengan apa hak? Keberhasilan yang aku raih dengan susah payah, bukan untuk membuatnya memelihara wanita lain di luar!
Aku dengan sabar berkata, jika ini terjadi di negara kita, aku pasti akan bercerai. Namun, di sini kita masih baru dan butuh saling bantuan. Tujuan kita sama, yaitu mendidik anak dengan baik. Bagaimana jika kita pindah rumah ke kota lain agar jauh dari Suyan?
Siapa sangka suamiku justru tidak setuju. Katanya, sulit sekali menancapkan akar di kota ini, sudah memiliki properti di sini. Kalau harus pindah ke kota lain, dengan kemampuan bahasa Inggris yang setengah-setengah seperti kita, pasti akan kesulitan. Bahkan dia mengejekku dengan mengatakan bahwa kalau tidak ada bantuan Anna, aku bahkan tidak bisa menjual satu apartemen pun.
Terlihat bahwa dia masih ingin menikmati keuntungan bersama, maka masalah selanjutnya harus kubawa sendiri. Dia mengeluh bahwa aku tidak bisa berbicara bahasa Inggris, jadi aku langsung mendaftar di sekolah bahasa. Dan atas alasan ini, aku resmi berpisah dengan suamiku.
Dia tidak menganggap serius. Pada akhirnya, dia yang membeli rumah ini di Kanada dengan uangnya sendiri untuk menemani suaminya belajar, serta memiliki sebuah apartemen, semuanya terdaftar atas namanya. Dia pikir tanpa bantuan Anna, aku akan kehabisan jalan? Kita akan lihat nanti! Selanjutnya, aku menghubungi seorang pengacara keturunan Indonesia.
Pengacara memberikan analisis kepadaku tentang kemungkinan perceraian di Kanada, cara memaksimalkan hak-ku dalam hal tunjangan anak dan pembagian harta. Dia juga memperingatkanku bahwa jika aku mengajukan gugatan perceraian di Indonesia, aku mungkin akan kehilangan banyak aset. Namun, jika aku bercerai di Kanada dan segera menyelesaikan masalah harta milik-ku di Indonesia, aku akan mengurangi banyak kesulitan.
Pengacara juga mengatakan bahwa untung saja kamu keluar tepat waktu, karena jika tidak, kamu mungkin akan bertarung di Indonesia dan memberi uang tunai untuk biaya hidup suami dan anak selama dua tahun dan membayar nafkah hidup yang tidak kurang dari yang dulu diberikan saat perceraian. Sekarang, karena kalian berdua tidak bekerja, sulit untuk menentukan siapa yang harus memberi nafkah.
Menurut saran dari pengacara, aku mulai menjual properti yang terdaftar atas nama-ku di Indonesia dan menyimpan semua bukti pendapatan dan pembayaran pajak dalam dua kotak besar. Semua itu adalah hasil dari perjuanganku di dunia bisnis dan aku tidak ingin memberikan keuntungan kepada suami dan wanita simpanan tersebut. Aku juga dengan lembut memberi tahu suami dari perselingkuhan antara suaminya dan wanita tersebut, dan berharap bahwa hal ini dapat memberikan tekanan pada wanita tersebut melalui suaminya.
Ternyata, suamiku tidak merespons dengan serius. Baginya, dia dan Anna hanyalah pasangan yang tinggal bersama. Quebec adalah satu-satunya provinsi di Kanada yang tidak mengakui hubungan de facto, sehingga meskipun mereka tinggal bersama selama lebih dari satu dekade, mereka tidak memiliki perselisihan harta apa pun, dan Anna bebas pergi dan datang.
Aku sangat kaget! Aku kemudian mencari bantuan dari seorang pengacara lagi untuk mencari bantuan.
Menurut kabar yang aku dengar dari pengacara, di Kanada ada perbedaan hukum antara provinsi. Ternyata ini karena pendiri Cirque du Soleil dan pacar yang tinggal serumahnya putus, dan pacarnya mengajukan gugatan untuk meminta biaya putus sebesar miliaran dolar di provinsi Quebec, yang memicu perdebatan besar-besaran. Sejak saat itu, undang-undang telah direvisi untuk tidak mengakui hubungan tinggal serumah. Namun, di provinsi lain, setelah tinggal serumah selama 2-3 tahun, hubungan tersebut dianggap setara dengan pasangan yang sudah menikah, memiliki hak dan kewajiban yang sama.
6
Selama periode ini, aku dengan sepenuh hati merawat putraku, pergi ke sekolah bahasa ketika ada waktu kuliah, dan melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Kehidupanku berjalan lancar dan cepat. Pada Natal tahun 2016, aku dan suami telah berpisah selama setahun. Pada awal tahun 2017, dengan didampingi oleh seorang pengacara, aku mengajukan gugatan cerai ke pengadilan setempat.
Selama persidangan, Anna aktif memberikan kesaksian untuk membantu suamiku mengklaim harta. Ternyata, perilakunya yang acuh tak acuh terhadap suaminya juga memiliki tujuan tertentu!
Aku bisa melihat bahwa dia sangat ingin meninggalkan suaminya yang tidak bisa memberinya rasa aman dan mencari orang yang mau memberinya jaminan untuk masa depannya. Melihat wajah mereka di ruang sidang membuatku merasa mual dan jijik.
Dalam persidangan perceraianku, Anna membuatku sangat tidak senang. Hmph! Jangan salahkan aku jika aku tidak sopan. Aku dengan sengaja mengemas semua dokumen persidangan ini dan mengirimkannya melalui email ke suami Anna. Sayangnya, suami Anna tidak membalasku. Aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan, jika orang asing ini memang memiliki hati yang begitu besar, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Terima kasih atas setahun perpisahan ini dan kesempatan untuk merawat putraku dengan penuh perhatian. Hal ini tidak hanya membantuku memperoleh bukti yang kuat untuk memperoleh hak asuh anak-ku, tetapi juga menjadi bukti perceraian dengan suamiku.
Setelah dua kali sidang selama enam bulan, pengadilan mengeluarkan putusan cerai. Kemudian, aku mengajukan permohonan notaris di kedutaan untuk melindungi sebagian besar harta-ku dan memperoleh hak asuh anak-ku. Suamiku hampir kehilangan segalanya dan hanya diberikan sebuah apartemen kecil sebagai tempat tinggalnya.
Pada bulan Mei 2018, Jansen tidak ingin pulang dari rumahku setelah mengunjungi anak kami, dan mencoba untuk memintaku untuk berdamai dengan dia melalui anak kami.
Dari mulutnya, aku mengetahui bahwa setelah kami bercerai, Jansen tidak bisa menemukan pekerjaan resmi karena tidak bisa berbahasa dan tidak mau belajar. Anna menemukan bahwa dia hampir kehilangan segalanya dan bukan pasangan yang bisa memberinya jaminan untuk masa depannya, sehingga dia meninggalkannya. Kemudian, dia pergi menemui Anna, hanya untuk menemukan bahwa Anna juga telah ditinggalkan oleh pasangan yang dia tinggali bersama.
Aku berpikir dalam hati, mungkin saja email-ku telah berpengaruh. Bagaimanapun juga, kali ini akhirnya mempengaruhi "hubungan suami istri" nya, dan pasangannya juga berakhir dengan hubungan tersebut.
Meskipun pergi bersenang-senang adalah satu hal, namun ikut bersama pria lain secara terang-terangan seperti "pasangan suami istri", aku rasa pria asing juga tidak ingin dijepit topi hijau seperti itu, bukan?
Aku berkata: "Aku sudah membebaskanmu, dan tidak berniat untuk kembali. Hidup ini singkat, mengapa kamu harus mati tergantung di pohonku? Jika satu Anna pergi, masih ada banyak Anna lain yang menunggumu untuk bersama." Dia merah padam dan pergi dengan malu-malu.
Dalam pernikahan, dua orang seperti dua gelas air yang hampir sama kualitasnya dicampur menjadi satu, sangat enak diminum. Jika salah satu gelas berubah menjadi tidak enak, mencampurnya kembali dan meminumnya, yang merasa mual adalah diri sendiri.
Pernikahan bukanlah perlombaan tarik tambang, siapa yang bertahan sampai akhir, siapa yang menang. Meski aku kehilangan pernikahan, aku memenangkan harga diri dan cinta pada diri sendiri.
7
Setelah melewati peristiwa perceraian ini, secara tiba-tiba aku semakin yakin tentang rencana karirku. Aku menggunakan semangat dan tekad awal ketika memulai usaha, hanya butuh waktu satu setengah tahun, melewati rintangan bahasa, dan bahkan memperoleh sertifikat agen properti. Melalui serangkaian pergolakan ini, aku menyadari bahwa tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri, tidak peduli suami atau teman.
Properti sendiri, tetap harus dijaga sendiri. Selain itu, aku mulai mendapatkan klien baru secara bertahap, dan kembali ke lapangan kerja. Orang tua-ku tahu bahwa aku bercerai, khawatir aku sendirian dengan anak di negara asing, dan terus mengambil ujian, mereka menyarankanku untuk pulang ke Indonesia.
Aku menjawab, "Aku akan kembali ke Indonesia ketika anakku sudah besar dan tidak memerlukanku lagi, dan saat ini aku baik-baik saja." Ketika Yeni mendengar bahwa aku telah bercerai, dia menasihatiku untuk tidak mengacaukan keadaan lagi di usia tua seperti ini. Wanita bercerai memiliki sedikit peluang di pasar pernikahan, apakah aku ingin sendiri seumur hidup?
Aku menjawab, "Pangeran Harry menikahi janda, putra mahkota LV juga menikahi wanita yang sudah bercerai, seorang wanita yang berkualitas tidak perlu khawatir tentang pernikahan." Selain itu, bahkan jika ada seorang pangeran yang datang meminang, aku juga belum tentu akan menikah! Yeni di telepon tertawa terbahak-bahak olehku.
Sebenarnya, dengan kehilangan seorang pria di rumah, hidupku menjadi lebih memuaskan. Selama tahun itu, putraku semakin akrab denganku, dia melihat apa yang dilakukan ayahnya dan semakin dekat denganku.
Pada hari ulang tahun-ku tahun ini, putraku memesan kue dari dapur pribadi teman sekelasnya dengan uang saku dan memberikannya kepadaku. Dia mengatakan, "Ibu, aku sudah tumbuh menjadi laki-laki dan bisa membantu Anda memimpin keluarga ini." Pada saat itu, aku sangat terharu dan berkata dengan tulus, "Anak ibu sudah besar! Ibu sangat bahagia!"
Tentang Anna, kali terakhir aku bertemu dengannya adalah di luar ruang sidang perceraian. Saat itu, dia berdiri di sisi yang berlawanan denganku. Awalnya, aku ingin meminta penjelasan mengenai hubungannya dengan suamiku, tetapi dia memandangku dengan penuh kebencian seolah-olah aku telah mencuri hartanya, lalu pergi dengan cepat. Itulah yang membuatku memutuskan untuk memberikan dokumen persidangan kepada suaminya.
Jika ingin menjaga rahasia, janganlah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Kebanyakan klien Anna adalah orang Indonesia baru yang berimigrasi, dan lingkaran orang Indonesia itu kecil. Aku tidak menyebarkan kabar buruk tentang dia ke publik, tetapi masih banyak orang yang tahu "keberhasilan"nya. Orang-orang Indonesia menjauh darinya, dia kehilangan klien dan akhirnya keluar dari lingkaran itu.
Ada yang mengatakan melihat dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran, ada yang mengatakan dia membuka sebuah toko pijat. Di mana pun dia berada, itu tidak lagi berkaitan denganku.