Wedang Uwuh vs Latte
Sudah berjalan 4tahun perpacaran dengan seorang pemuda tampan yang berusia 3 tahun lebih tua. Tapi ternyata usia bukanlah jaminan matangnya kedewasaan. Entah apa yang buatku bertahan meskipun awalnya seolah aku tak layak untuk dia yang berwajah tampan dan banyak digilai oleh wanita. Toh perkenalan kami terjadi begitu saja dan bukan wajahnya yang menarik perhatianku.
Dia, Felix, adalah kakak tingkatku yang sempat beberapa kali terlibat kegiatan organisasi bersama tapi tak banyak jalinan kata antara kami. Bagiku dia pria yang sok ganteng dan sok tajir, bukan tipe menarik untukku. Sampai suatu ketika teman sepermainanku, bernama Vina berujar, "Felix ngajak aku pacaran nih..gimana ya?"
Aku hanya mendorongnya untuk menerima saja ajakan untuk berpacaran toh memang Felix bukan pria yang suka neko - neko dan berasal dari keluarga baik - baik, orangtua Vina dan Felix sudah saling kenal, sebuah paket lengkap bukan... ditambah Vina juga merupakan golongan primadona kampus dengan wajah goodlooking, tampilan casual trendy, dan sangat ramai mudah bergaul.
Setelah 2 kali mengalami penolakan oleh Vina... akhirnya pada perjuangan pernyataan ke 3 mereka resmi berpacaran.
Keduanya bukan baru pertama kali pacaran dan aku senang melihat mereka berdua, cantik dan tampan tampak serasi.
Tiga bulan kemudian, Vina dengan santainya menginfokan kalau mereka sudah tak lagi bersama karena Vina tertarik dengan teman clubnya yang dikata lebih hot dan berani, bukan seperti Felix yang kurang berinisiatif dan kurang chemistry.
Beberapa kali sempat melihat Vina dan Felix bersama, ternyata membuat Felix merasa sudah berteman denganku.
Kisah itupun dimulai, persahabatan dengan sahabat mantan pacar. Beberapa kali Felix curhat soal kegundahan dan sakit hatinya diputuskan Vina secara sepihak. Mau tak peduli tapi ternyata Felix tipe pria yang enak diajak bertukar pikiran meskipun memang bukan tipe teman yang perhatian, tapi toh memang pertemanan tidak memerlukan perhatian yang berlebihan.
Meskipun aku tak secantik Vina, tapi dengan percaya diri kukatakan kalau aku pun memiliki daya tarik meskipun tak dapat dipungkiri grade ku berada di bawah Vina... ingin tertawa rasanya tapi bukannya memang manusia memiliki strata dalam kehidupan?
Baik strata dalam pergaulan maupun tipe untuk dijadikan pasangan. Jadi bukan hanya Felix pria yang dekat denganku dengan status teman dekat.
Hari itu malam tahun baru, tak ada tanda - tanda sebelumnya Felix terasa begitu dekat dan seperti bayangan kemana aku pergi. Beralasan ingin mengenal lebih dekat setelah lebih dari 6 bulan kudengarkan curhatannya tentang Vina. Beralasan mengantarkanku pulang selepas kegiatan kemahasiswaan karena waktu sudah sangat malam.
Berhenti di sebuah kafe di atas bukit yang menampilkan temaram lampu kota dan bintang berkerlip ditambah sesekali terlihat kembang api yang menyala padahal waktu pergantian tahun masih harus menunggu beberapa jam lagi.
{Ma, Risa pulang agak malam, diantar Kak Felix} aku mengetik pesan ke orang tua agar tak kawatir menungguku pulang melebihi jam malam
{Hati-hati ya, bukan berarti boleh pulang lebih dari jam 22.00 WIB meskipun ini akhir tahun}
{Siaap Ma...}
Menatap ke depan dan menunggu Felix kembali membawa kertas menu. Churros, mendoan, hot latte, dan wedang uwuh menu pilihan kami yang akan menemani maximal 1 jam ke depan sebelum harus bersiap pulang demi batasan jam malam.
"Kamu suka wedang uwuh," tanya Felix saat melihatku menyesap gelas berisikan rempah-rempah yang jauh dari kata estetik.
Aku hanya mengangguk menatap cangkir latte yang dia pegang dengan permukaan dihiasi latte art berbentuk daun pinus.
"Ini menghangatkan Kak, meskipun mungkin terlihat menjijikkan ya minum dari gelas yang penuh dengan daun dan serutan kayu?"
Dia hanya tersenyum dan menyesap latte nya.
"Ow ya Kak, emang ga ada acara? kok tiba-tiba mau anterin Risa."
Yang ditanya hanya menggeleng, mengambil churros mencelupkan pada coklat dan menyuapkan ke depan mulutku.
"Coba churros ini, enak. Meskipun memang mendoan lebih pas ya kalau dipadukan mendoan pesananmu," ucapnya sembari memasukkan churros sisa gigitanku ke mulutnya. Pemandangan yang entah kenapa membuat hati berdebar, "Ya ampuuun kami sudah berbagi churros..." teriakku dalam hati dan mengalihkan pandang melihat city view yang hanya menampakkan hamparan lampu kota.
Angin yang berhembus mulai mendingin bersamaan dengan malam yang semakin larut, rambutku tersibak tergerai semakin tak karuan, belum sempat aku merapikan, ada tangan yang sudah mengambil jepit rambut yang ku letakkan di samping gelas dan mengaitkan di rambutku agar kembali rapi.
"Oh..ya...trims" aku hanya dapat berucap canggung. Merasa sepertinya sudah saat nya pulang sebelum jalanan padat orang yang ingin melewati waktu dengan keramaian kota.
Tangan Felix menangkap tanganku, "Ris... kamu tau aku bukan lelaki yang sempurna, bahkan kamu tau temanmu pun mencampakkanku. Tapi.. kamu perlu tahu, kalau aku merasa ingin lebih mengenalmu dan merasa nyaman saat kita bersama. Mau ga kamu melalui hari-hari bersamaku?"
Lidah ku kelu, tak dapat cepat mencerna dan ingin kembali kata - kata itu terdengar dan merekamnya.
"Hah?? maksudnya?" tanyaku bodoh.
"Aku mengajakmu buat kita pacaran dan semoga kita bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya...aku serius."
Hari itu tak akan terlupakan... dalam sekejap mengawali tahun dengan status baru sebagai pacar seorang Felix. Tapi ternyata berpacaran bukan hanya sekedar hubungan. Banyak perkataan tak enak yang kudengar, teman-teman Felix merasa aku tak layak bersanding dengan Felix. Yaa aku kurang cantik, kurang tinggi, kurang tajir untuk seorang Felix yang memang dari keluarga yang lebih berada, memiliki perawakan tampan, dan goodlooking yang tak diragukan.
Sempat harga diri yang tersakiti menolak untuk melanjutkan hubungan karena merasa tak dihargai, tapi Felix selalu meyakini bahwa di kedalaman dirikulah yang membuat dia yakin bahwa akulah yang terbaik untuknya.
"Siapa bilang kamu tidak cantik Risa?? Mereka tidak kenal kamu dan belum tahu betapa cantiknya hatimu, parasmu manis dan mungilnya kamu itu yang menggemaskan serta kemandirianmu membuatku yakin bahwa kaulah yang terbaik untuk menjadi ibu anak-anakku."
Kalimat itu membuatku melambung dan menguatkan diri ditambah tatapan percaya diri dan sikap sayang yang Felix tunjukkan.
Tidak terasa waktu berpacaran yang hampir 5tahun mengantarkan aku dan Felix menikah, wedang uwuh bersanding dengan latte. Penuh dengan proses adaptasi dan perjuangan untuk saling menerima kekuarangan dan kelebihan masing-masih ditambah lagi pernikahan juga melibatkan pertautan dua keluarga yang diharapkan dapat saling menerima.
Menjadi pendamping Felix bukan perkara yang mudah, mereka yang awalnya menentang dan menganggapku tak pantas untuk Felix...nyatanya tak akan mengerti bahwa akulah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Mereka yang menilai bahwa keluarga Felix yang berada dan berharta akan menyokong kebutuhan kami tak akan tahu bahwa aku dan Felix berusaha mandiri tanpa bantuan dan memang orangtuanya tak ada support untuk memberikan bantuan.
Apakah aku harus menyerah? Menjadi Ibu sekaligus tulang punggung yang masih saja menghadapi cibiran bahwa kehidupan mapan yang aku miliki karena bersuamikan Felix... mereka tak tahu rasa lelahku, perjuanganku, dan usahaku untuk tetap menerima, setia, dan melayani Felix sebagai suamiku yang sah dan satu - satunya sampai maut memisahkan kita.
Thankyou latte ku, sebagaimanapun tampilan wedang uwuh... tetap latte menjadi penyemarak saat dua gelas yang berbeda bersandingan. Semoga perbedaan dapat membuat saling melengkapi & menerima bukan memisahkan dan menjatuhkan...
***
(Yang mau cerpen ini dibuat versi novel, bisa komen ya...) thankyou for reading..